Beranda / Fantasi / Insinyur Termalas Dari Dunia Lain / Chapter 98 Perlindungan raja

Share

Chapter 98 Perlindungan raja

Penulis: Shoera_moon
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 00:38:43

- DI RUANG AUDIENSI PRIVAT ISTANA -

BEBERAPA HARI SETELAH DEMONSTRASI

Theron berdiri dengan percaya diri di hadapan Raja Edmund, dokumen-dokumen tersusun rapi di tangannya. Suasana berbeda dari pertemuan sebelumnya—kini Theron membawa bukti-bukti yang tak terbantahkan.

"Yang Mulia," buka Theron dengan suara mantap, "saya datang untuk melaporkan perkembangan terakhir mengenai Ashworth Industries, termasuk keberhasilan demonstrasi sistem komunikasi semi-modern kami beberap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 190 Tak terbendung

    Ruang tamu rumah Martha dan Bernard sangat sederhana. Hanya beberapa kursi kayu, sebuah meja kecil, dan jendela yang menghadap ke ladang. Tapi pagi ini, ruangan sederhana itu menjadi saksi pertemuan yang akan mengubah segalanya.Felicity duduk di kursi dekat jendela, tangannya menggenggam erat tangan Martha. Wanita tua itu duduk di sampingnya seperti benteng terakhir, memberikan ketenangan melalui sentuhan hangatnya. Bernard berdiri di dekat pintu, sikapnya waspada namun tidak mengusir.Theron duduk di kursi seberang, Marcus berdiri di belakangnya seperti bayangan setia. Pria muda itu tampak berusaha keras untuk tetap tenang, meskipun matanya tidak bisa berpaling dari Felicity."Terima kasih sudah menerimaku," Theron memulai, suaranya hati-hati. "Aku tahu ini tiba-tiba. Tapi aku sudah mencarimu berminggu-minggu, Felicity. Sejak kau... sejak tebing itu."Felicity menunduk, tidak menjawab."Aku ingin kau tahu apa yang terjadi setelah itu,"

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 189 Kembali kosong

    Felicity tiba di rumah Martha dan Bernard saat malam hampir sepenuhnya turun. Langkahnya lambat, jauh berbeda dari semangatnya saat berangkat pagi tadi. Martha yang sedang menjahit di dekat lampu minyak langsung merasakan ada yang tidak beres."Nak?" panggilnya lembut. "Kau baik-baik saja?"Felicity menunduk, tidak menjawab. Ia duduk di kursi dekat perapian, memandangi api dengan tatapan kosong. Tatapan yang sama seperti minggu-minggu pertama ia di sini. Tatapan yang membuat hati Martha terenyuh.Bernard yang baru masuk dari kandang ikut terdiam. Ia bertukar pandang dengan istrinya, lalu duduk diam di kursinya, tidak berani bertanya.Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Hanya suara api yang berderak dan jangkrik di luar yang terdengar."Aku... bertemu seseorang di hutan," kata Felicity akhirnya, suaranya lirih. "Dari kota."Martha dan Bernard diam, memberi ruang."Besok dia akan datang ke sini. Untuk... berbicara." Fe

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 187 Senja yang berat

    Udara senja terasa berat, penuh dengan kata-kata yang belum terucap."Aku... aku tidak bisa memutuskan sekarang," kata Felicity akhirnya, suaranya bergetar. "Ini terlalu tiba-tiba. Terlalu banyak."Theron ingin membantah, ingin memohon, ingin menariknya segera. Tapi ia melihat kebingungan di mata Felicity, melihat air mata yang menggenang, dan ia menahan diri. Ia sudah belajar—dengan cara yang paling pahit—bahwa memaksa Felicity hanya akan membuatnya lari."Baiklah," katanya, meskipun hatinya menjerit. "Tapi setidaknya... setidaknya kau mau bicara, kan? Bukan di sini, di tengah hutan. Di tempat yang aman."Felicity mengangguk ragu. "Di rumah Martha dan Bernard. Besok pagi. Aku... aku perlu waktu."Theron menghela napas lega. "Besok pagi. Aku akan datang."Matanya beralih ke Liam—pemuda kurus yang sejak tadi hanya diam, menggenggam tangan Felicity dengan lembut. Ada sesuatu di mata abu-abu itu yang membuat Theron tidak nyaman. Ses

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 186 akhirnya menemukanmu

    Matahari mulai condong ke barat, menerangi langit dengan warna jingga keemasan. Mereka berjalan perlahan, kadang berhenti saat Liam kelelahan. Felicity terus menopangnya, tidak mengeluh sama sekali."Mungkin kita tidak akan sampai sebelum gelap," gumam Felicity cemas."Tidak apa-apa," jawab Liam lemah. "Aku bersama orang yang tepat."Felicity tersenyum, meskipun hatinya cemas. "Kau ini..."Tiba-tiba, Liam berhenti. Tubuhnya menegang—tidak karena sakit, tetapi karena sesuatu yang lain. Matanya yang abu-abu melebar, waspada."Ada apa?" tanya Felicity, bingung.Liam tidak menjawab. Ia menatap ke depan, ke arah jalan setapak yang mereka lalui. Di sana, di kejauhan, di antara pepohonan yang mulai gelap, terlihat sesosok bayangan.Bayangan itu bergerak mendekat.Liam merasakannya—getaran di dimensi, gangguan di kabut pelindung yang ia ciptakan. Seseorang telah menembusnya. Bagaimana bisa orang biasa menembusnya? ada h

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 185 Bersamamu

    Pagi itu Liam terlihat lebih pucat dari biasanya. Batuk-batuknya terdengar lebih keras saat Felicity datang dengan keranjang sarapan. Wajah Felicity langsung berubah cemas."Kau semakin parah," katanya, meletakkan keranjang dan segera duduk di samping Liam. "Aku harus memanggil tabib—""Tidak perlu," potong Liam lembut, tersenyum meskipun batuk masih mengganggunya. "Aku hanya perlu beberapa tanaman herbal. Di hutan sebelah timur, ada tempat yang kukenal. Tanaman tertentu bisa mengurangi batukku."Felicity mengerutkan kening. "Kau mau ke hutan? Dengan kondisi begini?"Liam mengangkat bahu lemah. "Sudah biasa. Aku sering ke sana sendirian.""Sendirian?" Felicity hampir berteriak. "Kau tidak bisa! Jalan ke hutan saja berat, apalagi kalau kau tiba-tiba batuk parah dan pingsan di sana!"Liam menatapnya, matanya yang abu-abu berkilat aneh—antara haru dan geli. "Lalu bagaimana menurutmu?"Felicity menghela napas, sudah mengambi

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 184 Hidup tenang

    Pagi di Oakhaven selalu sama: ayam berkokok, matahari merayap pelan di ufuk timur, dan kabut tipis menyelimuti ladang-ladang kecil sebelum perlahan diusir sinar mentari. Felicity bangun dengan perasaan ringan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia meregangkan tubuh di dipan sederhananya, mendengar Martha bergerak di dapur, mencium aroma bubur hangat dan teh herbal.Hari ini, seperti kemarin, seperti lusa, seperti hari-hari sebelumnya: **rutinitas yang menenangkan**.Setelah sarapan, Felicity membantu Bernard memberi makan ayam-ayam. "Cokelat" sudah menunggu di dekat kakinya, mematuk-matuk tanah dengan tidak sabar. Felicity tertawa kecil, menaburkan jagung tepat di depan ayam kesayangannya itu. "Kau rakus sekali," godanya.Dari kandang kambing, terdengar embikan Mawar yang minta diperah. Felicity mengambil ember kecil dan duduk di samping kambing betina itu. Tangannya yang dulu kaku kini sudah terampil—gerakan memerah susu sudah menjadi kebiasaan. Semburan pu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status