LOGINDua tahun pernikahan mengajarkan Serena Aksara satu hal yang tidak ada di buku mana pun: bahwa orang yang paling bisa menghancurkanmu adalah orang yang pernah kamu izinkan masuk. Jadi ia berhenti mengizinkan siapa pun masuk. Sistem itu bekerja sempurna — sampai satu kasus membawanya ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi, mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak ia pedulikan. Masalahnya, kasus itu semakin dalam semakin berbahaya. Nama-nama besar yang tidak ingin disebut. Sumber yang menghilang satu per satu. Ancaman yang datang dalam bentuk yang tidak selalu bisa diantisipasi. Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang justru paling mengganggunya — bukan kasusnya. Seseorang yang tidak meminta apa-apa. Tidak menjanjikan apa-apa. Tapi selalu ada. Serena sudah lama belajar tidak bergantung pada siapa pun. Yang belum ia pelajari adalah apa yang harus dilakukan ketika seseorang tidak memintanya untuk bergantung — tapi ia mulai ingin.
View MoreArga memarkir mobil di depan apartemen Serena. Lampu lorong sudah menyala redup, hujan sore Jakarta masih turun tipis-tipis, membuat aspal mengkilap seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya neon kota. Ia naik lift dengan langkah cepat tapi tenang, jaket hitamnya masih basah di bahu. Setiap detik terasa berat, seperti beban yang tak kunjung lepas sejak Reno muncul kembali dalam hidup mereka.Serena sudah menunggu di depan pintu. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di dahi. Matanya agak bengkak—bukan karena menangis, Arga tahu itu lebih karena khawatir yang ditahan lama. Wanita itu berdiri dengan lengan memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dingin yang datang dari dalam.“Masuk,” kata Serena pelan, suaranya hampir hilang ditelan hujan di luar.Ruangan apartemen terasa hangat dibandingkan udara malam di luar. Aroma kopi yang tadi dibuat Serena masih tersisa, manis dan pahit sekaligus. Arga melepas jaket dan meletakkannya di kursi. Ia tidak langsung duduk. Tubuhnya
Lampu merah di perempatan Gatot Subroto.Arga mengerem, tangan kiri di setir, mata menyapu kaca depan dan dua kaca samping secara bergantian. Lalu ke spion. Kendaraan yang berjejal, warna-warni, tidak ada yang kelihatan mencurigakan dari sini.Ponselnya berdering. Serena."Arga, Reno nggak jawab. Chat-ku juga belum dibaca.""Sabar." Lampu hijau. Ia menginjak gas. "Aku baru belok ke arah Gatot Subroto. Kalau dia nurutin arahan tadi, harusnya sudah kelihatan.""Coba kamu percepat.""Lagi."Mesin menderu. Arga menyalip dua kendaraan sekaligus, matanya menyapu tiap sedan hitam dan silver yang ada di depan."Serena, dengerin. Kalau Reno tidak membalas bukan berarti dia kenapa-kenapa. Bisa aja dia lepasin baterai ponselnya sendiri biar nggak dilacak.""Kamu yakin?""Nggak. Tapi itu satu-satunya kemungkinan yang bikin aku masih bisa nyetir dengan tenang sekarang."Serena diam sebentar di ujung sana. Arga tahu itu bukan berarti ia tenang — hanya sedang memilih tidak memperburuk situasi."Aku
Tatapan Reno tidak seperti biasanya.Serena hafal betul mimik wajah mantan suaminya itu ketika butuh bantuan — sudah terlalu sering melihatnya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sesuatu di sana yang lebih dalam dari sekadar kepepet."Ada apa lagi?" Serena berdiri di ambang pintu, belum bergeser. "Dan kenapa kamu selalu datang ke apartemenku waktu pagi buta seperti ini?""Maafin aku sebelumnya, Ser." Reno mengusap wajahnya. "Tapi beneran, kali ini aku butuh bantuanmu."Serena menghela napas. Lalu membuka pintu lebih lebar."Yaudah, masuk dulu."Reno duduk di sofa, matanya langsung menyapu ruangan — kiri, kanan, ke arah jendela — dengan cara seseorang yang terbiasa memeriksa tempat sebelum bicara."Aku denger Bima udah resign ya? Berarti kamu penggantinya?""Entahlah. Masih tunggu keputusan direksi."Reno mengepalkan tangannya di atas lutut. Serena menatapnya."Ada apa, Ren?""Setelah kasus ini—" Reno berhenti. "Kamu masih berhubungan sama Arga?""Kami temenan. Udah, jangan ngulur wakt
Tiga hari setelah penetapan tersangka Hendra Prawiratama, dunia tetap berputar.Jakarta tidak berhenti macet. Kopi tetap harus dibuat. Artikel tetap harus diedit dan dikirim sebelum deadline. Serena masih bangun pukul enam, masih memeriksa ponselnya sebelum kaki menyentuh lantai, masih minum teh pertama sambil berdiri di dapur karena tidak sabar menunggu duduk.Artikel panjang tentang keluarga Wicaksana tayang dua hari setelah penangkapan Hendra.Dua belas ribu kata. Tiga generasi keluarga. Satu kematian yang selama ini dikubur rapi di balik diagnosis serangan jantung, dan satu anak laki-laki yang akhirnya memilih bicara bukan karena tidak takut lagi — tapi karena diamnya sudah terlalu mahal.Serena menulis semuanya dengan jujur, seperti yang ia janjikan. Termasuk bagian yang tidak nyaman: keputusan-keputusan Hendratno yang bisa diperdebatkan, pilihan bisnisnya yang tidak selalu bersih, hubungannya dengan Hendra yang pada awalnya bukan paksaan.Danu membaca draftnya tiga kali sebelum
Gedung tua Gatot Subroto terlihat lebih kusam di siang hari.Serena parkir dua blok dari gedung—kebiasaan lama, tidak pernah ia pikirkan secara sadar. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi tidak pelan, blazer hitam tipis di atas kemeja putih yang tucked-in rapi, rambut dikuncir re
Nama itu muncul dua hari setelah telepon Wisnu.Revan Arkana. Direktur Operasional Minerva Advisory. Bima meletakkan fotonya di meja Serena pagi itu—pintu ditutup, tirai ditarik setengah, kebiasaan baru sejak kasus ini masuk ke meja mereka. Rahang tegas, senyum kamera, berdiri di depan gedung kaca
Serena tidak cerita soal pria di lorong itu kepada siapa pun.Bukan karena tidak relevan. Tapi karena ia belum tahu cara mendeskripsikannya tanpa terdengar seperti orang yang terlalu memperhatikan orang asing. Dua cangkir kopi. Kalimat yang lebih terasa seperti peringatan daripada percakapan. Pungg
"Ren, ada breaking news masuk. Bisa ke kantor jam 6? Ada kasus besar."Serena membaca pesan itu dua kali.Kemudian ia mengetik balasan:"Oke. Aku lagi di jalan."Ia memundurkan mobil dari parkiran. Keluar ke jalanan Jakarta yang padat. Masuk ke dalam arus kota yang tidak pernah berhenti bergerak. S












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.