LOGINViona sedang terjepit utang keluarga ketika Kevin, bosnya yang dingin dan arogan, memaksanya berpura-pura menjadi kekasihnya demi menghindari perjodohan. Menolak berarti mempertaruhkan pekerjaan yang sangat dia butuhkan. Di tengah ancaman skandal kantor dan sikap Kevin yang kian sulit ditebak, Viona harus menjaga rahasianya sekaligus mencari jalan keluar dari kesepakatan itu. Sampai kapan dia bisa menuruti kemauan sang bos?
View More"Ah! Tubuhmu enak sekali, Sayang."
Kevin menghantam tubuh Viona dalam keadaan mabuk berat.
Kesadaran pria itu sudah menguap entah ke mana, menyisakan insting liar yang menuntut pelepasan.
Di bawah kungkungannya, Viona Estella sama sekali tidak berdaya. Alkohol yang mengalir deras di darahnya membuat akal sehatnya lumpuh total.
Keduanya bergelut di atas ranjang berantakan, saling membelit dalam gairah yang panas dan tidak terkendali.
Kevin mendominasi dengan gerakan yang begitu kasar dan liar.
Di bawah kungkungan tubuh kekar bosnya, Viona hanya bisa mendesah pasrah, meremas sprei dengan erat saat gelombang kenikmatan semu menguasai kepalanya.
Bagi Viona yang berusia 28 tahun, malam ini seharusnya menjadi malam pelarian. Hidupnya sedang hancur.
Kakak laki-lakinya baru saja kabur ke luar negeri, meninggalkan tumpukan utang miliaran rupiah yang kini sepenuhnya dibebankan kepada Viona.
Sepanjang hari, ponselnya tidak berhenti berdering oleh teror rentenir kejam yang mengancam akan menghabisinya jika utang itu tidak lunas dalam sebulan.
Frustrasi dan ketakutan, Viona menenggak alkohol tanpa kendali di pesta ulang tahun kantor malam itu.
Sementara Kevin, sang bos besar, juga sedang kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Pria itu dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menikahi seorang wanita pilihan keluarga yang sama sekali tidak dia cintai.
Merasa masa depannya diatur seperti bidak catur, Kevin melarikan amarahnya pada botol-botol minuman keras di ruangan VIP kelab tempat pesta kantor itu digelar.
Dua jiwa yang frustrasi bertemu dalam kegelapan, berakhir dengan saling menghancurkan pertahanan masing-masing di atas ranjang hotel di atas aula pesta.
Pagi harinya, Viona mencoba membuka matanya dengan pelan.
Rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya bagai dipukul palu godam. Dia kemudian mengerang dan mencoba menggerakkan tubuhnya.
Namun, saat dia mencoba bergeser, rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari pangkal pahanya. Perih, ngilu, dan terasa sangat tidak nyaman.
Viona membuka matanya dengan paksa. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar hotel mewah yang asing.
Detik berikutnya, dia menyadari lengannya bersentuhan dengan kulit telanjang seseorang. Viona menoleh lambat, dan seketika itu juga jantungnya serasa berhenti berdetak.
Kevin tidur telungkup di sampingnya, bertelanjang dada, dengan punggung kokoh yang dipenuhi bekas cakaran merah yang masih baru.
"Aaaaaakh!"
Viona menjerit hebat, suaranya melengking tinggi membelah keheningan kamar.
Dia langsung menarik selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun, meringkuk di sudut ranjang dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar hebat.
Kepalanya berputar cepat, mencoba mengingat apa yang terjadi, namun rasa sakit di area sensitifnya mengonfirmasi satu kenyataan pahit: dia sudah tidak suci lagi, dan pelakunya adalah bosnya sendiri.
Jeritan melengking itu membuat Kevin tersentak bangun.
Dengan mata yang masih sangat berat dan kepala yang berdenyut pusing, Kevin mengucek matanya dengan kasar.
Dia bangkit duduk, memijat pelipisnya sejenak sebelum menyadari ada sosok wanita yang sedang menangis ketakutan di sudut ranjangnya.
Mata Kevin membelalak sempurna saat mengenali wajah itu.
"Viona? Ngapain kamu di ranjangku?!" tanya Kevin dengan suara serak khas bangun tidur, terdengar sangat terkejut sekaligus kesal.
"Harusnya saya yang tanya! Kenapa Tuan bisa ada di sini dan melakukan... melakukan ini padaku?!" pekik Viona histeris.
Kevin menatap sprei yang berantakan, lalu melihat bercak merah samar di sana. Keningnya berkerut dalam.
"Melakukan apa? Aku tidak ingat apa-apa!"
"Tuan jangan pura-pura bodoh! Pangkal pahaku sakit sekali dan perih akibat ulah kasar Tuan semalam! Tuan memperkosa saya!" tuduh Viona dengan emosi yang meluap-luap.
Dia merasa dilecehkan, terhina, dan sangat kotor.
"Hati-hati kalau bicara, Viona! Memperkosa?" Kevin mendengus sinis, meski di dalam hati dia juga mulai panik karena memori semalam benar-benar kosong di kepalanya.
"Aku ini bosmu. Untuk apa aku memperkosamu? Aku mabuk semalam! Bisa saja kamu yang menggoda dan menjebakku agar aku mau bertanggung jawab atas kejadian semalam, kan?"
Mata Viona melebar mendengar tuduhan kejam itu.
"Apa Tuan bilang? Menjebak? Saya masih punya harga diri, Tuan Kevin! Saya tidak semurah itu untuk menjual tubuh saya apalagi pada Tuan! Tuan yang menyeret saya ke sini dan memperlakukan saya seperti binatang semalam, kan?!"
"Aku tidak tahu kejadian semalam! Aku tidak ingat!" bentak Kevin frustrasi.
Kemudian mengacak rambutnya yang berantakan. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar.
Bagaimana jika ada orang kantor yang melihat mereka masuk ke kamar ini? Bagaimana jika orang tuanya tahu?
Ini bisa menjadi skandal terbesar yang akan menghancurkan posisinya sebagai CEO, sekaligus memberikan alasan kuat bagi ibunya untuk mempercepat perjodohan sialan itu.
"Tuan harus bertanggung jawab! Ini pelecehan!" tangis Viona pecah.
Dia merasa sangat tidak berdaya.
"Diam!" bentak Kevin dengan nada dingin dan menusuk, yang langsung berhasil membungkam tangisan Viona.
Kevin turun dari ranjang tanpa memedulikan tubuhnya yang hanya mengenakan celana dalam, lalu berjalan cepat membelakangi Viona untuk mengambil celananya yang berserakan di lantai.
Sambil memakai pakaiannya dengan terburu-buru, dia menoleh ke arah Viona dengan tatapan yang sangat tajam dan mengancam.
"Dengar baik-baik, Viona Estella," ucap Kevin dengan nada suara yang rendah namun sangat menekan.
"Jaga rahasia ini, jangan sampai ada yang tahu tentang malam ini. Terutama orang kantor, atau orang tuaku!"
Viona menatap bosnya dengan bibir bergetar. "Tapi, Tuan—"
Kevin melangkah mendekat ke tepi ranjang, mencengkeram dagu Viona dengan cukup kuat, memaksanya menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang dingin.
"Tidak ada tapi-tapi. Jika sampai ada satu kata pun yang bocor dari mulutmu tentang kejadian semalam, kamu akan langsung aku pecat hari ini juga tanpa pesangon sepeser pun. Paham?"
"Pak Kevin, Tuan Jordy baru saja mengesahkan dokumen resmi pemanggilan RUPSLB untuk mencopot posisi Anda minggu depan," lapor Mike menyampaikan berkas digital di layar tabletnya."Apakah tua bangka itu berpikir aku akan berlutut menangis di kakinya demi mempertahankan kursi CEO itu, Mike?" sahut Kevin dengan senyuman sinis dan suara tenang yang berdarah dingin."Pihak mereka yakin Anda akan kehilangan seluruh taring dan akses finansial begitu RUPSLB disahkan," lanjut Mike menjelaskan strategi kubu musuh.Kabar mengenai manuver Jordy yang berniat memecatnya dari posisi CEO sampai ke telinga Kevin di rumah sakit melalui laporan mendetail dari Mike.Namun, bukannya gentar, panik, atau memohon belas kasihan, Kevin justru menyunggingkan senyuman sinis yang dipenuhi ketenangan berdarah dingin.Kevin menyadari bahwa hari pembangkangan total ini memang harus tiba; pria itu sudah sangat lama memprediksi tabiat licik sang ayah.CEO muda itu tidak berniat untuk terus bergantung pada nama besar W
"Tuan Jordy, surat perintah pemeriksaan dari kepolisian pusat baru saja dikirimkan ke kantor pusat!" lapor asisten pribadi Jordy dengan suara bergetar dari balik telepon."Gunakan seluruh pengacara terbaik kita untuk memblokir surat itu! Jangan biarkan media mencium hal ini!" bentak Jordy Wiratama dengan urat leher yang bertonjolan."Tidak bisa lagi, Tuan... bukti rekaman suara Nyonya Diana dan aliran dana dari Nyonya Clara sudah beredar luas di kepolisian!" sahut asistennya pasrah.Badai hukum dan skandal besar akhirnya secara resmi menghantam benteng pertahanan keluarga Wiratama tanpa bisa dibendung lagi.Berdasarkan pengakuan mendalam dan bukti-bukti transaksi keuangan yang dibongkar oleh Clara dari balik jeruji besi, penyidik bergerak sangat cepat.Ditambah dengan bukti rekaman audio berisi ancaman keji Diana di apartemen yang diserahkan secara langsung oleh pihak Kevin, jajaran kepolisian tidak memiliki alasan menunda tindakan.Surat pemanggilan resmi diterbitkan, menyeret nama J
"Tidak! Jangan sentuh aku! Lepaskan!" jerit Viona mendadak terbangun dengan napas memburu parah dan peluh dingin yang membasahi keningnya."Pergi! Jangan bawa aku kembali ke tempat kotor itu!" rintihnya lagi seraya merancacau lirih di tengah kegelapan kamar perawatan."Tenang, Sayang... ini aku, Kevin... kamu sudah aman di sini..." bisik Kevin seketika bangkit mengabaikan rasa nyeri di dadanya sendiri.Suasana malam di ruang perawatan VIP terasa sangat tenang, hanya diiringi oleh bunyi teratur dari alat pemantau detak jantung dan embusan pendingin udara.Namun, keheningan itu mendadak terpecahkan saat Viona terbangun di tengah malam dengan kondisi tubuh yang bergetar hebat.Wanitanya mengalami serangan mimpi buruk yang teramat mengerikan, kembali terlempar ke dalam kegelapan basement tua tempat dia disiksa, diintimidasi, dan diancam akan dibunuh oleh Clara dan orang-orang suruhannya.Dalam kondisi ketakutan mental yang luar biasa, Viona meracau lirih sembari berusaha menarik tangannya
"Pak Mike, bersihkan seluruh koridor lantai VIP! Jangan biarkan media atau utusan Tuan Jordy berada di area rumah sakit ini!" perintah Kevin melintasi sambungan seluler."Sudah disterilkan total, Pak! Pasukan pengawal privat kita sudah memblokir seluruh pintu masuk dan area parkir khusus!" sahut Mike dari kursi depan mobil."Bagus! Pastikan tim dokter terbaik sudah bersiap di depan pintu darurat VIP!" tegas Kevin seraya mengusap kening Viona yang masih membakar.Konvoi kendaraan privat milik Kevin melaju kencang menembus jalanan pagi menuju sebuah rumah sakit swasta elit yang telah disterilkan secara total.Demi menjaga keamanan dan privasi wanitanya dari kejaran media maupun intrik keluarga Wiratama, Kevin memerintahkan Mike untuk memberlakukan pengawalan ekstra ketat di seluruh area sayap perawatan VIP.Sesampainya di lokasi, Kevin melangkah cepat membawa Viona langsung ke dalam ruang penanganan khusus tanpa membiarkan orang lain menyentuh tubuh wanitanya."Dokter, tangani wanitaku


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews