เข้าสู่ระบบ'No matter what, No matter the time, No matter the place, No matter the century, No matter what's to come, I. will always. CHOOSE. YOU'. Everyone saw her as crazy..... But he saw her as nothing less than perfection. ................... "Why?" was the only thing he said. Confused I asked "Why what?" "Why do you always do this to yourself?" the tone in which he spoke almost seemed like he was heartbroken about something. "Do what?" I dared to ask, although I knew already within me I wouldn't like his response. "Conceal your worth" ....................... If you like this small insight of the story then please read on. The only thing I can guarantee you in this story is that it will definitely have an happy ending although for the two characters Rica and Dili to achieve that, they would have too pass through many difficult obstacles on their way to happiness. And trust me this isn't your normal Teenage story that is filled with rainbows and sunshine, there are a lot of gloomy days. If you don't mind that then please by all means do read on. .................. NOTE: This is a pure work of fiction. An original story by me. Buy me coffee? https://ko-fi.com/missrina
ดูเพิ่มเติมSuara cangkir yang berdentum keras membuat dua orang yang ada di ruangan itu terkejut, seorang laki-laki yang sedang berbicara melalui ponsel di sudut ruangan segera menghentikan pembicaraannya, lalu berjalan menuju sumber suara.
Tampak seorang wanita, dengan muka pucat pasi yang sedang memegang gagang pintu langsung berbalik badan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Untuk pertama kalinya Sekar bertatap muka dengan atasannya, padahal sudah 1,5 tahun bekerja di perusahaan itu.
“ Siapa yang meletakan gelas itu di meja?” seru laki-laki bertubuh kekar itu dengan tatapan sinis ke arah tumpukan berkas yang terkena tumpahan minuman.
“ Maaf Pak Bima, saya yang meletakkannya di situ, karena tadi bapak yang meminta saya,” jawab Sekar tidak mau sepenuhnya disalahkan.
“ Apa kamu tidak melihat ada meja lain di ruangan ini?” serunya dengan mimik muka kesal.
Melihat ekspresi muka Pak Bima yang begitu menyeramkan membuat Sekar ketakutan, bukan takut dengan ekspresi sangar laki-laki itu, tapi khawatir jika dirinya akan kehilangan pekerjaan.
“ Ma…af pak, saya tadi….” entah kenapa Sekar tak bisa melanjutkan kata-katanya, hanya bisa menunduk dengan tangan yang masih memegang erat nampan.
“ Sudah jangan banyak alasan! bersihkan meja saya dan pastikan berkas itu tidak rusak! “ ucap Bima lalu berjalan menuju sofa, menunggu Sekar membersihkan meja.
Suara ketukan pintu terdengar, terlihat seorang wanita dengan rambut sebahu bergegas mencari tahu apa yang sedang terjadi di ruangan atasannya, wanita itu adalah Lastri sekretaris Bima
“ Maaf Pak Bima, tadi saya dengar bapak berteriak, ada apa ya pak? “ tanya Lastri.
“ Lihat saja, “ jawab Bima dengan menunjuk jarinya ke arah Sekar yang sedang membersihkan meja.
Lastri bergegas menuju ke arah meja untuk membantu Sekar, dia tahu betul jika Pak Bima sangat perfeksionis dalam banyak hal.
“ Sekar..kok bisa begini sih, “ bisik Lastri pada Sekar.
Sekar berkaca-kaca menahan air mata, “ Aku juga ga tau mbak, “ jawabnya dengan nada lemas.
“ Ayo aku bantuin, biar cepet selesai, “ ucap Lastri masih dengan berbisik.
Tidak berselang lama meja tersebut sudah rapi kembali, Lastri memegang berkas yang basah terkena air teh.
“ Permisi pak, mejanya sudah rapi, saya akan print ulang berkasnya, tapi sepertinya meeting hari ini akan ditunda, “ ucap Lastri dengan hati-hati, sedangkan Sekar menunduk di sampingnya.
“ Oke, kita re-schedule meetingnya, pastikan berkas itu sudah selesai sore ini, “ ucap Bima dengan nada tegas, lalu beranjak dari sofa meninggalkan Sekar dan Lastri.
Lastri langsung memberikan isyarat untuk segera keluar dari ruangan itu pada Sekar, gadis muda itu mengikuti langkah Lastri.
“ Mbak Lastri gimana nih? berkasnya rusak ya?” tanya Sekar dengan cemas.
Lastri meletakan berkas itu di mejanya, “ Yang pasti ga mungkin pakai berkas itu untuk meeting, aku akan cetak lagi, udah gak apa-apa jangan terlalu cemas, kamu tumben sih sembarangan naro cangkir Pak Bima?” tanya Lastri penasaran.
Sekar bingung menjelaskanya dan hanya menghela nafas panjang, “ Kayanya aku kurang minum deh mbak, “ ucap Sekar seraya melihat nampan yang di pegangnya.
“ Enggak cuma kurang minum tapi juga kurang makan, udah sana beli makan dulu, aku bakalan pulang telat nih siapin berkasnya,” ujar Lastri.
“ Maaf ya mbak, aku temenin lembur deh, gak apa sesekali aku ijin kuliah, kata mbak kan aku nggak usah terlalu rajin hehehe, “ ucap Sekar mencairkan suasana yang kaku.
“ Hahahaha dasar, emang aja kamu mau bolos kuliah, pake alasan nemenin lembur, ya udah aku titip beli makan yah, nih uangnya, “ Lastri menyerahkan lembar uang 50.000 pada Sekar.
“ Nggak usah mbak, aku traktir deh kali ini sebagai permintaan maaf ku, “ kata Sekar.
“ Heh ga usah sok..sok an traktir mending nabung buat bayar SPP, nih buruan, “ seru Lastri.
“ Hehehe terimakasih mba, aku permisi dulu ya, “ ucap Sekar lalu beranjak dari hadapan Lastri menuju pantry.
Sekar meletakan nampan dan cangkir tersebut di wastafel, dengan langkah perlahan meraih kursi yang tak jauh darinya, lututnya lemas tak bertenaga.
“ Ya ampun Sekar….ceroboh banget sih kamu!, tadi pagi nginjek buntut kucing sekarang berurusan sama si bos! “ gerutunya dengan suara perlahan.
***
Sekar menyeruput minumannya seraya melihat ke atas awan, dia sedang menunggu Lastri di rooftop garden untuk makan siang yang sangat terlambat karena jam sudah menunjukan pukul empat sore saat semuanya bersiap pulang.
Di tempat ini biasanya Sekar menghabiskan waktunya untuk belajar saat semua pekerjaannya telah selesai dan waktu istirahat baginya digunakan untuk belajar. Sekar sangat berharap masalah tadi tidak membuatnya kehilangan pekerjaan.
Kabur dari rumah karena menolak dinikahkan dengan Heru, anak juragan besi yang terkenal playboy adalah sebuah pilihan yang sulit. Dengan berat hati Sekar meninggalkan rumah yang merupakan kenangannya bersama mendiang kedua orang tuanya yang telah dikuasai oleh ibu tirinya.
Dengan hanya membawa ijazah, surat keluarga dan beberapa baju saja, Sekar berhasil sampai di Ibu kota dengan bantuan Risma temannya yang bekerja di Panti Wreda. Nasib baik berpihak padanya, setelah bekerja serabutan dan kemudian mendapatkan pekerjaan di R’L group, perusahaan besar meski hanya sebagai office girl, pekerjaan apapun baginya asalkan halal tidak masalah. Terlebih lagi dia tidak perlu lagi menumpang tinggal di panti Wreda karena merasa sungkan dengan Risma.
Setelah tabungannya mencukupi untuk mendaftar kuliah dan memilih kelas karyawan, Sekar dengan semangat dan yakin meneruskan pendidikannya, dia ingin mendapatkan pekerjaan yang baik sehingga dapat merebut kembali semua yang telah direbut oleh ibu tirinya.
“ Aduh maaf ya Sekar aku kelamaan, “ terdengar suara Lastri dari arah belakangnya.
“ Enggak apa-apa mbak, aku juga baru sampai sini 30 menit yang lalu kok, “ kata Sekar.
“ Loh kamu belum makan?” Lastri terkejut saat melihat dua kotak makan yang ada di meja masih terlihat penuh isinya.
“ Kita makan bareng yuk mbak, nggak enak makan sendiri, “ kata Sekar cengengesan.
“ Alah…alibi…biasanya juga kamu di sini makan sendirian, bilang aja kamu merasa bersalah iya kan…” Lastri meledek.
“ Hahahah tau aja...sekali lagi maaf ya mbak, “ ucap Sekar masih merasa bersalah.
“ Iya gak apa-apa, ayo kita makan, “ ajak Lastri.
Mereka duduk berhadapan untuk menyantap makanan yang tidak lagi hangat, rasa lapar membuat makanan itu tetap nikmat.
“ Sekarang kamu sudah semester dua ya? kuliah kamu lancar?” tanya Lastri.
“ Alhamdulilah lancar mbak, “ jawab Sekar.
" Kamu pasti kaget ya, karena baru pertama kali berurusan dengan Pak Bima, dia memang orangnya tegas, sangat tegas dan perfeksionis banget, kalau sudah urusan pekerjaan ga ada obatnya deh, untung aja ganteng, " kelakar Lastri.
Tiba-tiba Sekar tersedak saat mendengar kata ganteng yang terucap dari mulut Lastri, dia sama sekali gak pernah memperhatikan secara detail bagaimana wajah atasannya.
" Loh hati-hati Sekar makan ga usah buru-buru, " kata Lastri.
" I...iya mba tadi saking laper jadi buru-buru, " jawab Sekar .
" Pak Bima itu masih single loh...masih misteri kenapa sampai umurnya sekarang 39 tahun belum juga mau nikah, " Lastri menambahi.
Sekar hanya mengangguk, dia tak begitu mempedulikan kehidupan pribadi atasannya, tapi ucapan Lastri menambah pengetahuan dia tentang Pak Bima yang terkenal tegas. Sekar Tidak menyangka umur Pak Bima hampir kepala empat, padahal kalau diingat lagi, postur dan wajahnya seperti umur 30 an awal.
Saat mereka sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba ponsel Lastri berdering. Melihat siapa yang menelepon, dia langsung mengangkatnya.
“ Iya pak baik, saya sudah selesai makan kok pak, “ jawabnya, lalu menyudahi pembicaraan di telepon.
“ Sekar kita udahan dulu ya makannya, “ kata Lastri seraya merapikan nasi kotaknya.
“ Loh mbak ini nanggung dikit lagi habis, “ protes Sekar, dia tak mau menyia-nyiakan makanan nya.
“ Sekarang kita harus menghadap Pak Bima, ayo cepet, “ ajak Lastri.
“ Kita?” tanya Sekar memastikan.
“ Iya kita, aku dan kamu diminta menghadap sekarang, “ ujarnya.
Wajah Sekar berubah pucat pasi, dia merasa akan ada hal tidak menyenangkan menimpa dirinya.
Dili didn't come back as he had said he would in the note. Mr Seye was the one who came to take me home. I'll have to say me sleeping until school was over wasn't what ai had envisioned for the day. No not at all. But who am I to complain, that was practically one of the best sleeps I have had in years so to say. Insomnia is a really bad thing I tell you.Still I was in a really good mood at the moment. The note Dili had left for me was very much still lingering in my head. A small smile adorned my face as I recalled exactly what he said, word for word. Knowing that the person you like equally shares the same feeling as you do was truly bliss I tell you.When I finally reached home I was surprised to see that my parents were back. That immediately dampened my mood a little. I honestly wasn't expecting them to be back so soon. I don't know what I was expecting but just as they didn't tell me when they were traveling they also didn't see the need to tell me when they were coming back. V
"So is it going to be only us that will be here?" I turned to Dili and asked. He were both inside the library sitting on our usual spot.After I agreed to his suggestion and came into the library to rest a for a while, I was confused when Dili sat down also, I thought he was just going to leave me there. So when I asked him all he said was "Did you really expect me to leave you here all by yourself?" He said this all with a smirk of course."Who else were you expecting?" he asked."I was just thinking Chimdi and the others will come here also, just like yesterday" I told him."No they aren't coming today" He paused, and with a teasing tone he continued "Which means you have me all to yourself" After he finished talking he began to lean a lot closer to me. I automatically stopped breathing as he came closer and closer to me, I kid you not I really did cease my breathing.It felt like time stopped moving as quickly. Still holding my breath I immediately clenched my eyes tightly shut. I
"What's the meaning of this Dili? Release my hand joor" I said struggling slightly to free myself from his hold.He turned around to face me and smirked, as if he wasn't angry few minutes ago. Was he bipolar or something?He wiggled his eyebrows teasingly and said "Says the girl that grabbed my hand first" I turned red embarrassed as he was accurately spot on. I was infact the one that grabbed his hand first."It was on impulse" I mumbled. This only made him to chuckle."Whatever makes you sleep well at night Rica" Winking at me he finally turned back all the while still dragging me to God knows where.After give or take three minutes we finally reached our supposedly destination. I stared with a dull look at the entrance door."Are you serious? You dragged me all the way to the library?" I turned to look at him."Of course na, where else were you thinking I was taking you" He said with a careless shrug. Sometimes I really want to hit this boy.I didn't respond to what he said instead
It absolutely slipped my mind that the next day was another day of school. With everything that happened yesterday it was very plausible that I forgot. I didn't even have the time to dread school the next day because a lot of things were on my mind. I'm sure you're wondering why I used the word 'dread'. To be actually honest, school wasn't all that bad, even before I met Dili it really wasn't, save for the bullying in school I actually.... enjoy the place teenagers called hell. I really loved learning. Homeworks, tests, quiz and exams were the normal things students desperately hated to the very core, but I thought different about that. God I'm ranting too much I know. Now back to what I was saying, 'dreading' Yeah. I was dreading school tomorrow because after the stunt Dili pulled on the schools PA system I didn't know how people were going to take it. I didn't go back to class yesterday after lunch break was over, Courtesy of my dear fiance Dili, so I wasn't able to see how my cla






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น