LOGIN"Menikahlah denganku. Aku tanggung semua kebutuhan keluargamu." Kirana tak pernah lupa kalimat itu. Tiga tahun menjadi istri Leonard Saputra Baskara, direktur rumah sakit tempat dia bekerja, status Kirana masih sama. "Perawat honor yang beruntung" Dihina mertua. Dicurigai rekan kerja. Diremehkan semua orang. Bahkan nyawanya ikut terancam. Hanya Leo yang diam-diam melindunginya, tanpa pernah mengakuinya. Kirana sudah lelah bertahan. Sampai nyawa Leo ada di tangannya. Ternyata untuk dicintai, kadang kita harus berhenti memohon.
View More“Kamu sudah pulang dari tadi rupanya.”
Itu suara Mama Sarah, ibu mertuaku. Aku yang baru saja duduk di sofa ruang tamu menoleh ke arahnya. Wanita itu sudah memandangku tak suka sambil bersedekap dada. Aku baru saja pulang dari rumah sakit. Dan sekarang pukul tujuh pagi. Badanku rasanya remuk, ingin sekali aku istirahat barang sebentar saja. Tapi … ibu mertuaku mengira aku sudah pulang sejak tadi. “Aku pengen istirahat sebentar, Ma, aku ca–” “Bi Inem nggak masuk kerja hari ini, anaknya sakit.” Ibu mertuaku memotong bicaraku. Aku tahu kemana arah pembicaraan itu. “Di dapur nggak ada yang masak. Kami belum sarapan. Suami kamu, Leo, sebentar lagi mau ke rumah sakit.” Aku menghela napas. Aku mengerti maksudnya, sangat mengerti. “Udah, siapin sarapan sana!” Aku tak kuasa membantah. Tidak ada gunanya. Maka, aku langsung berdiri, meski rasanya pinggangku ingin patah. “Iya, Ma.” Aku memasak seorang diri di dapur, meracik nasi goreng, menu sarapan favorit keluarga ini, terutama Mas Leo. Hanya nasi goreng biasa, nasi goreng pedas manis dengan lauk telur dadar dan ayam goreng. Aku tersenyum menatap sajian di atas meja. Akhirnya pekerjaanku yang satu sudah selesai. Bersamaan dengan itu, Mas Leo turun menyusuri tangga sambil mengancingkan lengan kemejanya. Aku tersenyum ke arahnya. “Sarapan, Mas.” Mas Leo mengangguk. Dia duduk di meja makan. “Aku sarapan sebentar aja,” ucapnya sambil matanya tak lepas dari layar tablet yang dia pegang. Aku mengambilkan piring, memasukkan secentong nasi goreng. Lalu menyodorkannya ke atas meja di hadapannya. “Air jeruknya, Mas.” Aku juga menyodorkan segelas air jeruk, minuman saat sarapan seperti biasa. Tapi …. “Leo lagi nggak boleh minum jeruk.” Tiba-tiba ibu mertuaku datang dan menyahut. Dia menarik kursi di sebelah suamiku. Melotot menatapku lalu menatap gelas air jeruk itu. “Kamu ini gimana sih? Suami lagi sakit, nggak boleh minum air jeruk, nggak tahu. Nggak becus jadi istri.” “Maaf, Ma. Aku nggak tahu. Mas Leo sakit apa?” Tanganku terulur untuk mengambil gelas air jeruk itu. Namun, ibu mertuaku mengambilnya lebih dulu. “Leo asam lambungnya lagi kumat.” Ibu mertuaku menatapku tak habis pikir. Aku menunduk malu. Iya, ini memang salahku. Aku kurang memperhatikan suamiku. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. “Maaf.” “Ya nggak heran.” Ibu mertuaku menyahut. “Kamu, kan, memang nggak tahu apa-apa.” Lalu air jeruk itu dia tumpahkan ke lantai. “Ups, Mama nggak sengaja.” Aku setengah terkejut dengan apa yang baru saja Mama Sarah lakukan. Aku tahu dia sengaja melakukannya. Sengaja menguji kesabaran dan memancing emosiku. Namun, harusnya dia juga tahu emosiku tidak akan meledak di hadapannya, apalagi kalau hanya masalah sepele yang dia perbuat. “Aku bersihkan sekarang, Ma.” Aku langsung bergegas mengambil alat pel di dekat kamar mandi. Selagi aku mengepel, mereka menikmati sarapan dalam diam, hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring, juga suara detak jarum jam, sampai tiba-tiba ibu mertuaku tersedak. “Ya ampun, kenapa pedas banget nasi gorengnya?” Dia buru-buru minum. Aku menegak. Pedas? Perasaan tadi aku kasih cabainya hanya sedikit, sebagai penikmat saja. Dan bukan kah aku masak nasi goreng biasanya memang sedikit pedas biar tidak mual saat sarapan? Tapi … kenapa sekarang? Ya Tuhan … drama apa lagi yang dilakukan ibu mertuaku ini? Aku menghela napas, aku harus sabar. Sudah biasa diperlakukan seperti ini. Sejak awal keluarga suamiku memang tidak pernah menyukaiku, mereka tidak pernah mau menerimaku. Karena perbedaan latar belakang keluarga kami yang timpang. Ya, tiga tahun lalu seorang direktur rumah sakit tempatku bekerja mengajakku menikah. Bukan karena cinta, tapi karena dia sudah menabrak ayahku hingga meninggal. Ayahku, orang tuaku satu-satunya karena aku sudah tak punya ibu lagi. Orang itu adalah Mas Leo. Waktu itu aku mengancamnya untuk memviralkan kasus itu. Tak mau nama baiknya dan rumah sakitnya yang sedang diaudit tercemar dia malah mengajakku menikah. Kami menikah tepat di hari ketiga ayahku meninggal. Aku mau menerimanya karena Mas Leo berjanji akan membiayai kuliah Danu, adikku, hingga selesai. Dan aku tutup mulut soal kasus kecelakaan ayahku. Aku tahu, waktu itu Mas Leo butuh istri untuk menutup mulut orang dan menjaga nama baik rumah sakit keluarganya. Aku hanyalah alat. Dia sudah membayar mahal untuk itu. “Leo itu asam lambungnya lagi kumat, kenapa kamu bikin pedas nasi gorengnya?” Suara Mama Sarah kembali menyadarkan lamunanku. Aku menatapnya yang sudah melotot menatapku. “Maaf, Ma, aku kan tadi nggak tahu kalau–” “Shhhh ….” Mama berdesis. “Nggak usah jelasin apa pun. Kamu selalu aja nggak tahu apa-apa.” Mas Leo berhenti makan, dia lantas berdiri. “Aku mau berangkat sekarang,” ucapnya seraya melirik jam di tangan. “Aku antar, Mas,” sahutku yang buru-buru menyandarkan pel di kursi makan. Mas Leo tak memedulikanku. Dia berjalan mendahuluiku begitu saja. Meskipun begitu aku mengiringinya. Sesampainya di teras, aku meraih tangannya dan menyalaminya, tanpa dia minta. Rutinitas yang biasa aku lakukan ketika dia hendak pergi. Setelahnya suamiku itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Ya, sudah terbiasa memang. Aku tersenyum seiring dengan Mas Leo membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Senyumku masih tertahan sambil berdada ria saat klakson mobilnya terdengar. Mobil itu menjauh sebelum akhirnya menghilang ditelan tikungan. “Harusnya kamu memang nggak pernah ada di keluarga ini.” Ibu mertuaku entah sejak kapan ada di belakangku. Aku menoleh. Ibu mertuaku berdiri di hadapanku. “Harusnya kamu tahu sejak awal keluarga ini nggak sepadan dengan keluarga kamu. Dan cepat atau lambat kamu akan enyah dari sisi Leo, saya pastikan itu.”“Apa maksud pertanyaanmu?” Mas Leo malah bertanya balik, terdengar defensif. Aku lalu menoleh padanya. Aku tidak mau dia salah paham dengan pertanyaanku. Aku juga tidak mau dia berpikir aku berniat membalas perselingkuhannya. “Bukan apa-apa. Lupakan aja,” jawabku kemudian. Suara Mas Leo tak langsung terdengar, sebelum akhirnya. “Kamu kenapa nggak marah?” Aku langsung menoleh mendengar pertanyaan tak terduga itu. Aku menatap wajahnya yang masih fokus menyetir, lama. Kenapa dia malah bertanya seperti itu? “Marah kenapa?” “Liat aku sama Melia.” Aku menghela napas. Jujur saja, hatiku sakit bahkan tiap mengingatnya, tapi aku tidak mau jika harus menampakkan hal itu di depan Mas Leo. “Kan kamu sendiri yang selalu bilang aku nggak boleh ikut campur urusanmu sama Melia.” “Iya memang,” jawab Mas Leo lagi. “Aku sama Melia ada urusan yang nggak bisa aku kasih tahu kamu.” Alasan itu dulu pernah Mas Leo ucapkan saat aku memergokinya di restoran. Dulu aku tak percaya. Sekarang aku sudah t
Aku menoleh. Mas Leo berdiri di belakangku, menatapku penuh tanya. Dia bahkan masih mengenakan pakaian OK biru, maskernya turun ke dagu. “Mas sejak kapan kamu di sini?” tanyaku heran. Pria itu tersenyum miring. “Sibuk banget ya sampai nggak sadar aku ada,” jawabnya. Aku tertunduk. “Maaf, Mas.” “Aku mau bikin laporan operasi buat pasien yang masuk tadi malam. Kata suster Lilis kamu belum input laporannya, ya?” Aku langsung mengangkat pandangan, kembali menatapnya. Aku pun baru teringat akan hal itu. Lalu melirik suster Lilis yang masih di meja nurse station, dia menatapku tak nyaman. Mungkin merasa tak enak hati karena sudah mengabarkan hal itu pada Mas Leo. “Maaf, nanti aku input, Mas,” jawabku kemudian. “Sekarang serah terimanya udah selesai, kan?” Mas Leo melirik pena yang baru saja kuletakan di atas meja. “Udah, sih, Mas.” “Kerjakan sekarang.” Aku langsung menatap kedua sahabatku yang masih di sana. “Gaes nanti aja ya ngobrolnya, aku sibuk, maaf, ya?” Aku merasa tak n
“Mas Leo? Melia?” tegurku yang spontan membuat keduanya menoleh. Melia menatapku terkejut dan langsung mendorong tubuh Mas Leo. Suamiku itu pun mundur dengan wajah tenang, bahkan saat melihatku. “Kirana, jangan salah paham, ya?” ucapnya kemudian. Tadinya aku ingin abai saja, ada pasien yang harus kutangani juga. Namun, perkataan Mas Leo barusan rasanya sayang kalau tidak dijawab. Aku mendekatinya. “Saya cuman mau mengingatkan kalau mau mesra, jangan di tempat kerja. Jangan memberi contoh yang nggak baik buat anak lain.”Melia langsung menatap tak suka mendengar jawabanku. “Nggak usah sok ngajarin saya, ya. Lagian siapa juga yang mesra di tempat kerja.”“Iya, ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Kirana.” Mas Leo ikut menyahut. Lagi-lagi bersikap seakan takut aku salah paham. “Baguslah. Lain kali jangan diulangi,” jawabku kemudian. Aku lantas bergegas pergi dari hadapan mereka. Menemui pasien kritis itu. Namun, sepanjang langkahku menuju ke sana, pikiranku mendadak tak mene
Bab 45 Pukul 04.00 WIB Akhirnya pekerjaanku mereda, IGD lengang. Para pasien sudah dipindahkan ke bangsal. Para perawat istirahat di ruang perawat. Aku juga. Tapi aku tidak benar-benar istirahat. Saat mereka berbaring di sofa, aku duduk di meja, menatap berkas laporan. Walaupun sebenarnya pinggangku ingin patah. Sesekali aku menguap kecil. Pintu ruangan terbuka, aku melirik ke arah sana. Suster Risya masuk membawa dua botol mineral. Dia tersenyum melihatku. “Istirahat dulu, Bu. Pekerjaan nggak ada habisnya,” komentarnya melihat kertas-kertas di atas meja. Lalu dia meletakkan sebotol mineral di depanku. “Minum, Bu, setelah itu istirahat.” Aku tersenyum mengambil mineral yang dia berikan. “Makasih, ya.” Lalu meneguknya pelan hingga airnya setengah. Sejak masuk ke IGD hingga sekarang aku memang belum ada minum. Risya benar, sebaiknya aku istirahat sebentar. Aku pun baring di sofa. Nyaman sekali rasa pinggangku saat berbaring di atas sofa. Aku memejamkan mata. *** Aku tak tahu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore