LOGINTiga tahun aku jaga rahasia suamiku. Rahasianya? Dia tidak bisa memuaskan siapapun, mau itu di ranjang atau di kehidupan nyata. Awalnya aku mengira buah dari kesetiaan ini akan manis dan sepadan, tapi yang ada hanya kematian yang tidak sempat aku protes. Tapi aku kembali. Enam bulan sebelum malam itu. Dan kali ini aku punya rencana yang jauh lebih menyenangkan dari sekadar bertahan hidup. Bara Askara, rival bisnis suamiku, cinta pertamaku, dan laki-laki yang ternyata bisa melakukan semua hal yang tidak bisa dilakukan suamiku, setuju untuk membantuku menghancurkan mereka. Dengan caranya sendiri. Dan dengan cara kami berdua. Balas dendam tidak pernah semenyenangkan ini. Dan ranjang yang benar, ternyata bisa jadi senjata yang mematikan.
View MoreHari ini, dengan satu ucapan saja aku akan menghancurkan suamiku dan ibu mertuaku yang angkuh. Aku akan membuat mereka bersujud padaku dengan seluruh penyesalan dan keputusasaan yang tersisa di hidup mereka.
Semua bencana dalam pernikahanku berawal dari malam pertama kami.
Bukan hal besar jika dilihat dari kacamata orang awam. Bahkan mungkin aku sendiri tidak menyadarinya saat itu.
Aku menganggap hal tersebut bisa saja dialami setiap orang di malam pengantin mereka, entah karena gugup atau kelelahan. Tapi jujur, terlalu banyak membaca novel romantis yang sedikit vulgar membuatku mengharapkan sesuatu yang mungkin sedikit tidak realistis.
Tapi malam kedua, sama.
Seno, suamiku memulai dengan ciuman yang kering, sedikit tergesa-gesa, sedikit mencumbu kemudian saat aku mulai berusaha menikmati, dia berhenti.
“Selamat malam, Mia.”
Seno mengecup pucuk kepalaku, menarik selimutnya dan membalik badan meninggalkanku yang menatap langit-langit kamar dengan tubuh setengah telanjang.
Kami baru menikah saat itu, tapi pertanyaan besar sudah muncul di kepalaku bahkan di hari-hari pertama kami menikah.
Aku dan Seno bertemu dan jatuh cinta seperti kebanyakan orang, tapi yang berbeda mungkin kadar cintaku padanya yang terlalu besar.
Kelembutannya, suaranya yang tidak pernah meninggi ketika kami bahkan sedang dalam pertengkaran, bahu yang selalu siap menjadi sandaranku ketika menangis, itulah Seno saat kami masih menjadi sepasang kekasih.
Namun benar kata pepatah, rahasia dan sifat seseorang akan terlihat aslinya hanya ketika sudah menikah.
Satu minggu pernikahan kami akhirnya aku menyadari ada yang berbeda dari Seno. Sesuatu di tubuhnya yang seharusnya beraksi ketika mendapat sentuhan, tidak merespon. Layu seperti bunga yang tidak mendapat sinar matahari.
“Aku nggak mungkin ngaku kalau punya kekurangan ini pas kita masih pacaran Mia, malu,” ucapnya jujur di satu malam di atas ranjang kami.
“Mas, aku terima kamu apa adanya, mau gimanapun keadaan kamu, kita cari solusi dan obatnya. Aku yakin kamu bakal sembuh,” sahutku sambil menatapnya dengan lembut.
Malam itu Seno tersenyum lega, memelukku erat.
“Tapi jangan sampai ada yang tahu ya, terutama ibuku,” bisik Seno.
“Bukannya kalau ibu tahu beliau bisa bantu cari solusi, Mas?” Aku melepas pelukan itu, lalu kembali menatapnya dengan bingung.
Jika orang tua kami tahu, mereka pasti akan membantu memberi dukukan pada kami, kan?
Setidaknya itu juga akan mengurangi beban mental kami karena tidak akan sering ada pertanyaan soal momongan, seperti pasangan-pasangan baru biasanya.
