Se connecterOne lie changed everything. It forced her into the hands of a man she knows nothing about. A man is well known for his ruthlessness. Now she needs to think of a way to escape from his grasp. The question is, can anyone escape from the hands of Stephan Clifford Guzik? ••• “You brought this upon yourself Mariana, you shouldn't have done what you did back there. Now, you will stay here for the next three months till I send you back to your father. Your stay isn't for free either. You will serve me with your body.” “Oh, this is my fault now? Who used me in the first place?” She wanted to say, instead, she glared at him. “In your f*cking dreams!”
Voir plusAirin meninggalkan kediaman Andreas dengan rasa kesal yang teramat sangat. Bagaimana mungkin ia di lupakan begitu saja saat kedua pasangan sejoli itu telah berdamai. Bahkan ia di usir oleh Roy dan tidak di ijinkan menemui Elisa untuk sementara waktu.
'Kita ingin menghabiskan waktu berdua.'
'Kita ingin melepas rindu.' Atau apalah bahasa orang yang tengah kasmaran, yang kadang membuatnya bingung sendiri.
Gadis itu terus melangkah hingga ia mendapatkan sebuah taksi yang akan membawanya pergi dari tempat tersebut.
"Jalan, Pak!"
"Baik, Nona." Taksi melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan kota siang ini. Di luar udara semakin panas. Lalu lalang suara kendaraan semakin membuat hiruk-pikuk jalanan.
'Ah, andai saja ia juga punya kekasih, mungkin hidupnya tidak akan sehampa ini.' Tiba-tiba saja ia terkikik geli sendiri, membayangkan apa yang baru saja ia ucapkan dalam hati.
Bagaimana bisa ia punya kekasih. Sifatnya yang bar-bar dan sedikit urakan kerap kali membuat lelaki langsung ilfell dan memilih menjauhinya. Padahal ia juga tak kalah cantik jika di banding dengan Elisa. Bedanya ia memang tidak pernah mengenal sama sekali apa itu make up.
Sudahlah. Toh semua orang punya takdirnya masing-masing. Sekarang ia hanya tinggal menjalani apa yang sudah di gariskan Sang Pencipta.
Airin memandang ke luar jendela, menikmati sekali lagi suasana bising yang keluar dari beberapa kendaraan. Sebenarnya gadis itu masih enggan pulang ke rumah. Tapi, jika ia tidak pulang, akan kemana ia hari ini.
'Apa aku ke cafe milik Nana saja.'
Gadis itu tersenyum, lalu melirik ke arah supir taksi yang terlihat masih serius menatap jalanan di depan sana.
"Pak. Kita putar arah ya?" ucap Airin pada pria paruh baya itu.
"Lho, memangnya kenapa, Nona? Bukannya sebentar lagi kita hampir sampai?" tanya pria itu dengan wajah bingung.
"Putar arah saja, Pak. Kita ke cafe XX ya?"
"Baik, Nona."
Akhirnya pria itu memutar arah laju kendaraan menuju alamat yang di tunjuk Airin tadi. Namun saat di persimpangan jalan, Airin merasa mobil kian melambat, dan berjalan dengan perlahan.
"Ada apa, Pak?" tanya gadis itu penasaran. Airin mengira jika taksi yang ia tumpangi tengah terjadi kerusakan, hingga berjalan perlahan seperti ini.
"Di depan ada keributan, Nona?" Supir taksi tadi menunjuk ke arah depan. Di sana terlihat seorang ibu muda tengah memperebutkan sesuatu dengan dua orang pria. Nampaknya ibu itu baru saja pulang berbelanja dari pasar, terlihat dari dua kantong hitam besar yang ada di kedua tangannya. Sedang dua pria tadi seperti orang jahat yang hendak mengambil barang milik ibu itu.
Airin melirik sekitar. Suasana memang sedikit sepi. Pantas saja jika dua pria tadi dengan berani melancarkan aksinya.
"Ayo kita tolong, Pak," ajak Airin tiba-tiba. Gadis itu sudah menyentuh pintu dan bersiap untuk keluar.
"Jangan, Nona. Ini sangat berbahaya!" cegah sang supir. Pria itu hanya tidak ingin membahayakan keselamatan penumpangnya sendiri.
"Tapi, Pak. Apa kita akan diam saja melihat kejadian seperti itu di depan mata?" ucapnya gusar. Airin jelas sekali melihat ibu muda itu sudah mulai kewalahan menghadapi dua penjahat yang akan mengambil barang berharganya.
"Sebaiknya kita lapor polisi saja, Nona. Biar mereka yang mengurus." Pak Supir meraih handphone miliknya, namun belum sempat tersambung, gadis itu sudah lebih dulu membuka pintu mobil dan bergerak ke arah dua pria tadi.
"Nona. Anda mau kemana!" Pak Supir berteriak mencegah. Sebelum gadis itu benar-benar ikut campur dan akan membahayakan dirinya sendiri.
'Dasar keras kepala!' Pak Supir memaki sendiri. Menyayangkan sikap gadis itu yang sangat buru-buru.
"Hei. Lepas!" teriakan Airin membuat dua pria tadi langsung menoleh ke arahnya. Dua pria berbadan besar yang tengah mencoba merampas tas yang di bawa oleh ibu muda tadi hanya menatap gadis itu dengan senyum mengejek, "Kau siapa!"
"Lepaskan dia! Dasar, tidak tahu malu!"
"Jangan ikut campur!" teriak salah satu dari mereka. Wajahnya yang garang semakin terlihat menakutkan.
"Pergi kalian! Atau,.....?" Airin melirik sekitar. Melihat keaadan yang lumayan sepi. Bahkan tidak ada satu orangpun yang tengah melintas, kecuali supir taksi yang sengaja ia tinggalkan di dalam sana.
"Atau apa? Kau ingin berteriak? Hahahah.....!" Tawa kedua pria itu terlihat mengerikan. Apalagi sekarang matanya menatap ke arah Airin dengan pandangan yang lapar.
"Polisi akan segera datang. Jadi, cepat kalian pergi!" Gertakan Airin ternyata tidak menbuat para pria itu takut, tapi malah semakin terbahak menyaksikan pemandangan didepannya.
"Kau.... lumayan cantik," ucap salah satu pria itu sembari mendekatinya.
Airin beringsut mundur, mencari posisi aman untuk mengambil langkah selanjutnya.
'Aku harus lebih waspada jika tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi.'
Airin membatin. Mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Saat dirinya hampir di rampok dan di lecehkan di dalam taksi.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang saja?" Pria tadi semakin mendekat dan mengikis jarak antara dirinya. Membuat wajah Airin terlihat memucat, mengingat kembali kejadian waktu itu. Kejadian yang hampir saja membuatnya menyesal seumur hidup.
Akhhh, pria itu benar. Harusnya aku tidak terlalu terburu-buru. Harusnya aku menunggu sampai polisi datang. Kalau sudah seperti ini, bagaimana?
Tidak! Jika ia menunggu lebih lama lagi, mungkin dua penjahat tadi sudah melukai ibu muda itu. Ia harus berani. Harus!
Airin mengepalkan kedua tangannya. Ia sudah bertekad, apapun yang terjadi nantinya, ia tetap akan mencoba menolong perempuan tadi.
Bugh....!
Akhhhh....!
Satu tendangan sudah mendarat tepat mengenai perut pria itu, seketika membuatnya meringis dan menggeretak gigi-giginya.
"Kurang ajar! Gadis tak tahu diri!" Memaki penuh kesal. Pria bertubuh besar itu kembali melangkah ke arah Airin, dan....
Bughhhh....!
Airin kembali menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi, hingga tubuh pria itu tersungkur ke tanah dengan luka di beberapa bagian tubuhnya.
"Ayo maju, kau mau ku hajar lagi!" Gadis itu masih siaga dalam posisinya, waspada jika pria itu nantinya bangkit lagi dan menyerang.
"Hei, bangun. Sialan! Dasar pengecut!" teriak Airin sekali lagi. Namun pria itu masih terkapar kepayahan di atas tanah.
"Baru beberapa pukulan saja sudah kalah. Dasar ban***!" Kali ini Airin merasa sudah menang dan di awang-awang. Ternyata ilmu bela dirinya dapat di gunakan saat keadaan terdesak seperti ini.
Gadis itu tidak sadar jika masih ada satu pria lagi yang belum ia lumpuhkan. Pria yang sejak tadi hanya menonton keduanya berkelahi sembari memperhatikan keaadan sekitar.
Dan benar saja, saat Airin lengah tiba-tiba saja dari arah belakang satu pukulan mendarat di tengkuk gadis itu.
Akhhhh....!
Gadis itu meringis, merasakan nyeri yang amat sangat di bagian belakang kepala.
"Kurang ajar!"
Bukan hanya sekali, pria itu kembali memberi tendangan ke arah kaki dan perut gadis itu, hingga membuatnya benar-benar tak berdaya.
"Jangan sentuh aku, sia****!" Airin menepis tangan pria itu yang hendak menyentuh wajahnya. Sebisa mungkin ia ingin kabur dan menyelamatkan diri, namun...
Ahkkkk! Gadis itu menatap ke arah taksi yang tadi ia tumpangi. Berharap Pak Supir turun dan mau membantunya.
kemana lelaki itu!
"Hahaha... mau kemana kau!"
Around 3 pm!KnockKnock!Stephan pounded on the door for the umpteen time, wondering why she hadn't come down to eat. From what he understands about her nature, she should be hungry by now. What is she doing?Meanwhile, Mariana hid under the bedsheet seriously reading the blog which was titled: Causes of dominating personalities.'Some controlling personalities are caused by personality disorder. An unhealthy mindset from childhood also contributes to cold temperaments such as narcissism and antisocial personality disorder, which are associated with lack of empathy and bad tempers.'She didn't realize someone has entered her room until he took the covers off her head.Shocked, Mariana quickly closed the laptop, lifted her head to glare at him. “You see, the door isn't for fancy. It's meant for knocking if you don't know.”Looking at her sneaky look, Stephan lifted his brow. “I knocked, seein
Mariana peeked around and had no sight of him. He should be asleep. This is the only chance she had. A chance to run away from him. She can't stand his sight anymore.She took her steps silently towards the main exit, hands placed on the doorknob.Click!The doorknob sounded.She bit on her lips, looked around as if he heard the sound but none.Mariana sighed a relief breath and continued with her escape plan. Her heart was beating so fast like it was going to fall off her rib cage.The door opened, she smirked to herself. Finally! She has succeeded. All she needed to do was to leave this vicinity, then she would think of where to go from there. She doesn't even have cash on her, but it doesn't matter, so long as she's far away from this perverted devil!Suddenly, chills ran down her back. She stiffened. Why does it feel like someone is watching her? However, she didn't dare to look back. She walked out of the hous
Hissing in pain, Mariana scolded herself for being distracted by Stephan. She should have known that he wouldn't reply. An arrogant bastard.She washed her hand under the tap when it stopped bleeding, she proceeded with her cooking.Thirty might later, Mariana spat out the burnt eggs in her mouth, she rushed to the tap to rinse her mouth. In the end, she boiled eggs before going to bed. Before sleeping off, she couldn't help but worry about her dad, it's so strange of him to turn off his phone. He only does that when he's on an important mission.Mariana curled herself in a ball on the bed. Though she has never mentioned it to her father, she hated it when he goes out on a mission. She fears that he would never return to her. That he might leave her alone in this world and his enemies will torture her to death.Mariana does not have a mother, she pretends she doesn't need one, truth is she actually yearns for motherly love at times. Accordin
Heart thudding, Mariana took a step back. She has seen him mad before, but now, his entire countenance was menacing. He had two balls of fire in his eyes, almost like he was about to swallow her whole. It hasn't been a week, and she's already driving him crazy. Stephan thought he could control his emotions well, but after meeting her, he knew she had the ability to stir emotions inside him. Seeing her wearing one of his old t-shirts, standing barefoot, hands on her waist while glaring at him, it reminded Stephan of an angry kitten. Wait, did she just say he's not worthy of her? What a joke. She's the first to tell him that. “Wh- what are you trying to do? D-don't come closer.” Mariana stuttered, moving backward. Stephan stalked towards her, trying to figure out her personality. She's loving and pitiful, at the same time strong-headed and stubborn. A combination of a cunning little devil. A gasp left her mouth when her
After being kissed by Josh, Mariana's blush couldn't help but deepen. Josh suggested they go to a club. Mariana had never been to a club before. She felt it would be better not to disappoint Josh, so she agreed. However, she didn't know Josh's ulterior motives by taking her there. Th
“Look, Stephan...” “Don't… now is not the right time." Jeez, can't he see she's naked and not convenient to talk? “ I said, don't come closer, you bastard!” Mariana yelled. He snorted, but still moved closer. He pressed her against the wall, hands gripping her neck. “Yo
Stephan Clifford Guzik dived to the front seat to protect Mariana putting her on his lap, at the same time, he maneuvered the steering wheel even as the car slammed through a building and every other thing on the way until they made it to the main road.After making sure they were not
Mariana gave him a perplexed look. “What are you talking about? What do you mean by that?”Stephan stared at her. “Are you pretending right now, or you are just plain stupid?”Mariana found that he was distracted and wanted to use it to her advantage. She knew
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
commentaires