LOGINFive years ago, Sofia walked away, vowing never to look back. She built a life of her own—one filled with freedom, color, and the one person who truly matters: her daughter, Martha. A little girl who only knows her father through a screen. FaceTime calls filled with awkward silences, a man who feels more like a shadow than a parent. But now, Theo Rodriguez is here. In the flesh. For the first time, Martha will see her father face-to-face. For the first time, Sofia will have to confront the man who once owned her body and nearly broke her soul. Theo says he’s here for their daughter, but Sofia knows better. He has always played by his own rules—dangerous, possessive, and unwilling to let go. She thought she had escaped his grasp. She thought the past was behind her. But when an ominous message arrives—You think this story is over?—Sofia realizes some devils never truly let go. And Theo Rodriguez might be the only man who can keep her and Martha safe. But at what cost? Will she surrender to him again… or finally break free?
View MoreMahira duduk di tepi kasur. Dia masih menunggu kepulangan suaminya. Pernikahan terpaksa yang terjadi karena rasa tanggung jawab Elvis yang telah menyebabkan kematian dari kekasih Mahira di hari pernikahan.
“Kenapa belum pulang? Padahal sudah pukul dua belas malam. Aku sangat khawatir. Haruskan aku menghubungi Elvis?” Mahira menatap layar ponsel yang begitu sepi. Tidak ada panggilan dan pesan sama sekali dari suaminya.
“Hm. Kak Biyan. Maafkan aku yang sudah menerima Elvis di dalam hatiku. Dia sangat baik. Walaupun kadang bersikap dingin. Elvis yang menanggung biaya kehidupanku dan mama serta kuliah Manisa.” Mahira berbicara dengan foto Biyan yang masih ada di layar ponselnya.
“Aku tidak bisa melakukan operasi lagi karena trauma melihat dirimu yang terluka di hari pernikahan kita,” ucap Mahira melihat kedua tangannya yang putih. Wanita itu sudah lama tidak berkerja sebagai seorang dokter bedah. Dia diberikan cuti untuk pemulihan diri.
“Aku berusaha menjadi istri yang baik untuk Elvis. Walau dia tidak menyentuhku. Aku tahu. Dia adalah pria baik yang menjujung tinggi ikatan suci pernikahan ini.” Mahira tersenyum.
“Elvis.” Mahira berpikir Elvis mengirimkan pesan padanya, tetapi dia kecewa karena nomor yang tidak dikenal muncuk di layar ponsel
“Siapa ini?” Mahira menerima beberapa pesan media berupa foto dan video..
“Pesan apa yang dikirimkan?” Mahira membuka pesan dan sangat terkejut melihat foto serta video mesra Elvis bersama dengan Sasa.
“Elvis.” Tangan Mahira gemetar melihat video intim antara Sasa dan Elvis. Sepasang kekasih yang memang selalu bersama.
“Tidak. Kamu mengatakan tidak pernah menyentuh Sasa dan aku percaya. Aku pikir kamu pria yang baik yang berbicara sesuai kenyataan.” Mahira tidak sanggup melihat video yang ada di ponselnya. Sasa terlihat jelas tidak mengenakan apa pun dan berada di atas tubuh Elvis. Wanita itu mencium dan memeluk serta menjilati leher hingga dada suami Mahira.
“Kamu jahat, Elvis!” teriak Mahira melempar ponsel ke kasur. Dia menangis. Ada sesak dan sakit di dadanya. Luka menggores jantung dan jiwa. Kecewa memberikan perih yang tidak terkira. Perhatian Elvis dalam dingin pun begitu berarti untuk Mahira yang selalu sendiri dan kesepian.
Elvis membuka matanya. Pria itu terbangun dari tidurnya. Dia segera beranjak dari sofa. Sendirian di ruangan VIP miliknya.
“Pukul berapa sekarang?” Elvis melihat jam yang melingkar di pergelanngan tangan.
“Sudah pukul dua belas lewat.” Elvis berdiri dan keluar dari café. Dia berjalan menuju tempat parkir.
“Pak.” Rino membuka pintu untuk Elvis.
“Di mana Sasa?” tanya Elvis.
“Non Sasa pulang duluan. Dia tidak enak badan dan mengatakan kepada saya untuk menunggu Anda,” jawab Rino.
“Ayo pulang.” Elvis masuk ke dalam mobil. Pria itu mengendurkan dasi dan memejamkan matanya.
Rino mengendarai mobil dengan kecepatan standar menuju rumah keluarga bosnya. Dia menghentikan kendaraan roda empat di dalam garasi. Dia membuka pintu dan membangunkan Elvis dari tidur tenang.
“Pak, kita sudah sampai,” ucap Rino.
“Hm.” Elvis membuka mata. Pria itu masih dalam kondisi sedikit mabuk karena pengaruh minumannya. Dia belum benar-benar sadarkan diri.
“Di mana Mahira? Kenapa dia tidak menyambutku seperti biasanya?” Elvis turun dari mobil. Dia tidak melihat Mahira yang bisa menunggu di depan pintu mobil.
“Mungkin Ibu Mahira sudah tidur.” Rino membantu Elvis masuk ke dalam rumah.
“Dia tidak pernah tidur sebelum aku pulang,” ucap Elvis.
“Mm.” Rino mengantarkan Elvis hingga ke depan pintu kamar.
“Silakan masuk, Pak. Saya sampai sini saja,” ucap Rino meninggalkan Elvis.
“Mahira,” sapa Elvis membuka pintu. Dia melihat kamar yang gelap. Pria itu segera menyalakan lampu.
“Apa kamu sudah tidur?” tanya Elvis melihat Mahira yang duduk di tepi kasur. Wanita itu menangis.
“Kenapa menangis? Aku tidak pernah menyakiti kamu.” Elvis menyentuh pipi Mahira dan tangannya ditepis.
“Apa ini?” Elvis terkejut dengan sikap kasar Mahira karena wanita itu sangat lembut dan penurut padanya.
Mahira melayani Elvis sepenuh hati. Wanita itu menyiapkan semua keperluan suaminya dari bangun tidur hingga tidur kembali. Dia sangat perhatian dan peduli. Walaupun pria itu membalasnya dengan sikap yang dingin.
“Kamu jahat!” teriak Mahira.“Apa?” Elvis terkejut dengan kemarahan Mahira dalam tangis. Pria itu bingung dengan sikap istrinya. Dia tidak merasa melakukan kesalahan yang menyikiti hati wanita yang telah dinikahinya selama dua tahun.
“Kamu adalah pria munafik yang pura-pura baik padaku. Kamu tidak mau menyentuhku, tetapi berhubungan dengan wanita itu!” teriak Mahira. Wanita itu benar-benar kecewa. Dia terluka karena Elvis yang bermesraan dengan Sasa.
“Berhubungan? Apa maksud kamu, Mahira?” Elvis mencengkram dagu Mahira dengan cukup kuat.“Kamu berhubungan intim kan dengan Sasa? Kalian berada di kamar hotel. Jadi, untuk apa kamu pulang ke rumah?” Mahira berusaha mendorong tubuh Elvis. Pria yang masih dipengaruhi minuman itu pun jatuh ke kasur.
“Kau!” Elvis sangat marah. Tidak seorang pun berani bersikap seperti itu padanya. Pria itu menarik tangan Mahira yang juga jatuh ke atas tempat tidur.
“Jangan menguji kesabaranku, Mahira!” Elvis mencekik leher Mahira.
“Aku sudah cukup sabar membiarkan kamu di sisiku dan menanggung semua biaya kehidupan kalian dan itu tidak sedikit. Aku sudah bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku lakukan,” tegas Elvis.Mahira kesulitan bernapas. Dia memukul lengan Elvis yang kekar. Wanita itu benar-benar kesakitan.
“Apa kamu bisa membayar semuanya, Mahira?” Elvis menatap tajam pada Mahira.
“Apa kamu bisa mengembalikan Biyan kepadaku?” teriak Mahira yang juga marah pada Elvis. Dua orang itu benar-benar mempertahankan gengsi mereka.“Apa?” Elvis sangat marah mendengarkan nama Biyan yang selalu disebutkan Mahira diantara mereka berdua.
“Kamu juga terpaksakan menikah denganku. Kamu tidak pernah melupakan pria yang sudah mati itu!” Elvis benar-benar emosi.
“Aku tidak akan menikah dengan kamu. Jika kamu tidak membunuh Biyan. Kami akan menjadi pasangan suami istri yang bahagia dan saling mencintai!” teriak Mahira mengungkapkan amarah.
“Kita memang tidak pernah saling mencintai. Diantara kita hanya ada benci.” Mahira berusaha melepaskan diri dari cengkraman Elvis.
It didn’t take long.Barely a few minutes passed before the sound of fast footsteps echoed through the back lot. Heavy, furious, wild. Camilla stood up quickly, her eyes flicking toward the corner.Theo appeared.His chest was rising and falling fast, like he had sprinted the entire way. His hair was a mess, his face pale, his eyes wide with something between rage and pure terror.The moment he saw me—His expression cracked.Not into sadness.Not into fear.But something darker.“Sofia!” he shouted, storming toward me.I barely had time to stand—Camilla’s hands were still on my back—before Theo reached us.He didn't slow down, didn't hesitate. The raw, violent shock of seeing his face contorted by something so cold hit me before his hand did.He grabbed my throat with a speed and ferocity that stole my breath instantly. His fingers dug deep into the sides of my neck, cutting off my air and pinning me against the cold brick wall behind me.“How could you, Sofia? How could you!”The wo
Arzhel’s eyebrows pulled together the moment he saw my face. Camilla stepped closer, her eyes scanning me like she was trying to understand why I looked like I had been ripped open.“Sofia… what happened?” Camilla asked, her voice soft but urgent. “Why are you on the ground? Where’s Martha? Where—”I couldn’t speak.My throat felt tight, my chest crushed. I lifted a shaking hand, pointing in the direction the car had disappeared. My finger barely stayed steady. My whole body felt weak, like my bones couldn’t hold me up anymore.Arzhel turned his head sharply, following where I pointed. “What is it? Sofia—talk to us. What happened?”I opened my mouth, but the words broke apart before they came out.“Mar…” My breath trembled. “Mar—tha…”Camilla’s eyes widened immediately, her hand flying to her mouth. “Where is she? Sofia—where is Martha?”“She—she—” My breath hitched, my voice barely a whisper. “They… took her.”Everything inside me spun. My vision blurred. The world tilted.Camilla gr
I held Martha’s small hand tightly, my fingers curled around hers as if letting go for even a second would shatter everything. She was talking softly to her bear, swinging our connected hands back and forth, completely unaware of the storm brewing inside me. I kept my face calm, my smile gentle, my voice steady—every expression carefully measured, every word chosen like it mattered more than breathing.Theo thought I was scared.He thought I was following.He thought he was in control.But he didn’t know the truth. He didn’t know how long I’d been planning this. How many nights I sat awake, staring at the ceiling with panic twisting in my chest, realizing that the only way to protect my daughter was to disappear. Not temporarily. Not halfway.Completely.And the only way to disappear… was to make Theo believe I was choosing him first.We slipped out of the line slowly, almost casually, right as Theo’s phone rang. He turned his back to answer it without thinking, without suspicion, ass
The day finally arrived.Two weeks had passed since the chaos, two weeks of planning, waiting, and keeping everything tight. Every detail had been checked and double-checked. My private jet was ready on the tarmac, engines humming quietly in the cool morning air, a symbol of escape and safety.Martha bounced beside me, small hand gripping mine tightly. Her excitement made me smile despite the knot in my chest. She had no idea how heavy this move was for me—or for Sofia.“Daddy,” she said, eyes wide, “Mommy is coming too?”I glanced at Sofia, who was standing near the luggage, her face carefully neutral. I could see the tension in her jaw, the way she shifted from foot to foot. This wasn’t just a trip for fun. Every step, every move, was for her safety—and for Martha’s.“Yes,” I said gently, squeezing Martha’s hand. “Mommy is joining us.”Martha’s face lit up. “Yay! I can’t wait!” She giggled, spinning a little before planting herself back by my side.Sofia’s expression softened for a
Martha’s cries grew sharper—shaking, broken, coming from the deepest part of her little chest.“I want Mommy…” she sobbed, clutching my shirt with trembling fingers. “Daddy, please… I want Mommy now…”The sound gutted me.Arzhel’s jaw tightened—anger flickering, then something else. Something painf
Sofia’s PoVThe question—a choice between two nightmares—hung in the air, thick with the scent of his cruel authority. My lungs burned, but before I could summon a retort, before I could choose a lesser evil, a sound cut through the toxic silence.Soft, sleepy footsteps padded down the wooden stair
A week and two days passed in a blur.It was Monday. Work had finally resumed, and today was the big day—the art auction I’d been planning for weeks. I was supposed to go to the studio early to help set things up and make sure everything was perfect.Arzhel hadn’t spoken to me since the night he pr
By Friday evening, the house was quiet again. The kind of quiet that pressed against your skin, heavy and restless.Martha had fallen asleep almost as soon as her head hit the pillow. I stood beside her bed, brushing a few stray curls from her forehead. Her breathing was soft and even, the rise and





![Fallen From Grace [Married to the Mafia Novel]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.