"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubuhnya seolah putus seketika, meninggalkan rasa malu yang menghantam ubun-ubun hingga ke ujung kaki.Ia menarik tangannya dengan gerakan patah-patah, seperti seseorang yang baru saja menyentuh bara api."M-maaf, Mas... saya benar-benar tidak tahu," bisik Bening, suaranya tercekat.Banyu menghela napas panjang, lalu meletakkan lilin itu di atas meja. Cahaya temaram menari-nari di dinding, menyorot Banyu yang hanya mengenakan singlet putih yang sudah lepek oleh keringat.“Gapapa, Mbak," sahut Banyu datar. "Karena hujan saya gerah.”Bening meremas jemarinya yang masih terasa panas bekas menyentuh kulit pria itu. "Mas. Maaf, saya baru sempat kasih tahu kalau listrik di paviliun ini memang tidak k
Zuletzt aktualisiert : 2026-06-08 Mehr lesen