INICIAR SESIÓNTheresia menaiki taksi kembali ke restoran sebelumnya untuk mengambil mobilnya. Saat duduk di taksi, dia baru kepikiran bahwa dia memiliki janji dengan klien di siang hari tadi. Dia segera menghubungi klien untuk meminta maaf.Klien itu sudah klien lama. Sikapnya juga sangat ramah. “Nona Theresia tidak usah minta maaf. Kami semua juga tahu sudah terjadi kecelakaan di luar restoran. Tadi aku sempat telepon kamu, tapi kamu juga tidak diangkat. Kami sangat khawatir sama kamu. Apa kamu baik-baik saja?”“Nggak apa-apa. Terima kasih atas pengertianmu.”Setelah berbasa-basi beberapa saat, panggilan baru diakhiri.Theresia memeriksa ponselnya lagi. Ternyata ada begitu banyak panggilan tidak diangkat, termasuk panggilan dari Morgan.…Setelah mengambil mobilnya sendiri, Theresia pun duluan kembali ke perusahaan. Setelah tiba, juga sudah tiba pada jam pulang kerja.Saat duduk di dalam ruang kerja, Theresia memikirkan kembali semua yang terjadi di siang hari tadi. Dia merasa semuanya memang terla
Hallie datang kemari bersama dengan Jovita.Ketika Jovita melihat kondisi Roger, dia langsung menyalahkan Theresia dengan murka, “Dasar pembawa sial! Bisa tidak kamu jauhi putraku? Bukannya kalian sudah putus? Kenapa kamu masih mengganggu putraku? Kamu malah menggoda pria dengan mengandalkan wajahmu. Apa kamu tidak tahu malu?”Di dalam rumah sakit, Theresia tidak ingin berdebat dengan wanita yang “tidak waras", dia pun membalikkan tubuhnya untuk berjalan keluar.Jovita masih mengejar. Dia meraih erat tangan Theresia, lalu memperingati dengan ekspresi galak, “Asal kamu tahu, kekasihnya Roger itu Hallie. Kalau kamu berani mengganggunya lagi, aku pasti akan beri pelajaran sama kamu!”“Aku mau semua orang tahu betapa murahannya kamu, malah menggoda kekasih orang lain. Aku pasti akan biarkan kamu tidak bisa tinggal lama di Kota Jembara!”Hallie berdiri di belakang Jovita. Dia berlagak melihat ponselnya tanpa berbicara sama sekali, malahan polisi yang berdiri di samping tidak bisa menahan di
Hallie yang ditatap oleh Morgan pun merinding ketakutan. Dia berpikir kembali, sepertinya tidak ada yang salah dengan omongannya. Hanya saja, entah kenapa, Morgan seolah-olah tetap merasa Morgan bisa membaca pikirannya saja.Morgan telah tiba di luar ruang pemeriksaan. Pada saat ini, Theresia sedang menunggu di luar pintu. Wajahnya kelihatan tidak begitu tenang.Setelah Morgan berjalan mendekat, Theresia baru menyadari keberadaan Morgan. Dia memutar bola matanya dan menunjukkan ekspresi kaget.Morgan mengamati Theresia dari atas hingga bawah. Theresia baik-baik saja, hanya terdapat sedikit luka ringan di bagian lengannya.Theresia bertanya, “Kenapa kamu bisa kemari?”Tidak terlihat ekspresi apa pun di atas wajah Morgan. Tatapannya ketika melihat Theresia menjadi berat. “Apa janjimu kepadaku waktu itu?”Theresia tertegun sejenak. Responsnya sangatlah cepat. Ketika di dalam apartemen malam itu, Morgan memberi tahu Theresia untuk tidak berhubungan dengan Roger lagi. Theresia menggeleng de
Hallie masih terbengong melongo di tempat. Perubahan mendadak itu sungguh mengagetkannya. Ketika orang-orang di sekitar mulai membahas, dia baru tiba-tiba tersadar dari bengongnya, lalu segera menghentikan taksi untuk mengikuti mobil Theresia dan yang lain.Setibanya di rumah sakit, Hallie menuruni mobil, tetapi tidak segera ke dalam, melainkan duluan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon.Panggilan telah berdering selama lima atau enam kali. Ketika dia mengira pria itu tidak akan mengangkatnya lagi, panggilan tiba-tiba terhubung. Suara rendah dan dingin seketika terdengar kemari. “Siapa ini?”Hallie tertegun sejenak, baru berkata dengan panik, “Kak Morgan, sudah terjadi sesuatu. Kamu cepat ke rumah sakit.”Morgan bertanya, “Apa yang terjadi?”Hallie segera berkata, “Theresia dan Tuan Roger ditabrak mobil. Mereka semua masuk ke rumah sakit. Kamu segera kemari!”Hallie bisa merasakan napas orang di ujung ponsel menjadi berat. Suaranya tidak setenang tadi lagi. “Di rumah sakit mana?”Ha
Klien menyapa Roger dengan sopan, lalu berjalan memasuki restoran.Roger berkata dengan kening berkerut, “Tiba-tiba ibuku telepon aku, katanya mau bahas masalah aku sama kamu. Aku kira dia juga panggil kamu kemari.”Theresia mengangkat alisnya dengan kaget. “Bukannya kamu sudah jelaskan masalah kita dengan Bu Jovita?”Roger juga merasa heran. “Iya, aku sudah beri tahu dia masalah kita sudah putus. Apa lagi yang ingin dia lakukan?”Theresia kepikiran kemungkinan Hallie sedang menghasut Jovita. Dia pun mengingatkan Roger. “Hallie, Bu Jovita … dan Agnes sangat dekat. Kamu … mesti lebih hati-hati.”Roger tersenyum getir. Dia memang sudah masuk jebakan ibu kandungnya dan Agnes. Hanya saja, tidaklah mungkin untuk menikahkannya dengan Hallie. Di dalam restoran.Melalui jendela, Hallie melihat mereka berdua sedang mengobrol di luar sana. Dia tidak tahu kenapa Theresia bisa kemari. Tiba-tiba dia mulai merasa cemas. Dia takut Theresia akan membongkar identitasnya di hadapan Roger. Saking gugupn
Hari ini, Theresia datang dengan persiapan. Roger pasti sudah membocorkan kabar kepada Theresia!Roger bukan hanya memecat Agnes dari perusahaan saja, dia bahkan bersekongkol dengan orang luar untuk menindas keluarga sendiri. Dalam sesaat, rasa benci Agnes terhadap Roger jauh lebih besar daripada terhadap Theresia!Agnes mesti balas dendam. Dia pasti akan balas dendam!…Saat bekerja, Hallie pun merasa tidak begitu fokus. Hari ulang tahun Jovita sudah berlalu belasan hari. Jovita memang masih bersikap sangat ramah terhadapnya, bahkan lebih ramah daripada sebelumnya, tetapi Roger tidak pernah mencarinya sama sekali.Ketika kepikiran dengan telepon tadi pagi, Hallie pun merasa semakin tidak tenang lagi. Dia berpikir sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jovita.Terdengar suara antusias Jovita dari ujung telepon. “Hallie, apa kamu sudah pergi kerja?”Hallie membalas dengan tersenyum, “Sudah.”Jovita bersikap semakin lembut dan hati-hati. “Ada urusan apa mencariku?”Halli
Sonia refleks menutup hidung dengan lengan pakaiannya, lalu mencengkeram wanita yang hendak melarikan diri. Dia segera menariknya ke dalam dapur. “Bamm.” Terdengar suara banting pintu dengan kuat.Si wanita terkejut hingga sekujur tubuhnya merinding. Wajahnya juga berubah pucat. Dia melambaikan tanga
Menyadari tidak ada suara, Sonia pun bertanya, “Di mana Frida? Apa dia datang bersamamu?”Johan menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara rendah, “Dia sudah datang. Dia pergi mencari dokter. Sebentar lagi dia juga akan ke sini.”“Dia nggak usah selalu cari dokter. Aku ada di sini, dia bisa
Sonia mengerutkan keningnya, lalu berjalan menghampirinya. “Ngapain angkat batu?”Si ketua tim terkekeh. “Nona Sonia.”Ukuran batu itu bervariasi. Batu berukuran kecil sebesar bangku kecil, sedangkan ukuran yang besar sekitar 50 kilogram.Darren tampak terengah-engah lantaran kecapekan. Dia berusaha un
Bondan mengakhiri panggilan, lalu segera menghubungi Reza. “Kak Reza, apa kamu lagi di perusahaan?”Reza baru saja selesai rapat. Dia sedang duduk di ruangannya sembari mengecek dokumen. “Ada urusan apa?”“Sebelumnya kamu terluka karena aku. Aku sungguh merasa bersalah. Malam ini kita makan bersama, y







