LOGINArthur keluar dari ruang dokter.Tulang-tulang di kedua kakinya seperti dilepas paksa.Tak ada tenaga untuk hanya sekadar melangkah.Bahkan, Arthur sampai limbung. Tubuhnya menabrak dinding di sisi kirinya.“Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Kian.” Kepala Arthur tertunduk dalam.Perlahan cairan bening menetes dari pelupuk matanya.Bagaimana? Hanya ini kata yang melintas di kepalanya.Arthur tidak bisa menyampaikan kabar buruk ini pada Kian.“Tuan Arthur.”Kepala Arthur diangkat pelan.Tatapannya perlahan tertuju pada Malvin yang berdiri di hadapannya.Pria paruh baya yang sudah mengabdi hampir setengah dari hidupnya ini pada sang kakek, kini menatap nanar pada Arthur.“Anda baik-baik saja, Tuan?” Malvin menatap sendu.Arthur menggeleng pelan.Malvin membantu Arthur berjalan. Dia mengajak Arthur duduk di bangku selasar yang ada di koridor rumah sakit.“Apa yang pihak rumah sakit katakan, Tuan?” Malvin mengajak bicara untuk melegakan perasaan Arthur.Arthur menggeleng, tatapannya
Cengkraman Arthur menguat, bahkan dia tidak peduli lagi kalau yang sedang ada di depannya ini seorang perempuan.“Pak, te-nang-kan diri-mu du-lu.” Dokter tergagap karena tercekik kuat.Saat itu dua perawat dan security datang.Mereka menarik tangan Arthur agar terlepas dari pakaian dokter.Arthur berteriak keras.Mata Arthur memerah, menyorot penuh amarah.Bagaimana bisa rumah sakit menghilangkan bayinya?“Bagaimana bisa kalian memintaku tenang? Kalian harus bertanggung jawab!” Arthur berusaha memberontak. Tapi kedua tangannya ditahan security dan perawat.“Kami tahu jika salah. Tapi ini penculikan dan bukan sebuah kesengajaan dari kami. Kami harap Anda bisa tenang dan kita lakukan investigasi sama-sama.” Dokter mencoba menenangkan.“Argh! Bagaimana bisa kalian memintaku tenang?!” Wajah Arthur merah padam, sebelum tatapannya berubah sendu.Bagaimana caranya dia mengatakan ini ke sang istri?Saat Arthur masih ditahan security. Arron tiba di sana bersama Kendrick dan Malvin.“Ada apa in
Hari berikutnya.Kian berbaring di ranjang pesakitan memakai baju khusus untuk operasi.Kedua tangannya menyentuh perut. Berkali-kali dia mengembuskan napas pelan.“Anda jangan terlalu tegang. Semuanya akan berjalan dengan lancar.”Kian menoleh pada perawat yang baru saja bicara. Kepalanya mengangguk pelan.Sudah waktunya Kian dibawa ke ruang operasi.Kian semakin gugup. Tubuhnya tiba-tiba begitu dingin.Saat itu, telapak tangannya digenggam erat. Kian menoleh, suaminya sudah berdiri di samping ranjang.“Aku akan menemanimu di ruang operasi, kamu jangan khawatir.” Arthur menatap penuh perhatian pada Kian.Kian mengangguk-angguk. Ketegangannya perlahan-lahan mengendur.Arthur berjalan di samping ranjang yang didorong perawat menuju ruang operasi.Kian masuk ke dalam ruang operasi lebih dulu. Sedangkan Arthur harus bersiap-siap sesuai aturan sebelum masuk ke dalam ruang operasi.Dokter dan perawat sudah bersiap di dalam.Arthur masuk ke dalam ruang operasi memakai pakaian khusus. Dia du
Keesokan harinya.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia dengan telaten menyuapi Kian.“Padahal aku bisa makan sendiri, kenapa kamu repot-repot menyuapi?” Kian menatap Arthur yang sejak tadi menolak menyerahkan sendok padanya.“Selama ada aku. Jika kamu sakit, kamu tidak perlu susah-payah menggerakkan tanganmu hanya untuk menyuapkan makanan ke mulut.” Setelah bicara, Arthur kembali menyuapkan makanan ke mulut Kian.Kian tersenyum sambil mengunyah makanan.Dia benar-benar tidak menyangka Arthur akan seperhatian ini padanya.“Lusa kamu akan menjalani operasi. Aku ingin kamu sehat dan tenang. Jangan sampai kamu panik dan kondisimu menurun.” Tatapan Arthur menyorot cemas dan khawatir.Kian mengangguk-angguk.“Kamu tenang saja. Aku tidak akan panik, apalagi kita akan segera melihat bayi kita. Harusnya aku tidak sabar dan sangat senang.”Mendengar balasan Kian, Arthur kini lega.Setelah menyuapi Kian.Arthur pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.Kian duduk bersandar headboard sambil me
Sore hari.Arthur berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang dokter kandungan yang merawat Kian.Dia meninggalkan perusahaan lebih awal setelah Arron memberitahukan apa yang dokter sampaikan siang tadi.Mengetuk pintu lebih dahulu, Arthur masuk ke dalam ruang dokter setelah dipersilakan.“Pak Arthur, silakan duduk.”Arthur mengangguk.Dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja dokter.“Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok?” Arthur langsung bertanya.“Begini Pak Arthur. Usia kehamilan Bu Kian sudah menginjak tiga puluh delapan minggu. Jadi, mengingat kondisi Bu Kian saat ini, saya menyarankan agar beliau menjalani operasi cesar.”Arthur diam beberapa saat mendengar penjelasan Dokter.“Jika mau menunggu kontraksi alami dan melahirkan normal, memang masih bisa. Tapi saya takutnya malah ada kendala lain mengingat Bu Kian sebelumnya sudah mengalami pendarahan.”Arthur mengembuskan napas kasar.Dia diam sepersekian detik menerima penjelasan Dokter.“Kalau memang operasi
Tatapan Arthur tertuju pada pria di depannya.“Kamu yakin dia pelakunya? Asal kamu tahu, dia sudah dipecat dari perusahaan ini sudah hampir satu tahun lalu.” Arthur membanting kertas yang ada di tangan ke meja.“Saya tidak berani berbohong, Pak Arthur.” Pria ini menunduk dalam. “Anda bisa lihat sendiri, nama penerima uang pembayaran itu. Mana mungkin saya memanipulasinya? Saya sampai mencetak rekening koran untuk memastikan kalau saya tidak salah.”Kendrick mengambil kertas informasi yang ada di atas meja. Dia membaca dengan teliti nama pemilik email, email, sampai nama rekening yang tertera.“Tuan, ada kemungkinan Alice mencuri informasi milik Kian sebelum dia dipecat. Apalagi waktu itu, Kian sempat cuti karena terluka. Bukankah tidak menutup kemungkinan informasi ini benar?” Kendrick meyakinkan.Kepala Desain Air Company mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kendrick.“Saya sudah melaporkan ini ke perusahaan. Saya akan menerima konsekuensi dan hukuman atas tindakan saya ini. Dan,
Supervisor lagi-lagi dibuat terkejut dengan reaksi Kian.Kian langsung menoleh pada Arthur, suaminya berdiri tenang sambil berucap, “Kenapa tidak lihat dulu?”“Bolehkah?” Kian memastikan.Melihat Arthur mengangguk-angguk pelan, Kian akhirnya menggeser posisi berdirinya, berpindah ke depan etalase y
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Suara lantang Kian membuat langkah pria penabrak terhenti. Kian segera mengayunkan langkah menghampiri pria tua yang pernah diselamatkannya di lampu merah waktu ini, kini Kian harus melihat pria tua itu ditabrak sampai jatuh di trotoar, bahkan makanan yang dibawa pria tua itu sampai jatuh.“Kamu j
Kian melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung handuk. Langkah Kian terhenti kala tatapannya tertuju pada Arthur yang berdiri di dekat jendela.Punggung lebar, tubuh tegap begitu sempurna, jika ada yang mengatakan kalau Arthur adalah orang kaya, Kian pasti akan percaya karena Arthur







