Se connecterMalam semakin larut.Arthur baru saja tiba di rumah saat pukul sebelas malam.Di dalam kegelapan ruangan karena semua lampu utama padam menyisakan cahaya temaram. Arthur melangkah sambil mengusap tengkuknya yang pegal.Sampai tiba-tiba Arthur menabrak seseorang, membuatnya terkejut tapi juga sigap menangkap pinggang orang yang mendadak melintas di depannya ini.“Kian?” Kening Arthur berkerut dalam saat samar-samar melihat wajah wanita yang ditangkapnya.Tapi menyadari perut wanita ini tidak besar, Arthur segera tahu wanita ini bukan istrinya.Dia segera membantu wanita ini berdiri tegak, sebelum dia melepas pinggang wanita ini.“Kenapa kamu berkeliaran malam-malam di ruang tengah?” Suara Arthur tegas, menyangka wanita ini adalah pelayan rumah.“Maaf, aku hanya mau ambil minum, tapi salah jalan.”Kening Arthur berkerut dalam mendengar suara asing wanita ini.Sampai tiba-tiba lampu utama di ruang tengah menyala.Arthur menoleh ke arah saklar berada, dia terkejut melihat Kian di sana. La
Siska terkejut mendengar ucapan Kian, tapi dia berusaha tenang.“Tapi aku bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Aku juga ada kemampuan, ijazahku memadai.” Siska membela diri dengan cepat.Kian diam menatap Siska yang begitu kukuh ingin bekerja di perusahaan.Meskipun Kian juga tahu kalau status pendidikan Siska lebih tinggi darinya.“Benar, kalau memang belum punya pengalaman, memang harus belajar.” Arron membenarkan. Dia menoleh pada Kian yang hanya diam. “Nanti coba saja bahas dengan Arthur dulu.”Arron menatap ke Siska lagi. “Kalau kamu tidak punya tempat tinggal di kota ini, tinggallah sementara di sini.”Siska mengembangkan senyum. Dia senang, Arron menawarinya tanpa Siska yang harus meminta.“Baik, Kek. Terima kasih banyak.”Siska memperhatikan Arron yang kembali masuk ke dalam rumah.Dia menoleh ke Kian yang ternyata sudah memandangnya.“Kemarin Paman dan Bibi, sekarang kamu. Aku harap niatmu ke sini benar-benar untuk mencari pekerjaan.” Setelah bicara, Kian menutup laptopnya.S
“Aku Siska, Kian. Masa kamu tidak menyimpan nomor ponselku.”Wajah Kian berubah datar mendengar suara sang sepupu dari seberang panggilan.“Ada apa menghubungi?” Nada bicara Kian sangat datar.Selama ini, baik paman dan bibinya tidak ada yang peduli pada Kian, apalagi sepupunya ini yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Kian walau usia mereka hampir sama.Dan sekarang, tiba-tiba saja Siska menghubunginya.“Kian, aku ada di depan rumahmu, lho. Apa kamu bisa meminta security untuk mengizinkanku masuk?”Kian menegakkan tubuhnya, pandangannya tertuju ke arah gerbang depan.“Mau apa kamu?” Secara spontan Kian mempertanyakan.Seseorang yang tidak pernah terlibat dalam hidupnya, tiba-tiba muncul secara tak terduga. Kian harus waspada.“Ya ampun, Kian. Aku jauh-jauh datang kemari, kamu tidak segera mengizinkanku masuk dan malah tanya mau apa? Apa kamu memperlakukanku begini karena merasa sekarang kita beda kasta?”Kian tersentak mendengar ucapan Siska.Napasnya menghela berat.Deng
Keesokan harinya.Kian masuk ke dalam rumah setelah mengantar Arthur yang pergi bekerja lebih awal pagi ini.“Habis jalan-jalan?”Pertanyaan Arron mengalihkan tatapan Kian ke arah sang kakek.“Habis ngantar Arthur sampai ke depan, Kek.” Kian berjalan pelan dan hati-hati karena tubuhnya semakin berat sekarang.“Mengantar Arthur? Memangnya dia mau ke mana sepagi ini?” Kening Arron sampai berkerut dalam.Kian mengembuskan napas pelan. Dia berdiri di hadapan Arron.“Katanya ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini, jadi Arthur berangkat lebih awal agar bisa pulang awal juga.” Wajah Kian berubah sendu. Semalam Kian melihat Arthur bangun lalu membuka laptop, begadang sepanjang malam, dan pagi ini Arthur harus berangkat pagi.Arron diam mendengarkan ucapan Kian. “Kek, aku ke kamar dulu.”Arron mengangguk. Dia memperhatikan Kian melangkah ke kamar lebih dulu, sebelum memanggil Malvin.“Ada apa, Tuan.” Malvin sedikit membungkuk ke Arron.“Apa terjadi masalah di perusahaan sampai membua
Saat malam hari.Arthur belum pulang saat makan malam, bahkan Kian sudah mencoba menghubungi tapi suaminya tidak membalas.“Apa dia lembur? Tapi, kenapa tidak mengabariku?”Kian mulai cemas, apalagi waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Kian tidak bisa beristirahat dengan tenang.Dia keluar dari kamar untuk menunggu suaminya pulang.Tepat saat itu, Arron ternyata baru saja akan kembali ke kamar.“Kenapa kamu belum tidur?” Arron menatap Kian yang tampak gelisah.Kian mencoba tersenyum walau sedikit dipaksakan.“Aku mau menunggu Arthur pulang, Kek.” Satu tangan Kian mengusap-usap lembut perut Kian.Arron mengangguk kecil. “Baiklah, tapi tunggu di dalam rumah saja, jangan keluar. Angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu saat ini.”Kian mengangguk pelan. “Iya, Kek.”Kian menatap Arron yang melangkah menjauh darinya.Sedangkan Kian duduk di sofa, menunggu kepulangan suaminya.Waktu terus berjalan.Tepat saat pukul sebelas malam, terdengar suara langkah menggema di ruangan.
Kian mengembuskan napas lega setelah melihat kepergian Rafka dan Linda.Dengan begini, bebannya sedikit berkurang. Kian tidak perlu mencemaskan apa pun lagi tentang paman dan bibinya.“Kian, kamu masih punya nenek yang sekarang sakit-sakitan, kenapa kamu tidak pernah memberitahu Kakek?”Kian tersentak mendengar ucapan Arron.Kian sampai saling tatap dengan Arthur, sebelum kembali menatap ke sang kakek.“Apa Paman dan Bibi yang cerita?” Kian langsung menebak.Arron mengembuskan napas pelan. “Iya, kasihan mereka. Sudah usia lanjut masih memikirkan bekerja untuk pengobatan ibu mereka. Benar-benar anak-anak yang berbakti.”Arron mengangguk-angguk setelah bicara. Bagaimanapun dia juga mendamba anak-anak yang menyayanginya, walau semua itu tidak akan pernah Arron dapatkan.“Kamu tenang saja, Kakek sudah memberi paman dan bibimu uang untuk berobat nenekmu. Jadi, kamu jangan terlalu banyak berpikir, apalagi kamu harus fokus ke kehamilanmu.”Setelah bicara, Arron melangkah masuk lebih dulu.Sed
Kian menatap ke Linda dan Rafka yang sudah ada di hadapannya.Apa pun niatan keduanya, Kian tidak boleh lengah.Namun, karena Arron begitu bersemangat, Kian akan menunggu. Jika paman dan bibinya melakukan hal-hal yang tidak baik, maka dia akan bertindak.“Kian, bagaimana kabarmu?” Linda membuka ked
Setelah mendapat izin dari Arthur.Kian tetap bekerja meski semua harus dilakukan dari rumah.“Bu Kian. Pak Arthur tidak tahu kalau saya yang kasih buah potong kemarin ‘kan, Bu? Saya takut kena masalah, apalagi sekarang Ibu juga bekerja dari rumah.”Kian menatap staffnya yang datang ke rumah untuk
Sore hari.Kian duduk di kamar sambil meluruskan kaki di kursi kecil. Tatapannya tertuju ke luar, memandang langit yang perlahan memerah.Tangannya mengusap pelan perutnya yang besar. Dia kekenyangan karena Arron membelikan es yang dia mau juga beberapa camilan.Saat sedang menikmati suasana sore. K
Kian menggeleng.“Tiba-tiba saja sakit.” Melihat Kian yang merintih kesakitan. Arthur dengan segera meraup tubuh Kian ke dalam gendongan.Arthur keluar dari ruangan Kian dengan wajah panik.Beberapa staff di departemen desain terkejut dengan apa yang Arthur lakukan.“Apa Bu Kian mau melahirkan?”“B







