ログインMiguel, I'm happy for this moment..." Ximena wrapped her arms around his neck as she cooed lovingly, mixed with the gasp due to the finished 'strenuous action', Just Before she could mutter "I love you", the man murmured in a hoarse voice. "Tan..." Ximena froze. Tan was Tania Roberto, the first love of Miguel Ricardo. Tania hasn't returned to the country, she has stayed abroad all these years. But, Just yesterday, she arrived back in Mexico. Moreover, she had sent Ximena several provocative text messages. She wasn't yet over her Ex. "Ximena, I'm back! You have to vacate from the Ricardo family! I'm back to take back what rightfully belongs to me." "Miguel and I are childhood sweethearts. Did you think you could replace me in just a few years? Get out! Get back to the Streets where you're likely to belong. You're doomed to remain in the streets forever."
もっと見るAnanta Victor von Rotchchild, CEO blasteran Swiss-Indonesia yang kini menjadi pimpinan tertinggi Helvion Group di Indonesia itu sedang mematut diri di depan cermin sambil menautkan kancing di lengan kemeja, kerutan halus tampak di antara kedua alisnya yang tebal padahal pria itu begitu tampan mengenakan tuxedo di hari pernikahannya ini.
Mungkin karena Ananta membenci hari ini lantaran terpaksa menikahi seorang gadis hanya untuk mendapatkan keturunan. Adik sepupunya yang bernama Rafael telah menikah dan memiliki anak laki-laki membuat kakek mereka sang Chairman of the Board di perusahan Helvion Group Swiss merasa senang dan digadang-gadang Rafael akan menggantikan posisi beliau sebagai pemimpin tertinggi perusahaan melangkahi Ananta. Itu kenapa Ananta mengutus Ryan-sekretarisnya mencarikan seorang gadis untuk dijadikan istri kontrak dan mau melahirkan keturunannya. Namun setelah anak itu lahir, Ananta akan menceraikannya dengan memberikan imbalan yang besar. Ananta tidak pernah membayangkan akan menikah dengan gadis yang tidak dia cintai, tapi selama ini pun dia tidak pernah mengenal cinta, Ananta tidak memiliki waktu untuk asmara meski begitu di usianya yang ke tiga puluh tahun—Ananta tetap rutin menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan menggunakan jasa wanita panggilan kelas atas. Ting … Tong … Bel pintu kondominiumnya berbunyi. Ananta melirik arloji seharga satu koma dua Milyar di pergelangan tangan lalu menyadari kalau sekarang sudah waktunya. Dia keluar dari kamar menuju pintu utama dan mendapati Ryan berdiri di baliknya. Wajah pria itu tampak pucat, tubuhnya juga sedikit bergetar. “Ada apa?” tanya Ananta dingin dengan wajah mengeras dan tatapan tajam serta alis bertaut menandakan kalau dia tahu ada sesuatu yang tidak beres. “Erina … calon istri Tuan, mengalami kecelakaan dan meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit.” Ryan memberikan informasi dengan suara parau dan raut wajah cemas. “Apa? Kenapa bisa?” Nada suara Ananta naik satu oktaf dengan tatapan nyalang. Ryan tidak bisa menjelaskan apapun karena dia juga baru saja dihubungi oleh pihak kepolisian yang mendapati namanya di panggilan terakhir ponsel Erina. Ananta tampak berpikir. “Cari tahu dalang dibalik semua ini karena tidak mungkin secara kebetulan calon pengantinku tewas di hari pernikahan.” Ananta mencurigai sesuatu. “Ada saksi yang mungkin akan ditetapkan sebagai tersangka dan dia sekarang sedang dibawa ke kantor Polisi, apa Tuan mau langsung mengintrogasinya?” kata Ryan lagi. “Oke, kita ke sana sekarang!” Ananta ingin tahu apakah kecelakaan itu murni kecelakaan biasa atau ulah pamannya yang tidak ingin dia memiliki istri dan keturunan sehingga bisa membuat Rafael tidak jadi menggantikan posisi kakek. “Ryan!” Ananta menghentikan langkahnya. “Jangan lupa urus pemakaman Erina dengan layak,” titah Ananta, suaranya pelan dan dalam. Dalam hati Ananta merasa bersalah kalau terbukti dugaannya benar, sang paman yang bernama Leonardo adalah otak dari penghilangan nyawa gadis yatim piatu malang itu. *** Sampai di kantor polisi, Ananta langsung disuguhkan oleh rekaman CCTV dari toko yang berada tepat di depan tempat kejadian perkara. Ananta, Ryan dan salah satu petugas kepolisian mengamati detik demi detik video diputar. “Stop!” Ananta berseru membuat sang petugas menghentikan rekaman. “Dia loncat dari sebuah mobil atau memang didorong?” Ananta bertanya kepada petugas. “Jika dilihat dari tangannya yang terulur ke depan seakan mencari pegangan, sepertinya calon istri Tuan sengaja didorong.” Sang petugas memberikan pendapat profesionalnya. Detik selanjutnya bersamaan dengan terhempasnya Erina dari pintu mobil Gran Max putih, sebuah sedan mewah yang sedang melintas dari arah berlawanan langsung menghantam tubuh Erina hingga terpental beberapa meter yang menyebabkan gadis itu tewas di tempat. “Dari rekaman CCTV ini kami tidak bisa menentukan plat nomor mobil Grand Max tersebut tapi akan kami lacak terus,” kata petugas Polisi memberi harapan kepada Ananta. Di saat mereka bertiga masih mengamati rekaman CCTV, suara raungan seorang gadis terdengar memekakan telinga dari ruangan sebelah. “Aku enggak bersalah, Pak … Bu …perempuan itu yang tiba-tiba loncat ke depan mobil aku, tolong jangan penjarakan aku, Pak… Bu.” Kalimat permohonan tersebut terdengar di antara isak tangis. Ananta menoleh menatap sang petugas, seolah bertanya apa yang terjadi dengan gadis itu. “Itu pengemudi mobil yang menghantam calon istrinya Tuan.” Sang petugas memberitahu. “Jadi pengemudinya seorang perempuan?” Ryan yang bertanya. “Ya, gadis berusia dua puluh lima tahun … anak dari Damar Wiranata, pasti Tuan mengenalnya karena perusahaan Wiranata bergerak di bidang Shipping juga.” Ananta dan Ryan saling menatap, tentu saja mereka mengenal Damar Wiranata karena pria itu sering menyabotase operasional Helvion Group yang menyebabkan kerugian. Damar Arif Wiranata adalah pria licik yang akan melakukan segala cara untuk membuat Helvion Group merugi lalu meninggalkan Indonesia sehingga perusahaannya bisa menjadi raja shipping di Negara ini. “Aku ingin bicara dengan gadis itu,” kata Ananta tegas penuh wibawa. “Mari saya antar, dia ada di ruangan sebelah.” Petugas Polisi menuntun Ananta dan Ryan ke ruangan sebelah. Saat petugas Polisi membuka pintu, seorang gadis tampak sedang dibujuk oleh dua orang petugas Polisi pria dan wanita untuk dimintai keterangan karena sedari tadi gadis itu duduk di lantai pojok ruangan memeluk kedua kakinya yang ditekuk. Petugas Polisi yang bersama Ananta mengajak kedua rekannya keluar dan membiarkan Ananta serta Ryan di sana untuk bicara dengan sang gadis. Setelah pintu ditutup, Ananta melangkah pelan mendekati sang gadis yang menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Ananta berjongkok di depan gadis itu, nafasnya menderu penuh emosi. Menghirup aroma mascullin dari parfum eksclusive yang dia tahu harganya sangat fantastis, Zanitha langsung mendongak mencari tahu siapa gerangan yang mendatanginya karena dia belum berani menghubungi siapapun. Dan pria tampan bertubuh atletis dengan rahangnya yang tegas bak Malaikat memenuhi pandangan matanya namun tatapan tajam penuh kebencian itu membuat Zanitha berpikir kalau pria di depannya ini adalah Malaikat maut. “Siapa namamu?” Ananta bertanya dingin. “Kamu siapa?” Zanitha balas bertanya ketus melupakan sejenak trauma yang tengah melandanya. “Aku adalah calon suami dari perempuan yang kamu tabrak hingga tewas tadi pagi,” jawab Ananta semakin tajam tatapannya menghujam Zanitha. Mata Zanitha membulat begitu juga dengan mulutnya. “Aku mohon percaya lah … aku enggak sengaja nabrak calon istri kamu, sumpah! Dia lompat gitu aja entah dari mana … please … percaya sama aku … aku enggak sengaja menabraknya, aku bukan pembunuh… aku sedang dalam perjalanan ke kantor tadi.” Zanitha meremat lengan kemeja Ananta sambil berderai air mata. “Seharusnya aku menikah hari ini, tapi kamu malah merenggut nyawa calon istriku ….” Ananta menggeram, sorot matanya memaku Zanitha hingga dia sesak nafas. “Kamu harus menggantikan dia menjadi pengantinku!” seru Ananta penuh penekanan membuat tangis Zanitha terhenti seketika dan rasanya dia kesulitan bernafas.Chapter 165: The Final ReckoningThe night was unusually still, the quiet broken only by the occasional distant car passing by. Ximena had fallen into a light sleep, her body exhausted from the strain of the past few days. But the sudden sound of a floorboard creaking in her apartment jolted her awake.Her heartbeat made a sudden jump to her throat and she glanced toward the living room. The darkness caused by the streetlights outside only appeared to make things even more quiet.The man standing in the doorway leading into the living room was plain to see.Tania.She was standing there, gripping the gun firmly, her eyes were wide open and looked like they had gone mad. Ximena looked paralyzed with a cold feeling running around her body.“Well, well, here we are meeting in person,” Tania spat out her words and was clearly angry. “I knew this would be the moment every time. You never thought that I could do them, did you?”Ximena’s heart beat faster, but she did not allow her tone to
Chapter 164: A Dangerous EncounterMiguel’s fists connected with the first thug’s jaw with a sickening thud, sending the man stumbling back, his head snapping to the side. Ximena watched from her car, her breath caught in her throat. The sound of the scuffle was echoing down the alley, but she couldn't hear anything except for the pure power and perfection in Miguel's movements.He moved like a force of nature: his muscular frame twisting and turning, his every strike landing with purpose. The men surrounding him tried to overpower him, but Miguel was relentless, fury behind each punch.The night air crackled with energy, and Ximena felt a weird mix of terror and awe. She'd never seen this side of him before, yet it didn't faze her.It was the man she'd married once; the man who would go to any length to protect what he loved.In one leap, one of the thugs pounced on him with a crowbar. However, Miguel was quicker, dodging and managing to sweep a leg to drop him to the ground. In o
Chapter 163: The Return of TaniaShe stared at the photo in her hand, her heart racing wildly. How had they gotten this photo? Who watched her? She felt her stomach clench as the creeping feeling of vulnerability clawed at her.Miguel had been supportive, but even his presence could not erase the gnawing anxiety that had settled deep inside her. She could still feel the weight of his comforting words from earlier, but they did little to quell the storm brewing in her mind.Tania had kept silent for too long, and now it was as if the calm had been no more than the quiet before the storm.Miguel had insisted on staying the night, refusing to let Ximena face this alone. Now, as they sat together in her living room, Miguel was talking about taking extra precautions for her safety, adding security to her apartment, increasing surveillance around the office, but Ximena wasn't fully listening.She had heard the same promises before, and while she appreciated them, she couldn’t help but fe
Chapter 162: Shadows ReturnThe next morning, Ximena was back to work, sitting at her desk, her hands fastened on the lid of the portable computer, her fingers drumming the wooden top of the laptop. He had seen her typing away again, probably trying to complete the quarterly reports so that the board meeting in the morning would not consume all the time. Her head was not in the numbers; she was constantly thinking about the peculiarities that had been bothering her all week.The first time she’d noticed it, she thought that perhaps she was imagining it. He had seen a black sedan parked across the street from her building for two consecutive days and the face of the driver was hidden behind the tinted glass. It could have been nothing, but then there were the phone calls; two in the last two days; both of which rang only twice before the line went dead as soon as she picked up.She tried to dismiss it as a mere fluke and went on to telling herself that there was really no need for
Chapter 151: Circling ShadowsMorning sunlight spilled into Antonio's Group, glinting off glass walls and filling the office with its deceptively warm light. Ximena emerged from the elevator, heels clicking softly as she padded toward her office. The hum of conversations, ringing phones; the familiar
Chapter 143: A Dangerous PropositionXimena had barely settled into her chair when the sound of heels clicking against the marble floor drew her attention. She looked up to find Tania sauntering into the office, swaggering with confidence around her like a shield. Miguel glanced from Ximena to Tania,
Chapter 144: A Dangerous GambleTania stepped through the glass doors of Vega’s towering headquarters, her expression calm and composed, even as her pulse hammered in her chest. A floor of immaculate marble reflected harsh overhead lighting; every sound in the large lobby seemed magnified: the clink
Chapter 134: A Suspicious AllyBack at the office, Miguel sat at his desk, the recent conversation with the unknown number weighing heavy on his mind. The interest of Vega for his support sounded disconcerting, unethical and not good enough to act upon. They needed hard evidence, concrete plans that






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビューもっと