Se connecterStaring straight into her eyes, a playful smile curls his lips. "If you agree to be my pet for a year, then you and your father will be free." The devil whispers coldly, with his eyes full of desire. To save her father who stole from the ruthless mafia lord, Theo Rodriguez. Everyone surrenders to him, but she dares to confront him. Even though she is trembling with fear, her tearful eyes show determination. She knows this will drag her to hell, but still, she says yes. Will this deal that started as a pleasure trade by force grow into more? Will they crave and fall for each other? Or will they just break up when the contract expires, leaving their passion behind?
Voir plus"Satu juta per sesi."
Glek! Jihan Andari menelan ludah mendengar ucapan pria itu. Berdiri di sisi ranjang, tubuhnya tiba-tiba terasa kebas. Ia menatap pria yang duduk bersandar itu dengan rasa takut. Pasalnya Reynand Davidson bukanlah pria biasa, melainkan CEO dari perusahaan start up bergengsi lagi terkemuka. Bukan tanpa alasan mengapa Jihan berada di sana, semua tidak terlepas dari tuntutan hidup serta tanggung jawab sebagai orangtua. Sebenarnya, Jihan sudah menikah dan memiliki seorang buah hati, nahasnya Tuhan lebih menyayangi putranya dengan mengambil kembali tepat di usia tiga bulan. Saat itu, Jihan sangat terpuruk, syukurnya tidak berlangsung lama setelah dia menemukan bayi lain, terlantar dalam tong sampah, nyaris tak bernapas, juga kedinginan. Naluri seorang ibu membuatnya mengambil dan mengasuh bayi tersebut, walau dengan harus mengorbankan pernikahan. Jihan diceraikan karena suaminya tak menyukai keberadaan bayi, yang divonis mengidap penyakit kelainan jantung tersebut. Itulah alasan Jihan banting tulang, meski harus dengan mengorbankan harga dirinya. "Bagaimana?" "Y-ya?" Jihan mengerjap-ngerjapkan mata, tersadar dari lamunan nasib malangnya. "Satu juta per sesi, deal?" ulang Reynand, walau sebenarnya mengulang kalimat yang sama bukan dirinya sekali. "Sa-satu juta ... untuk sekali menyusui?" Seperti orang linglung, Jihan masih saja bertanya. Padahal, sebelum melamar ia sudah tahu bahwa pekerjaan ini memang harus menyusui. "Kenapa? Kurang?" "Tidak." Jihan menggeleng cepat, "Tidak, Pak. Bu-bukan kurang, tapi ... i-itu lebih dari cukup. Bapak serius akan menggaji saya per sesi? Bukan per bulan?" TAK! Reynand menutup tablet di atas paha, kemudian melirik Jihan yang menekuk wajah. "Saya tidak suka mengulang ucapan saya. Apalagi, itu sudah jelas tertera di brosur lowongan. Seharusnya kamu sudah tahu itu sebelum datang ke sini," cecarnya panjang lebar. Jihan tergemap, berusaha menahan diri agar tidak menjawab secara lancang. Dingin dan judes, itulah kesan pertama yang ia simpulkan dari sosok Reynand. "Dengar baik-baik," Reynand mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, "Saya tidak punya waktu untuk berbasa-basi. Jika kamu tidak sanggup atau berubah pikiran, pintu keluar ada di belakang. Tapi kalau memilih tetap di sini, artinya kamu setuju dengan syarat-syarat saya tanpa drama tambahan." Satu sampai dua menit berlalu, Jihan masih membeku. Kata-kata Reynand sangat tajam dan menusuk hati, padahal Jihan tidak bermaksud seperti yang dituduhkan. Justru dia terharu sekaligus bahagia, karena Reynand tidak berbohong terkait pekerjaan dan bayaran tinggi seperti yang tertera di brosur. "Jadi? Kamu pilih bekerja atau keluar dari ruangan ini?" "Bekerja, Pak," jawabnya cepat, "Jelas pilih bekerja karena saya butuh. Maaf kalau tadi saya terkesan lancang, saya tidak bermaksud seperti yang Bapak pikirkan, kok. Serius," imbuh Jihan menekankan. Reynand terlihat manggut-manggut, sebelum akhirnya menyodorkan seberkas dokumen dengan sampul putih elegan ke arah Jihan. “Ini kontraknya. Baca dan tanda tangani kalau kamu benar-benar siap.” Perlahan, Jihan ambil dan mulai membaca isi dokumen itu dengan telapak tangan gemetar. Halaman pertama berisi rincian tugas, jadwal menyusui, serta nominal gaji satu juta per sesi, total tiga sesi per hari. Ada pula klausul