로그인"Aku nggak minta dicintai, tapi jangan bikin aku kesepian di pernikahan ini." Avena tak pernah membayangkan hidupnya berubah hanya karena sebuah janji lama dua orang tua. Tak ada lamaran romantis, apalagi kisah cinta yang menggetarkan. Hanya dua orang asing yang sepakat menikah demi membahagiakan orang-orang yang mereka sayangi. Rafsen adalah pria yang nyaris tak pernah tersenyum. Dingin, tenang, dan selalu sulit ditebak. Sementara Avena teramat cerewet untuk hidup serumah dengan lelaki sesunyi itu. Hari-hari mereka dipenuhi pertengkaran receh, kesalahpahaman, dan kebiasaan yang saling bertabrakan. Anehnya, di tengah kekacauan itu, Avena mulai menemukan rasa nyaman yang sebelumnya tak berniat dicari. Namun ketika alasan mereka menikah telah usai, akankah mereka memilih bertahan, atau kembali menjadi dua orang asing?
더 보기"Kalau tahu menikah rasanya sesunyi ini, mendingan aku nikah sama manekin di toko baju. Minimal kalau manekin dipajang bisa ngasilin duit, nggak memancarkan aura dingin kayak di kutub utara."
Avena mengomel tanpa jeda, tangannya sibuk memijat pangkal hidung yang memerah akibat jepitan sanggul yang terlalu kencang. Gaun pengantin putih berpotongan sederhana, yang dipilihnya sendiri karena malas berdebat, terasa mencekik lelah yang sudah menumpuk sejak subuh. Lelaki di balik kemudi tidak menoleh sedikit pun ke kiri. Tangan kekarnya yang berbalut jas hitam terampil memutar setir, membawa mobil itu membelah jalanan kota. Rafsen hanya menarik napas pendek melalui hidung. "Turunkan suhunya," sahut Rafsen datar. "Suhu AC-nya? Ini udah paling rendah. Yang dingin itu bukan AC-nya, tapi kamu. Kamu tahu nggak, dari tadi di gedung KUA, kamu cuma ngomong ... saya terima nikahnya, terus blank. Sisanya kamu cuma angguk, geleng, angguk, geleng. Petugas KUA-nya sampai ngira kamu lagi latihan senam leher." Avena mendengus, melipat tangan di dada dengan bibir mengerucut. Rafsen menghentikan mobil tepat saat lampu merah menyala. Ia menoleh perlahan, menatap Avena dengan sepasang mata elangnya. "Mulutmu tidak lelah?" Avena terkesiap, sontak memalingkan wajah ke luar jendela sambil menggerutu pelan. "Sialan," umpatnya dalam hati. Pria berusia 33 tahun ini benar-benar tidak punya filter keramahan. Semua orang di luar sana mengira Rafsen adalah arsitek genius yang karismatik dan berwibawa, tapi bagi Avena yang sudah mengenalnya selama satu bulan ini, Rafsen hanyalah sebuah batu es berjalan yang kebetulan tahu cara mendesain bangunan. Avena menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, membiarkan getaran mesin membawanya mundur ke kejadian empat minggu lalu. Kejadian absurd yang mengubah statusnya dari guru TK berjiwa bebas menjadi seorang istri dari pria kaku. Hari itu, bau obat-obatan menyeruak di kamar rumah sakit menemaninya berjaga di ICU. Sang nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki, terbaring lemah dengan selang oksigen menjalar di hidungnya. Wajah keriput itu menatap Avena dengan mata berkaca-kaca. "Sebelum Nenek meninggal, Ven, Nenek cuma ingin lihat kamu nikah, punya keluarga. Ada yang jagain kamu. Nenek nggak bisa tenang kalau kamu sendirian di dunia ini," kata nenek dengan suara parau. Avena langsung panik. "Nenek ngomong apa, sih? Nenek bakal sembuh. Lagian zaman sekarang mana ada yang nikah buru-buru kayak kejar setoran gitu?" Namun, penolakan Avena runtuh ketika keesokan harinya, seorang pria tua lain datang menjenguk. Beliau adalah Kakek Arga, sahabat karib neneknya sejak zaman berambut hitam hingga memutih. Kakek Arga datang tidak sendirian, melainkan menyeret cucu laki-lakinya yang berwajah sekaku tembok beton, Rafsen. Di sanalah wasiat gila itu terungkap. Puluhan tahun lalu, saat bermain kartu di beranda rumah, kedua orang tua itu membuat janji konyol. "Kalau cucu kita sama-sama belum menikah saat usia tiga puluh, jodohkan saja." Semua orang menganggap itu lelucon usang. Sampai akhirnya, kondisi kesehatan kedua sesepuh itu menurun bersamaan, dan janji lama itu berubah menjadi perintah suci yang mutlak. Rafsen yang sehari-hari sibuk mengurus biro arsitekturnya dan malas mencari pasangan hidup, akhirnya setuju demi menyenangkan sisa usia kakeknya. Sementara Avena, demi senyuman terakhir sang nenek, terpaksa menelan bulat-bulat idealismenya tentang cinta sejati. Mereka sepakat menikah, murni karena rasa hormat dan kasih sayang terdalam pada dua orang tua agar bisa tersenyum lega di sisa usia masing-masing. Klakson mobil di belakang mengejutkan Avena, membuyarkan lamunannya. Lampu sudah hijau. Rafsen kembali melajukan mobil. Suasana kembali hening, menciptakan hawa canggung yang membuat Avena meremas gaunnya. "Kita akan tinggal di apartemenmu yang di pusat kota itu?" tanya Avena lirih, mencoba mencairkan keheningan. "Tidak," jawab Rafsen singkat. "Kenapa? Maksudku, sebagai direktur perusahaan arsitektur ternama, bukannya tinggal di pusat kota lebih praktis? Kenapa harus rumah tua peninggalan Kakek Arga?" Rafsen tidak langsung menjawab. Ia membelokkan mobil memasuki sebuah kawasan residensial lama yang dipenuhi pohon-pohon beringin besar dan rumah-rumah berarsitektur kolonial. Mobil mereka berhenti di depan sebuah pagar besi hitam yang tinggi, menjulang kokoh memagari sebuah hunian tua. Rumah itu besar, berstruktur beton kokoh dan terdapat sentuhan modern pada jendela-jendela kaca besar dan pencahayaan lampu yang dipasang di beberapa sudut. Sebuah rumah tua modern yang artistik, sekaligus sedikit menyeramkan bagi mata Avena yang biasa melihat dekorasi warna-warni ramah anak di TK tempatnya mengajar. "Apartemen itu hanya dijadikan kantor, kamu bebas mau main ke sana," ucap pria itu tanpa menoleh. "Sementara rumah ini punya jiwa. Kakek ingin rumahnya tetap dirawat. Dan sekarang, ini rumahmu juga." Avena tertegun. Itu adalah kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Rafsen sepanjang hari ini. Avena bisa merasakan bahwa bagi Rafsen, menjaga rumah ini adalah caranya menghormati sang kakek, sama seperti dirinya yang rela memakai cincin di jari manisnya demi sang nenek. Rafsen turun dari mobil terlebih dahulu, memutari kap, lalu membukakan pintu untuk Avena. Bukannya memberikan uluran tangan romantis, Rafsen justru menyodorkan sebuah kunci besar berbahan kuningan. "Pegang ini, jangan sampai hilang. Aku malas memanggil tukang kunci," ucap Rafsen, merusak momen hangat yang baru saja sempat terlintas di kepala Avena. Avena mendengus kasar, merebut kunci itu dengan kesal hingga gaun pengantinnya tersangkut di pintu mobil. "Aww! Tuh, kan! Belum apa-apa rumah ini udah mau memakan gaunku," tutur Avena heboh sambil berusaha melepaskan kain brokat yang tersangkut. Rafsen berdiri kaku di sampingnya, memperhatikan kehebohan istrinya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Alih-alih membantu, dia justru menarik kain itu dengan satu sentakan kuat hingga terlepas, menyisakan sedikit benang yang terurai. "Masuk," kata Rafsen sembari melangkah mendahului Avena yang masih melongo menatap ujung gaunnya yang rusak. "Rafsen! Kamu bener-bener nggak punya perasaan, ya. Ini sewa, tahu nggak? Kalau didenda gimana?" teriak Avena, melangkah cepat menyusul suaminya dengan kaki menghentak-hentak. Pintu utama kayu jati besar terbuka, seketika bayangan mereka berdua nampak memanjang di lantai marmer. Avena berdiri di tengah ruang tamu, memandangi langit-langit rumah yang tinggi. Di sinilah mereka sekarang. Dua orang asing yang terikat janji mati orang lain, siap tinggal dalam satu atap yang sama. Avena menoleh ke arah Rafsen yang sedang melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. "Tapi kita tidur di kamar terpisah, kan?" tanya Avena memastikan, mendadak merasa gugup. Rafsen berhenti bergerak, menatap Avena dari balik bahunya dengan senyum samar yang hampir tak terlihat. "Kamar di rumah ini cuma satu yang sudah dibersihkan," jawab Rafsen. "Kalau kamu mau tidur di sofa ruang tamu yang berdebu itu bersama hantu kakekku, silakan." Avena membelalakkan mata. "Rafseeeen!""Jangan teriak-teriak. Telinga saya sakit," ujar Rafsen tetap setenang dan sedingin es batu di dalam kulkas, meski jemarinya di pinggang Avena terasa sehangat bara api.Avena yang tadinya sudah siap melayangkan amukan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia membelalak, melotot ke arah suaminya dengan napas terengah-engah.Rafsen bergerak perlahan, membalikkan tubuh Avena yang tadinya tengkurap menjadi berbaring terlentang dengan sangat hati-hati. Tatapannya meneliti raut wajah Avena yang memerah padam."Kamu bisa ganti baju sendiri?" tanya Rafsen. "Kalau tidak bisa, saya bantu.""Bisa! Bisa sendiri! Nggak usah sok perhatian," semprot Avena kesal. Kali ini ia menahan diri untuk tidak memekik keras-keras, takut mulutnya disumpal atau malah dimarahi lagi oleh beruang kutub di hadapannya ini.Avena mencoba mendudukkan tubuhnya. Ia menyangga bobot badannya dengan kedua siku, bermaksud untuk berdiri menuju lemari. Namun, baru saja pinggulnya terangkat beberapa sentimeter dari permu
"Ini gimana bangunnya? Pinggangku mau copot ini," rintih jerit Avena, matanya sudah berkaca-kaca menatap langit-langit kamar sambil memegangi pinggulnya yang berdenyut nyeri.Rafsen menghela napas panjang. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, melangkah mendekat, lalu tanpa basa-basi menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Avena. Sekali angkat, tubuh mungil guru TK itu langsung terangkat ke udara."Aduh, aduh ... pelan-pelan! Ini bukan karung beras," pekik Avena refleks mengalungkan tangannya ke leher Rafsen karena takut jatuh.Rafsen membaringkan Avena kembali ke atas kasur dengan sangat hati-hati. "Makanya kalau bergerak itu pakai perhitungan, jangan sembarangan. Nanti kalau otakmu makin konslet, saya yang repot.""Apa kamu bilang? Otak konslet?" Avena langsung meradang, dadanya kembang-kempis menahan emosi. Ia sudah siap melayangkan pukulan maut ke arah Rafsen, tapi begitu badannya bergerak sedikit saja, rasa nyeri menusuk dari pinggul bawahnya. "Aww! Aduh, aduh ... saki
"Bisa di-download di PlayStore nggak?!" Jeritan batin Avena itu tidak sempat keluar dari tenggorokannya. Ia hanya bisa melotot kesal, menahan napas sampai wajahnya makin merah padam. Sementara itu, sang nenek di atas ranjang justru terkekeh gembira, mengangguk-angguk puas mendengar jawaban sepihak dari cucu menantunya yang kelewat tanggap itu."Bagus, Rafsen. Nenek pegang janji kamu, ya," ujar Nenek dengan binar mata bahagia. "Avena ini emang suka canggung, tapi aslinya manut, kok, kalau diajari.""Ya Tuhan, Nenek ... ini cucumu lagi dijual secara tidak langsung oleh beruang kutub, lho," batin Avena lagi tak sadar rahangnya menggeram.Rafsen sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan membunuh yang dilayangkan Avena. Pria itu mengangguk sopan pada Nenek, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. "Nenek istirahat dulu. Avena saya bawa pulang, kasihan dia capek habis ngajar di sekolah.""Iya, iya, pulang sana. Cepat bikin cicit nenek sampai rumah nanti, jangan tunda lagi," goda Nenek r
"Mundur, Pak! Mundur! Ini gang sempit, jam segini waktunya anak-anak masuk sekolah, malah nekat bawa mobil segede gaban ke sini!" teriak seorang bapak-bapak berkaus kutang dari atas motor bebeknya, tangannya mengacung-acung kesal ke arah kaca mobil tersebut."Iya, nih, bikin macet aja. Mana anak saya udah mau bel masuk lagi," sahut ibu-ibu di belakangnya yang sedang memegangi payung.Avena langsung turun, jantungnya berdisko menahan malu tingkat dewa. Ia memarkirkan motornya asal di pinggir jalan, lalu berlari kecil membelah kerumunan orang-orang yang mulai bersungut-sungut. Kepala Avena rasanya mau pecah. Bagaimana bisa pria jenius yang otaknya biasa merancang tata kota dan gedung bertingkat, mendadak kehilangan fungsi navigasi dasar sampai tersesat di gang senggol selebar dua meter ini?Avena mengetuk kaca mobil Rafsen dengan brutal. "Rafsen, buka! Kamu ngapain di sini, sih?"Rafsen menoleh perlahan, wajahnya tetap lempeng tanpa dosa. Pria itu menurunkan kaca mobilnya secara pen
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.