“Mia, ibuku bukan orang yang seperti itu. Baginya martabat adalah segalanya. Gimana kalau nanti orang lain atau keluarga nggak sengaja tahu? Itu bakal bikin ibu terpukul banget.” Seno menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Aku ikut menghela napas. Memang benar, ibu mertuaku memang agak keras dan sedikit kolot, sedangkan Seno sangat bergantung dan manja pada ibunya bahkan setelah menikah.
“Iya, Mas. Aku janji akan jaga rahasia ini, selamanya kalau perlu,” kataku akhirnya.
Pada kenyataannya, kata lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.
Menjelang satu tahun pernikahan, sindiran-sindiran mulai berdatangan dari keluarga Seno.
Kapan ngisi?
Udah setahun loh ini, kok belum hamil?
Kasian loh Seno, pasti pengen banget punya anak.
Aku menelan semuanya, demi Seno yang kucintai.
Sedangkan Seno tidak melakukan apapun untuk setidaknya membelaku di depan keluarganya.
Tidak apa-apa, hanya perlu waktu, hanya perlu obat yang manjur, hanya perlu dokter yang hebat.
Selama Seno masih mencintaiku, aku akan baik-baik saja.
Hingga tahun kedua pernikahan aku masih teguh memegang janji, menjaga rahasia dan melindungi ego dan harga dirinya.
Siapa bilang keretakan rumah tangga hanya bisa datang dari ekonomi dan perselingkuhan?
Ketidakhadiran di ranjang yang terus menerus, hubungan intim suami istri yang seharusnya menjadi aktivitas rutin bisa menjadi bom waktu jika tidak dilakukan bertahun-tahun.
Dan lebih dari itu, tidak adanya dukungan dari pasangan ketika banyak orang memojokkan pun menjadi beban berat yang sekali lagi harus kupikul sendirian.
“Kok bisa sih Seno nikah sama perempuan bermasalah ini?” Ibu mertuaku murka. Pagi itu sama seperti pagi lainnya, penuh cacian dan hinaan. “Yatim piatu, nggak becus ngurus suami, nggak bisa ngasih keturunan.”
Seno tidak memberikan respon ketika ibunya berkata jahat, hanya santai menghabiskan sisa sarapannya sambil menatap layar ponsel.
“Seno itu pemimpin perusahaan besar. Handoko Grup perlu penerus, tapi sial dia malah terjebak dengan orang cacat rahim.”
Aku hanya tertunduk di hadapan piring yang kosong. Pembantu tidak lagi menyediakan porsi makan untukku, atau sudah lupa dan menganggap aku setara dengan mereka.
Baju lusuh karena tidak pernah diberikan uang untuk belanja, rambut tidak terawat, juga wajah yang kusam tidak pernah tersentuh treatment apapun.
Berbanding terbalik dengan ibu Seno yang wajahnya semulus porselen.
“Bu, kami masih berusaha. Mohon doanya untuk aku dan Mas Seno,” jawabku membela diri.
“Orang lain juga berusaha, tapi sudah terlihat hasilnya. Aku sudah tahu, menikahimu adalah kesalahan besar anakku!”
“Tapi, Bu….”
“Tidak usah tapi-tapi! Kau memang tidak berhasil membawa kebahagian dalam keluarga ini. Benar-benar lambang kegagalan Seno!”
Aku memutuskan untuk diam. Seperti wanita bodoh yang tidak punya harga diri, lagi-lagi aku menelan pil pahit hinaan itu tanpa bisa berbagi dengan Seno hanya karena aku takut.
Takut dibuang, takut tidak bisa hidup di luar sana sendirian, takut kehilangan Seno karena hanya dia satu-satunya orang yang ku punya di dunia.
Diam dan menerima adalah satu-satunya caraku mencintai Seno juga menjaga harga dirinya
Bodohnya aku yang tidak tahu bahwa diam itu bukan bentuk melindungi.
Hingga akhirnya di tahun ketiga pernikahan, aku mulai menyerah.
“Ibu marah lagi gara-gara kamu mulai berani bersuara di depan dia,” keluh pria itu.
Seno menatapku yang tengah meminum kopi buatanku sendiri. Hanya ada kami di meja makan.
“Bagus, setidaknya ibu batal makan pagi ini karena nggak mau liat mukaku,” jawabku seadanya.
“Mia, kamu nggak usah begitu sama orang tua, mending kamu minta maaf sama ibu dan mengaku salah.” Nada bicara Seno sedikit meninggi dan menatapku tajam.
“Terus kamu sendiri kapan ngaku?” balasku dengan suara setenang mungkin.
“Apa?” Dia nampak menerka arah pembicaraan.
“Kapan kamu ngaku ke ibu kalau kamu impoten?”
“Mia!” bentak Seno tanpa menahan amarahnya lagi. Kini kuyakin ibunya bisa mendengar perkelahian kami.
“Kamu nggak seharusnya bahas itu di sini! Kalau ada yang dengar gimana?” kudengar kepanikan di suaranya.
Aku tersenyum miring, begitulah Seno dan harga dirinya yang setinggi langit. Tidak pernah berubah selama tiga tahun ini.
“Mas, kamu nggak bisa menyembunyikan itu selamanya, dan aku nggak mau lagi menerima hinaan dari keluarga kamu karena sejak awal ini semua bukan salahku.”
Seno terlihat mengepalkan tangannya di atas meja dan aku berusaha tidak gentar melihat tatapannya yang menakutkan.
“Kalau kamu cinta sama aku dan masih mau hubungan ini lanjut, kamu harus ngaku, Mas,” tawarku yang sebenarnya nggak perlu. Jujur itu kewajibannya.
Hening sejenak, Seno menghela nafas sambil menatapku dingin.
“Mia, aku udah nggak cinta sama kamu, aku biarkan kamu masih tinggal di sini cuma karena kasian dengan keadaanmu yang sebatang kara dan nggak punya apa-apa.”
Kalimat itu keluar dengan mudah sekali dari mulutnya.
“Kamu bilang apa?”
“Kamu mendengarku jelas kok.”
Sesuatu patah dalam hatiku. Bukan dengan suara keras, namun menusuk dengan sangat menyakitkan.
Aku bertahan selama ini karena mencintai Seno, tapi dia tidak mencintaiku.
Panas langsung menjalar di belakang mata namun ku tahan. Ku perintahkan pada diriku untuk tidak menangis setelah melewati ribuan tangis memilukan di dalam rumah ini.
Mata kami bertemu, ekspresi Seno tidak berubah. Dan dari sejauh aku mengenalnya, tatapan itu selalu bermakna dia sedang berkata jujur.
Akhirnya aku mengangguk pelan, meyakinkan diri sendiri.
“Kalau begitu faktanya, maka semua yang kita pertahankan selama ini disudahi saja, Mas.” Aku berkata dengan satu tarikan napas.
“Aku mau cerai.”
Taksi yang kutumpangi sudah dua kali melewati perempatan yang sama sebelum aku sadar belum memberikan tujuan yang jelas pada sopir.“Mbak, jadinya mau kemana ya ini?” tanyanya sambil melirik dari kaca spion.“Sebentar, Pak.”Aku menunduk membuka ponsel, jari-jariku masih agak dingin meski AC taksi tidak terlalu kencang. Pulang ke apartemen jelas pilihan paling masuk akal, tapi membayangkan duduk lagi di ruangan sunyi itu membuatku sesak. Apalagi sekarang memikirkan kemana hilangnya Friska membuat kepalaku penuh.Di saat seperti ini aku butuh seseorang untuk bicara, dan aku juga ingin melihat wajah tampan Bara untuk membuatku merasa lebih tenang.Aku mengetik pesan ke Paul, sengaja tidak menghubungi Bara secara langsung karena takut dia sedang merajuk karena aku tidak menurut padanya dan berkeliaran di luar apartemen.‘Paul, kamu tahu Bara di mana?’Balasannya masuk kurang dari semenit. ‘Tuan Bara sedang berada di lapangan tembak, Nyonya.’Aku bergumam pelan. ‘Bisa kirim alamatnya? Keb
Klinik Friska berada di jalan kecil di daerah yang tenang tapi tetap strategis, hanya berjarak lima belas menit dari pusat kota kalau lalu lintas sedang bersahabat. Aku turun dari taksi dan berjalan sedikit menunduk. Matahari yang terik langsung menyambutku dengan keringat mulai keluar dari dahi.Bangunannya masih sama seperti terakhir kali aku datang ke sini, ada papan nama bertuliskan Klinik dr. Friska beserta hari dan jam operasionalnya. Tapi tidak seperti biasanya, pintu klinik hari ini tertutup rapat.Aku berhenti di depan pintu dan mendorongnya pelan. Terkunci.“Apa lagi jam istirahat? Tapi tirai kacanya ditutup dan lampu di dalam kayaknya mati,” gumamku, lalu melihat jam diponsel. Pukul dua belas kurang sedikit.Tidak ingin usahaku datang ke sini jadi sia-sia, aku memutuskan menuggu di bawah kanopi sambil pura-pura bermain ponsel. Lima menit, sepuluh menit, bahkan hampir satu jam tidak ada tanda-tanda orang yang akan keluar atau masuk.Pukul satu lewat tiga puluh, aku mulai gel
“Beberapa rencana? Berarti ada lebih dari satu?” Bara mengangguk sebagai jawaban. Aku yang melihat itu merasa seperti diterpa angin segar.“Ayo cepat kasih tahu aku rencananya, siapa tahu aku bisa bantu,” kataku bersemangat.Tapi Bara malah menghela napas tipis. “Aku belum bisa ngasih tahu semuanya sekarang.”“Lho, kenapa gitu?” keluhku dengan nada kecewa.“Karena…” Bara mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di sofa, menyalakan layar dan menghadapkan benda itu padaku. “Sudah lewat tengah malam, kamu harus istirahat.”Aku mengaduh pelan.“Ayolah… Sebentar lagi aja, aku nggak bisa tidur dalam kondisi penasaran,” bujukku, berharap bisa mengulur waktu lebih lama.Tapi Bara menggeleng cepat. “Kamu udah lupa kata dokter? Dokter bilang jangan begadang.”“Aku nggak ngantuk,” kataku berkelit.“Kamu udah nguap tiga kali dari tadi,” sahut Bara tidak mau kalah, membuatku mengerang kesal.“Mia, kita masih punya waktu. Santai aja, oke? Aku janji bakal ngasih tahu kamu semua rencanaku asal kamu ma
“Kamu kelihatannya menikmati banget ya dipuji sama cewek-cewek rahim anget.” Aku mendelik dengan nada jutek, lalu menarik ponselku menjauh dari Bara.“Kenapa? Kamu cemburu ya?” goda Bara.Aku melotot, memasang wajah pura-pura garang. “Nggak! Ngapain juga aku cemburu sama orang-orang random di internet.”“Iya deh, iya. Aku percaya kok.” Bara mengangguk-angguk dengan senyum tipis yang jelas-jelas tidak percaya. Pria ini memang selalu punya banyak cara untuk menggoda dan bertingkah jahil padaku.Aku menarik selimut sampai menutupi separuh wajah. “Kamu nyebelin.”Bara hanya tertawa kecil mendengar itu.Setelahnya kami diam sebentar. Aku menutup aplikasi dan meletakkan ponsel di dadaku, menatap langit-langit apartemen yang berwarna putih dengan sedikit baluran hitam. Ibu jari Bara menyentuh pergelangan kakiku, lalu menekan pelan di titik yang membuat bulu kudukku naik.Aku berusaha mencari topik lain agar tidak terlaru larut pada sentuhannya yang memabukkan. “Bara, kamu pernah buka dan bac












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews