MasukBlurb: Mia had her life figured out, or so she thought. A stable job, a boyfriend of 4years, and a future that made sense, and was hers. Until one night ruined her entire resolve. The familiar love that was comfortable now seemed dull. A rare storm, an empty office, and a man that wasn’t hers to touch Rafiah, her brother's lover, her boss, he was a man wrapped in power and danger. He was never meant to look at her the way he did that night, but he was drugged, he lost control By Morning he goes stern, pretends like nothing happened, like she never existed But Mia remembers, her body remembered, and the saxophones becomes louder even in their silence Two days later the she says yes to the familiar man, she needed to, no— she had rerouted to to the more comfortable destination But a rival cartel began watching , waiting— And now Mia was caught in the cross fire, she became the weakness of the man who claimed he wanted nothing to do with her, and in his world where loyalty is everything and love is weakness falling for the wrong man might destroy them all.
Lihat lebih banyakDi antara pejaman mata, semua hal terasa menyesakkan. Selain pemandangan yang kosong, tubuhnya yang sedang beristirahat dengan nyaman tiba-tiba terasa dingin. Punggung yang dirinya baringkan kini seakan menempel di lautan es. Bulan November baru datang, tapi tempat tidur miliknya tidak pernah sebeku ini di musim dingin. Mungkin ia terlalu banyak berpikir atau memang ranjang tuanya pun berubah menjadi alas lembek dan berair, seolah-olah kini ia berbaring di tanah becek.
"Kenapa sangat dingin?"Gejolak rasa penasaran memaksanya membatalkan tidur lelap untuk membuka mata. Sebelah tangannya mengambil benda yang sangat dingin di bawah kaki. "Salju?" gumamnya tertelan angin. Sekarang ia paham, permukaan lembek yang menjadi alas pembaringan ternyata memang bukan ranjangnya. Entah apakah ini mimpi atau sebenarnya dia sedang berhalusinasi, tapi tempatnya terduduk sekarang adalah dataran salju."Di mana ini?" tanyanya sambil menatap sekeliling.Bulan berwarna jingga kemerahan, langit gelap terhampar menjadi atapnya. Mata Zhura bergulir untuk menelaah situasi. Bukan disebabkan suhu dingin, ia sadar tubuhnya menggigil karena pemandangan yang terhampar. Dalam sepersekian detik, oksigen yang harusnya berlimpah di udara diambil paksa keluar dari paru-parunya. Daya napas gadis beriris zamrud itu seketika melemah ketika satu per satu hal gila di depan tertangkap matanya.Di penjuru dataran salju ini, banyak mayat-mayat dan bagian-bagian tubuh orang berserakan. Beberapa dari mereka masih beranggotakan tubuh lengkap, tapi sisanya hancur seolah dicabik-cabik. Cairan yang keluar dari semua itu membuat warna tempat ini yang harusnya putih menjadi merah. Apa yang terjadi masih menjadi misteri. Namun, bau anyir yang tajam akibat tiupan angin mengatakan bahwa terlalu bodoh untuk menganggap apa yang ada di depannya hanya ilusi. Sembari tertatih, diputuskannya untuk berdiri menyapukan penglihatan ke sekitar."Siapa gadis itu?" tanya Zhura pada udara ketika dia melihat dirinya sendiri terbaring di dekat kakinya.Tubuh sosok itu berlumuran darah, terkulai bak daun layu di tengah musim gugur. Tampak sebelah tangannya menggenggam pedang besar yang tajam. Zhura terkesiap mundur saat cahaya bulan memantul di gelang berbentuk untaian sayap pada tangan kanan sosok di depannya. gelang itu memiliki bentuk yang sangat indah, jelas bukan perhiasan mewah yang mungkin ia miliki.Memilih abai pada gelangnya, atensi Zhura kembali pada wajah familiar tersebut. Sekali pandang saja ia sudah mengenali rupanya yang kini tampak pada gadis yang tak sadarkan diri itu. Namun, Zhura menyadari ada yang berbeda. Gadis asing itu mempunyai rambut perak, berbaju biru lusuh, dan ia sepucat kertas. Jika diperhatikan lagi, kulitnya terlalu pucat untuk takaran standar kesehatan manusia sampai Zhura mengira bahwa gadis itu sudah mati."Sebenarnya siapa dia?" Kecuali dari rambut perak dan kulitnya, melihatnya Zhura seperti sedang bercermin.Tak puas, Zhura kembali melihat ke sekitar. Tubuhnya mengejang ketika ia melihat banyak sosok asing berdiri di tempat dingin itu. Apakah mereka baru datang atau dirinya yang tidak melihat mereka sejak awal, yang jelas mereka semua menatap ke arah Zhura dengan pandangan seragam. Dari arah jam sebelas, gadis berambut merah menatap muram. Ada sorot hancur dan gelap seakan ia menyimpan duka. Pakaian birunya pun robek di sana-sini menampilkan luka di sekujur tubuh.Di samping gadis berambut merah, terlihat eksistensi seorang gadis dengan telinga lancip yang terduduk menutup wajah. Tidak bermaksud menilai fisik, tapi dilihat dari manapun bentuk telinga gadis itu terlalu runcing dan tidak manusiawi. Tubuhnya sama terlukanya dengan gadis merah. Dari bahunya yang bergetar, Zhura rasa gadis bertelinga lancip itu sedang menangis. Bukan hanya mereka, banyak gadis berpakaian biru lain dan sosok berzirah menatapnya dengan raut aneh."Ada apa ini?! Siapa kalian?! Apa yang terjadi?!" Zhura membuka suaranya dengan lantang. Namun, semua orang bertingkah seolah-olah ia tidak terlihat. Gadis delapan belas tahun itu segera menyadari suatu hal. Pandangan orang-orang ternyata mengarah pada gadis berambut perak di depannya.Jadi, sosok gadis yang mati itu adalah sang pemeran utama.Ketika ia kelimpungan mencari penjelasan atas situasi itu, pandangan Zhura jatuh pada pemuda berambut hitam panjang di dekatnya. Sosok itu bersimpuh tak berdaya seolah seluruh energinya dikuras tak tersisa. Tidak mengejutkan bagi Zhura saat ia melihat pemuda itu juga menatap gadis berambut perak. Namun, tidak seperti keruhnya sorot orang lain, tatapan pemuda itu kosong. Begitu kosong hingga Zhura pikir dia hanya patung yang diberi berkah untuk bernapas."Hei, siapa kau? Tempat apa ini? Tolong, jangan mengabaikanku! Ada apa ini?!" tanya Zhura pada pemuda itu yang berakhir menjadi percakapan sepihak.Dengan bibir yang berlumuran darah, laki-laki itu membisu. Jantung Zhura berdebar ketika tubuh pemuda yang terbalut pakaian putih itu tiba-tiba bergetar hebat. Otot lehernya menonjol keluar bersamaan dengan rahang yang mengeras. Iris birunya menggelap terbias air di pelupuk mata. Ada perasaan tidak nyaman saat melihat wajahnya yang tak sanggup menahan tangisan. Ingin rasanya Zhura menggerakkan kaki mendekat, tapi sesuatu menahan langkahnya."Ah!" Jantung Zhura berdenyut tak terkendali ketika pemuda itu membawa tubuh gadis perak yang mati ke dalam pelukan. Tangisannya parau dan berat, seakan-akan hal paling berharga baru saja terenggut paksa darinya. Pandangan Zhura mengabur ketika pikiran gadis itu mulai diserang pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya ia rasakan. Sedih dan takut, perasaan gelap itu menyerangnya kalut. Bagaimana tubuhnya yang merespon adegan di depan dengan sangat tidak wajar membuatnya hilang akal.Dia, sosok bermata biru itu.Melihat pemuda itu bersedih, seluruh diri Zhura sakit. Lalu entah dari mana, sensasi yang panas begitu mendadak mengular di balik punggungnya yang terbalut mantel cokelat. Ia masih berharap ini mimpi, tapi rasa sakitnya menggila. Derita itulah kemudian yang berperan mengalihkannya dari sepasang kekasih di depan. Ia ingin berdiri di sisi pemuda itu, tapi sesuatu membawa tubuhnya yang letih menjauh. Kini datang sebuah ruangan senyap, di mana semua yang ia lihat hanya kegelapan yang pekat. Tidak pemilik mata biru atau gadis berambut perak yang mati, tidak ada siapa pun kecuali dirinya sendiri yang tenggelam ke dalam ke palung kehampaan.The rain didn’t let up. Instead, it became heavier, drumming steadily against the stone balcony and soaking the gardens below within minutes.I leaned against the railing, stretching out my hand just enough for the cool droplets to splash against my fingers. “It’s freezing,” I muttered.“You still won’t go inside.”I smiled without looking at him. “I said I like the rain.”“You’ll regret it tomorrow.”“Future Mia can deal with that.”A soft chuckle escaped him.“There she is.”I frowned. “There who is?”“The Mia everyone at the office talks about.”I turned to him. “They talk about me?”“They spend an unhealthy amount of time talking.”“About me?”“About everyone.”I narrowed my eyes suspiciously.“What do they say?”He folded his arms, pretending to think.“Hmm…You know exactly what they say.”“I might, and?”“They think you’re incapable of sitting still.”“That’s true.”“They think you make friends too easily.”“I’ll take that as a compliment.”“They think you talk too much.”I gasp
I stayed with them for another half hour before finally excusing myself.Mrs. Khalid protested, of course. “You’re leaving already?” she asked, placing a hand dramatically over her heart. “I was just getting to know my new favorite child.”Rafiah sighed. “Mum.”“What?”“You’ve known her for thirty minutes.”“And?”I laughed. “I should probably let you both enjoy the rest of your afternoon.”She clicked her tongue. “Fine. But only because I’ll see you again before you leave.” The smile on my face faltered for the smallest moment. “I hope so.” She squeezed my hand one last time. “I know so.”As I turned to leave, I could feel his eyes on me again. Not curious, not cold. Just…there. I resisted every urge to look back.The ground crunched beneath my sneakers as I walked toward the villa. The chilly breeze carried the scent of freshly cut grass and blooming flowers. Somewhere nearby, a fountain trickled softly, blending with the distant chirping of birds.It was peaceful but my mind refu
I stayed frozen at the edge of the stairs. Why did those words make me sad? Those were the words I’d been waiting weeks to hear, but now that I’d heard them, they didn’t bring any ounce of joy. Didn’t I want to leave anymore because he was back?“Finally,” I said lazily, making my way up the stairs.His eyes followed me as I walked. I glanced at him for a second and quickly turned away.I plopped down on the bed when I reached my room and psychoanalyzed everything that had just played out. I scoffed. He said I was jealous about him meeting Lucas. Me? Mia? Jealous? Such a sick bastard. I mean, who the fuck does he think he is? I placed a hand on my chest. It was racing. I began to feel sweaty and started fanning myself with my hands.A knock came on the door. It was Adrian.“Ma’am, may I come in?” I heard her say.“Yeah, sure. Come in.”She opened the door and bowed politely. She was holding a light-blue suitcase, which she gently set down on the floor.“The master asked me to bring th
I sat down, staring at the entrée of food without meeting his gaze. The morning sunlight streaming through the floor-to-ceiling windows.“You look well. My staff must have been doing a good job.”“Yeah,” I said, raising my gaze slightly to meet him before dropping it again. “Yeah, they’re the best, really.”He didn’t look away. He just kept that gaze on me, boring into my soul.“You don’t seem happy to see me.”“Why are you back?”He didn’t reply. He just gazed at me.I stared back, neither of us breaking eye contact. The room seemed to disappear.After what felt like twenty minutes, he smirked. “This is my house. I can come in whenever I want.”I smiled softly despite myself. “Now that you’re back, I take it that I can leave here, right?”His expression softened slightly. “How have you been?”I ignored the question. “When can I leave here, Rafiah?”He remained silent.“You spent quite a while in LA. Then you just waltz back in here like nothing happened. I’m just about done with all
I walked into the office wearing my nude blazer, a brown camisole and a brown mini skirt, with my white socks and black high loafers.I looked like a real time baddie, I had my hair up in a messy bun and attached my fake hair fringe clip. I usually wear contact lenses but today I opted for my actu
I couldn’t sleep that night, not really.Every time I closed my eyes I saw the office door again, half open. Him behind the desk saying my name like I was his designated mistress— and everything that happened after.I kept tossing and turning on the bed. My lights were off but standing up from the
Two days later, I said Yes to the man I wasn't sure I loved. What's funnier?Being proposed to by your boyfriend who you've known since high school and started dating in college or falling madly in love with your brother's partner who happens to be your boss. I didn’t mean for any of this to happ
That night recap **** Raf never saw me the way I saw him. Before I knew who he was to Lucas, I had always admired him. The way he commanded respect by just his aura, how heads turn when he walks into rooms. But after finding out his affiliation with my brother that feeling and attraction comp


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak