author-banner
Strawberry
Strawberry
Author

Novels by Strawberry

Terjerat Obsesi Kakak Ipar

Terjerat Obsesi Kakak Ipar

“Jangan, Leo…” rintihnya, tubuhnya bergetar hebat saat jemari Leonardo menyentuh lembut garis rahangnya. Namun, kata-kata itu tidak sejalan dengan gerakan tubuhnya. Isabella merasa bersalah, seolah mengkhianati suaminya—karena diam-diam ia menikmati sentuhan Leonardo. Keberadaan Leonardo di atas ranjangnya, sebagai kakak ipar, berawal dari permintaan suaminya sendiri—yang tak mampu memenuhi tuntutan keluarga untuk memiliki anak. Sejak malam itu, Leonardo merasa nyaman… dan mulai sering membayangkan sentuhan terlarang dari istri adik angkatnya, Isabella.
Read
Chapter: Ending Yang Manis
Sementara itu, bisnis Leonardo—"DeVicenzo Holdings"—telah mengalami transformasi yang sama mendalam. Dia tidak lagi melihatnya sebagai kerajaan bisnis yang perlu diperluas, tetapi sebagai alat untuk mengelola sumber daya yang bertanggung jawab. "Pertambangan" yang dulu menjadi sumber kekayaan keluarganya kini dijalankan dengan prinsip keberlanjutan dan reklamasi lingkungan yang ketat, menjadi studi kasus di beberapa forum bisnis etis. Namun, fokus utamanya tetaplah "Radici e Ali".Komunitas itu kini telah berkembang menjadi jaringan lebih dari dua ratus pengrajin, seniman, dan petani skala kecil yang tersebar di seluruh Italia. Mereka tidak hanya menerima pesanan; mereka berkolaborasi dalam pembuatan koleksi, berbagi keahlian dalam workshop virtual, dan menikmati kesejahteraan yang jauh lebih baik berkat model bagi hasil yang adil yang diterapkan Leonardo.Proyek creative retreat di Tuscan telah menjadi jantung komunitas, menjadi tempat pertemuan tahunan, residensi seniman, dan sumber
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: Menuju Ending Yang Manis
Tiga tahun bukanlah waktu yang lama untuk mengukur sebuah impian, tetapi bagi Leonardo, Isabella, dan komunitas "Radici e Ali", itu adalah siklus musim yang cukup untuk mengubah benih menjadi pohon yang berbuah lebat.Mereka tidak lagi tinggal di jantung Milan yang berdetak kencang. Rumah mereka sekarang adalah sebuah agriturismo yang direnovasi dengan penuh cinta, berdiri di atas bukit lembut di Tuscan, dikelilingi oleh barisan pohon zaitun berusia ratusan tahun dan kebun anggur yang mereka rawat sendiri. Dari teras batu mereka, pemandangannya adalah lukisan hidup yang selalu berubah—hamparan hijau, kuning, dan cokelat yang berganti sesuai musim, dibatasi di kejauhan oleh garis biru lembut Pegunungan Apennine.Pukul delapan pagi, suasana di rumah itu sudah hangat dan hidup. Matahari musim semi menerobos jendela-jendela besar dapur, menyinari meja kayu oak panjang tempat sebuah keluarga kecil sedang sarapan."Givendra, jangan main-main dengan selai. Leandro, tolong habiskan susumu," s
Last Updated: 2025-12-03
Chapter: Riak
Riak kecil dari pameran Firenze mulai memantulkan gelombang yang lebih luas. Seorang jurnalis dari majalah seni dan budaya ternama Italia menghubungi mereka, tertarik untuk membuat feature. Bukan tentang "bisnis sosial yang trendi", tapi tentang "gerakan kebangkitan kerajinan tangan Italia yang autentik".Wawancaranya dilakukan di kantor mereka, tetapi sebagian besar diadakan melalui koneksi video langsung ke bengkel-bengkel para pengrajin. Si jurnalis, seorang wanita paruh baya dengan mata yang tajam namun ramah, terpukau bukan hanya oleh produknya, tapi oleh cahaya di mata para pengrajin saat mereka bercerita."Biasanya," kata jurnalis itu kepada Isabella setelah sesi wawancara, "orang-orang bercerita tentang bertahan hidup. Di sini, mereka bercerita tentang hidup. Tentang melanjutkan warisan. Tentang kebanggaan. Itu langka."Feature tersebut terbit dua minggu kemudian dengan judul: "Radici e Ali: Di Mana Setiap Goresan Memiliki Jiwa." Artikel itu tidak menjanjikan kekayaan instan a
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: Impian Bukan Ambisi
Kembali ke Milan terasa seperti memasuki arus yang berbeda. Bukan arus yang buruk, hanya lebih deras, lebih padat, dan penuh dengan tuntutan yang konkret.Udara Tuscan yang beraroma herbal dan tanah basah digantikan oleh bau kopi panggang, aspal yang masih hangat, dan getaran ambisi kota besar. Namun, Leonardo dan Isabella membawa pulang ketenangan yang mereka temukan di antara kebun zaitun itu, membawanya seperti sebuah bekal rahasia di dalam hati.Tak heran kalau Isabella lebih mencintai Tuscan semenjak kepindahan mereka meskipun Milan menjadi tanah tumpah darahnya.Kantor "Radici e Ali" yang terletak di distrik Brera yang artistik, dengan dinding bata ekspos dan tanaman merambat di jendela-jendela tinggi, terasa berbeda. Bukan tempatnya yang berubah, tapi cara mereka memandangnya.Setelah kejernihan Tuscan, segala sesuatu terasa lebih fokus. Desakan Valentina, yang dulu terasa seperti ancaman besar, kini telah menyusut menjadi sekadar riak kecil dalam perjalanan panjang mereka. Nam
Last Updated: 2025-12-02
Chapter: Chapter 235
Isabella, yang berdiri di sampingnya, menambahkan dengan senyuman. “Kalian adalah tulang punggung ‘Radici e Ali’. Setiap ukiran, setiap tembikar, setiap ide yang kalian bagikan—itulah yang membuat proyek ini hidup. Bukan uang dari investor besar, bukan janji-janji pasar global. Tapi ketulusan dalam karya kalian.”Seorang pengrajin tua, Maestro Eduardo, berdiri dengan tongkatnya. Suaranya parau namun penuh wibawa. “Kami juga berterima kasih pada kalian berdua. Kalian mengingatkan kami bahwa karya tangan kami masih bernilai. Bahwa cerita kami masih layak didengar. Itulah yang lebih berharga daripada kontrak mana pun.”Applause spontan pecah, diselingi sorak-sorai dan beberapa mata yang berkaca-kaca. Itu bukan tepuk tangan untuk sebuah pidato, tapi pengakuan atas sebuah ikatan yang telah terjalin.Hari itu berlanjut sesuai rencana. Kembali ke ritme kerja yang produktif dan damai. Isabella mendirikan easel-nya di dekat bangku batu, menangkap cahaya pagi yang sempurna di lembah. Leonardo d
Last Updated: 2025-12-01
Chapter: Chapter 234
Api di perapian menjilat-jilat kayu zaitun kering, memancarkan kehangatan yang menembus sampai ke tulang dan cahaya yang menari-nari di dinding batu tua. Surat elektronik Valentina telah dibaca, kata-katanya menggantung di udara bersama aroma kayu yang terbakar. Namun, tidak ada rasa kemenangan yang gegap gempita, hanya kelegaan yang dalam dan sunyi. Kemarahan yang Isabella munculkan bukan semata kecemburuan yang buta namun sikap waspada seorang wanita yang menjaga suaminya. Dia tidak meragukan cinta Leonardo padanya namun hati lelaki itu meskipun sekeras batu, perhatian perempuan laksana tetesan air, jika dibiarkan lama-lama akan memberikan bekas juga. “Aku hampir merasa kasihan padanya,” gumam Isabella akhirnya, memecah keheningan. Kepalanya masih bersandar di dada Leonardo, merasakan naik turunnya napasnya yang teratur. Leonardo mendekatkan bibirnya ke ubun-ubun Isabella, menempatkan ciuman yang lembut. “Aku juga. Tapi mungkin ini yang dia butuhkan. Sebuah cermin untuk meli
Last Updated: 2025-12-01
Aduh Tak Tahan, Prof!

Aduh Tak Tahan, Prof!

“Ah… uhm..” Sebuah ingatan singkat menghantam Hanna. Alarm KB—ia lupa menyalakannya pagi ini. Di negara Valthera, masa depan setiap perempuan ditentukan oleh implan KB—alat kendali biologis yang menautkan mereka dengan pasangan pilihan pemerintah sesuai DNA. Sistem itu diciptakan demi stabilitas- menekan populasi, memastikan kecocokan genetik, menciptakan keluarga “sempurna.” Tapi kenyataannya jauh dari utopia. Angka perceraian justru meroket. Kehangatan keluarga hilang, berganti hubungan hampa yang hanya patuh pada aturan. Tapi satu kesalahan kecil mengubah segalanya—malam itu ia lupa mengaktifkan implan. Tubuhnya justru terkunci dengan pria terakhir yang seharusnya ia hindari—Profesor Liam, pencipta sistem itu sendiri. Jika aturan dilanggar, implan tidak lagi melindungi, melainkan mengikat. Tubuh akan mengenali pria pertama yang menyentuhnya sebagai pusat loyalitas biologis. Dan yang paling ironis—pria itu kini resmi menjadi kakak tirinya.
Read
Chapter: 218 | Kekejaman Negara?
"Bukan dia. Tapi kita bisa memanfaatkan koneksinya." Liam menoleh padanya. "Saat di rumah, dia mematikan listrik lokal. Di sini, dengan akses langsung ke inti server… kita bisa mengarahkan… dorongan neuralnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengacaukan semua sistem pelacakan di Valthera, setidaknya untuk sementara.""Liam, itu terlalu berisiko! Kita tidak tahu batas kemampuannya!" protes Hanna."Kita juga tidak tahu batas ancaman terhadapnya, Hanna!" balas Liam. "Mereka tidak akan berhenti. Sekarang mereka tahu apa yang bisa dia lakukan, mereka akan mengerahkan segala sumber daya untuk mendapatkan kalian berdua. Ini satu-satunya cara untuk memastikan kita punya waktu bernapas."Sebelum Hanna bisa membantah, suara metalik menggema di koridor. Pintu baja tempat mereka masuk tiba-tiba terbuka dengan paksa. Di sana, berdiri Inspektur Mara dengan beberapa orang pasukan khusus, senjata mereka terhunus."Berhenti, O'Hara!" teriak Mara. "Langkah menjauh dari konsol
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: 217 | Dalam Pelarian
Terowongan layanan itu seperti urat nadi yang terlupakan di bawah tubuh Valthera yang berkilau. Dindingnya terbuat dari beton polos, dipenuhi kabel-kabel dan pipa-pipa yang berdesis lembut. Cahaya dari lampu kecil kendaraan mereka menerobos kegelapan, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari dengan liar.Liam mengemudi dengan penuh konsentrasi, nalurinya sebagai seorang yang mengenal tiap inci kota ini membimbingnya. Namun, ketegangan mengeras di pundaknya. Mereka belum aman. Jauh dari itu."Liam," bisik Hanna, suaranya parau. "Dia... dia tenang sekarang. Seperti tertidur.""Kelelahan," gumam Liam. Mengeluarkan energi seperti itu pasti menguras si kecil. Rasa khawatir yang baru menyergapnya—apa konsekuensi dari ledakan kekuatan seperti itu bagi janin yang masih berkembang? Tapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.Tiba-tiba, lampu kecil di dasbor kendaraan berkedip lalu padam. Mesin listrik yang nyaris tanpa suara itu merintih pelan, lalu kehilangan daya. Kendar
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: 216 | Perlawanan Liam
Ruang yang "disiapkan" ternyata adalah sebuah ruang operasi portabel yang lengkap, dipasang dengan cepat di ruang tamu utama. Peralatan berteknologi tinggi berdetak dan berkedip dengan cahaya dingin, mengubah ruang keluarga yang hangat menjadi sebuah laboratorium dingin. Meja pemeriksaan dengan lampu sorot terang menunggu di tengah.Hanna dipandu—lebih tepatnya, diarahkan—untuk berbaring. Perutnya yang membesar terasa berat dan rentan di bawah sorotan. Dr. Aris mendekat, mengenakan sarung tangan steril, sementara seorang asistennya menyiapkan mesin ultrasound yang lebih canggih dari biasanya dan sebuah alat panjang dengan ujung yang sangat tipis dan tajam."Tenang saja, Nona Hanna," ujar Dr. Aris, suaranya datar seperti sedang membaca manual. "Ini hanya prosedur standar amniocentesis. Kami akan mengambil sedikit sampel cairan ketuban untuk analisis. Sangat aman.""Aman untuk siapa?" serak Hanna, tangannya refleks melindungi perutnya."Untuk Anda dan janin, tentu saja," jawabnya, tapi
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: 215 | Janin Yang Menolak
Rasa bersalah dan ketakutan membakar hati Hanna bagai cairan asam. Setiap sesi "latihan" dengan perangkat kecil Liam meninggalkan rasa hampa yang dalam. Dia berbaring di tempat tidur, tangan menempel di perutnya yang membesar, membisikkan permintaan maaf berulang kali pada bayi di dalam kandungan."Maafkan Mama, Sayang. Mama janji, ini untuk kita. Agar kita bebas."Tapi bisikan itu terasa kosong. Apakah ini benar-benar untuk si bayi? Atau untuk ketakutan dirinya sendiri yang tidak ingin kehilangan? Dia mulai meragukan setiap keputusan yang dibuat sejak tahu dirinya hamil. Keputusan impulsif yang awalnya terasa seperti pemberontakan, kini berubah menjadi jerat yang mengikat tiga nyawa—bahkan sebelum yang ketiga sempat melihat dunia.Liam merasakan pergolakan dalam diri Hanna. Dia melihatnya sering melamun, matanya kosong menatap kejauhan. Sentuhannya menjadi lebih berhati-hati, seolah takut Hanna akan pecah."Kita bisa berhenti," ujar Liam suatu malam, memegangi bahu Hanna yang menggig
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: 214 | Utopia Impian
Hanna duduk terdiam di bangku taman, buku terbengkalai di pangkuannya. Udara hangat artifisial tiba-tiba terasa menusuk. Denyut jantungnya, yang dipantau oleh gelang perak di pergelangan tangannya, pasti melonjak. Dia memaksa diri untuk menarik napas panjang dan perlahan, berusaha menenangkan diri.Itu hanya halusinasi, bisiknya pada dirinya sendiri. Stres. Kelelahan.Tapi rasanya begitu nyata. Diagram itu tajam, jelas. Titik-titik merah yang berkedip sesuai dengan posisi patroli keamanan yang biasa dia lihat dari jendela. Titik hijau itu… tepat di lokasi laboratorium Liam.Dia menutup matanya, mencoba memanggil kembali gambaran itu. Tidak ada. Hanya kegelapan di balik kelopak matanya. Namun, ada sisa-sisa sensasi aneh—seperti gema dari koneksi yang terputus, atau saluran yang baru saja dibuka."Sayang, mau minum teh?" suara Lily dari pintu belakang membuyarkan konsentrasinya.Hanna membuka mata, berusaha tersenyum. "Iya, Ma. Aku masuk."Dia berdiri, sedikit limbung. Perutnya bergerak
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: 213 | Menuntut Kebebasan
Keputusan Dewan Keamanan bergema melalui saluran-saluran resmi dengan kecepatan dan efisiensi khas Valthera. Dalam waktu dua jam setelah pertemuan Liam, perintah transfer resmi telah dikeluarkan.Namun, seperti segala hal di Valthera, tidak ada yang benar-benar sederhana.Pintu Unit 5-C terbuka, bukan oleh Liam, tetapi oleh Inspektur Mara, didampingi oleh dua petugas medis dan seorang teknisi keamanan.“Nona Hanna, Nyonya Lily,” sapa Mara dengan nada datar profesionalnya yang biasa. “Harap berkemas. Anda akan dipindahkan ke kediaman Profesor O’Hara di Perimeter North.”Hanna dan Lily saling memandang, campur aduk antara kelegaan dan kehati-hatian.“Liam?” tanya Hanna, berharap melihatnya.“Profesor O’Hara sedang mempersiapkan lokasi baru Anda dan akan menyambut di sana,” jawab Mara. Dia memberi isyarat, dan teknisi itu maju dengan perangkat genggam. “Sebelum kepergian, kami perlu memasang monitor lingkungan tambahan. Ini standar.”“Monitor apa?” tanya Lily dengan waspada.“Untuk memas
Last Updated: 2025-12-29
Dinikahi Kaisar Iblis dan 9 Putranya

Dinikahi Kaisar Iblis dan 9 Putranya

Harem Reverse Seorang wanita manusia direbut oleh Kaisar dunia iblis karena diramal akan membawa keberuntungan. Namun, setelah menikah dengan sang Kaisar, ia menemukan bahwa sembilan pangeran tampan dari berbagai ras juga bersaing untuk mendapatkan hatinya.
Read
Chapter: EPILOG: Dua Kehidupan Satu Cinta
Malam di dunia bawah tak lagi kelam. Langitnya tidak sepenuhnya gelap, tapi dihiasi garis-garis cahaya lembut seperti tenunan perak yang ditarik dari bintang-bintang tua. Dan di balkon tertinggi istana, di antara angin hangat dan harum bunga Aetheris yang mekar malam hari, Arcelia berdiri dalam diam.Rambutnya tergerai, jatuh lembut di punggung. Kain tipis tidurnya menari perlahan diterpa angin. Di tangannya, sebuah cangkir teh herbal yang masih mengepulkan uap pelan.Tapi bukan teh itu yang membuat jantungnya tenang. Melainkan langkah kaki yang ia kenali sejak dulu. Langkah yang bahkan dalam kehidupan sebelumnya… telah menggetarkan relung jiwanya.Azrael datang dari belakang. Tak berkata apa-apa. Ia hanya memeluknya dari belakang, seperti biasa.“Kau mencariku, Kaisar?” gumam Arcelia tanpa menoleh.“Aku tidak pernah berhenti.” Suara Azrael serak, namun tenang.“Bahkan ketika waktu membelah kita. Bahkan ketika dunia memaksa kita lupa. Hatiku... tetap mencari napasmu.”Arcelia menu
Last Updated: 2025-07-10
Chapter: Calon Raja (End)
Hari itu, langit dunia bawah cerah. Tidak seperti biasanya.Bukan karena warna. Tapi karena suasana.Karena tidak semua cahaya berasal dari matahari.Beberapa berasal dari rumah. Dari ruang makan kecil. Dari suara tawa yang muncul tanpa dipaksa.Arcelia sedang memangku Caelion di teras istana. Kain hangat membungkus tubuh kecil itu, sementara Azrael duduk tak jauh, membaca gulungan kuno dengan mata yang tetap awas mengawasi keduanya.Di tengah kebiasaan sederhana itu, dunia terasa lengkap.Namun jauh di balik tawa lembut dan udara manis itu…dunia tak tidur.Dan Arcelia tahu.Ia bisa merasakannya dalam detak hati yang tiba-tiba tak serasi dengan alunan waktu.Dalam mimpi-mimpi aneh yang menyelinap seperti bayangan samar.Dalam keheningan yang terlalu panjang… bahkan untuk dunia bawah.Elder Daemon tidak mati.Mereka hanya berganti bentuk.Bukan menjadi monster.Bukan menjadi kabut berduri atau sosok bermahkota api.Tapi menjadi rasa.Mereka adalah keraguan dalam hati istri yang lelah
Last Updated: 2025-07-10
Chapter: Ibu Adalah Rumah
Waktu berjalan berbeda di dunia bawah.Di antara rerimbun kristal hitam dan udara hangat yang mengalir dari inti bumi, Arcelia belajar kembali… menjadi ibu.Ia tidak memakai jubah kebesaran hari itu. Tak ada hiasan mahkota atau batu sihir di dahinya. Ia hanya mengenakan kain lembut berwarna kelabu pucat, rambutnya disanggul sederhana, dan di pelukannya, Caelion tertidur dengan napas damai.Azrael memperhatikannya dari balik tirai tipis ruang keluarga yang menghadap ke taman bawah tanah. Ratu yang dulu berdiri di medan perang dengan tatapan membakar kini duduk di atas permadani empuk, membacakan kisah kuno pada anaknya dengan suara seperti aliran sungai kecil.“Dulu ada seorang bayi,” ucap Arcelia pelan, membelai rambut Caelion, “yang lahir bukan dari rahim yang sempurna, tapi dari doa-doa yang terluka…”Azrael tersenyum tipis. Ia tahu cerita itu adalah kisahnya.Bukan hanya tentang Caelion, tapi tentang dirinya, tentang Arcelia, tentang setiap jiwa yang pernah nyaris tenggelam tapi ak
Last Updated: 2025-07-10
Chapter: Pelukan Yang Menyimpan Dunia
Gerbang sihir di langit dunia bawah terbuka perlahan, disertai desiran angin yang mengusik pilar-pilar batu. Awan hitam yang biasanya bergulung tenang seperti bergetar—menyambut kehadiran seorang yang tak hanya membawa tubuh… tapi juga nyawa-nyawa yang kembali menemukan harapan.Arcelia melangkah melewati celah itu.Langkahnya tenang. Bajunya tak semegah biasanya. Rambutnya sedikit berantakan oleh angin dunia fana. Tapi di matanya… ada cahaya yang tidak bisa dibeli oleh ribuan musim perang.Di tangannya, sebuah bunga liar tergenggam.Bunga yang mekar di tanah yang hancur.Dan ketika ia menuruni tangga altar, Azrael sudah berdiri menunggunya.Tak ada mahkota di kepala Kaisar Iblis itu hari ini. Tak ada jubah hitam panjang.Hanya seorang pria. Seorang suami.Yang merindukan istrinya.Caelion berlari lebih dulu dengan tertawa kecil, tangannya terjulur, mata bayinya yang bersinar menyala lebih terang dari biasanya.“Sayangku…” bisik Arcelia, menekuk lutut, memeluk sang bayi dengan kedua l
Last Updated: 2025-07-09
Chapter: Cinta Yang Tumbuh
Langit di atas istana Eden tampak pucat. Bukan karena fajar—melainkan karena medan energi yang mulai berubah. Ujung-ujung sihir kegelapan mulai goyah oleh gelombang kecil dari dalam: suara-suara hati yang kembali mengenal nurani.Isara berdiri di pelataran belakang istana. Rambutnya dikepang sederhana. Pakaian lusuh sengaja ia kenakan untuk menyatu dengan para pelayan. Tak ada yang tahu bahwa gadis ini pernah duduk di hadapan Ratu Dunia Bawah dan menerima misi cinta.Ia menggenggam kain lap di tangannya. Tapi bukan untuk mencuci, melainkan untuk menutupi luka di telapak tangannya—luka yang muncul setiap kali ia terlalu dalam menyalurkan energi penyembuhan.“Jangan bersinar terlalu terang,” bisik Isara kepada dirinya sendiri, “atau mereka akan mencium niatku.”Di lorong yang gelap dan sunyi, Isara bertemu dengan seorang penjaga tua yang menatapnya sekilas, lalu tersenyum samar.“Kau dari kelompok baru?” tanyanya pelan.Isara mengangguk. “Dari desa barat. Aku datang... karena tak punya
Last Updated: 2025-07-09
Chapter: Pulang dan Pulih
Istana itu tetap megah. Tak ada dinding yang retak. Tak ada pilar yang runtuh.Tapi jiwa Eden—untuk pertama kalinya dalam waktu yang tak bisa ia hitung—mengalami getaran yang tak ia kenali.Ia duduk di atas singgasananya. Tapi hari itu, sorot matanya tidak mengarah ke pelataran… melainkan ke perempuan-perempuan yang berdiri di sisi ruang tahta. Mereka tetap memakai topeng seperti biasa.Tapi bagi Eden… topeng-topeng itu kini terasa mengerikan.Bukan karena bentuknya.Tapi karena ia sadar, ia yang meminta mereka memakainya—agar ia tak perlu menatap mata mereka.Agar ia tak perlu melihat kemanusiaan yang ia buang.Salah satu dari mereka—seorang wanita berambut hitam panjang—tertatih memanggul kendi air. Tangan kirinya gemetar, ada bekas luka lama di pergelangan tangan yang belum sepenuhnya pulih.Eden menatapnya… lama.Dan untuk pertama kali sejak bertahun-tahun, ia tidak melihat “Persembahan.”Ia melihat seseorang.Seorang anak perempuan yang mungkin dulu memiliki nama.Yang mungkin du
Last Updated: 2025-07-09
You may also like
Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati
Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati
Romansa · Si Kecil Tangguh​
566.2K views
Dia yang Terluka
Dia yang Terluka
Romansa · Henny Djayadi
557.4K views
Mengejar Cinta Istri
Mengejar Cinta Istri
Romansa · Rahayu avilia
530.3K views
Aku Masih Perawan
Aku Masih Perawan
Romansa · Rara Radika
498.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status