로그인Saat bapaknya jatuh sakit sementara suaminya menghabiskan uang untuk berjudi, Sarah tak punya pilihan selain menerima pekerjaan sebagai pembantu di rumah keluarga Adijaya. Di balik rumah mewah itu, ia justru menemukan keluarga yang nyaris hancur. Rafael dan istrinya, Widya, tak pernah berhenti bertengkar, sementara putri kecil mereka tumbuh tanpa perhatian seorang ibu. Tak tega melihat Salsabila terus menangis, Sarah merawat gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang, seperti anaknya sendiri. Tanpa disadari, kehangatan yang selama ini hilang dari rumah itu perlahan kembali... dan membuat Rafael mulai memandang Sarah dengan cara yang berbeda. Namun sebuah kesalahpahaman mengubah segalanya. "Aww.., pak jangan! Saya baru pertama kali begini." lirih Sarah sambil menggigit bibir, menahan rasa sakit. "Tenang saja, saya akan pelan-pelan," jawab Rafael tanpa mengalihkan fokus dari apa yang sedang dikerjakannya. Tepat saat itu, pintu terbuka. Mertua Rafael membeku melihat posisi mereka yang begitu mencurigakan. Dalam semalam, Sarah dicap sebagai perebut suami orang. Padahal, ia hanya seorang pembantu yang ingin mencari nafkah demi menyelamatkan bapaknya. "Maaf, Pak... saya hanya pembantu biasa."
더 보기Setelah suaminya yang kecanduan judi kabur membawa seluruh tabungan mereka, Sarah terpaksa meninggalkan kampung demi bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Adijaya. Hanya itu satu-satunya cara agar ia bisa terus mengirim uang untuk biaya pengobatan ayahnya yang sedang sakit.
Namun, hari pertamanya bekerja ternyata jauh dari bayangannya. Baru saja menginjakkan kaki di rumah megah itu, Sarah sudah disambut tatapan dingin sang nyonya rumah. "Pembantu baru?" tanya Widya sambil menatap Sarah dari ujung kepala hingga kaki. "Iya, Bu," jawab Sarah pelan. Widya mendengus. "Hm... kelihatannya kampungan juga, ya." Sarah hanya menundukkan kepala. "Maaf, Bu." Belum sempat suasana menjadi lebih canggung, suara langkah kaki terdengar dari ruang tengah. Rafael menghentikan langkahnya begitu melihat Sarah. "Loh... kita ada pembantu baru?" tanyanya heran. "Iya," jawab Widya datar. "Bukannya selama ini kamu selalu bilang aku terlalu sibuk dan nggak pernah di rumah buat jagain Salsa?" Rafael hanya mengangguk lelah. Ia memilih diam daripada kembali memulai perdebatan. Namun Widya kembali menatap Sarah. "Salsa lagi ngantuk. Temenin dia tidur. Habis itu bersihkan kamar dan ruang kerja suami saya." "Baik, Bu." Sarah buru-buru pergi. Saat Sarah menghilang di balik lorong, Rafael akhirnya menegur istrinya. "Kamu nggak harus ngomong seperti itu." "Apa? Aku cuma bilang yang sebenarnya." "Dia baru datang." "Justru karena baru datang, dia harus tahu aturan di rumah ini." Rafael hanya menghembuskan napas panjang. Ia terlalu lelah untuk berdebat dengan perempuan yang kini lebih sering menjadi lawan bicara daripada pasangan hidupnya. Sementara itu Sarah berjalan menuju kamar Salsabila dengan hati tidak tenang. Baru hari pertama bekerja, ia sudah melihat sendiri renggangnya hubungan majikannya. Saat menemani Salsa hingga tertidur, salah seorang pekerja rumah sempat berbisik pelan kepadanya. "Pak Rafael sama Bu Widya memang sudah lama sering bertengkar." Sarah hanya mendengarkan. "Bahkan katanya mereka sudah berbulan-bulan nggak tidur sekamar." Ucapan itu membuat Sarah sedikit terkejut. Dari luar rumah itu terlihat begitu sempurna, tetapi ternyata kehidupan di dalamnya jauh berbeda. Meski begitu, Sarah memilih tak ikut mencampuri urusan majikannya. Demi ayahnya, ia hanya ingin bekerja dengan baik. Setelah menidurkan Salsabila, Sarah teringat perintah Widya untuk membersihkan kamar Rafael. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu, ragu mengetuk, takut mengganggu, tapi lebih takut dimarahi jika tidak segera bekerja. Perlahan ia membuka pintu. "Permisi, Pak..." Tak ada jawaban. Sarah mengira ruangan itu kosong. Ia pun mulai merapikan meja dan mengganti gelas minum di samping tempat tidur. Namun baru beberapa langkah, pintu kamar mandi terbuka dan Sarah spontan membeku. Rafael baru saja keluar dengan handuk melilit di pinggangnya, rambutnya masih basah, tetesan air mengalir dari leher menuju dadanya yang bidang dan berotot. Mata mereka bertemu, dan tanpa sengaja pandangan Sarah turun sesaat. Ia langsung tersentak. Di balik lipatan handuk itu, ada tonjolan samar yang cukup membuat pikirannya kosong seketika. "Ya Tuhan..." Wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, tetapi bayangan itu sudah telanjur tertangkap jelas di kepalanya. Rafael langsung mengernyit mengangkat satu alisnya. "Kamu ngapain di sini? sudah selesai lihat-lihatnya?." Sarah tersentak hingga hampir menjatuhkan nampan. "Maaf, Pak! Saya... saya kira kamarnya kosong." Suaranya bergetar. "Maaf... saya keluar dulu." Ia buru-buru membalikkan badan. "Tunggu." Langkah Sarah langsung terhenti. "Kalau mau masuk kamar saya, lain kali ketuk dulu." Nada Rafael tetap datar, tetapi tidak terdengar marah. "Iya, Pak. Maaf." Sarah menundukkan kepala dalam-dalam sebelum buru-buru keluar sambil menutup pintu. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar di dinding. "Astaga..." Tangannya menutup wajah sendiri. Jantungnya berdegup kencang, dan yang lebih parah bayangan tadi malah terus terlintas di kepalanya. "Kenapa sih aku lihat ke situ..." Ia menggigit bibir malu. Padahal ia hanya berniat bekerja, namun semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas bayangan itu muncul kembali. Di dalam kamar, Rafael berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Ia mengusap wajahnya pelan. "Pembantu baru itu..." Entah mengapa, wajah Sarah yang memerah barusan terus terbayang di kepalanya. Ia menggeleng cepat. Tidak. Ia tidak boleh memikirkan perempuan lain. Sudah berbulan-bulan ia hidup tanpa kehangatan seorang istri, tetapi itu bukan alasan untuk melibatkan Sarah dalam kekacauan rumah tangganya. Mengambil napas panjang, Rafael mengenakan kemejanya dan memaksa dirinya melupakan kejadian barusan. **** Hari-hari berikutnya pun tak jauh berbeda. Hampir setiap hari Sarah mendengar pertengkaran dari lantai bawah. Kadang karena Widya pulang larut malam, kadang karena restoran yang lebih diprioritaskan daripada keluarga, kadang hanya persoalan kecil yang berubah menjadi pertengkaran besar. Yang paling membuat Sarah iba justru Salsabila. Setiap kali kedua orang tuanya bertengkar, gadis kecil itu hanya memeluk boneka kelincinya sambil berdiam di sudut kamar. Sarah pun perlahan menjadi satu-satunya orang yang selalu menemani, menyuapi makan, membacakan dongeng, hingga menidurkannya. Semakin lama bekerja di rumah itu, Sarah juga mulai memahami satu hal. Rafael masih bertahan hanya demi Salsabila. Di balik sikapnya yang tenang, pria itu tampak semakin lelah menjalani rumah tangga yang hanya tersisa status saja. Hingga suatu siang... Brak! Suara benda pecah menggema dari ruang tamu."Sayang, Tante pergi ke kamar dulu ya, ganti baju?" Sarah menunduk menatap Salsabila yang masih berdiri di hadapannya. Gadis kecil itu memang tidak banyak bertanya, tetapi dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Salsabila tahu orang tuanya bertengkar lagi seperti biasanya. Beberapa detik kemudian, Salsabila mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Nanti, temani aku ya, Tante," pintanya. Sarah segera mengangguk. "Iya, Tante temani." Setidaknya, permintaan sederhana dari Salsabila sedikit membuat pikirannya teralihkan. Sarah kemudian berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, semakin jauh dari ruang tengah, langkahnya justru terasa semakin berat. Pikirannya kembali kepada kejadian tadi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah ini. Bahkan juga tidak tahu bagaimana sikap Widya kepadanya nanti. Yang paling membuat Sarah takut adalah kemungkinan perempuan itu benar-benar murka dan menganggap dirinya sebagai akan menambah sebab permasalahan rumah tangga me
"Kalian pergi berdua di hotel." Keringat dingin mulai terasa di pelipis Sarah. Ia membuka mulut, hendak menjelaskan bahwa semua tidak seperti yang dipikirkan Widya. Namun, Rafael lebih dulu menjawab dengan nada tenang. "Menuduh tanpa bukti, itu sama saja fitnah." Namun, jawaban Rafael justru membuatnya terkenal. Ia tidak menyangka Rafael akan menjawab seperti itu, seolah sedang menutupi apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, meski memang bukan sesuatu yang lebih, tapi dugaan Widya itu memang benar adanya, mereka benar hanya berdua pergi ke hotel. Widya justru tersenyum miring, senyum yang mampu membuat dada Sarah seperti di remas oleh banyak tangan. "Bela saja, tutupi saja semuanya!" Meski nadanya tidak begitu kerasa, kalimat itu penuh penekanan. Tatapannya kemudian beralih tajam kepada Sarah. Perempuan itu langsung menggeleng cepat, merasa harus segera meluruskan kesalahpahaman tersebut, bahwa dugaan itu tidak semuanya benar. Namun sebelum Sarah sempat berkata apa-
"Maaf, Pak. Saya benar-benar gak bisa bahas itu lagi," ucap Sarah sedikit pelan. Ia sengaja menjaga suaranya agar tetap terdengar sopan, meskipun sebenarnya ada rasa gugup yang masih mengganjal di dalam dadanya. Sarah tidak ingin percakapan itu berlanjut dan membuat keadaan di antara mereka semakin canggung. Ia hanya berharap Rafael bisa memahami batas yang sedang ia coba pertahankan. Rafael tidak langsung menjawab. Pria itu hanya berdehem pelan, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Setelah beberapa detik, tangannya meraih kunci mobil dan menyalakan mesin. Suara mesin yang mulai menyala seolah menjadi penanda bahwa percakapan mereka benar-benar telah berakhir. Mobil tersebut kemudian perlahan meninggalkan halaman hotel milik Rafael. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani keduanya. Tidak ada lagi pembicaraan seperti sebelumnya. Sarah lebih banyak menunduk, sesekali matanya mengarah ke luar jendela untuk melihat jalan yang mereka lewati dengan pikiran yang masih terngian
"Sarah, harus berapa kali saya mengatakan kepada kamu. Semenjak ada kamu semuanya berubah."Kali ini, Rafael benar-benar nampak serius. Nada suaranya tidak lagi seperti sebelumnya. Ada ketegasan yang membuat Sarah tahu bahwa pria itu benar-benar menunggu jawaban darinya.Bahkan pria itu seakan tak sabar menunggu jawaban Sarah, padahal sebelumnya perempuan itu masih ingat betul bahwa Rafael akan siap menunggu jawaban Sarah kapanpun. Bukankah pria itu sendiri yang mengatakan bahwa Sarah tidak perlu terburu-buru?Tapi, mengapa kini majikannya mengungkapkan lagi perasaannya?Sarah bingung, benar-benar tak tahu harus bagaimana. Ia menundukkan wajah sejenak, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak semuanya bisa keluar begitu saja.Namun, diam saja itu berarti ia sedang membiarkan sesuatu buruk terjadi.Sarah menghembuskan napas pelan, lalu memberanikan diri menatap majikannya. Kali ini ia berusaha tidak menghindari tatapan Rafael. Bagaim






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