Teilen

17. Menjemput Adik

last update Veröffentlichungsdatum: 27.08.2026 23:18:04
“Selamat sore, Bu Kirana. Kami dari Fakultas Kedokteran. Ingin menginformasikan bahwa Danu Aditya beserta dua belas mahasiswa lain diamankan di Polres Metro Jakarta saat aksi demo. Mohon kesediaan wali untuk menjemput ….”

Aku membelalak mendapati pesan tak terduga itu. Aku sungguh tidak percaya. Dengan jantung berdebar aku menatap Mas Leo yang semakin menjauh.

“Mas!” Tanpa sadar aku memanggil Mas Leo. Aku sebenarnya ragu untuk memanggilnya, enggan, tapi mulutku seakan bertindak di luar kendal
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Naila Ahmad F. A
sabar ya kiranaa 🤍
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    48. Sikap yang Aneh (2)

    “Apa maksud pertanyaanmu?” Mas Leo malah bertanya balik, terdengar defensif. Aku lalu menoleh padanya. Aku tidak mau dia salah paham dengan pertanyaanku. Aku juga tidak mau dia berpikir aku berniat membalas perselingkuhannya. “Bukan apa-apa. Lupakan aja,” jawabku kemudian. Suara Mas Leo tak langsung terdengar, sebelum akhirnya. “Kamu kenapa nggak marah?” Aku langsung menoleh mendengar pertanyaan tak terduga itu. Aku menatap wajahnya yang masih fokus menyetir, lama. Kenapa dia malah bertanya seperti itu? “Marah kenapa?” “Liat aku sama Melia.” Aku menghela napas. Jujur saja, hatiku sakit bahkan tiap mengingatnya, tapi aku tidak mau jika harus menampakkan hal itu di depan Mas Leo. “Kan kamu sendiri yang selalu bilang aku nggak boleh ikut campur urusanmu sama Melia.” “Iya memang,” jawab Mas Leo lagi. “Aku sama Melia ada urusan yang nggak bisa aku kasih tahu kamu.” Alasan itu dulu pernah Mas Leo ucapkan saat aku memergokinya di restoran. Dulu aku tak percaya. Sekarang aku sudah t

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    47. Sikap yang Aneh

    Aku menoleh. Mas Leo berdiri di belakangku, menatapku penuh tanya. Dia bahkan masih mengenakan pakaian OK biru, maskernya turun ke dagu. “Mas sejak kapan kamu di sini?” tanyaku heran. Pria itu tersenyum miring. “Sibuk banget ya sampai nggak sadar aku ada,” jawabnya. Aku tertunduk. “Maaf, Mas.” “Aku mau bikin laporan operasi buat pasien yang masuk tadi malam. Kata suster Lilis kamu belum input laporannya, ya?” Aku langsung mengangkat pandangan, kembali menatapnya. Aku pun baru teringat akan hal itu. Lalu melirik suster Lilis yang masih di meja nurse station, dia menatapku tak nyaman. Mungkin merasa tak enak hati karena sudah mengabarkan hal itu pada Mas Leo. “Maaf, nanti aku input, Mas,” jawabku kemudian. “Sekarang serah terimanya udah selesai, kan?” Mas Leo melirik pena yang baru saja kuletakan di atas meja. “Udah, sih, Mas.” “Kerjakan sekarang.” Aku langsung menatap kedua sahabatku yang masih di sana. “Gaes nanti aja ya ngobrolnya, aku sibuk, maaf, ya?” Aku merasa tak n

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    46. Hari Pertama Jaga Malam

    “Mas Leo? Melia?” tegurku yang spontan membuat keduanya menoleh. Melia menatapku terkejut dan langsung mendorong tubuh Mas Leo. Suamiku itu pun mundur dengan wajah tenang, bahkan saat melihatku. “Kirana, jangan salah paham, ya?” ucapnya kemudian. Tadinya aku ingin abai saja, ada pasien yang harus kutangani juga. Namun, perkataan Mas Leo barusan rasanya sayang kalau tidak dijawab. Aku mendekatinya. “Saya cuman mau mengingatkan kalau mau mesra, jangan di tempat kerja. Jangan memberi contoh yang nggak baik buat anak lain.”Melia langsung menatap tak suka mendengar jawabanku. “Nggak usah sok ngajarin saya, ya. Lagian siapa juga yang mesra di tempat kerja.”“Iya, ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Kirana.” Mas Leo ikut menyahut. Lagi-lagi bersikap seakan takut aku salah paham. “Baguslah. Lain kali jangan diulangi,” jawabku kemudian. Aku lantas bergegas pergi dari hadapan mereka. Menemui pasien kritis itu. Namun, sepanjang langkahku menuju ke sana, pikiranku mendadak tak mene

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    45. Perhatian Kecil

    Bab 45 Pukul 04.00 WIB Akhirnya pekerjaanku mereda, IGD lengang. Para pasien sudah dipindahkan ke bangsal. Para perawat istirahat di ruang perawat. Aku juga. Tapi aku tidak benar-benar istirahat. Saat mereka berbaring di sofa, aku duduk di meja, menatap berkas laporan. Walaupun sebenarnya pinggangku ingin patah. Sesekali aku menguap kecil. Pintu ruangan terbuka, aku melirik ke arah sana. Suster Risya masuk membawa dua botol mineral. Dia tersenyum melihatku. “Istirahat dulu, Bu. Pekerjaan nggak ada habisnya,” komentarnya melihat kertas-kertas di atas meja. Lalu dia meletakkan sebotol mineral di depanku. “Minum, Bu, setelah itu istirahat.” Aku tersenyum mengambil mineral yang dia berikan. “Makasih, ya.” Lalu meneguknya pelan hingga airnya setengah. Sejak masuk ke IGD hingga sekarang aku memang belum ada minum. Risya benar, sebaiknya aku istirahat sebentar. Aku pun baring di sofa. Nyaman sekali rasa pinggangku saat berbaring di atas sofa. Aku memejamkan mata. *** Aku tak tahu

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    44. Mencari-cari Kesalahan

    “Bu Kirana! Tolong!” Malam itu sekitar pukul tujuh, aku baru saja masuk ke ruang IGD. Suster Risya sudah menghampiriku, wajahnya panik. “Tolong, Bu, IGD overload!” suaranya terdengar tumpang tindih dengan suara berisiknya IGD. Suara teriakan laki-laki dan perempuan menangis. Padahal kepalaku sebenarnya juga masih penuh memikirkan soal Mama. Setelah kutanyai soal obat high alert itu, Mama akhirnya mengaku bahwa memang dia yang sengaja menghilangkannya, untuk menjatuhkanku. Bahkan Mas Leo juga sudah tahu. Aku begitu kecewa. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan yang menyakitkan, dan tetap menjalani tugas dalam keluarga itu sebagaimana seharusnya. Aku langsung melangkah cepat menghampiri brankar yang berjejer. “Di sana ada pasien laki-laki yang mengalami tabrak lari setengah jam lalu, Bu,” jelas Risya menunjuk pasien yang berteriak kesakitan. Darah kental tampak melumuri kedua kakinya. Sementara itu di brankar tengah ada pasien dengan ibu hamil yang s

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    43. Ternyata?

    "Bibi senang sekali Non Kirana balik lagi ke sini. Alhamdulillah, ya, Non …,” ucap Bi Inem sambil mengelap piring yang hendak dimasukkan ke dalam lemari. Sementara aku hanya duduk di kursi makan sambil mendengarkannya bicara, sesekali menyeruput teh hangat yang kubuat. Bi Inem melarang aku membantunya. Meski aku memaksakan diri, orang tua itu tetap melarangku. Katanya kalau aku mencuci piring dia akan kecewa padaku. Dia tidak mau membiarkanku bekerja. Alhasil aku hanya duduk menemani sambil berbincang banyak hal. “Iya, Alhamdulillah, Bi, masalahnya udah selesai.” Aku mengedar pandang pada dapur itu. Aku benar-benar tidak menyangka akan pulang lagi ke sini. Waktu Mas Leo mengusirku kemarin, aku pikir itu terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Tak pernah sedikit pun terbesit aku akan pulang. Apakah aku terlalu cepat menerima maaf Mas Leo? Ah, sudahlah, yang paling penting aku punya tempat tinggal. Dan entah kenapa, setelah tahu alasan Mas Leo dekat dengan Melia,

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status