تسجيل الدخول"Menikahlah denganku. Aku akan tanggung semua kebutuhan keluargamu, termasuk biaya kuliah adikmu." Perawat miskin seperti Kirana Larasati tiba-tiba dilamar oleh pewaris rumah sakit tempat dia bekerja, Leonard Saputra Baskara. Bukan karena cinta. Melainkan karena Leo sudah menabrak ayahnya hingga meninggal. Kirana pikir hidupnya akan berubah. Namun, ternyata menjadi istri pewaris rumah sakit adalah neraka. Bukan hanya dihina mertua dan dikucilkan rekan kerja, nyawanya bahkan ikut terancam. Namun, di tengah semua itu, ada Leo yang melindunginya. Yang awalnya hanya ingin menutupi aib, lama-lama dia tak rela melihat istrinya disakiti. Mampukah pernikahan kontrak ini bertahan dan menjadi pernikahan bahagia yang sesungguhnya? ***
عرض المزيد“Kamu sudah pulang dari tadi rupanya.”
Itu suara Mama Sarah, ibu mertuaku. Aku yang baru saja duduk di sofa ruang tamu menoleh ke arahnya. Wanita itu sudah memandangku tak suka sambil bersedekap dada. Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Dan sekarang pukul tujuh pagi. Badanku rasanya remuk, ingin sekali aku istirahat barang sebentar saja. Tapi … ibu mertuaku mengira aku sudah pulang sejak tadi. “Aku pengen istirahat sebentar, Ma, aku ca–” “Bi Inem nggak masuk kerja hari ini, anaknya sakit.” Ibu mertuaku memotong bicaraku. Aku tahu kemana arah pembicaraan itu. “Di dapur nggak ada yang masak. Kami belum sarapan. Suami kamu, Leo, sebentar lagi mau ke rumah sakit.” Aku menghela napas. Aku mengerti maksudnya, sangat mengerti. “Udah, siapin sarapan sana!” Aku tak kuasa membantah. Tidak ada gunanya. Maka, aku langsung berdiri, meski rasanya pinggangku ingin patah. “Iya, Ma.” Aku memasak seorang diri di dapur, meracik nasi goreng, menu sarapan favorit keluarga ini, terutama Mas Leo. Hanya nasi goreng biasa, nasi goreng pedas manis dengan lauk telur dadar dan ayam goreng. Aku tersenyum menatap sajian di atas meja. Akhirnya pekerjaanku yang satu sudah selesai. Bersamaan dengan itu, Mas Leo turun menyusuri tangga sambil mengancingkan lengan kemejanya. Aku tersenyum ke arahnya. “Sarapan, Mas.” Mas Leo mengangguk. Dia duduk di meja makan. “Aku sarapan sebentar aja,” ucapnya sambil matanya tak lepas dari layar tablet yang dia pegang. Aku mengambilkan piring, memasukkan secentong nasi goreng. Lalu menyodorkannya ke atas meja di hadapannya. “Air jeruknya, Mas.” Aku juga menyodorkan segelas air jeruk, minuman saat sarapan seperti biasa. Tapi …. “Leo lagi nggak boleh minum jeruk.” Tiba-tiba ibu mertuaku datang dan menyahut. Dia menarik kursi di sebelah suamiku. Melotot menatapku lalu menatap gelas air jeruk itu. “Kamu ini gimana sih? Suami lagi sakit, nggak boleh minum air jeruk, nggak tahu. Nggak becus jadi istri.” “Maaf, Ma. Aku nggak tahu. Mas Leo sakit apa?” Tanganku terulur untuk mengambil gelas air jeruk itu. Namun, ibu mertuaku mengambilnya lebih dulu. “Leo asam lambungnya lagi kumat.” Ibu mertuaku menatapku tak habis pikir. Aku menunduk malu. Iya, ini memang salahku. Aku kurang memperhatikan suamiku. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. “Maaf.” “Ya nggak heran.” Ibu mertuaku menyahut. “Kamu, kan, memang nggak tahu apa-apa.” Lalu air jeruk itu dia tumpahkan ke lantai. “Ups, Mama nggak sengaja.” Aku setengah terkejut dengan apa yang baru saja Mama Sarah lakukan. Aku tahu dia sengaja melakukannya. Sengaja menguji kesabaran dan memancing emosiku. Namun, harusnya dia juga tahu emosiku tidak akan meledak di hadapannya, apalagi kalau hanya masalah sepele yang dia perbuat. “Aku bersihkan sekarang, Ma.” Aku langsung bergegas mengambil alat pel di dekat kamar mandi. Selagi aku mengepel, mereka menikmati sarapan dalam diam, hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring, juga suara detak jarum jam, sampai tiba-tiba ibu mertuaku tersedak. “Ya ampun, kenapa pedas banget nasi gorengnya?” Dia buru-buru minum. Aku menegak. Pedas? Perasaan tadi aku kasih cabainya hanya sedikit, sebagai penikmat saja. Dan bukan kah aku masak nasi goreng biasanya memang sedikit pedas biar tidak mual saat sarapan? Tapi … kenapa sekarang? Ya Tuhan … drama apa lagi yang dilakukan ibu mertuaku ini? Aku menghela napas, aku harus sabar. Sudah biasa diperlakukan seperti ini. Sejak awal keluarga suamiku memang tidak pernah menyukaiku, mereka tidak pernah mau menerimaku. Karena perbedaan latar belakang keluarga kami yang timpang. Ya, tiga tahun lalu seorang direktur rumah sakit tempatku bekerja mengajakku menikah. Bukan karena cinta, tapi karena dia sudah menabrak ayahku hingga meninggal. Ayahku, orang tuaku satu-satunya karena aku sudah tak punya ibu lagi. Orang itu adalah Mas Leo. Waktu itu aku mengancamnya untuk memviralkan kasus itu. Tak mau nama baiknya dan rumah sakitnya yang sedang diaudit tercemar dia malah mengajakku menikah. Kami menikah tepat di hari ketiga ayahku meninggal. Aku mau menerimanya karena Mas Leo berjanji akan membiayai kuliah Danu, adikku, hingga selesai. Dan aku tutup mulut soal kasus kecelakaan ayahku. Aku tahu, waktu itu Mas Leo butuh istri untuk menutup mulut orang dan menjaga nama baik rumah sakit keluarganya. Aku hanyalah alat. Dia sudah membayar mahal untuk itu. “Leo itu asam lambungnya lagi kumat, kenapa kamu bikin pedas nasi gorengnya?” Suara Mama Sarah kembali menyadarkan lamunanku. Aku menatapnya yang sudah melotot menatapku. “Maaf, Ma, aku kan tadi nggak tahu kalau–” “Shhhh ….” Mama berdesis. “Nggak usah jelasin apa pun. Kamu selalu aja nggak tahu apa-apa.” Mas Leo berhenti makan, dia lantas berdiri. “Aku mau berangkat sekarang,” ucapnya seraya melirik jam di tangan. “Aku antar, Mas,” sahutku yang buru-buru menyandarkan pel di kursi makan. Mas Leo tak memedulikanku. Dia berjalan mendahuluiku begitu saja. Meskipun begitu aku mengiringinya. Sesampainya di teras, aku meraih tangannya dan menyalaminya, tanpa dia minta. Rutinitas yang biasa aku lakukan ketika dia hendak pergi. Setelahnya suamiku itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Ya, sudah terbiasa memang. Aku tersenyum seiring dengan Mas Leo membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Senyumku masih tertahan sambil berdada ria saat klakson mobilnya terdengar. Mobil itu menjauh sebelum akhirnya menghilang ditelan tikungan. “Harusnya kamu memang nggak pernah ada di keluarga ini.” Ibu mertuaku entah sejak kapan ada di belakangku. Aku menoleh. Ibu mertuaku berdiri di hadapanku. “Harusnya kamu tahu sejak awal keluarga ini nggak sepadan dengan keluarga kamu. Dan cepat atau lambat kamu akan enyah dari sisi Leo, saya pastikan itu.”Begitu mendapat pesan dari Revan, aku langsung bergegas ke parkiran rumah sakit. Untuk membuktikan apakah benar Mas Leo bersama perempuan lain. Namun, sesampainya di parkiran aku tak melihat Mas Leo, bahkan mobilnya sudah tidak ada. Mas Leo sudah pergi. Mungkin pergi dengan perempuan itu. Aku terlambat. Apa yang harus kulakukan untuk memastikan semua? “Kirana.” Di saat aku sedang kebingungan, seseorang menghampiriku. Aku menoleh. Revan berdiri di sampingku. “Soal chat itu–” “Soal chat itu gue nggak bohong,” jelas Revan lebih dulu seakan memahami maksudku. “Kalau lo mau gue bisa bantu lo. Kita cari mobil suami lo, mumpung belum jauh. Tadi gue liat mobilnya belok ke arah kanan.” Aku tak yakin aku bisa mengejar mobil Mas Leo, tapi rasa penasaranku lebih besar. Karenanya aku mengikuti saran Revan. Aku mengangguk. Kami buru-buru ke parkiran. Revan dengan cepat mengeluarkan motornya, dan aku berbonceng dengannya. Motornya melesat keluar halaman rumah sakit, bergabung ke jalan ray
Keesokan paginya, aku buru-buru menuruni tangga. Mas Leo sudah berangkat dari tadi, bahkan ketika aku bangun dia sudah tak ada di sampingku. Dari pagar tangga aku melihat Bi Inem sibuk mengatur menu makanan di atas meja. “Pagi, Bi!” sapaku sembari berjalan ke sana. Wanita bertubuh tambun itu menatapku dan tersenyum. “Eh, Non Kirana. Pagi juga, Non. Sarapan, Non?” Bi Inem menawarkan. Aku mengangguk, menarik kursi dan duduk di sana. Mengambil piring sambil melempar pandang pada sajian. Menu sarapan hari ini, Bi Inem tak hanya menyiapkan nasi goreng beserta lauknya, tapi juga ada sandwich sayur. “Menunya banyak, tapi yang makan nggak ada,” gumamku seraya menyedok nasi goreng ke dalam piring, menikmati sarapan seorang diri. “Iya, Non, soalnya ….” Bi Inem tak jadi melanjutkan bicaranya kala suara sepatu yang beradu dengan lantai ubin terdengar nyaring. Wanita tambun itu melihat ke arah suara. Mama menarik kursi di sebelahku, lantas beliau duduk. Aku menoleh heran. Wajahnya k
“Kamu ini nggak di rumah, nggak di luar selalu aja bikin malu keluarga saya!” Aku benar-benar syok sekaligus malu. Hingga yang bisa aku lakukan hanyalah menunduk. Tanganku di bawah meja gemetar. Jangankan Mama, aku sendiri malu dengan perbuatanku barusan. Mataku memanas, dan aku tak kuasa menahannya hingga membiarkan air mata itu menetes membasahi gaunku. Suasana di ballroom itu hening, semua pengunjung menatap ke arah kami. Ingin sekali rasanya aku menghilang dari pandangan mereka. Kursi di sebelahku berderit nyaring di tengah hening itu. Mas Leo berdiri. Aku menatapnya. Wajahnya datar rahangnya mengeras. Lantas dia langsung menarik tanganku. Membuatku spontan terkejut. “Ikut aku,” ucapnya pelan. Mau tak mau aku mengikuti langkah Mas Leo yang panjang dengan susah payah. Sesampainya langkah kami di karpet merah, para wartawan langsung menyorot kami, disusul suara bidikan kamera yang bertubi-tubi. Aku syok tapi tak bisa melakukan apa pun selain menunduk saja, terus berj
Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Kami menghadiri acara ulang tahun rumah sakit Harapan Sejahtera yang ke-15 Tahun. Yang diadakan di ballroom hotel Grand Hyatt Jakarta. Malam ini, mobil yang Mas Leo kendarai berjalan ke sana. Aku melirik Mas Leo yang sejak tadi hanya diam menyetir. Semenjak kutanyai perihal Melia kemarin, entah kenapa, sikap Mas Leo jadi berubah. Dia semakin lebih banyak diam. Dan ketika aku ajak bicara dia tak mau bicara lama-lama padaku, seakan menghindar, seakan takut aku bertanya tentang Melia lagi. Sejak tadi kami hanya saling diam dalam hening. Sampai akhirnya mobil Mas Leo memasuki pelataran hotel yang sudah dipenuhi mobil-mobil elit. Setelah memarkirkan mobilnya, Mas Leo mengajakku turun. Mas Leo menggandengku saat kaki kami menjejak di lobi. “Mukanya jangan ditekuk gitu,” bisiknya pelan. Aku hanya mengangguk. Aku berusaha memasang senyum lebar. Kami berjalan sambil bergandengan tangan memasuki ballroom hotel yang dari sini tampak bender


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر