LOGINPernikahan Laura dan Jackson tidak harmonis seperti yang dilihat orang. Jackson berselingkuh dan berkhianat, membuat Laura bertekad untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Laura tanpa sengaja terjerat hubungan gelap dengan Bernard Berzone, Bos Jackson di kantor. Keduanya saling bergandengan tangan membalas dendam pada orang-orang yang menyakiti mereka.
View More"Terima kasih untuk malam indahnya, ya, Mas," kata Anilla sembari merapihkan rambut dengan jari tangan. Matanya mengedip manja pada suami yang baru menikahinya.
Bagas hanya menarik sedikit bibirnya untuk tersenyum. Tapi, hal itu tidak menjadi masalah untuk seorang Anilla Prameswari. Seorang gadis cantik dengan kulit putih dan rambut panjang yang menutupi punggung apabila digerai.
Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin suaminya ini. Tapi, justru sikap ini lah yang Anilla sukai. Dia berkeyakinan apabila laki-laki yang dingin layak gunung es itu tipe-tipe setia. Dia terkekeh sendiri, apabila Bagas berekspresi datar.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Bagas sembari menyingkap selimut dan berdiri meninggalkan Anilla menuju kamar mandi.
Anilla kembali terkesima menatap punggung Bagas yang berotot, "Ehmm! Memang, aku tidak salah pilih, walaupun aku harus meyakinkan Ambu supaya menyetujui pernikahan ini! Ah, Anilla good job, kamu pemenang!" seru Anilla yang terus mengembangkan senyuman.
Sesekali dia teringat ketika pertama kali bertemu Bagas di perusahaan tempat dia melamar kerja. Dia mengira Bagas adalah karyawan di kantor tersebut. Dengan wajah datar, dia meminta Bagas untuk mengantarnya ke ruang HRD. Pada saat itu, Bagas mengantarkannya. Tapi, setelah beberapa hari bekerja, dia baru tahu apabila Bagas adalah atasannya.
Wajah cantik Anilla kini berubah seperti kepiting rebus. Dia mengigit jarinya sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ya, Alloh. Aku tidak menyangka atasanku, sekarang menjadi suamiku. Alhamdulillah, memang jodoh itu tidak ada yang tahu," gumamnya dibalik selimut yang terbuat dari kain halus.
Bagas, keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya. "Ann, ngapain sembunyi kayak gitu?" tanya Bagas ketika netranya menatap gundukan besar di kasur king size di sebuah hotel bintang lima kota Bandung.
Anilla membuka selimut dan terkejut ketika setengah badan Bagas terekspos. Dia menutup mata dengan tangan kanannya. "Tolong dong, Mas. Kalau keluar dari kamar mandi pakai baju, jangan kayak gini!" rengek Anilla dengan suara manjanya.
Kemudian, samar dia merasakan ranjang empuk bergerak, karena Bagas mulai mendekatinya. Dia menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya. "Dasar laki-laki, tidak puas apa? Semalam sudah dikasih, sekarang mau lagi!" Anilla bergumam dengan kesal.
Pletak!
Satu jitakkan, menyadarkan sangkaan Anilla. "Mandi! Bersihkan diri kamu dulu. Baru, nanti kita turun untuk sarapan!" nadanya memerintah.
"Ih, kirain aku. Mas, mau lagi!" seru Anilla seraya mencebikkan bibirnya.
"Apa? Kamu kira aku apa, Anilla Prameswari? Makanya jangan kotori otak dengan tontonan aneh!" ejek Bagas pada Anilla.
"Kamu itu, Mas. Aku, 'kan, hanya berasumsi!" kilah Anilla sembari berdiri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Bagas hanya menatapnya datar tanpa menggodanya. Tapi, sekali lagi, dia paham akan suaminya ini.
Anilla berjalan dengan menyeret selimut tebal, susah payah dia melangkah menuju kamar mandi. Netranya menoleh pada suaminya yang tak bergerak menolongnya.
"Sudah, Anilla jangan berharap gunung es itu bergerak menolong kamu. Yang penting kini kamu bahagia bersama dirinya. Kamu tidak susah-susah lagi mencari pekerjaan untuk mengobati Ayah," ujarnya tanpa meneteskan air mata atau rintihan penyesalan.
Di dalam kamar mandi, Anilla menyalakan shower dan memutar tombol untuk mengaturnya pada posisi air hangat. Dia sengaja mengisi bathtub untuk sekedar berendam dan memulihkan sendi-sendinya yang kaku.
Setelah dirasa penuh, dia membenamkan tubuhnya ke dalam air hangat yang telah dicampur aroma terapi. Hangat dan segar yang dia rasakan.Khayalnya kembali mengingat ketika Bagas melamar Anilla satu Minggu yang lalu. Hanya butuh satu Minggu untuk seorang Bagas bisa meluluhkan hati Anilla yang baru lulus kuliah. Karena dirasa Bagas lebih dewasa dan mapan. Anilla langsung menyetujui permintaannya.
"Mungkin karena aku cantik! Jadi atasanku menikahiku tanpa proses lama. Ya, sudah Anilla, nikmati saja kehidupanmu saat ini," ucapnya sembari membasuh tubuh.
Hampir setengah jam Bagas menunggu. Namun, Anilla masih betah di kamar mandi. Dia berjalan dengan cepat dan mengetuk pintu. "Ann, cepatlah! Aku tidak suka menunggu untuk hal sepele!" teriak Bagas.
"Ya, Mas. Sebentar lagi selesai!" sahut Anilla dengan nada tinggi.
Tak lama Anilla keluar dengan memakai kimono handuk putih yang membungkus tubuh. Wangi dan segar menyeruak di cuping hidung Bagas yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi. Ingin rasanya dia, menarik tubuh istrinya mendekat dan menempelkan kembali indera peraba mereka.
Namun, dengan cepat Bagas meninggalkan Anilla. Tapi, sekali lagi Anilla paham akan kelakuan Bagas yang masih dingin dalam bersikap.
"Aku harus bisa meluluhkan gunung es ini. Ayok, Anilla! Kamu pasti bisa," ujarnya seraya menaikan kedua alisnya.
Kemudian, Anilla mengambil tas travel bag-nya untuk memilih baju yang sesuai pada pagi ini. Dia menoleh sebentar, menatap laki-laki dingin di sebelahnya. Tangannya memegang remote TV. Tubuh indah Anilla tak membuatnya berpaling dari tonton televisi.
Anilla menghembuskan napas panjangnya, "Sabar, Anilla!" gumamnya kembali. Kemudian tangannya mengambil celana panjang longgar berwarna hitam yang dipadukan dengan atasan outfit krem. Dia berjalan menuju ruang ganti dan segera memakainya baju dengan style ala-ala Korea.
Karena terlalu lama menunggu Anilla, Bagas mendengkus kesal, "Kenapa harus terjebak dengan gadis kecil ini? Kalau bukan karena Adisti yang memintanya. Sungguh, Aku tidak menginginkan pernikahan ini terjadi!" Dia menjambak rambutnya dengan kasar.
Beberapa menit berlalu, Anilla keluar dari ruang ganti dengan senyuman manis. Dia mendekati Bagas yang masih duduk di atas ranjang.
"Ayok, Mas! Sarapan dulu, perut aku laper banget!" rengek Anilla mulai menggoda. Dia merasa tak apa lah, dia bersikap seperti ini karena kewajiban seorang istri untuk menyenangkan suami.
Bagas hanya tersenyum kecut, sembari memindai riasan natural istrinya. "Cantik!" ucapnya pendek.
Anilla hanya bisa mengikuti suaminya yang semakin tampan dengan celana denim krem, dipadu kaos slim fit dark blue.
***
Bagas mengajak Anilla, menuju resto hotel. Netra Anilla, begitu takjub menatap deretan makanan yang beraneka ragam. Wangi butter bercampur dengan wangi-wangian masakan lainnya, begitu menusuk indera penciuman.
Kruk ... Kruk ... Kruk ...
Nyanyian di perut Anilla, tak mampu lagi disembunyikan. Bagas tersenyum kembali pada Anilla, netranya menatap wajah Anilla, yang telah berubah menjadi merah merona karena malu.
"Maaf, ya, Mas. Emang perutnya gak bisa kompromi," sahut Anilla sembari menggaruk lehernya yang tak gatal.Setelah mengambil makanan, Bagas mengajak Anilla duduk di meja yang berdekatan dengan kolam ikan buatan. Bunyi gemericik dari air mancur, menambah syahdu kedekatan mereka.
"Ann! Ada yang harus aku bicarakan sama kamu! Tapi, makanlah dahulu," kata Bagas yang masih memasang wajah datar.
"Tidak apa-apa, bicara sekarang saja!" perintah Anilla karena tidak sabar dengan kabar yang akan didengarnya.
"Maaf, sebelum! Tujuan aku menikahi kamu adalah karena istriku yang memintanya, agar kami memiliki keturunan!" sesal Bagas.
Prang!
Suara garpu yang terlepas dari tangan Anilla. Dia tidak menyangka, kalau Bagas menikahinya hanya untuk memberikannya keturunan dan bukan karena cinta.
"Apa, Mas? Kamu menikah denganku hanya untuk dijadikan wanita kedua! Supaya kalian bisa memiliki keturunan?" pekik Anilla. Bibirnya bergetar menahan emosi, hatinya begitu hancur mendengar kejujuran laki-laki tampan dihadapannya.
"Ya! Dan aku pun tidak pernah mencintai kamu, Anilla Prameswari!" Bariton Bagas terdengar tegas, namun seperti sembilu yang mampu menyayat hati gadis cantik yang baru saja dimilikinya.
Anilla hanya bisa menangis dalam sesal, gemertak gigi terdengar pilu. Tubuh ringkihnya kini bergetar menahan emosi yang kian membuncah.
Laura datang ke rumah tempat di mana keluarga Jackson tinggal. Setelah tiba di dalam rumah itu ternyata sudah banyak anggota keluarga yang tiba lebih dulu daripada dirinya. Maklum saja memang Laura sengaja datang lebih lambat 2 jam dari waktu yang dijanjikan."Dari mana saja kamu? Kenapa kamu datang terlambat sekali? Apakah kamu tahu seberapa lama kami menunggumu di sini?" Emma lebih dulu menyerbu Laura bahkan sebelum wanita itu duduk.Laura tersenyum tipis menatap Emma, kemudian beralih menatap ke arah anggota keluarga Jackson yang lain. Terlihat juga pria itu duduk bersama Ariana dengan wajah mendung, sementara Ariana sendiri terlihat menangis dengan suara isak yang memenuhi ruangan. "Maaf, aku datang terlambat karena ada urusan yang harus aku selesaikan dulu." Laura berbicara sambil duduk. "Ada apa kalian memanggilku kemari? Apakah masih masalah Ariana? Aku sudah katakan pada kalian jika aku tidak akan mencabut laporanku. Begitu juga dengan orang-orang yang akan menuntut Elina."
Laura duduk di kursi kerja Bernard sambil menatap sekeliling. Pria yang membawanya ke kantor saat ini sedang rapat. Laura ditinggalkan di dalam ruang kerja dan bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Itu yang dikatakan oleh Bernard sebelum meninggalkannya. Rasanya bosan sekali untuk menunggu di sini. Laura ingin pergi, namun para pengawal Bernard yang berada di depan pintu tentu tidak mengizinkannya. Ada makanan dan juga snack yang sudah disiapkan untuknya. Sayangnya, Laura tidak tertarik untuk menikmatinya. Perempuan cantik itu melihat-lihat rak buku yang ada di dalam ruang kerja, mengambil beberapa buku dan membacanya. Sudah 2 jam berlalu, namun Bernard belum juga kembali. Tak sengaja tatapan Laura tertuju pada laci yang ada di sisi mejanya. Jika di rumah biasanya Laura akan menyimpan pernak-pernik lucu di dalam lacinya. Mungkin Bernard juga menyimpan pernak-pernik lucu khusus pria? Pikir Laura di dalam hatinya. Perempuan cantik itu menarik laci atas dan menemukan banyak
Rumah besar yang biasanya diisi dengan anggota keluarga lengkap kini tampak lengang. Para petugas sudah pergi membawa barang bukti dan juga para tersangka yang mereka tangkap. Di rumah ini hanya menyisakan para pelayan, Richard, Laura, dan Audi. Para pelayan sudah membubarkan diri, menyembunyikan diri karena takut terlibat. Sementara Laura masih duduk di ruang tamu bersama Richard dan Audi setelah kepergian orang-orang itu. "Kamu akan menempati rumah ini. Rumah ini atas nama mamaku, bukan atas nama Edward. Jadi, pihak berwenang tidak akan menyita rumah ini. Paling sesekali mereka akan datang untuk melakukan pemeriksaan," kata Laura sambil menatap Richard. "Jika aku tinggal di rumah besar ini, bagaimana dengan biaya hidupku? Aku tidak punya uang untuk membayar konsumsi di rumah ini. Belum lagi pelayan yang perlu digaji." Richard terlihat pasrah dengan keadaan. Paling-paling nanti jika memang Laura ingin menendangnya dari kehidupannya, mungkin Richard akan memohon pada wanita sat
Laura melangkah menuju kamarnya, sebelum akhirnya perempuan cantik itu kembali dengan membawa beberapa berkas yang langsung dia tunjukkan pada Edward. Tim investigasi sedang mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Edward. Termasuk, memeriksa ruang bawah tanah di mana banyak sekali harta yang tersembunyi di dalamnya. "Kamu lihat ini. Ini adalah berkas medis kesehatan kamu. Dari tahun sebelum mamaku menikah denganmu, kamu adalah seorang pria yang tidak bisa memiliki keturunan. Ini adalah data lengkapnya." Laura menunjuk salah satu kertas di hadapan Edward yang dibaca pria itu dengan sangat teliti. "Kamu ingat saat itu mamaku harus pura-pura berada di luar negeri untuk melahirkan aku. Padahal mamaku tidak berada di luar negeri. Mamaku mengadopsi aku yang kebetulan saat itu masih bayi. Saat itu kamu tidak peduli dengan ibuku melahirkan atau tidak. Saat itu kamu sedang sibuk dengan selingkuhan kamu."Laura tidak lupa untuk menatap ke arah Lina yang kedua tangannya juga sudah diborgol. Edward
Laura turun dari mobilnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah besar 2 lantai yang sudah ditempatinya beberapa waktu ini. Laura baru saja melewati pintu utama ketika melihat kain-kain yang cukup merusak pemandangan berserakan di lantai.Warnanya merah mencolok, membuat sakit mata bagi yang memand
Matahari sudah mulai tampil dengan pesona cahaya yang menyinari bumi. Celah cahaya memasuki jendela melalui pantulan kaca dengan hordeng yang tidak tertutup rapat. Sementara di sebuah tempat tidur berukuran king size dengan sprei berwarna putih, sepasang laki-laki dan perempuan masih terlelap den
"Bagaimana dengan taruhan kita malam ini? Kira-kira siapa yang akan menjadi gadis tidak perawan malam ini?" Seorang perempuan dengan kulit eksotis mengenakan rok pendek setengah paha dan baju tanktop terbuka, berdiri sambil memegang botol minuman di tangan kanannya.Gadis itu menatap teman-temanny
Sebuah tamparan renyah terdengar di sebuah ruangan dengan kehadiran 4 orang yang menyaksikan adegan tersebut. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang menghiasi wajahnya, menatap tajam pada putrinya yang nyaris membuat malu di depan keluarga besar mereka. Edward, tidak menyangka jika putriny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews