MasukAnthony Carter became the boss of ruthless Mafia who did all the dirty work in the city of Rome, after the woman he loved rejected him in front if the crowd and tore his self respect into pieces. Dejection was not in his dictionary so he did the opposite. Revenge, and making her pay for it. All the time he thought he was in love with her and wanted her. But it was just his obsession with her, a mere infatuation. How will she react when he'll recognize him? And what will she do after she'll realize that she was just a muse for his filthy revenge?
Lihat lebih banyakSuara pekikan kecil terdengar diikuti oleh suara dentingan piring yang jatuh, membuat suasana pesta menjadi hening.
Ryan Pendragon menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 10 tahun, berdiri kaku dengan wajah pucat.
Di depannya, seorang pria tinggi besar dengan mata tajam berdiri menjulang, jasnya yang mahal kini bernoda makanan yang tumpah.
"Ma-maafkan saya, Tuan," gadis kecil itu terbata-bata, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan dingin yang menusuk. Tangannya terkepal erat, dan Ryan bisa melihat urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah.
Melihat situasi yang semakin tegang, Ayah Ryan–William Pendragon bergegas menghampiri mereka. Ia berlutut di samping gadis kecil itu, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya kecelakaan," ujar William lembut sambil mencoba membersihkan noda di sepatu gadis itu. Kemudian ia berdiri dan menghadap pria yang terlihat marah itu. "Master Lucas, saya William Pendragon. Mohon maaf atas insiden ini. Biarkan saya membantu membersihkan jas Anda."
Namun, kebaikan William rupanya tidak diapresiasi. Master Lucas menatap William dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya pada William. "Kau pikir sapu tanganmu yang murahan itu bisa membersihkan jas mahalku?!"
William tersentak, "Maaf, saya hanya bermaksud membantu. Mungkin kita bisa—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. William terhuyung, pipinya memerah akibat pukulan pria itu.
Ryan membeku. Matanya melebar menyaksikan adegan di depannya. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak pria itu lagi. "Berani-beraninya kau menyentuhku dengan sapu tangan kotormu!"
William mencoba menjelaskan, "Tuan, saya hanya bermaksud membantu. Ini hanya kecelakaan kecil dan—"
"DIAM!" Pria itu semakin murka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah William. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam sekejap!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak untuk membantu William.
Ryan akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berlari mendekati kerumunan, berusaha menembus para tamu yang menonton kejadian itu dengan wajah pucat.
"Ayah!" teriaknya.
Namun sebelum Ryan bisa mencapai ayahnya, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Master Lucas, dengan gerakan yang sangat cepat, menebas leher William Pendragon dengan tangan kosongnya. Seketika itu, kepala William menggelinding, diikuti robohnya tubuh William ke lantai.
"TIDAK!" Ryan berteriak histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia melihat ayahnya roboh ke lantai, darah mengalir deras dari lehernya.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa wanita pingsan menyaksikan kejadian berdarah itu.
Namun tak seorang pun berani mendekati William yang telah tewas, ataupun menghentikan pria yang baru saja membunuhnya.
Ryan berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar memeluk potongan kepala William. "Ayah ... Ayah!"
Ryan meraung, matanya liar mencari-cari bantuan. Ia melihat wajah-wajah familiar di antara kerumunan.
Orang-orang yang dulu selalu memuji keluarga Pendragon, teman-teman lama ayahnya, bahkan pamannya sendiri.
Tapi tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri diam, wajah mereka campuran antara ketakutan dan ... penghinaan? Seakan akhir seperti ini sudah sepantasnya diterima oleh keluarga Ryan!
Amarah membakar dada Ryan. Dengan gerakan cepat, ia meraih pisau makan dari meja terdekat dan menyerbu ke arah pembunuh ayahnya.
"KUBUNUH KAU!" teriaknya, mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
Namun pria itu terlalu kuat. Dengan satu tangan, ia menangkap pergelangan tangan Ryan, menghentikan serangannya dengan mudah.
Ryan menatap mata pria itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah membunuh seseorang di depan umum adalah hal biasa baginya.
"Keluarga Pendragon dari Golden River, ya?" Pria itu berkata, suaranya sedingin es. "Kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau adalah keluarga yang berada di posisi paling atas, aku tetap bisa membunuhmu dengan menjentikkan jariku!"
Ia melempar Ryan ke lantai dengan kasar. "Dan kau, dasar sampah tak berarti, kudengar kau terkenal di daerah ini karena tidak berguna. Haha, dan kau ingin membunuhku? Bahkan jika aku memberimu seratus tahun, kau tetap tidak berguna!"
Ryan tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar karena shock dan amarah. Ia ingin bangkit, ingin membalas, tapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dengan kuat. Ryan menoleh, melihat ibunya, Eleanor, dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
"Ibu?" bisiknya bingung.
Tanpa berkata apa-apa, Eleanor mendorong Ryan sekuat tenaga ke arah jendela besar yang mengarah ke Sungai Emas di belakang Paviliun Riverside.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah, dan Ryan merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya tercebur ke dalam air sungai yang dingin.
Sebelum kesadarannya menghilang, Ryan melihat ibunya berlari ke arah pria pembunuh itu, wajahnya penuh tekad ... dan keputusasaan.
Air sungai yang deras menarik tubuh Ryan, menghanyutkannya entah kemana. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa tidak ada yang membantu? Mengapa ibunya mendorongnya?
Dan yang paling penting ... apa yang akan terjadi padanya sekarang?
Entah sudah berapa lama Ryan hanyut, ia tidak dapat menghitungnya. Ketika kesadarannya mulai berangsur menghilang, Ryan merasakan sebuah tangan kuat menariknya ke permukaan. Samar-samar, ia melihat wajah seorang pria tua sebelum semuanya menjadi gelap.
*Lima tahun kemudian*
Angin dingin berhembus kencang di puncak Gunung Langit Biru. Di sebuah gua yang tersembunyi, seorang pemuda berdiri tegak, matanya terpejam dengan konsentrasi mendalam.
"Fokus, Ryan!" Suara serak seorang pria tua terdengar. "Rasakan aliran energi di sekitarmu. Biarkan Teknik Matahari Surgawi mengalir dalam meridianmu!"
Ryan Pendragon membuka matanya. Cahaya keemasan berpendar dari tubuhnya, menerangi seluruh gua.
Dengan satu gerakan tangan, batu-batu besar di sekitarnya terangkat ke udara, melayang seolah tak memiliki bobot.
Pria tua itu tersenyum puas. "Bagus. Kau sudah siap."
Ryan menurunkan batu-batu itu kembali ke tempatnya. Ia berbalik, menatap pria yang telah menjadi gurunya selama lima tahun terakhir.
"Guru," katanya dengan suara dalam. "Apakah ini saatnya?"
Sang guru mengangguk pelan. "Ya, muridku. Kau telah menguasai Teknik Matahari Surgawi dan rahasia alkimia tingkat tinggi. Kini saatnya kau kembali dan menghadapi takdirmu."
Ryan mengepalkan tangannya. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Ayahnya yang terbunuh, ibunya yang mengorbankan diri, dan pria itu ... pria yang telah menghancurkan segalanya.
"Akhirnya," ucap Ryan, matanya berkilat penuh tekad, "dendam ini bisa kubalaskan."
Sang guru meletakkan tangannya di bahu Ryan. "Ingat apa yang telah kuajarkan padamu, Ryan. Kekuatan sejati bukan hanya tentang membalas dendam. Tapi tentang keadilan dan melindungi yang lemah."
Ryan mengangguk. Ia telah berubah. Bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa menangis saat melihat ayahnya dibunuh. Kini ia adalah seorang kultivator, sekaligus alkemis yang kuat, menguasai teknik yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Saat fajar menyingsing, Ryan Pendragon melangkah keluar dari gua, meninggalkan kehidupannya selama lima tahun terakhir. Matanya menatap jauh ke cakrawala, ke arah kota Golden River yang tersembunyi di balik awan.
"Golden River," bisiknya. "Aku sudah kembali."
