ログインRunning is the only life that Lilly has ever known. She along with her Mother, Aunt and Cousin are in grave danger. They are hiding a secret and are being hunted. If they are found, it would mean certain death for all of them. Running out of options, Lilly and her family are forced to return to the town that her mother and aunt were raised in. This town should ensure their safety but at what cost? This town is not all that it seems and secrets are lurking everywhere even in Lilly's own family. The most dangerous secret may lay in the heart of certain dark haired boy that can't seem to leave Lilly alone. Will Lilly finally find a home for her family or will she be forced to run again?
もっと見るSuara klakson bersahutan, asap hitam mengepul dari masing - masing kendaraan yang tengah berlalu lalang. Matahari pun sangat menyengat hingga menusuk kulit.
Tangan yang diarahkan keatas oleh wanita berkerudung biru tua tak mampu menutupi wajahnya dari terik matahari. Mazaya, begitu lah sapaan akrab wanita itu. Kerap kali ia melirik jam dipergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul dua belas lebih empat puluh lima menit. Yang artinya lima belas menit lagi jam istirahatnya telah berakhir."Taksi..." Seru Mazaya saat sebuah Taxi berwarna kuning berjalan lambat didepannya."Waduh, kenapa ada dua orang begini?" Mendengar perkataan Sopir Taxi itu, sontak membuatnya menoleh kearah kanan. Seorang pria yang juga memberhentikan Taxi tersebut."Duh Pak saya sudah telat, Kantor saya deket kok dari sini.""Dimana kantor nya Neng?""Tinggal lurus aja kira - kira dua ratus meter, kiri jalan.""Oh Perusahaan Tambang Emas ya Neng?""Iya betul.""Terus Mas nya mau kemana?""Rumah Sakit didaerah dekat Kantor Mbak ini.""Kalo gitu naik semua aja, masalah cargo bisa saya atur sesuai penghitungan kok."Mazaya menimang ide sopir taxi tersebut, namun disaat ia tengah berpikir keras. Pria disebelahnya sudah lebih dulu membuka pintu depan dan masuk kedalam taxi."Gimana Neng? Jadi gak? Masnya udah masuk duluan nih." suara sopir taxi memecahkan lamunannya."Eh iya Pak jadi." Katanya sembari membuka pintu taxi.Tidak memakan waktu lama untuk sampai di Tempat ia bekerja, Taxi itu berhenti tepat didepan pintu masuk Perusahaan. Ia merogoh satu lembar uang lima puluh ribuan untuk diberikan kepada Sopir taksi tersebut, namun ternyata justru ditolak oleh sang Sopir."Kenapa Pak?""Katanya Mas ini yang mau bayar sekalian Neng.""Haduh lebih baik jangan. Saya bayar cargo saya sendiri.""Menolak rejeki gak baik." Ujar pria itu."Maaf bu--""Mbaknya sudah terlambat kan? Bayar ganti kalo suatu saat kita ketemu saja." Katanya."Baik, anggap saja saya berhutang sama mas. Terima kasih.""Sama - sama."Satu Minggu setelahnya..Mazaya menikmati sore hari diteras Rumah, hari sabtu membuatnya ingin sekali bermalas - malasan di Rumah dan tidak ingin keluar Rumah sekalipun berbelanja atau hanya sekedar cuci mata di Mall. Usianya yang sudah menginjak dua puluh delapan tahun, ia memiliki jiwa jompo sehingga membuatnya sangat malas untuk sekedar membuang waktu dengan teman - temannnya. Terlebih hampir semua sahabatnya sibuk dengan Rumah tangga nya masing - masing, bahkan saudara kembarnya saja sudah memiliki seorang anak laki - laki berusia empat tahun."Tante Zaya." Panggil seorang anak laki - laki berusia empat tahun yang baru saja author bahas. Abi, begitu sapaan anak laki - laki itu."Ya ganteng." Zaya menoleh kearah suara itu terdengar."Tadi Abi ketemu sama Om Wibi waktu lagi jalan - jalan sama Mama Papa.""Abi, ayo siap - siap buat ngaji." Seorang pria berusia tiga puluh tiga tahun, Liam - Kakak Ipar sengaja mengalihkan topik pembahasan Putra semata wayangnya."Ih Papa, Abi cuma mau kasih tau Tante Zaya kalo Abi --""Abi gak mau denger apa kata Papa?" Kali ini bukan Liam yang mengingatkan putra semata wayangnya, tapi Mafaza - Ibu Abi yang merupakan saudara kembar Mazaya."Iya - iya Abi dengerin." Kata anak laki - laki itu dengan bibir mengerucut. Sedangkan Mazaya hanya tersenyum tipis melihat interaksi Abi bersama Orang tuanya.sehari - hari Mazaya disuguhkan drama Orang tua dan anak tersebut, pasalnya Mafaza beserta putra semata wayangnya tinggal bersama Kedua orang tuanya. Sedangkan sang suami bekerja diluar kota, dan hanya hari jum'at sore ia akan pulang kerumah mertuanya. Sebenarnya mereka sudah memiliki rumah, namun Mafaza enggan untuk menempati ketika tidak ada suami didekatnya.Flashback.."Zay, Mama Papaku terus menerus desak aku buat nikah." Kata Wibi sembari mengemudikan kendaraan roda empatnya."Mas, udah berapa kali aku bilang kalo --""Kalo kamu belum siap nikah? Kamu mau nunggu apa lagi sih Zay? Karir? Posisimu ditempat kerja juga udah enak Zay, kamu Manajer Personalia lho. Calon suami juga udah ada, terus apalagi yang bikin kamu ragu buat nikah?""Mas..""Zay, bilang sama aku apa yang buat kamu ragu." Wibi menepikan kendaraan roda empat kepinggir jalan."Kamu mas.. Gak tau kenapa rasanya aku belum yakin buat nikah sama kamu. Menikah sekali seumur hidup, dan aku harus bener - bener mentepin hati aku.""Hhh.." Wibi memukul setir kemudi, terlihat jelas kemurkaan tampak diwajah pria itu."Kalo emang Mama Papa minta mas nikah cepet, aku gak apa - apa kok. Lebih baik kita akhiri sekarang." sontak membuat pria itu menatap Zaya lekat."Hubungan kita udah jalan dua tahun dan kamu mau akhiri gitu aja? Enggak Zay, bahkan aku belum dapet --" Wibi menghentikan perkataannya, sedangkan Mazaya memicingkan matanya penuh selidik."Belum dapet apa Mas? Apa yang sebenernya kamu incar dari aku?""Enggak. Aku antar kamu pulang."Flashback berakhir..***"Ngelamunin apa lo?" Suara wanita yang hampir mirip dengannya terdengar ditelinga sebelah kiri."Kepo!""Udah gak usah dipikirin lagi, biarin Wibi bahagia sama keluarga barunya. Do'ain Rumah tangganya Sakinah Mawaddah Warahmah. Kan elo juga yang gak mau dinikahin sama dia.""Hmmm.. Gue gak mikirin itu, wasting time!""Tapi nih ya, kalian kan baru putus dua bulanan. Kenapa cepet banget ya sebar undangannya?""Cowok emang paling cepet move on nya.""Kalo elo paling susah move on nya? Baru juga Abi bilang abis ketemu Wibi, elo nya udah galau setengah idup.""Ish, siapa yang galau. Enggak deh!""Kalo gak galau, anterin anak gue ngaji gih.""Kan? Kan? Kan?""Ikan! Buruan ih, keburu telat anak gue.""Udah nyuruh, ngeburu - buruin lagi."Mazaya meraih kunci motor matic miliknya, kemudian ia mengemudikan kendaraan roda dua yang tampak besar tersebut. Roda terus berputar, tidak jauh dari komplek dan mereka berdua sudah sampai."Lho.. Tumben Abi diantar Mama hari sabtu gini, biasanya Papa yang antar.""Ini bukan --" Mazaya memberi peringatan Abi untuk tidak melanjutkan perkataannya."Iya ustadzah, Papa nya masih repot sama kerjaan tadi.""Oh begitu, Oiya kemarin saya lupa buat simpan lembar SPP di tas Abi Bu.""Saya bayar sekarang saja Bu, berapa?" Ustadzah didepannya sontak dibuat bingung dengan pertanyaan Mazaya."Lima puluh ribu ya Bu? Maaf saya tadi kelupaan.""Iya Bu lima puluh ribu. Lupa itu hal wajar, saya juga sering lupa." kekeh Ustadzah itu.Ditengah transaksi pembayaran kedua wanita dewasa itu, seorang pria melewati keduanya dan berhenti tepat disebelah Ustadzah Wati."Assalamu'alaikum." Suara pria dengan suara berat menjadi atensi Mazaya untuk mencari suara tersebut."Kayak pernah kenal sama ini suara." Batinnya."Wa'alaikum salam. Kebetulan Pak Khafid disini, tadi Ibu Maryam bilang kalau anda sudah datang diminta menemui beliau.""Baik Bu, saya cari beliau dulu.""Pak Ustad.. Pak Ustad.." Seru Abi."Ya Abi, ada apa?""Abi besok evaluasi kenaikan tingkat. Setelah itu Abi ngaji nya sama Bapak ya.""Kalo kamu mau ngaji sama Bapak, evaluasinya harus dapat nilai A ya." Pria tersebut mengembangkan senyumnya dan kemudian melirik kearah Mazaya untuk menyapa wanita itu dengan anggukkan dan dibalas anggukan pula oleh Mazaya."Karena sudah selesai, saya pamit dulu Bu. Abi ngaji yang pintar.""Baik Bu.""Assalamu'alaikum.""Wa'alaikum salam."POV LillyI groaned as I woke up and looked around to see Griffin smiling down at me. All the memories from the night before came back and I blushed as he smirked and chuckled."How are you feeling?" he drawled and I glared at him."Sore?" he guessed and I nodded.I looked down to see that I had Griffin's boxers and tank on since we had run to the bathroom before sleeping. He quickly slipped on his pants."Let's go eat." I suggested."Okay but you should at least put on your bra." he recommended and I realized that he was right.
POV LillyI woke up to see Griffin sleeping soundly next to me, arms wrapped protectively around my waist. I smiled at him, admiring his handsome features. I knew he was awake when a moment later, he made a ugly face at me and pulled me into my chest."You sleep okay, baby?" he whispered into my hair and I nodded."Good." He looked at me and sighed."I know today is going to be difficult. Just please know that I will always be here for you. You and your family are not alone." He said."Thanks, Griff." I whispered and he grinned.I unwrapped his arms an
POV GriffinAfter we changed and got ready, Dad, Dolph, Nik, Theo, Penny and I piled into the limo. We picked up Cedric and Ember at the coven house and then stopped to get Lance at his house. Chance and Evan weren't going to make it to the dinner but they said would be joining us in the morning. As we headed to pick up Lilly, Jasmine and Rose, we looked at each other."So we need to watch over these three at all times this weekend. This is a lot for them to deal with along with so many coming to mourn with them. It's bound to be overwhelming. I know that we are all grieving but they are feeling so much more than any of us. We have to be there for them and for each other, agreed?" Dad began and we all nodded."I'm going to be honest, I have no idea what to expect during the ceremony or celebration. It's their ritual and we must honor and respect it. It's fine if we don't want to participate but we must be respectful no matter what" h
POV LillyAfter dinner, we packed up and left. Hugging all our new and old friends good bye even though we would see them all in less than a week. The trip home was uneventful and the rest of the week passed quickly.Jasmine and I were excused from school due to the death in our family. The other's went and were busy the rest of the time with preparations for Iris's funeral. Despite all that needed to be done, Griffin, Cedric and Skol spent every night at our house. They also provided bodyguards for us at all times, whether we wanted them or not. We had one vamp and two werewolves with us always. It was annoying but they did their best not to bother us.We spent the first part of the week making the potions needed for Iris's ceremony and gathering the pr
POV GriffinWe all walked back to the table and sat by our mates while Dolph stood in hesitation for a moment. He examined Cedric and Ember carefully as he stood there. I could see his jaw clench when he realized how close both of them were to Lilly. Lilly saw h
POV Lilly"We're home!" I called"Hi, girls!" Iris yelled from the kitchen.We followed her voice to join her."How was your day?" she asked.We ignored the question and stared at her."Where's my mother?" I demanded."
POV LillyJasmine and I hurried to the girls locker room with Nik. There we were giving a gym outfit and told to go change by the assistant coach."These shorts are too short" I complained to Jasmine."But you look damn good in them." Nik replied, eyein
POV Lilly"We're going to class. We shouldn't skip all of them on the first day" Jasmine announced and we turned to go to our lockers. Griffin and his group surprisingly let us go."We are so fucked" I lamented and Jasmine nodded."Let's just co
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビューもっと