Share

11.

Penulis: raintara
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 16:31:57

"Maaf...."

Setelah lama diam, akhirnya Bening memilih mengakui kesalahannya. Gadis itu menunduk, takut Kalingga akan marah padanya. Namun, setelah hening untuk beberapa saat, bukan bentakan yang Bening dapatkan. Bukan pula perkataan meyakiti hati yang dirinya dengar, melainkan kekehan kecil yang mengudara.

Dan itu sama sekali tidak membuat Bening lega. Alih-alih merasa aman, Bening sibuk mencerna apa arti kekehan Kalingga. Apakah pria itu marah. Atau Kalingga merasa sedang mendengar sesuatu ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   20. bab 20

    'Mati aku!'Bening mengingat semuanya. Dari saat dia pergi diam-diam dari apartemen, bertemu dengan pria bernama Alex hingga-- tidak. Bening tidak mau mengingatnya lagi. 'Kenapa aku bisa sebodoh itu? Kenapa aku malah menyerahkan diri?!' Jujur saja. Bening sudah tidak ada muka di depan Kalingga. Bening menggeliat gelisah di ranjang. Pipinya memanas, bukan hanya karena mabuk yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga karena rasa malu yang menjalar sampai ke ubun-ubun.Sekarang, pasti Kalingga sedang menertawakan betapa murahannya dia. Bening menendang selimut, lalu duduk dengan wajah kusut. “Bening, kamu gila,” gumamnya lirih. “Kenapa kamu malah mencium Mas Lingga? Kenapa kamu malah--- akhh aku malu!!" erang Bening menjambak rambutnya sendiri. Kecemasan itu semakin menekan dadanya. Bening ingin bersembunyi, kemana pun asal tidak bertemu dengan suaiminya. Tapi, bayangan tatapan dingin Kalingga semalam terus menghantui.Larut dalam rasa kefrustasian, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Bening

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   19. Mabuk

    Setelah memastikan Kalingga benar-benar pergi dengan jas rapi dan wajah dinginnya, Bening berdiri lama di depan pintu apartemen. Nafasnya tercekat, tapi tekadnya bulat. Sekali saja, dia ingin merasakan kebebasan. Ia mengambil tas kecil, menyelipkan dompet dan ponsel. Langkahnya ringan, meski jantungnya berdegup kencang. Ia keluar dari apartemen, menuruni lift, dan akhirnya menjejakkan kaki di jalanan Singapura yang sibuk. Tujuannya jatuh pada Gardens by the Bay, taman ikonik dengan pohon-pohon raksasa buatan yang menjulang. Ia berjalan di antara bunga tropis, menatap air mancur yang berkilau. Bening menghirup udara dalam-dalam. Menikmati suasana yang begitu menenangkan. Bening, tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Namun, kenyamanannya itu segera terganggu saat seorang pria dengan rambut coklat mendekat. Tersenyum ramah, pria asing itu menyapa. “Hi, are you alone?” (Hai, kamu sendirian?) Bening menegang. Jantungnya berdebar cemas. Awalnya, Bening ingin menghindari.

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   18. Berubah?

    Bening terkekeh sumir. Tanpa menatap Kalingga, gadis berujar pedih. "Memangnya aku siapa?" Matanya yang memandang gedung-gedung tinggi dari kaca kembali mengeluarkan air matanya. "Tanpa kamu minta juga, aku paham, Mas. Siapa aku dan di mana posisiku." "Jadi, kamu jangan khawatir." Selanjutnya, Bening membersihkan diri menoleh pada Kalingga. Tatapan mereka bertemu seakan saling menyelami. Kalingga tetap diam, namun tatapannya mendingin saat melihat setetes air mata membasahi pipi Bening. "Aku hanya minta dua hal dari kamu." suara serak Bening kembali menyambangi telinga Kalingga. "Jangan pernah bersikap seperti kamu memberikan harapan padaku." Bening menarik panjang nafasnya. "Cukup jangan pedulikan aku." Pandangan Bening menerawang pada udara.Sejenak, gadis itu menutup matanya, sebelum terbuka kembali dengan tatapannya yang menyendu. "Dari dulu, aku selalu diabaikan. Oleh keluargaku dan dunia. Kalau pun ada yang memperhatikan, itu bukan kasih sayang. Tapi penghakiman y

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   17. Ciuman Paksa

    Bening tidak tahu dengan apa yang terjadi. Yang pasti, Kalingga tidak dalam kondisi mood yang baik. Bening merasa tertekan di sepanjang perjalanan menuju rumah. Brak! Gadis itu terperanjat, saat Kalingga membanting pintu kasar. Tanpa menganggap Bening ada, Kalingga gegas masuk ke dalam rumah dengan auranya yang tidak mengenakkan. 'Sebenarnya ada apa, sih?' keluh Bening mengikuti jejak Kalingga. Sampai di ruang utama, Bening dapat melihat pelayan yang mondar-mandir sedang bekerja. Lalu, tak lama Kalingga kembali terlihat dengan menarik kopernya. Wajah pria itu masih sama. Dingin dan mengeras. Kemudian, munculah Ira. Wanita itu juga membawa koper. Bedanya, koper yang dibawa Ira diserahkan padanya. "Nyonya, ini koper anda." kata Ira dengan nafas yang memburu. "Perasaan, aku tidak memintamu menyiapkannya." balas Bening. Meskipun begitu, ia tetap menerima kopernya dari tangan Ira. "Tuan yang memerintah saya, Nyonya." Lantas, Bening kembali melirik Kalingga. Pria itu sedang b

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   16. Rumah Sakit

    "Kamu pikir, saya semurah itu, Bening?" jawaban Kalingga dengan suaranya yang rendah berhasil membangkitkan bulu kuduk Bening. "Jawab.""Bu--bukan seperti itu maksudku..." Bening menggigit bibirnya. Kenapa malah dirinya yang terpojok? Niatnya ingin membuat Kalingga mengiyakan permintaannya, tapi kenapa malah dirinya yang menjadi di intimidasi. "Kamu salah kalau ingin mengendalikan saya, Bening." ucap Kalingga membuat nafas Bening semakin tercekat. "Terimakasih kopinya. Silakan keluar dari ruangan saya." Pengusiran itu, Bening tanggapi dengan hembusan nafas panjang. Tanpa menjawab, Bening beranjak pergi. Namun, baru dua langkah dia berjalan, tidak sengaja kakinya tersandung kaki meja. Bening terpekik. Kalingga yang melihat kejadian itu, reflek menarik lengan Bening. Mungkin, tujuan Kalingga supaya Bening tidak terjatuh ke lantai. Namun, yang terjadi malah Bening yang tertarik ke pangkuannya.Keduanya terdiam di tengah keheningan. Bahkan Bening dapat mendengar debar jantungnya send

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   15. Kalingga marah?

    “Ikut saya.”Suara Kalingga terdengar dingin, berat dan rendah. Pria itu meraih pergelangan tangan Bening, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkahnya tegas, membuat Bening harus setengah berlari agar tidak tertinggal.“Mas Lingga, kita mau ke mana?” suara Bening cemas, penuh kepanikan. Tidak ada jawaban. Kalingga terus melangkah, membawa istrinya menuju lift. Saat pintu terbuka, Kalingga mendorong Bening agar masuk ke dalamnya, sebelum kemudian dia menyusul. Suasana di dalam lift terasa menekan. Hanya suara mesin yang terdengar, sementara Bening menunduk. Mengigit bibir cemas, jemari Bening meremas ujung dress pastel yang dia kenakan. Apa yang salah dari pertanyaannya? Bening membatin. Dia hanya menyebut nama Serena, tapi reaksi Kalingga seolah Bening mengumumkan perang dunia ketiga. Lift berhenti di lantai tiga. Kalingga menggiring Bening keluar, lalu membuka pintu sebuah kamar. Begitu masuk, ia menutup pintu dengan keras. Bening terperanjat ketika tubuhnya di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status