LOGINWARNING: Do not proceed if you are below 18 years of age! This book has no filters. ***** “I’ve always been yours, you know.” I whisper the words into his ears, feeling a tremor pass through me when he wraps his hand around my neck. His touch is gentle, and he strokes my neck softly with his thumb. I whimper, my body spasming from the way he’s looking at me. He looks into my eyes before speaking, “You’re taking me in.” He grinds against me, and I smile. “Yes, I am.” ***** Desire has no boundaries here. This is an erotic collection including stories of Threesomes, MxM, MILF, BDSM, WxW and so much more.
View MoreBab 1. Rahasia Ibu Mertua Dan Suamiku
“Nanti malam Yosa datang! Kamu sudah punya jawaban, toh, untuk lamarannya?”
Aku tersentak. Suara Ibu terdengar jelas di telinga. Namun, aku tak paham apa maksudnya. Apa yang dia bicarakan. Lamaran apa maksudnya? Nama Yosa memang tak asing di telingaku, meski aku tak kenal siapa dia.
Seisi rumah ini sering sekali menyebut nama itu. Memuji dan memuja bagaikan seorang ratu. Kecuali suamiku. Pernah aku bertanya siapa Yosa Namun, Mas Sigit tak mau menjelaskan. Salah seorang keluarga jauh Ibu, itu saja jawabannya.
“Ibu enggak mau kamu ngecewakan ibu untuk kedua kalinya, paham, kowe!” ucap Ibu lagi.
Penasaran, aku berdiri sambil menggendong bayiku. Kutempelkan kedua mata di sela-sela dinding kamar yang terbuat dari anyaman tepas bambu. Kamar ini terletak persis di samping dapur. Kulihat Mas sigit dan ibunya tengah berdiri di dekat meja makan.
“Kok, diem, Le?” tanya ibu lagi.
Mas Sigit menarik napas panjang. Sepertinya hatinya sedang sangat gundah. Mulutnya masih terkunci rapat. Wajah tampan itu terlihat kusut. Kenapa? Ada apa sebenarnya ini? Aku makin penasaran.
“Pokoknya kamu harus iyakan lamaran si Yosa! Jangan kecewakan Ibu lagi! Ingat, doa restu ibu itu penting bagi seorang anak! Kamu sudah membuktikan sendiri! Aku tidak pernah merestui kowe nikah sama si Bening. Liat hasilnya! Melarat, toh, hidupmu! Sumpah seorang Ibu itu makbul, ngerti kowe! Kali ini kamu kecewakan ibu lagi, sumpah ibu tak akan pernah ibu cabut! Kowe akan menderita sak anak cucu bahkan cicitmu! Camkan itu!” ancam Ibu panjang lebar.
Kalimat ancaman itu sangat mengegetkanku. Mas Sigit harus mengiyakan lamaran Yosa? Lamaran apa maksudnya? Yosa melamar Mas Sigit? Masa dia yang melamar seorang lelaki? Sudah beristri lagi?
Kuletakkan pelan-pelan bayiku di dalam ayunan, lalu menghampiri tanpa mereka sadari. Mas Sigit tetap hanya membisu. Dia raih sebuah kursi, lalu duduk perlahan. Kulihat dia kembali menghela napas panjang.
“Ngomong, Le! Kok meneng! Kowe udah punya jawaban, toh, buat Yosa?” cecar ibu mertuaku lagi.
“Iya, Bu, nanti malam akan kujawab.” Mas Sigit bersuara juga akhirnya.
“Opo jawabanmu? Kamu setuju, toh?” Ibu terlihat sangat antusias.
“Semoga Bening bisa menerima hal ini,” sahut Mas Sigit.
“Menerima apa, Mas?!” seruku mengagetkan keduanya.
Keduanya tersentak kaget. Wajah Mas Sigit memucat, dia terlihat salah tingkah. Membuka tudung saji dan mulai menyantap sarapannya.
“Tadi aku dengar kalian sedang bicara tentang Yosa. Sebenarnya siapa Yos—“
“Ning, tolong bungkuskan nasi bekal buat siangku!” titah Mas Sigit langsung memotong ucapanku.
Aku terperangah. Aku tahu dia sengaja memotong ucapanku untuk mengalihkan pembicaraan. Namun, aku tak mau menyerah.
“Iya, akan aku siapkan. Tapi aku penasaran tentang lamaran yang tadi kalian bica–“
“Ini hari Sabtu, nanti kamu terima gaji, kan, Le?” Kali ini Ibu yang memotong ucapanku. Wanita itu menarik sebuah kursi, lalu duduk tepat di seberang Mas Sigit.
Aku menyerah. Tak ingin memaksa untuk mencari tahu sekarang. Mas Sigit hendak berangkat bekerja. Nanti saja sepulang kerja, aku akan menggali sampai dia berkata jujur. Segera kusiapkan bekal makan siangnya.
“Jangan lupa nanti kalau udah gajian langsung serahkan sama ibu!” Kalian menumpang hidup di sini. Belum pernah nanggung apa-apa. Kasihan mbak-mbakmu yang harus urunan menanggung semua kebutuhan hidup kita. Gak enak sama suami-suami mereka! Kowe, paham, toh, Le?” sambung ibu.
“Paham, Buk. Tapi, aku belum tahu, bakal terima gaji atau belum nanti. Aku kan, baru kerja seminggu. Aku juga belum mahir dalam bekerja. Kalau enggak disuruh dan diajari dulu, malah enggak paham,” sahut Mas Sigit.
“Ibu udah nanya sama si Tono, suaminya si Mumun, tetangga sebelah. Katanya kalau kerja bangunan itu, digaji seminggu sekali, setiap hari sabtu, ya hari ini! Kowe juga pasti digaji! Tono bilang begitu, kok!”
Aku terkesiap. Ternyata ibu mertuaku sudah tak sabar menerima setoran. Sampai-sampai dia menanyakan gaji suamiku kepada suami tetangga. Miris.
“Alhamdulillah kalau digaji! Aku berangkat dulu, ya, Buk! Ning, mana bekalku?” Mas Sigit bangkit dan memanggilku.
“Iya, Mas, ini,” sahutku menyerah sebungkus nasi.
“Yo, wes, Le! Berangkat sana! Hati-hati kalau kerja!” Ibu meninggalkan kami. Ini kesempatan untukku. Aku akan tanyakan Mas Sigit tentang lamaran tadi.
“Mas, maaf, tadi aku sempat mendengar kalau Ibu dan Mas membicarakan tentang lamara –“
“Aku berangkat, ya, Ning! Takut ditinggal Mas Tono!” kata Mas Sigit seolah tak mendengar kalimat yang aku lontarkan.
Aku melongo, tak punya kesempatan untuk bertanya. Apakah dia benar-benar tak mendengar ucapanku, atau hanya pura-pura tak mendengar?
“Baik-baik di rumah, ya, Sayang! Sabar-sabar menghadapi Ibu, Mbak Ambar dan Mbak Sekar!” ucapnya lagi, lalu mencium kening dan mengecup sekilas bibirku.
Kutatap punggungnya yang kian menjauh, lalu hilang di balik pintu samping.
*
Seharian pikiranku kacau. Bisik-bisik Ibu dengan Mas Sigit tadi pagi sangat menggangguku. Aku tak sabar menunggu Mas Sigit pulang kerja. Akan kuselidiki masalah lamaran itu hingga jelas. Malam ini, tak akan ada yang mereka sembunyikan lagi dariku.
Pukul setengah enam, terdengar suara motor suami Mbak Mumun. Yang kunanti akhirnya pulang. Mas Sigit tidak punya motor sendiri. Terpaksa selalu nebeng suami Mbak Mumun. Segera kuletakkan Bima di dalam ayunan, lalu berdiri di ambang pintu samping menanti Mas Sigit datang.
“Papa pulang, hore …!”
Kulihat Nada dan Rara sudah mengiring langkah Mas Sigit. Wajah kedua putriku terlihat sangat gembira. Tadi siang aku menjanjikan sesuatu kepada mereka. Saat anak-anak Mbak Ambar dan Mbak Sekar memanggil Kang Somay yang lewat di depan rumah. Mbak Ambar membelikan anak-anak itu somay porsi dua ribu rupiah seorang. Kecuali anak-anakku. Nada dan Rara masuk ke dalam kamar kami dengan wajah ditekuk.
“Jangan pernah sedih hanya karena orang lain memiliki sesuatu yang belum kita miliki! Nanti sore, insyaallah Papa gajian! Kalian boleh jajan!” ucapku pura-pura tegas. Padahal hatiku teramat sakit melihat kesedihan mereka.
Itu sebab mereka tak sabar menunggu Mas Sigit pulang sore ini. Semoga benar Mas Sigit pulang membawa uang.
“Mas!” sapaku seraya meraih dan mencium punggung tangannya. Bau keringat menguar dari tubuhnya. Wajah tampan yang kian menghitam karena dipanggang sinar matahari itu terlihat bahagia. Mungkin karena istri dan anak-anak yang begitu gembira menyambutnya.
“Nada, bawa adek main dulu, Sayang, biar papa mandi dulu, ya!” kataku mengusir halus mereka.
“Nanti, ya, Ma, janji Mama tadi siang?” celutuk Rara tak sabar.
“Iya, Dek, Papa masih capek! Hayuk, kita main dulu!” Nada menarik tangan adiknya.
“Kamu janjikan apa buat mereka, Ning?” tanya Mas Sigit seraya melanjutkan langkah ke dalam kamar. Aku mengikutinya dari belakang.
“Aku janjiin mereka jajan sepulang Mas kerja. Maaf, aku gak tega, udah lama banget anak-anak gak pernah lagi jajan,” ucapku tak menceritakan yang sebenarnya. Aku tak ingin dia membenci kakak-kakaknya.
“Iya, Sayang. Maafkan aku yang tak bisa membahagiakan kalian. Ini, gaji pertamaku setelah sekian lama menganggur.”
Mataku berlinang, saat menerima sebuah amplop dari tangan Mas Sigit. Tiga bulan sudah tak pernah lagi Mas Sigit memberiku nafkah. Ini rasanya luar biasa.
“Maaf, isinya hanya sedikit, Ning! Enggak sampai setengah juta. Aku dibayari delapan puluh ribu sehari. Beda dengan yang lain, enggak apa-apa, ya! Kata Mandor, nanti kalau aku udah mahir kerja, gajiku juga bakal ditambah."
“Tetap bersyukur, dong, Mas! Mas, kan memang belum paham kerja bangunan. Sabar, ya!” ucapku membesarkan hatinya.
“Mana, gajinya, Git? Sini serahkan sama Ibu!” Tiba-tiba Ibu sudah berdiri didepan kami sambil menjulurkan tangan.
“Kasihkan, Ning! Sisihkan sedikit buat pegangan kamu!” titah Mas Sigit.
“Enggak usah pegang-pegangan, toh, semua keperluan istri dan anakmu sudah terpenuhi, sini!” Ibu merebut amplop dari tanganku dan langsung berlalu.
“Tunggu, Bu!” sergahku menghentikan langkahnya. “Tolong sisakan sedikit buat saya, buat jajan anak-anak,” pintaku menghiba.
*****
“Where have you been?” I say, letting go of Joanna’s hair immediately and ushering Marie in. She looks down at her shoes as she comes toward us. “There was so much traffic on the way over,” she says and I wave her over. Smile at the two of them as she takes over from where I’ve stopped. She soon finishes and before I know it we are all set. The wedding proceeds beautifully, every moment perfect and I’m grateful I didn’t speak my mind like I intended. ~ Two weeks pass. I speak to her a few times, but never for very long. She keeps running off to do something or the other. Her honeymoon comes and goes and we plan a dinner after to catch up quickly. I’m on my way to the restaurant we booked tonight when she gives me a call. I pick, parking my car by the side of the road to give her my full attention. “Hey, babe!” Her voice is so loud. Excited.“Hey, love,” I say, cautious, since she’s never this excited about anything good. “So… can I change plans quickly?” Joanna says, and I gro
This is a lesbian erotica story, enjoy! “Bang!” I jump, looking behind me. My best friend, Joanna, eyes me as I stare at myself in the mirror, flipping her hair over her face. She smiles, “You do realise it’s my wedding night, right?” I turn swiftly, my hand resting on my hips as I glare at her. “And what’s that supposed to mean?” She laughs, quenching my anger instantly. “Meaning why don’t you come help me with my hair instead of primping yourself for Jimmy.” “What? No! That’s not what I’m doing!” I scream as I feel my cheeks heat up. I murmured, “I was just checking for lint on the dress.” I step toward Joanna, a smile forming on my face, as I look at her. She’s so beautiful today. Her white silk dress flowing around her shoulders and framing her lovely features. I have to admit, she’s one of the most beautiful people I’ve ever met. “Where’s your hair stylist? I don’t want to spoil your hair, baby.” “Don’t worry, you won’t,” she says as she pulls me closer, holding o
“I’ve always been yours, you know.” I whisper the words into his ears, feeling a tremor pass through me when he wraps his arms around my neck. His touch is gentle, and he strokes my neck softly with his thumb. I whimper, my body spasming at the say he’s looking at me. He looks into my eyes before speaking, “You’re taking me in.” He grinds against me, and I smile. “Yes, I am.” He lifts himself up from the bed, pulling his shorts down in one swift move. His boxers follow immediately. His cock springs up, and I look at it, suddenly apprehensive at the sight of his daunting member. I moan, shifting on the bed as I imagine his cock pushing into me, claiming me. I stand to meet him, my pussy dripping at the thought again. My hands go around his shoulders and he grabs hold of my ass again, two fingers sliding into my pussy. I moan, feeling myself coat his fingers, drip down my legs. He pulls his fingers out, maintaining eye contact, and I sigh. Sad to lose his fingers and expectant of
“Yes, of course,” I say, feeling a surge of power at the hopeful look he gives me. He pulls me to himself instantly, and I feel his cock press against my crotch. I moan, feeling helplessly turned on. He tips my chin up to meet his lips, taking my mouth in his in the softest kiss. I moan into his lips again, louder this time, and he grabs my ass, his large hand kneading my ass through the skirt. I lift one leg up, wrapping it around his waist, and kiss him fully, roughly. He sticks his tongue deeper into my mouth as he holds me tighter, his second hand landing on my boob that’s pressed on his chest. The feel of our skin touching sends my body into a mini frenzy. I can’t stop the loud moans that erupt from my mouth all of a sudden, and he takes this confirmation as fuel. His thumb caresses my nipple, tickling the bud in a way that makes me shake, squirming in his arms and begging for more of him. I suck on his tongue, feeling how deeply it fills my mouth, and I feel half able to
I turn to face him, and say, “Would you like something to drink? I just made some lemonade this morning, and it’s extra cool cause it’s been in the fridge all day.” “Sure, thank you.” He smiles and I melt a little again. “Okay, why don’t you wait here a minute while I go get some for you. Then we
I have always been in love with John Jacobs. From the first day I saw him, standing by our front porch. His large hands were tucked into his pockets as he introduced himself to my mother. My mother was all smiles, practically drooling herself at the sight of him, going to get him cookies. And she












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.