分享

Gengsi

作者: Strawberry
last update publish date: 2026-06-20 18:18:45

Besok paginya, semuanya kelihatan berjalan biasa saja. Walaupun sebenarnya masih ada rasa canggung yang tersisa dari kejadian sore kemarin, tapi baik Banyu maupun Bening sama-sama milih buat pura-pura nggak terjadi apa-apa.

“Mbak Bening, nanti saat istirahat makan siang saya antar ke Polres. Jangan pergi sendirian,” pesan Banyu tegas. Dia menghampiri Bening yang sedang duduk kursi ruang tengah, menikmati semangkuk bubur kacang hijau hangat yang dibeli Banyu dari pedagang keliling yang kebetula
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Pikiran yang Tertinggal

    "Pak Banyu, bukannya kemarin semua berkas Pak Harto sudah Bapak minta saya kirim ke Kabupaten?"Suara Pak Sekdes seketika memecahkan lamunan Banyu. Banyu tertegun sejenak, menatap tumpukan map di mejanya dengan pandangan kosong sebelum ingatan itu perlahan kembali. Apa yang dikatakan Pak Sekdes barusan memang benar. Dia sendiri yang mengecek berkas itu kemarin sore."Benar. Makasih, Pak. Maaf," ucap Banyu singkat dan padat.Pak Sekdes hanya mengangguk heran lalu pamit keluar dari ruangan. Setelah pintu tertutup, Banyu langsung menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.Sepanjang pagi ini, fokusnya hancur berantakan. Otaknya menolak bekerja, terjebak pada reaksi Bening di dapur tadi pagi. Setiap kali dia memejamkan mata, suara pecah Bening dan kalimat, “Mas Banyu justru semakin menyulitkan hidup saya,” terus terngiang-ngiang layaknya kaset rusak.Banyu mendesah frustasi, mengacak rambutnya kasar. Dia marah pada dirinya sendiri. Niatnya adalah untuk

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Dunia Yang Berbeda

    "Salah satu alasan Mas Banyu di sini? Lalu apa hubungannya dengan saya, Mas? Saya cuma janda kampung, seperti yang Dokter Winda katakan tadi," bisik Bening dengan suara pecah.Bening melangkah mundur, menolak jarak yang coba dikikis oleh Banyu. Kata-kata Banyu justru membuatnya merasa semakin kecil dan tidak berharga.“Mbak Bening jangan salah paham…” Banyu mencoba meraih tangan Bening, namun wanita itu terang-terangan menghindar dan menjauh.“Saya gak salah paham.”“Tapi, Ning—”“Mas Banyu, ini sudah siang. Biar saya masak dulu supaya Mas Banyu dan Mbak Winda bisa sarapan,” potong Bening dingin sembari membalikkan badan, mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin.Banyu kembali mendekat, namun tetap menjaga jarak aman agar Bening tidak semakin menjauh. “Winda itu masa lalu saya,” Banyu mulai membuka suara, nadanya sarat akan permohonan. “Dia sudah tidak ada artinya apa-apa lagi buat saya. Tolong percaya sama saya.”‘Percaya! Tentu saja saya percaya dengan M

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Kamu Berhak Tahu

    “Hei… kalian ngapain? Bagaimana kalau aku salah paham? Tapi untung aku nggak salah paham, ya…” cerocos Winda sembari melangkah santai mendekati mereka berdua.Suara renyah itu seketika memutus sihir yang sempat mengikat Banyu dan Bening. Bagai tersengat listrik, Bening refleks mendorong dada bidang Banyu dengan sikunya, menciptakan jarak sejauh mungkin.“Tidak seperti yang Mbak Winda lihat. Tadi saya hampir jatuh,” ucap Bening cepat, suaranya bergetar panik. Dia langsung berjongkok, memungut ketelnya yang tergeletak di lantai lalu membawanya ke wastafel untuk mengisinya kembali dengan air, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.Winda tidak membalas ucapan Bening. Dokter cantik itu justru melipat tangan di dada, melemparkan tatapan menggoda, mengejek, sekaligus menuntut penjelasan ke arah Banyu. Namun, Banyu sama sekali tidak mempedulikannya. Banyu berbalik dengan wajah dingin, berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil kain pel demi mengeringkan sisa air yang menggenang di l

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tamu Kepagian

    "SURPRISEEEE!!!!"Suara melengking dan ceria itu memecah kesunyian pagi. Di ambang pintu rumah Bening, seorang wanita cantik dengan pakaian modis dan koper besar di sampingnya tengah berdiri sambil tersenyum lebar.Kedatangan yang teramat mendadak itu membuat alis Banyu bertaut rapat. Gurat tidak suka dan keterkejutan terpeta jelas di wajahnya. Pandangan Banyu lalu beralih pada Bening yang berdiri di dekatnya, masih memegang gagang pintu dengan raut bingung. Pagi masih sangat buta, bahkan Banyu belum sempat bersiap untuk berangkat ke kantor desa, tapi wanita ini sudah menampakkan diri di sana. "Banyu... kamu kok diam aja, sih? Nggak senang ya aku datang?" tanya wanita itu dengan suara renyah, mengabaikan tatapan dingin Banyu.Sepasang mata indahnya kemudian bergulir, meneliti penampilan Bening dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai yang terselubung. "Jadi... ini... ini yang punya rumah, ya? Siapa namanya?""Saya Bening," ucap Bening, agak ragu sekaligus canggung menghadapi en

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Harusnya Aku

    "Warga mau menuduh apa, itu urusan mereka, Mas. Toh, dari dulu posisi saya sebagai janda selalu salah di mata mereka," bisik Bening pahit. "Jadi, tolong... Mas Banyu lupakan saja semuanya. Anggap kejadian di antara kita kemarin tidak pernah ada."“Mbak Bening yakin dengan apa yang Mbak Bening katakan?” tanya Banyu memastikan.Bening menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan tanpa berani menatap mata pria itu.Banyu menghembuskan napas berat. Dada bidangnya naik turun menahan gejolak emosi yang tertahan. Menatap kerapuhan Bening yang memasang dinding pertahanan begitu tebal, Banyu akhirnya mengangguk pelan. Pria itu tidak bersuara, dan anggukan itu jelas bukan tanda bahwa dia setuju untuk melupakan. Dia hanya sedang mengalah demi meredam kepanikan Bening di depannya.Akan tetapi, keheningan yang canggung itu mendadak buyar oleh dering nyaring dari ponsel di saku celana Banyu.Banyu mendengus pelan, merutuki gangguan yang datang di waktu yang salah. Di saat bersamaan, Bening menggese

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tuduhan Kejam

    “Mbak Bening mau menikah lagi?” tanya Banyu.Suaranya terdengar sangat tenang, namun dingin yang membuat atmosfer ruangan itu mendadak turun drastis. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah Bening—menyoroti tangannya yang mencengkeram erat daster sobek demi memeluk bahu terbukanya, matanya yang memerah parah, serta sisa air mata yang mulai mengering dan lengket di pipi Bening.Sebelum Bening sempat membuka mulut untuk membantah, Sulis sudah lebih dulu menyahut.“Iya, Pak... masa Pak Lurah nggak tahu? Bening ini mau nikah sama Yoga. Malah mereka kepergok berbuat mesum!” cicit Sulis.Mendengar fitnah yang semakin keterlaluan itu, Bening refleks melepaskan cengkraman pada dasternya yang sobek. “Nggak! Itu nggak benar, Mas!” serunya histeris sembari mengibaskan kedua tangan, memberikan isyarat panik agar Banyu tidak mempercayai tuduhan Sulis.Namun, Banyu justru menatap Bening dengan sorot mata yang kian menggelap. Alis tebal pria itu bertaut rapat, memancarkan emosi tak terbaca

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Celana Dalam

    Bening melangkah ragu mendekati ranjang. Kasur berukuran sedang itu terbalut sprei abu-abu gelap yang terpasang sangat rapi tanpa celah, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang serba disiplin.Ia bermaksud mengambil satu bantal sesuai permintaan Banyu. Namun, saat melihat selimut tebal yang melipa

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Malam Panjang

    “Mbak Bening……” suara baritonnya terdengar serak menatap sosok Bening yang belum sepenuhnya keluar dari kamar mandi dengan gerakan canggung dan malu.Pintu kayu itu terbuka hanya beberapa senti, namun cukup untuk membuat seluruh oksigen di paru-paru Banyu seolah tersedot habis. Pria itu menarik tan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tidur di Sini

    Banyu menarik daun pintu kayu itu hingga terbuka.Namun, begitu melihat sosok yang berdiri di ambang pintu di bawah guyuran hujan lebat itu, gerakannya langsung terkunci. Matanya menegang menatap siluet di depannya—sebuah kehadiran yang sama sekali tidak ia duga akan ada di depan pintunya malam ini

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Keras Banget

    "Mas Banyu... itu. Mas bawa apa ya? Kok di bawah saya keras sekali?" Banyu memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia mengutuk dirinya sendiri. Mengutuk naluri prianya yang justru bergejolak di saat yang paling tidak tepat. Sebagai pria yang selama in

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status