kerahasiaan dan pernyataan bahwa dia tidak bisa membatalkan kerja sepihak sebelum kontrak habis. Jika melakukan pembatalan, maka penerima kerja wajib membayar penalti senilai lima ratus juta. "Li-lima ratus juta?" celetuk Jihan terkejut melihat nominal penalti yang tertera. "Ya." "Se-sebesar itu?" “Kamu bisa memilih, uang atau komitmen. Tapi begitu tanda tangan, jangan merengek untuk mundur. Saya tidak suka pekerja plin-plan," tegas Reynand menekan setiap kata, nadanya seperti palu yang menghantam logam dingin. Jihan menelan ludah. Ia menunduk, menatap dokumen di genggaman. Suara detak jantungnya menggema keras di telinga sendiri, seperti genderang perang. Kalau bukan karena rasa sayang dan tanggung jawab, jelas ia akan menolak pekerjaan tersebut. Mata Jihan berkaca-kaca, tapi cepat-cepat ia mengedipkan air itu agar tak jatuh. 'Bismillah, semoga niat baik ini menjadi ladang amal untukku. Aku merawat bayi malang, lalu menghidupinya dengan cara menjual ASI kepada bayi lain yang juga membutuhkan asupan sehat. Manusia memang ditakdirkan untuk menolong satu sama lain, mungkin inilah caraku menolong mereka.' Setelah berpikir panjang serta menimbang-nimbang keraguan, akhirnya Jihan membuat keputusan final. Perlahan, tangannya meraih pulpen di atas meja. Dengan tangan gemetar dan napas berat, ia membubuhkan tanda tangan di kolom kanan bawah pada lembar terakhir. Tanda tangannya mengukuhkan satu hal, sejak hari itu, tubuhnya bukan sepenuhnya milik sendiri lagi. "Sudah, Pak," ucap Jihan menyodorkan kembali dokumen ke depan Reynand. Reynand menerimanya, membuka lembaran terakhir untuk memastikan tanda tangan kontrak kerja sama selama setahun tersebut. "Bagus, dengan tanda tangan ini saya tidak perlu menjelaskan ulang job desk-mu, 'kan?" "Iya, Pak. Saya sudah baca dan memahami semuanya. Hanya saja masih ada beberapa yang mau saya tanyakan." "Apa itu?" "Untuk bayi yang saya susui, apakah dia lebih suka menyusu secara langsung atau menggunakan dot khusus?" Kembali Reynand melirik Jihan, menatap datar tanpa ekspresi, membuat wanita itu serasa ingin menghilang daripada bertemu pandang dengannya. Selain terhadap cacing, sepertinya ditatap atau menatap Reynand akan menjadi phobia baru Jihan. "Secara langsung." Jihan menelan ludah kasar, ragu-ragu ia mengangguk, "O-oh, baik, Pak. Lalu, kapan saya bisa mulai bekerja?" "Hari ini." Rasa lega merayap di dada Jihan, akhirnya setelah penderitaan beruntun kemarin, sekarang ada secercah harapan yang dapat menolong hidupnya bersama sang bayi. Dengan gaji satu juta per sesi, kali tiga dalam sehari, maka tiga juta sudah jelas ia kantongi. Uang sebanyak itu pasti cukup untuk membayar sewa kontrakan, membeli makanan, pemeriksaan sang bayi, juga kehidupan yang lebih baik bagi bayinya. Dengan senyum tipis penuh rasa syukur, Jihan membungkukkan tubuh. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah menerima saya. Oh ya, di mana bayi yang akan saya beri ASI?" "Di depanmu," jawab Reynand, mata tajamnya tak beranjak dari wajah Jihan. Sementara itu, kening Jihan tampak mengerut, pikirannya berputar cepat. Kepalanya bergerak menoleh sekeliling ruang kamar, mencari keberadaan box, tempat tidur bayi, atau seorang pengasuh yang mungkin membawa si kecil. Akan tetapi, yang ia temukan hanyalah kesunyian dan tatapan Reynand yang menusuk. "Huh?" Jihan tertawa kecil, meski nada suaranya terdengar lebih seperti kepanikan. "M-maksud Bapak gimana? S-saya tanya di mana bayinya?" Sebelah alis tebal Reynand terangkat tinggi, seolah heran melihat kebingungan Jihan. "Kamu masih belum paham juga?" Mendadak udara di ruang itu terasa lebih dingin, sedingin kutub utara. Begitu banyak keanehan yang Jihan rasakan, sesuatu yang membuat tengkuknya meremang tanpa alasan. Merasa ada yang tidak beres dengan Reynand, namun lidahnya terasa kelu untuk bertanya lebih banyak. "Bukan belum paham, tapi ...." Jihan mengangkat tangan, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. "Sebenarnya siapa yang akan saya beri ASI?" "Saya."Theo’s POVEvening came too soon.Sofia was already ready, baby Martha bundled up in her arms. The sight of them by the door, prepared to leave, made something in my chest tighten. I wasn’t the type to dwell on emotions, but this—this was different.I couldn’t believe this was happening. I couldn’t believe I wouldn’t get to watch my daughter grow.I might miss her first babbling, the first time she sits up, the moment she learns to crawl, her first steps—every milestone, every little thing that parents are supposed to witness. I might miss all of it.And the worst part? I had no one to blame but myself.Sofia adjusted Martha’s blanket, making sure she was warm. She hadn’t said much since we got back from the hospital. She barely looked at me unless necessary, keeping her focus on Martha. I understood why. I hadn’t given her much reason to believe in me—to believe in us.But now, with them standing at the door, ready to leave, I felt something close to desperation clawing at my chest.
The next morning, I woke up feeling like a stranger in my own life. The weight in my chest hadn’t lifted. It was still there, heavy and suffocating, but I had to keep moving. I couldn't afford to stop.I dragged myself out of bed, my body aching as I made my way to the bathroom. The shower water hit my skin like a cold reminder of everything I was leaving behind. I let it run over me, trying to wash away the exhaustion, the pain, the fear. It didn't help.Once I was done, I dressed quickly. A simple outfit, nothing too fancy. I didn’t have the energy for anything else.The hospital. I had to get Martha. She was strong now. No longer in the NICU. She was ready to leave.I picked up my phone and called a cab. I couldn’t drive, not with the way my hands were shaking. The thought of Theo following me made my stomach tighten, but there was nothing I could do. He was a part of this now.I heard a knock on the door just as I was finishing up. I opened it to see him standing there.He didn’t
Sofia's POVManchester.A fresh start. A life away from the blood, the lies, and the war that had shaped every part of me.It was what I wanted.Wasn’t it?I looked down at my hands, my fingers still curled into fists. I forced them to relax.I should have been relieved. The contract was over. The chains that had bound me to him were gone. I could walk away, take Martha, and never look back.But instead of relief, all I felt was… empty.I lifted my eyes to him. His expression was blank, but I knew him well enough to see what he wasn’t saying.He meant it this time. He was letting me go.No more fights. No more power plays. No more waiting for him to change the rules.I swallowed, my throat tight.This was it. The moment I had fought for, the moment I had dreamed of.So why did it feel like my chest was caving in?I forced myself to speak. “You really set everything up.”His nod was almost imperceptible. “You and Martha will have everything you need.”I hesitated. “And you?”He exhaled
Three Days LaterThe air was thick with grief. The cemetery was silent except for the occasional rustle of wind through the trees, the distant sound of birds chirping—too peaceful for a day like this.Two graves.Two names carved into stone.Martha Rodriguez.Javier Vargas.One was my mother. The other was the man I had killed.Sofia stood beside me, dressed in black, her face unreadable. She hadn’t spoken much since I told her we would be burying them together, giving her father the funeral he had been denied. I wasn’t sure how she felt about it.Maybe she didn’t know either.She had barely looked at me since that night in the NICU. Since I had finally let her go.I glanced down at the caskets. One was polished mahogany, sleek and expensive—exactly what my mother would have wanted. The other was simpler, darker, almost as if it carried the weight of the sins attached to it.Javier Vargas had died a traitor. A man I had buried in secrecy.Now, he was finally being laid to rest.Sofia






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.