LOGINTiga tahun aku jaga rahasia suamiku. Rahasianya? Dia tidak bisa memuaskan siapapun, mau itu di ranjang atau di kehidupan nyata. Awalnya aku mengira buah dari kesetiaan ini akan manis dan sepadan, tapi yang ada hanya kematian yang tidak sempat aku protes. Tapi aku kembali. Enam bulan sebelum malam itu. Dan kali ini aku punya rencana yang jauh lebih menyenangkan dari sekadar bertahan hidup. Bara Askara, rival bisnis suamiku, cinta pertamaku, dan laki-laki yang ternyata bisa melakukan semua hal yang tidak bisa dilakukan suamiku, setuju untuk membantuku menghancurkan mereka. Dengan caranya sendiri. Dan dengan cara kami berdua. Balas dendam tidak pernah semenyenangkan ini. Dan ranjang yang benar, ternyata bisa jadi senjata yang mematikan.
View More“Aku nggak akan berubah, aku bisa janjiin itu kalau kamu mau,” ucapku berusaha meyakinkannya, memecah keheningan yang menggantung di antara kami.Jujur aku sendiri tidak tahu bagaimana meyakinkan Bara yang ternyata selama ini menyimpan trauma, kata-kata saja tentu tidak cukup untuk meyakinkannya.Tapi semuanya terasa buntu, hanya waktu yang bisa membuktikan kalau janjiku padanya benar.“Hatiku nggak pernah pergi atau berpindah dari kamu, Bara. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah,” lanjutku bersungguh-sungguh.“Tapi pada kenyataannya, selama beberapa bulan ini kamu berubah, Mia,” balasnya, napasnya tercekat seperti menelan pil pahit.Kalimat itu menghantamku telak bagai sebuah tamparan, tidak ku sangka semua usahaku selama ini yang ku anggap sebagai pengorbanan cinta, malah berakhir jadi bumerang untuk diriku sendiri.Aku menjauh untuk melindunginya, tapi dengan ironis keputusan itu malah menjadi bukti bahwa perasaanku memang bisa berubah kapan pun. Tanpa sadar aku sudah men
Aku menyodorkan gagang pisau ke tangan Bara, memaksanya menggenggam benda dingin itu meski dia menggeleng berontak.“Kamu tahu? Saat aku dengar kecelakaanmu hari itu, jantungku rasanya berhenti, entah berapa lama,” kataku dingin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.“Mia, taruh benda ini!” seru Bara panik, tangannya yang ku paksa menggenggam pisau itu gemetar hebat. Jika kondisinya sedang sehat mungkin dia akan bisa melepaskan diri dengan mudah.Tapi kali ini dia tidak berdaya di bawah tanganku, yang menahan jari-jarinya dengan seluruh tenaga.Kemudian, aku mengarahkan ujung pisau yang masih dalam genggaman tangan kami itu menuju leherku sendiri.“Mia!” Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang meninggi, tapi aku tidak peduli dan terus mendorong pisau itu semakin mendekat.“Berhenti, Mia. Please! Jangan begini.” Suaranya lirih memohon sambil mencoba menarik tangan menjauh.Tapi aku lebih dulu mengumpulkan seluruh kekuatan, lalu dengan satu tarikan kuat memaksa tangannya bergera
Aku memutuskan pergi ke mansion sendirian esok harinya setelah menerima telepon dari Pak Gani, dan sialnya sepanjang perjalanan dadaku dipenuhi rasa campur aduk yang membuat mual.Rindu, cemas, juga tekad bercampur tidak karuan, membuat langkahku terasa berat tapi buru-buru secara bersamaan.Waktu terasa merangkak meski aslinya hanya dua puluh menit, hingga akhirnya aku tiba di depan gerbang besar mansion, lalu membayar uang pada ojek online yang mengantarku.Aku mendongak mempersiapkan diri, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.“Nona Mia?” Salah satu pelayan yang mengenaliku langsung tersenyum lebar, menyambut kedatanganku sambil menundukkan sedikit kepalanya.“Astaga! Nona kemana aja selama ini? Tuan Muda pasti senang banget lihat kedatangan Nona Mia hari ini.” Satu lagi pelayan mendatangiku, membuatku hanya bisa tersenyum tipis, tidak sanggup bicara banyak karena merasa canggung.Pandanganku mengedar, tidak menemukan sosok Bibi Sona yang menghardikku dua bulan yang lalu.
“Eh! Aku dengar Kak Seno nembak kamu, ya?” Helen menyenggol lenganku, membuyarkan fokusku yang sedang menonton permainan basket di tribun penonton.“Hm? Tahu dari mana?” tanyaku sambil menyedot es cekek di tangan.“Oh! Jadi itu beneran?" pekiknya sambil menutup mulut. "Wah, Mia! Ini gila, sih. Kak Seno itu kan incaran banyak cewek di fakultas kita!” Helen bertepuk tangan heboh, buru-buru aku langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.“Ssstt! Pelan-pelan dong! Banyak orang di sini,” bisikku lalu mengedarkan pandangan, beberapa orang di sekitar kami sudah menoleh.Helen menepis tanganku, memanyunkan bibir. “Ngapain malu gitu, sih? Kalau aku jadi kamu, dengan bangganya aku bakal bilang ke semua orang kalau Kak Seno yang ganteng itu minta aku jadi pacar dia.”“Itu kan kamu. Aku nggak suka jadi pusat perhatian kayak gitu.” Aku mendengus, mengelap tanganku yang basah kena keringat di wajah Helen.Dia menyeringai, lalu menyenggolku lagi dengan bahunya. “Terus, kamu jawab apa?”“Belum j






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews