登入Rein Gia Rose dan Kei Arka Naratama, dua orang asing yang tidak sengaja bertemu malam itu. Gia kabur setelah membakar sebuah tenda pernikahan dan akhirnya bertemu Arka di jalanan. Pertemuan tidak sengaja oleh keduanya ini menjadi awal dari kisah mereka selanjutnya. Bagaimana tidak? Arka dan Gia terjebak di sebuah kota yang mereka berdua menyebutnya kota yang tidak ada di peta alias sebuah desa kecil. Gaya hidup yang bertolak belakang, budaya dan tentu saja lingkungannya sangat berbeda dari kehidupan mereka berdua sebelumnya. Kisah mereka awalnya memang terdengar seperti kesalahan biasa, tetapi ternyata mereka berdua sedang mencari tempat pulang yang benar. Bagaimana kisah seru perjalanan Gia dan Arka?
查看更多Api itu menjalar lebih cepat daripada yang Gia bayangkan, menyentuh kain putih yang menjuntai pada langit langit tenda lalu merambat ke rangkaian bunga yang sejak tadi ia pandangi dengan penuh kebencian.
Gia masih berdiri di tempatnya, tatapannya lurus ke depan, ke arah panggung megah yang beberapa jam lagi akan menjadi saksi kebahagiaan seseorang. Gia lalu berbalik, meninggalkan semuanya, meninggalkan kota itu tanpa tujuan, tanpa rencana, tanpa tahu kemana ia akan pergi. Dan sekarang Gia sudah berjalan sendirian di tepi jalan. "Heh apaan sih? Maliiiing maliing, ini tuh tas saya balikin doong." Gia dia adalah Rain Gia Rose, perempuan berumur 25 th yang baru saja kabur setelah membakar sebuah tenda pernikahan. "Ssstt jangan teriak teriak, ini namanya copet bukan maling," kata seorang laki laki yang dikatakan maling itu merevisi sebutan untuk dirinya dari wanita itu. "Saya terpaksa melakukan ini," tuturnya sedetik kemudian. Perempuan itu menganga terkejut dan sedikit tidak percaya. Bagaimana lagi? Seorang pemuda tampan, hidungnya mancung dan wajahnya yang putih bersih, terlihat menenangkan dan seperti orang baik baik namun entah kenapa kelakuannya justru membuatnya menjadi takut dan emosi tetapi juga penasaran 'kok ada copet setampan dia?' Mungkin itu yang membuat Gia bertanya dalam hati. "Balikin ga? Iiih, Tolooongg." Gia terus berteriak meminta tolong namun sayangnya tempat di jalanan yang ia lewati ini cukup sepi mengingat waktu yang sudah larut malam. "Heh dengar ya saya ini orang baik baik, saya terpaksa melakukan ini. Kalau ga terpaksa juga saya ga mau kaya gini," tutur pemuda tampan yang masih belum bisa mendapatkan tas milik Gia karena perempuan itu masih terus menariknya dengan lebih brutal karena emosinya, ketakutannya dan tentu saja kepanikannya. "Saya bukan psikolog kamu ya. Jangan curhat ke saya dan cepet balikin tas sayaaaa!" pinta Gia dengan geram. Karena kuwalahan akhirnya Gia melepas tas itu namun ternyata malah membuat pria itu terjatuh karena ketidakseimbangan dirinya. Seperti mendapat kesempatan emas Gia langsung mengambil tas miliknya dan mengambil sebuah ranting pohon di didekatnya yang cukup besar lalu memukul laki laki itu. "Aduh ampun ampun! Kamu kecil kecil jiwanya psikopat juga ya?" "Apa kamu bilang? Pakai ngatain saya segala lagi?" Tambah murka, Gia pun langsung mempercepat pukulannya hingga membuat laki laki itu benar benar kuwalahan. "Lagian kamu tuh ga ada bakat maling malingnya, gini aja udah kapok," ejek Gia karena laki laki itu justru ketakutan sambil menghindari pukulan yang Gia berikan dengan tangannya. "Kan saya udah bilang saya terpaksa melakukan ini. Lagian berapa sih isi uang di tas kamu? Kayaknya juga cuma lima ribuan doang. Saya aslinya punya lebih banyak dari itu," tutur laki laki yang Gia bilang tidak berbakat menjadi maling itu. Tentu saja tidak berbakat, karena selama ini ia tinggal di rumah yang mewah, hidup pun berkecukupan, dan tidak pernah kekurangan apapun tentunya. Namanya Kei Arka Naratama. Ada alasan tersendiri sampai dia nekat melakukan ini pada Gia. Merasa diejek oleh orang yang hendak mencuri barang miliknya Gia tentu saja tidak terima "Kamu tuh cuma bisa sombong ya, ngaku ngaku punya uang lebih banyak dari saya tapi kerjaannya maling. Dasar laki laki aneh," omel Gia dengan kesal sambil terus memukuli Arka. Laki laki itu menyerah dan meminta ampun pada Gia. Melihat Arka yang sungguh sungguh kali ini membuat Gia sedikit percaya kalau sebenarnya Arka tidak terlalu jahat. Arka lalu menceritakan bahwa hari ini adalah hari yang sial untuknya karena berniat pergi berlibur tapi ternyata malah salah kereta. Tas yang ia bawa pun malah ketinggalan di kereta juga bahkan handphone miliknya juga baru saja dicopet oleh orang tak dikenal, sekarang ia sudah tidak punya apa apa lagi. "Udah ya udah, saya kan udah minta maaf, jadi please kali ini tolong pinjamin saya uang deh, soalnya saya butuh, nanti pasti saya balikin," kata Arka mencoba untuk berdamai dengan Gia. "Engga saya ga mau, saya ga mau minjemin uang sama orang asing titik." Gia menolaknya dan meminta Arka untuk menjauh darinya. "Lagian saya jauh lebih butuh uang ini untuk bertahan hidup," lanjutnya lagi. Gia memeluk tasnya dengan kedua tangannya takut jika Arka masih terus mengincarnya, tidak lama kemudian ada sebuah angkot yang lewat dan Gia merasa lega akhirnya bisa bebas dari laki laki tidak dikenal ini. Saat Gia buru buru masuk ke dalam angkot, Arka pun ternyata lebih dulu masuk dan membuat Gia emosi. "Kamu ngapain ikutan masuk sih? Ini angkot saya," omel Gia benar benar geram padanya. Arka hanya mengangkat dan membuka kedua tangannya sebagai isyarat entahlah. "Turun ga? Ini angkot saya," jelas Gia ngotot supaya Arka turun dan dirinya yang masuk ke dalam. Sopir angkot yang melihat mereka berdebat pun hanya bisa bilang "gausah rebutan mbak, naik aja barengan saya antar satu satu. Soalnya ini udah malam taksi udah jarang yang lewat." "Nah iya pak betul, dia itu pacar saya pak kita sebenarnya mau pergi ke tempat yang sama tapi karena dia marah jadinya ya gitu pak malah ngusir saya loh," jelas Arka entah laki laki itu mendapatkan ide gila itu darimana. Arka hanya berpikir mengambil kesempatan dalam kesempitan ini, dalam hati ia berkata 'biar aku tunjukkan bagaimana caranya menggunakan orang asing yang bawel, pendek dan cerewet ini untuk bisa membantuku.' "Apa? Bukan ya Pak saya bukan pacar dia pak. Dia itu maling pak, mau maling tas saya tadi. Ya saya ga mau lah sama dia. Tolongin saya pak," jelas Gia dengan muka tidak percaya pada Arka dan sekaligus memelas pada sopir angkot itu. "Astaghfirullah pak, memang benar fitnah perempuan itu lebih kejam di zaman sekarang pak. Pacar saya sendiri menuduh saya maling," curhat Arka mencoba mendalami perannya supaya sopir itu percaya padanya. Tidak mau dibuat pusing akhirnya sopir itu menyuruh Gia masuk atau dia harus menunggu di jalan untuk dapat angkot lagi besok pagi. Jalanan yang sudah sangat sepi, malam yang semakin gelap, lagipula ia juga perempuan sendirian, hp nya juga mati entah masih ada di dalam tasnya atau tidak Gia sudah tidak tahu. "Udahlah pak tinggal aja pak, dia lebih suka menjadi patung hiasan di jalan ini," ujar Arka karena Gia masih melamun dan tidak segera masuk ke dalam angkot. "Masak pacarnya mau ditinggal mas?" tanya sopir itu masih mengira mereka memang pacaran. "Enak aja, saya bukan pacarnya ya pak," tolak Gia lalu terpaksa satu angkot dengan laki laki itu. Gia sudah duduk mepet dengan pintu karena tidak mau dekat dekat dengan Arka atau takut laki laki itu akan menghipnotis dirinya lalu mengambil tas miliknya. Arka yang memang berkarakter banyak tingkah dan jail sejak lahir tiba tiba menggeser tubuhnya mendekati Gia hingga membuat perempuan itu terkejut. "Aduh pak, mengemudinya pelan pelan dong masak belok gitu aja sampai miring banget? Lihat nih? Saya jadi mepet sama pacar saya kan? Bahaya lo pak dia lagi ngambek soalnya," tutur Arka bahkan disaat Gia belum sempat mengomelinya karena tingkah konyolnya ini. "Hiiihh, saya bukan pacar kamu ya, dasar maling aneh," umpat Gia sambil mencubit lengan Arka dan menyuruhnya kembali duduk di tempatnya. Gia lalu terdiam, matanya memandangi gelapnya jalanan malam ini namun pikirannya tertuju pada seseorang. 'Apakah mereka sudah melakukan malam pertamanya?' tanyanya dalam hati.Gia masih belum mau memaafkan Arka, sedangkan Arka juga sudah malas untuk meminta maaf lagi, pria itu berpikir lagi bahwa dirinya hanya bercanda dan sepertinya Gia saja yang terlalu berlebihan menanggapinya.Akhirnya mereka berdua menjadi diam satu sama lain. Memang benar mereka tinggal di rumah yang sama, tapi julukan orang asing lebih mendominasi saat itu dibandingkan sebelumnya. Saat Gia sedang memasak di dapur, ia hanya memasak nasi goreng untuk dirinya sendiri dan Arka pun lalu memasak mie instan untuk membuktikan kalau dirinya juga bisa masak sendiri.Saat Gia sedang menonton televisi dan Arka ingin menonton bola laki laki itu langsung mengganti chanelnya tanpa meminta izin dari Gia. Arka pikir Gia akan mengomelinya dan mereka berdebat lalu bisa baikan tanpa silent treatment seperti ini, tapi perempuan itu justru diam saja dan memilih masuk ke kamarnya."Hiiihhh nyebelin banget si jadi cowo? Orang asing itu benar benar mengacaukan hari hari saya di sini," omel Gia di kamarnya k
"Mba Gia tahu? Kenapa semua orang di sini menerima dan mengizinkan mba tinggal di desa ini lebih lama?" tanya Bu Minem saat ia bertemu Gia yang sedang jalan jalan pagi menikmati udara segar di desa ini."Eemm karena mereka kasihan sama saya?" tebak Gia karena ia pikir warga di desa ini adalah orang orang yang baik dan memiliki empati besar terhadap orang lain termasuk orang asing seperti dirinya dan Arka."Loh ya bukaaan, dudu kui (bukan itu). Karena saya bilang karo kabeh wong nek mba Gia iki keponakanku, kalau semua orang tahunya mba Gia ini masih keluarga karo aku yo mestine oleh to menetap ning desa kene," (karena saya bilang sama semua orang kalau mba Gia ini keponakanku, kalau semua orang tahunya mba Gia ini masih keluarga sama saya ya pastinya boleh menetap di desa ini) tutur Bu Minem menjelaskan.Pantas saja orang orang pada santai dan baik padanya, mengijinkan ia dan Arka tinggal lebih lama di sini ternyata karena Bu Minem ini bohong juga sama semua warga desa kalau dirinya a
Arka sepertinya mulai menikmati perannya sebagai suami pura puranya Gia. Ia sudah mulai nakal dan berpikir untuk selalu menggoda Gia dan memperlihatkan pada perempuan itu atas konsekuensi yang harus Gia terima.Malam hari saat Gia sibuk mengikuti ajakan Bu Pon dan Bu Minem untuk mengikuti acara Arisan, Arka memiliki kesempatan emas untuk menghubungi sahabatnya karena handphone Gia yang ketinggalan di rumah.Untung saja Arka sempat mengingat pola yang Gia gunakan untuk membuka benda canggih itu sehingga ia tidak kesulitan sekarang. Arka sudah menunggu kesempatan ini sejak kemarin supaya ia bisa bebas dari masalahnya terjebak di kota yang bahkan ia sebut tidak ada di peta ini."Apa? Gila kamu ya? Hei tinggal di sini itu bukan mimpi saya, bahkan berpikir untuk sampai di sini pun engga. Ngapain saya harus bertahan di sini?" tanya Arka saat ia berhasil menghubungi temannya lewat media sosial Gia.Laki laki itu sungguh tidak percaya jika temannya itu menyuruhnya untuk tinggal di desa ini le
“Seharusnya saya bisa menerima imbalan karena sudah membantu menjalankan dramamu itu Gia, satu ciuman mungkin,” tutur Arka saat pagi hari ia merasa bosan dan memilih untuk mengikuti Gia yang sedang menyapu halaman.“Hah? Apa? Hey saya juga sudah menyelamatkanmu dengan semua ini ya, jadi tolong kerjasamanya atau kamu ga akan bisa pulang dengan selamat?” ancam Gia sambil memandang Arka lalu menghentikan aktivitasnya menyapu.Laki laki itu malas mendengarkan Gia yang menurutnya perempuan itu hidup dengan kaku dan tidak bisa diajak bercanda atau menjalani hidup dengan sedikit santai. “Ar gi Ar untuk Rein Gia Rose, perempuan kaku dan tidak bisa tersenyum hahahah. Untuk saat ini saya hanya kehilangan dompet dan barang barang kecil itu, bukan kehilangan akal sehat, mengerti?” tanya Arka diakhiri dengan senyuman lebar bentuk dari percaya diri, kebanggaannya atau hanya untuk menyombongkan diri pada Gia saja.Perempuan itu tidak peduli dan ia harus mulai terbiasa jika selalu bedebat dengan Arka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.