로그인Kiandra harus menelan kenyataan pahit saat rencana pernikahannya gagal karena perselingkuhan calon suami dan sahabatnya sendiri. Terpuruk karena fakta menyakitkan, Kiandra bertemu dengan Arthur, pria misterius yang ditolongnya karena sebuah kecelakaan. Saat Kiandra terpojok karena desakan keluarga, Arthur keluar dengan tatapan dinginnya, lalu dia mengatakan, "Aku Arthur, calon suami Kian."
더 보기'Menikahimu? Apa kamu pikir aku bodoh?'
'Aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya memanfaatkanmu agar bisa mencapai tujuanku. Sekarang aku sudah naik jabatan menjadi seorang manager, jadi aku tidak membutuhkanmu lagi. Baguslah kalau kamu tahu, aku tidak perlu capek-capek menjelaskan.'
Tangan kanan Kiandra Shaylin menekan dadanya kuat-kuat ketika kalimat yang diucapkan mantan kekasihnya terus terngiang jelas di kepalanya.
Beberapa saat lalu, dia memergoki kekasihnya berselingkuh.
Lebih parahnya, selingkuhan Julian adalah Kanaya–teman sekolah Kian. Teman yang tahu susah dan senangnya Kian, teman yang tahu bagaimana perjuangan Kian selama ini. Kini mengkhianatinya.
Miris!
Senyum getir berhias di wajahnya mengiringi langkah kakinya yang diseret paksa saat menyusuri jalanan yang Kian lewati. Gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu akhirnya menghentikan langkah tepat di tepi pembatas jembatan. Dia berdiri diam menghadap pembatas jembatan, tatapannya kini tertuju ke sungai besar yang cukup dalam.
Tatapan Kian begitu sendu saat bibir mungilnya bergerak pelan. “Ternyata, selama ini kamu hanya membodohiku saja.”
Setelahnya senyum Kian berubah begitu getir. Kian menarik napas dalam-dalam, sedikit menengadahkan wajah, membiarkan bias cahaya menyilaukan matanya. Dia terus mempertahankan posisinya untuk menghentikan air mata yang siap mengalir dari pelupuk matanya. Walau apa yang dilakukannya sia-sia. Buliran bening itu tetap menetes perlahan membasahi wajahnya.
Bodoh!
Selama ini, Kian bekerja paruh waktu tak hanya satu pekerjaan tanpa lelah untuk membantu biaya Julian melanjutkan kuliah agar bisa dipromosikan untuk naik jabatan di perusahaan tempat Julian bekerja.
Dia dan Julian pernah berjanji akan menikah setelah Julian mendapatkan jabatan manager di perusahaan besar di pusat kota.
Namun hari ini, Kian menelan kenyataan pahit. Dia mendatangi rumah Julian untuk membahas kelanjutan rencana pernikahan mereka yang sudah diatur sebelumnya, tapi malah perselingkuhan kekasih dan sahabatnya yang harus disaksikannya.
Dan tadi, dengan tenang Kanaya berucap, “Maaf, Kian. Kami selama ini memang saling mencintai. Tapi Julian terlalu berhati lembut hingga tak tega jujur padamu soal hubungan kami.”
Munafik! Bibir Kanaya memang sangat manis dalam berucap, sampai-sampai membuat Kian percaya jika Kanaya adalah teman terbaiknya, padahal faktanya Kanaya adalah musuh dalam selimut.
Tadi, saat tangan Kian begitu gatal ingin meremas mulut Kanaya, Julian menghalanginya dengan berucap, “Kanaya tidak bersalah. Kamu yang terlalu berharap padaku, membuatku jadi tidak bisa menolakmu.”
Kian meremat udara di depan wajahnya, geram bercampur sakit rasanya meremas dadanya.
“Bodoh, memang benar aku yang bodoh. Bagaimana bisa aku tidak menyadari hubungan mereka dan bisa-bisanya aku menganggap mereka lebih dari apa pun dalam hidupku?!”
Ingin rasanya dia berteriak keras, tapi sesak yang menekan dadanya, membuat Kian hanya bisa menghela napas berat.
Kian menyeka air mata yang terus menetes begitu saja dari pelupuk mata, senyumnya begitu getir di wajahnya. Sekuat apa pun dia menahan sakitnya, tapi tetap saja terasa, perih.
Kian menatap arus sungai yang ada di bawah jembatan. Jika dia lompat? Apa dia bisa terbawa arus lalu menyusul kedua orang tuanya?
Lagi-lagi Kian tersenyum getir, jantungnya seperti diremas kuat begitu nyeri. Saat kedua tangannya memegang pegangan jembatan yang hanya setinggi batas pahanya, Kian terkejut saat mendengar suara decit ban begitu memekakkan telinga.
Kepalanya menoleh ke arah samping, bola mata Kian membulat lebar melihat sebuah mobil melesat cepat ke arahnya.
Namun, sebelum mobil itu mencapai di tempat Kian berdiri, mobil itu sudah terbanting ke kiri sebelum menabrak pembatas jembatan dengan sangat keras dan akhirnya masuk ke dalam sungai.
“Ya Tuhan!” pekik Kian sangat syok.
Kian melongok ke bawah, melihat mobil yang ada di bawah sana perlahan tenggelam.
“Ah … aku berpikir untuk bunuh diri, tapi aku bisa berenang dan sekarang malah ada orang bodoh mengemudi ugal-ugalan dan masuk sungai!” geram Kian karena panik.
Tanpa pikir panjang, Kian terjun dalam sekali lompatan masuk ke dalam sungai. Kian masuk ke dalam air, mengimbangi gerak mobil yang perlahan tertelan pelan oleh dalamnya sungai itu.
Saat Kian terus berenang ke bawah hingga sejajar dengan bagian depan mobil, tatapannya tertuju pada sosok pria yang memejamkan mata duduk di belakang stir mobil.
‘Tampan sekali,’ batin Kian menatap pria yang tak sadarkan diri dan terjebak di dalam mobil yang terus tenggelam menuju dasar sungai.
Kian berenang lebih dekat. Melihat kaca jendela di pintu yang tidak tertutup sempurna, memberikan kesempatan untuk Kian menyelamatkan pria di dalam mobil.
Mencoba memasukkan satu tangan ke dalam, Kian berhasil menekan tombol untuk membuka pintu mobil itu. Dengan udara yang mulai menipis di paru-paru, Kian membuka pintu tepat saat mobil menyentuh dasar sungai.
Saat akan membangunkan pria di dalam mobil, Kian sangat terkejut melihat darah mulai menyatu dengan air sungai. Hampir saja Kian kehilangan keseimbangan dan napasnya karena tersentak, dia bisa menguasai diri, lalu bergegas melepas sabuk pengaman yang menyilang di depan dada pria ini.
‘Dia berat sekali,’ batin Kian saat sudah merangkul lengan pria yang ditolongnya.
Dia berenang dengan satu tangan, sekuat tenaga membawa pria yang tak dikenalnya ini untuk naik ke permukaan.
Begitu mereka sampai di permukaan. Kian masih harus bekerja keras menarik tubuh pria ini ke tepi. Dengan napas terengah, Kian berhasil membaringkan pria ini di rerumputan.
“Aku sudah menyelamatkanmu, jangan bilang aku harus membuat napas buatan juga,” gerutu Kian masih dengan napas tersengal sambil duduk memulihkan tenaganya, tatapannya tertuju ke pria muda yang ditolongnya.
Beruntung, pria itu tiba-tiba terbatuk-batuk. Mengeluarkan air dari mulut, hingga akhirnya kelopak mata pria itu sedikit terbuka.
Kian membuang napas lega. Dia mendekat pelan ke pria ini, menatap pria yang ternyata terluka di bagian perut sebelum dia bertanya, “Siapa namamu?”
“Arthur.”
Suara berat itu meluncur dari bibir pria bernama Arthur ini.
“Baiklah, Arthur. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Tunggu di sini, aku akan mencari bantuan.”
Kian bersiap berdiri, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh Arthur, membuat Kian menatap bingung ke pria ini.
“Ja-ngan ke ru-mah sa-kit.”
“Apa?” Kian tidak bisa mendengar jelas suara terbata Arthur, sebelum dia bisa mengonfirmasi apa yang didengarnya, pria ini sudah tidak sadarkan diri.
“Hei, bangun. Jangan pingsan! Arthur!” Kian mencoba membangunkan Arthur, tapi sia-sia.
Menatap panik pada Arthur, Kian meneguk ludah kasar dan kebingungan.
“Bagaimana ini? Aku harus membawanya ke mana?”
Keesokan harinya.Kelopak mata Kian perlahan terbuka. Dia merasakan sesuatu menusuk-nusuk kepalanya, sampai membuatnya menekan kuat kepala dengan satu tangan.“Pusing sekali.” Kian sedikit meringis.“Kamu sudah bangun.”Mata Kian terbuka lebar ketika mendengar suara Arthur. Dia menoleh ke arah pintu, suaminya sedang melangkah menghampiri ranjang.“Apa aku semalam mabuk?” Kian berusaha bangun dari berbaring meski kepalanya masih sangat berat.Arthur mengangguk. Dia duduk di tepian ranjang, lalu mengulurkan jus lemon untuk Kian.“Minumlah, ini bisa sedikit meringankan pusing dan mualmu.”Kian mengangguk. Tangannya menerima gelas yang Arthur ulurkan, lantas meminum perlahan.Kian menatap Arthur yang masih memperhatikannya, setelah selesai minum, Kian benar-benar memandang ke Arthur.“Apa aku semalam membuat masalah?” Kian bertanya dengan wajah takut.Arthur menggeleng. “Tidak juga.”Kian mengembuskan napas lega.“Bukannya kamu bilang hanya traktiran makan, kenapa sampai mabuk?” Pertanya
Di mobil.Arthur terkejut mendengar suara Kian yang sedikit sendu.“Kian, ada apa? Aku sedang dalam perjalanan ke sana.” Kaki Arthur menginjak pedal gas semakin dalam setelah bicara.Cemas jika terjadi sesuatu pada Kian.“Aku mau pulang.”Mendengar suara sendu Kian, Arthur mengangguk.“Aku akan segera tiba, tunggu sebentar.”Mengakhiri panggilan. Arthur mempercepat laju mobilnya menuju restoran tempat Kian berada.Tak beberapa lama kemudian.Mobil Arthur tiba di area restoran. Tatapannya langsung tertuju ke gadis yang duduk di anak tangga dengan kepala tertunduk.“Kian.”Arthur cemas. Kenapa istrinya sendirian di sana?Bergegas turun setelah mobil berhenti. Arthur segera berlari menghampiri Kian.“Kian,” panggilnya.Mendengar suara suaminya. Kepala Kian sedikit terangkat, tatapannya tertuju pada sosok yang dinantinya.“Arthur.” Kian berdiri meski tubuhnya lemas, bahkan dia sedikit sempoyongan.Melihat sang istri yang dalam kondisi tak baik-baik saja. Arthur langsung mengulurkan tang
Di private room restoran.Kian bersama semua staff berada di sana sedang menikmati hidangan yang disajikan.Kian memandangi makanan yang ada di atas meja, semua makanan itu sangat mahal. Apakah dia yang harus membayarnya, atau mereka akan membayar sendiri-sendiri?Salah satu staff berdiri, lalu mengangkat gelas di udara dengan tatapan tertuju pada Kian.“Hari ini, kita berkumpul di sini untuk merayakan keberhasilan proyek yang dikerjakan Kian. Dan, atas pencapaian itu, Kian dengan baik hati mentraktir kita semua makan di sini.”Kian terkejut. Jadi benar, memang dialah yang harus mentraktir semua makanan di sini.Meski suara tepuk tangan terdengar riuh di ruangan, tapi bukan berarti Kian senang. Hanya saja, dia menghormati karyawan lain, membuatnya hanya mengangguk dengan senyum kecil di wajah.‘Seharusnya, uang tabunganku cukup untuk membayar semua ini,’ gumam Kian.Kian mengeluarkan ponsel. Dia mengetik pesan.[Arthur, kalau uang tabunganku, kupakai untuk membayar makanan para staff d
Kian memperhatikan detail kalung yang ada di foto komputernya, jemarinya lantas menyentuh kalung yang kini menggantung di lehernya.Sama.Kalung miliknya, memang sama dengan kalung yang dilaunching oleh Belezza. Dan, ketika kalung yang dibuat, semuanya sudah terjual.“Mana mungkin kalung milikku asli,” gumam Kian dengan jemari masih menyentuh liontinnya.“Tidak, tidak mungkin asli. Arthur tidak akan sanggup membelinya.” Kian meyakinkan dirinya sendiri.Kian menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan kasar.“Walau imitasi, tapi Arthur sudah berjuang memberikan yang terbaik untukku, aku tetap suka.”**Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur. Dia membawa berkas yang diletakkan di meja Arthur.“Soal Julian, pihak legal sudah melaporkannya ke pihak yang berwajib untuk segera bisa ditindak. Dia masih dijadikan sebagai saksi, kalau keterangan dan bukti-bukti mengarahkannya sebagai pelaku, maka statusnya akan dijadikan sebagai tersangka.”Arthur mengangguk-angguk pelan mendengar penjela
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 하기