Wearing a white dress which was adorned with pearls in it, long enough for the bridesmaids to carry and expensive enough to not touch the ground. Shaping her figure perfectly as its silk hugged all of her curves and kissed every inch of her body like no one could. A net veil hanging above her face as a diamond head piece on her head as if she was a queen walking towards her throne. Her fragile hands had a bouquet of white roses in between them which had also had pearl studded in it as they were held together with a ribbon. Her father on her side while Sam on her other side. Her mother was also beside her as she walked towards the aisle. People gasped watching the new bride coming in, her hair style looked so fine and natural as if made in heaven with perfection. Her face had the most nature makeup on as if angels did it with their own hands. Her Gucci heels made her stand tall and confident. The scent of flowery cologne was so strong that everyone close to her was enchanted with her
Reynold did exactly as he said. He called off the deal and abducted Gerard on his way to his home. Kept him in his warehouse and tortured him for days until he begged for his death. But he didn't allow it yet. He got his employee back and even apologized to her for such a harsh attitude she had to go through. Everyone was surprised but that's how he was. He always kept it equal. Either with his enemies or friends. He never liked anyone having an upper hand on him. He even rewarded his employee with a bonus as a compensation for her emotional loss. The footage also came out as evidence and he didn't need anymore proof to prove he was actually a bastard. The following day, Veronica asked him to join her as they had to get Alex admission in school. He was going to join the play group batch with all the other toddlers. Veronica already confirmed the spot and all the arrangements were done for the admission. They only had to go and get him enrolled. Veronica didn't want to make Alex f
"care to tell me why would you do that miss? Are you aware how much loss our company has to bear just because of your one stupid behaviour!" He shouted in her face as the poor woman trembled with fear. "I'm sorry sir" she apologized meekly, not lifting her gaze from the floor. "I have no space for sorrys! I am going to fire you!" He announced and she looked up at him, immediately. Losing her job meant that she would never get a job in such a prestigious firm. Most of the companies in interviews always question why they got fired from the previous one and then they don't even hire. "Please sir don't do that! I will try my best next time but your client molested me that's why I couldn't contain my anger and slapped him! I'm sorry, I will not treat anyone like that again!" She started crying as she continued to beg him. "What?" He couldn't believe what he just listened to. Did she really mean by word molested?"Gerard molested you? Miss you should watch your tongue before making suc
"I think I don't want to ruin the moment we're in, so let's leave it for tomorrow morning." She enclosed the topic without revealing anything. But that discomfort still laid deep in her heart and she couldn't wait to let it out.."As you say, but I want to hear it out tomorrow. I won't accept excuses then" he stated and she heaved a sigh as she nodded in response. The cake was set aside as he kissed her on lips and she needed that kiss as she indulged in more and let it continue to a full blown kiss as they made out on the table. He gripped her ass and made her sit on the table as he got in between her legs and grinded his groin against her womanhood while she moaned relentlessly on his mouth. "You're so gorgeous! I'll never get enough of you!" He whispered in her ear as she kissed his neck and down to his Adam's apple. She unbuttoned his shirt and raked a hand over his perfectly built chest and chiseled muscles. Feeling his abes beneath her skin made her arouse so much. "You're we
It was this time that he asked Jason to bought him tickets to England. But he wanted to land in London first as there was some work which needed to be done first. There was this Spanish mafia who wanted to meet him since a long time but he had no time to spare. Nowadays they were in London so it was
It was around evening when but he was still in his office. He called Jason in and told him to schedule his session with a professional therapist. He admitted that he needed one after last night he had to take pills for a good sleep. He had been dealing with insomnia for a very long time but it takes
She packed her bags hurriedly as there was not much to take with herself. All the stuff belonged to Alex was heavy to take so she only packed his clothes and left the rest as Carter told her that they will pick it up later. Jason helped to put the bags inside the car as they all left again for the h
The little child touched his silver watch and he couldn't remove his eyes away from him. Jason tried move away the kid but Carter stopped him. "Who can be so careless to leave such a small kid alone?" Jason commented as Carter touched the kids cheek and he looked up at him with those doe eyes. He di






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan