MasukMendengar pengakuan Fio yang tampak meyakinkan, kedua detektif itu saling berpandangan dan mengangguk pelan. Detektif yang lebih tua kembali menatap Fio dengan tegas."Baik, Nona Fio. Jika memang apa yang Anda katakan itu benar, kami minta Anda ikut sekarang juga untuk membuka akses apartemen dan rekaman CCTV tersebut. Ini akan menjadi bukti untuk melacak arah pelariannya," ujar sang detektif."Baik, Pak. Saya akan bantu," sahut Fio tanpa ragu. Demi membersihkan namanya sendiri, dia siap menyerahkan semua hal tentang Luna.Mereka bertiga segera bergerak menuju kompleks apartemen mewah tempat penthouse Luna berada. Berkat Fio yang mendampingi, polisi bisa masuk lewat jalur dalam tanpa memicu kehebohan di kalangan wartawan yang masih mengepung gerbang depan.Saat pintu apartemen terbuka, hawa sunyi langsung menyergap. Polisi dengan sigap masuk dan memeriksa setiap sudut ruangan, tapi hasilnya tetap sama, tempat itu kosong.Fio yang melangkah di belakang polisi mendadak menghentikan la
Di dalam ruang kerja utama HW. Company. Arthur berdiri membelakangi meja kerjanya, dia menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar. Suasana hatinya jauh lebih tenang dibandingkan subuh tadi. Langkah antisipasi yang dia instruksikan kepada tim hukum dan Kendrick terbukti berjalan sangat efisien.Sampai terdengar suara ketukan pintu, lalu beberapa detik kemudian pintu ruangan terbuka, dan Kendrick melangkah masuk dengan berkas dokumen di tangannya. Ekspresi asistennya itu tampak jauh lebih santai, pertanda ada kabar baik yang dibawa dari pihak berwenang."Tuan, hasil olah TKP dan pemeriksaan rekaman kamera pengawas di rumah Rose sudah keluar." Kendrick segera menyampaikan laporan yang baru saja didapatkannya. "Pihak kepolisian telah memastikan identitas pelaku penyerangan semalam. Berdasarkan analisis postur tubuh, gerak-gerik, serta detail dari rekaman kamera pengawas di lorong lantai dua, pelaku yang mengenakan pakaian serba hitam itu dipastikan adalah Luna."Arthur memb
Iring-iringan mobil mewah itu berhenti secara mendadak. Suara derit ban yang bergesekan tajam dengan aspal jalanan terdengar memekakkan telinga, menyisakan jarak hanya beberapa inci dari tubuh Luna yang berdiri gemetar tapi keras kepala di tengah jalan.Di dalam mobil sedan hitam, Adam yang sedang memeriksa berkas di kursi belakang tersentak akibat penghentian mendadak ini. Rahangnya mengeras penuh amarah.“Ada apa di depan?!” bentak Adam kepada sopirnya.“Maaf, Pak. Ada seorang wanita yang nekat menghadang jalan kita," jawab sang sopir dengan nada panik, matanya menatap lurus ke arah luar kaca depan.Adam menyipitkan mata, tubuhnya sedikit condong ke depan. Matanya menyipit saat memperhatikan sosok yang berdiri di depan mobilnya.Begitu mengenali sosok berantakan dengan pakaian kasual yang berdiri di sana adalah Luna, rahang Adam mengetat sempurna. Alih-alih merasa iba, kilat jijik dan murka justru terpancar jelas dari sepasang matanya. Skandal kemarin telah menghancurkan reputasi
Pelayan paruh baya itu mengangguk cepat mendengar pertanyaan Arthur. “Ada, Tuan. Di rumah ada beberapa kamera CCTV yang dipasang di area pagar depan, halaman samping, sama di lorong lantai dua. Tadi subuh semua rekaman dan mesin memorinya sudah diambil dan dicek langsung oleh pihak kepolisian untuk diselidiki.”Arthur mengangguk paham, wajahnya yang sempat tegang kini sedikit mengendur. Keberadaan rekaman kamera pengawas itu setidaknya bisa menjadi bukti bagi pihak kepolisian untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya, sekaligus melindungi nama HW. Company dari tuduhan liar publik.Kian mengulurkan tangannya, dia mengusap lembut punggung tangan anak perempuan Rose yang masih tampak trauma. “Bi, kami turut prihatin atas musibah ini. Semoga Ibu Rose bisa segera melewati masa kritisnya dan cepat sadar, ya.”“Terima kasih banyak atas perhatiannya, Nyonya, Tuan.” Balas pelayan itu.Arthur kemudian menoleh ke arah Kendrick yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka. “Ken, ikut aku sebe
Di apartemen Luna.Fio melangkah tertatih dengan kening yang masih dibalut perban seadanya akibat hantaman botol wiski semalam. Fio tak mendapati Luna di ruang tengah, sehingga dia mencoba mencari Luna di kamarnya.Fio mendorong pintu kamar utama Luna yang sedikit terbuka. “Luna ... kamu di dalam?”Hening. Kamar berukuran luas itu tampak berantakan, tapi sosok sang model sama sekali tidak terlihat di atas ranjang. Fio mengerutkan kening lalu beralih memeriksa kamar mandi dan ruang rias. Hasilnya nihil. Luna tidak ada di mana pun.Rasa panik seketika menjalar ke seluruh tubuh Fio saat matanya menangkap tas tangan, ponsel, dan kunci mobil Luna yang masih tergeletak rapi di atas meja konsol dekat pintu masuk.“Tas dan ponselnya masih di sini. Kunci mobilnya juga ada. Ke mana dia pergi?” gumam Fio dengan bibir gemetar.Fio tahu betul bagaimana tabiat Luna jika sudah terpojok. Wanita itu impulsif, keras kepala, dan bisa menjadi sangat kejam jika egonya terluka. Fio mendadak didera ket
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan mulai menembus celah gorden kamar utama kediaman Arron. Di atas ranjang king size, Arthur dan Kian masih terlelap dengan tenang, menikmati sisa-sisa istirahat mereka setelah hari yang luar biasa melelahkan kemarin. Kian tidur meringkuk nyaman dengan sebelah lengan Arthur yang melingkar posesif di pinggangnya.Hingga suara getaran kuat dari ponsel Arthur yang diletakkan di atas nakas memecah keheningan fajar. Arthur mengerutkan kening, perlahan dia membuka mata dengan rasa kantuk yang masih menggelayut di ujung kelopak matanya. Arthur melirik sekilas ke arah Kian yang bergerak sedikit tapi tidak terbangun.Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur istrinya, Arthur mengulurkan tangan menyambar ponsel miliknya. Nama Kendrick berkedip di layar. Kening Arthur berkerut.Kendrick sangat tahu etika dan tidak akan pernah menelepon sepagi ini jika tidak ada hal yang benar-benar darurat.Tak membuang waktu, Arthur menggeser tombol jaw
Selebaran sketsa bayi Kian sudah disebar. Imbalan yang ditawarkan juga tidak sedikit demi bisa menemukan bayi mereka.Sudah dua hari. Tapi belum juga ada kabar.“Apa belum ada yang menghubungi?” Kian gelisah.Arthur menggeleng pelan. “Kita harus tetap bersabar.”Kian menatap pilu. Rasanya sudah san
Arthur berdiri sambil menatap Dokter yang sedang mengobati jahitan yang kembali terbuka akibat gerakan Kian karena emosi tadi.Arthur melihat tatapan Kian yang kosong. Kondisi Kian saat ini, lebih menyakitkan dari kehilangan bayi mereka.“Pak Arthur, jahitannya sudah dibersihkan dan ditutup ulang.
Di luar kamar.Arron menunduk menyembunyikan tangisnya.Hatinya begitu ngilu mendengar teriakan dari Kian.“Tuan.” Malvin hanya bisa diam menatap kepedihan yang juga Arron rasakan.“Kenapa harus begini? Kenapa harus cicitku yang menjadi korban?” Arron tak bisa membendung air matanya.Malvin hanya b
Arthur duduk di kursi tunggu depan kamar inap Kian.Berulang kali dia mengguyar kasar rambutnya ke belakang.Arthur bingung. Jika Kian bangun nanti, lalu bayi mereka belum juga ditemukan, apa yang harus dia katakan pada Kian.Arthur menyandarkan kepala ke belakang, wajahnya menengadah, matanya terp







