MasukMenjelang malam hari, Julia memberi tahu Aska masalah mereka hendak menetap di Negara Jemadi. Julia juga sudah menjelaskan pemikirannya. Dia dan Theresia akan pergi ke Negara Jemadi. Tentu saja dia berharap Aska juga akan pergi bersama mereka. Hanya saja, seandainya Aska tidak bisa melepaskan semua di Kota Jembara, mereka akan sering pulang untuk mengunjungi Aska.Selesai berbicara, Julia juga sudah mempersiapkan dirinya untuk dimarahi oleh ayahnya. Namun, Aska hanya mengerutkan sedikit keningnya dan tidak marah sama sekali. Setelah berpikir beberapa saat, dia membuat sebuah keputusan. “Aku akan pergi bersama kalian!”Julia merasa gembira dan juga syok. “Apa kamu benar-benar akan pergi bersama kami?”Pemikiran Aska sangat konservatif. Dulu selain masalah pekerjaan, dia sama sekali tidak suka untuk ke luar negeri. Sekarang, dia malah setuju untuk tinggal di luar negeri!Aska mengangkat kelopak matanya untuk melihat ke sisi halaman. Dia berkata dengan perlahan, “Apa pun tidak bisa diband
Setelah Jovita meninggalkan acara dan kembali ke rumah, dia langsung menghubungi Roger, “Roger, sudah terjadi masalah besar!”Roger juga mesti bertemu klien di hari Sabtu. Setelah dia meninggalkan ruangan VIP, dia baru bertanya, “Apa yang terjadi?”“Theresia barulah cucu kandung Tuan Aska. Dia itu putri dari Keluarga Angsara!” Masih terdengar rasa kaget dalam nada bicara Jovita. “Hallie itu gadungan. Dia bukan siapa-siapa!”Roger juga merasa kaget. “Cucu kandungnya Tuan Aska itu Theresia?”“Iya, aku baru saja pulang dari acara Keluarga Angsara. Aku dengar dari mulut Tuan Aska sendiri. Aku tidak mungkin salah kali ini!” Jovita sungguh menyesal. “Kita semua sudah dibohongi oleh wanita murahan yang bernama Hallie itu!”Roger tersenyum sinis. “Kamu sendiri yang sudah tertipu!”“Kenapa aku bisa sebodoh ini?” Jovita sungguh menyesal. “Kamu segera cari Theresia di acara. Sekarang juga!”Roger bertanya, “Untuk apa ke sana?”Jovita segera berkata, “Pergi akui kesalahan. Bilang saja kita diprovo
Suasana di aula juga mulai memuncak.Morgan menatap Theresia yang dikerumuni orang-orang. Tatapannya mendalam. Wajah tampannya kelihatan tegas seperti biasanya. Dia menatap Theresia lekat-lekat. Pada akhirnya, semakin banyak orang yang berkerumun hingga menghalangi pandangannya. Jarak Morgan dengan Theresia semakin jauh lagi. Pada akhirnya, Morgan berjalan ke arah yang berlawanan, lalu membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat.Saat mendengar ucapan Theresia, Jemmy samar-samar merasa ada yang aneh. Dia memalingkan kepalanya untuk mencari Morgan, tetapi dia hanya melihat bayangan punggung Morgan yang melihat ke kerumunan.Theresia juga melihat bayangan punggung si pria. Dia memaksa dirinya untuk tersenyum, tetapi rasa sakit seketika menyerang hatinya.Pertemuan di Hondura membuat hubungan mereka berdua menjadi semakin mendekat. Namun perlahan-lahan, entah sejak kapan hubungan mereka mulai menjauh lagi.…Saat acara selesai, Sonia juga tidak bertemu dengan Morgan lagi. Dia menelepon
Ekspresi Morgan masih terlihat tenang seperti biasa, tidak ada perubahan sama sekali. Sepertinya dia mengangguk dengan sangat kuat. “Yang penting kamu sudah memikirkannya dengan jelas. Aku akan dukung semua keputusanmu!”“Terima kasih!”Entah kenapa, Theresia merasa matanya seperti ditutupi kabut saja, suaranya juga terasa agak serak.Saat ini, kedengaran ada yang memanggil nama Theresia. Dia mengiakan, lalu membalikkan tubuhnya berjalan kembali ke aula. Baru saja berjalan dua langkah, dia menoleh untuk bertanya, “Apa yang mau kamu katakan sama aku tadi?”Morgan menatap Theresia dengan tatapan mendalam. Beberapa saat kemudian, dia baru berkata, “Tidak apa-apa. Kamu sudah bilang, kamu bukan Seven-ku lagi. Kalau begitu, kamu bebas melakukan apa pun, tidak perlu selalu memprioritaskanku.”Tenggorokan Theresia bagai tersangkut sesuatu saja, hatinya malah terasa hampa. “Aku akan selalu mengingat kebaikanmu kepadaku.”Morgan membalikkan tubuhnya. Bayangan punggung tinggi dan kokoh itu membel
“Kenapa kamu malah pukul orang di tempat umum?”“Lapor polisi!”Jovita memelototi Hallie sekilas, lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan pergi. Sekuriti datang untuk memapah Hallie. Hallie membangkitkan tubuhnya sembari menyeka air mata di wajahnya. Matanya kelihatan berkilauan, penuh dengan tekad seperti orang yang sudah siap mempertaruhkan segalanya.…Di dalam aula.Morgan pergi mengangkat panggilan di halaman. Setelah mengakhiri panggilan, dia tidak buru-buru untuk kembali, melainkan merokok di halaman.Saat mendengar ada suara langkah kaki dari belakang, pria itu mematikan rokoknya, kemudian menoleh menatap wanita yang berjalan menghampirinya.Di halaman itu ada pagar kayu dan di seberangnya terdapat sebuah danau buatan. Air danau mengalir melewati bebatuan hias, lalu menuju halaman lain.Air yang mengalir turun dari bebatuan buatan itu menciptakan kabut lembap di udara. Ditambah bayangan pepohonan di sekitarnya, membuat halaman itu tidak terasa terlalu panas meskipun sedang mus
Aska mengangkat gelasnya. “Jemmy, sebenarnya seharusnya aku yang bersulang kepadamu. Morgan paling berjasa untuk kami bisa menemukan Jeje!”Jemmy berkata, “Baguslah kalau kamu tahu. Jangan selalu buang muka sama Morgan!”Aska mulai merasa tidak puas. “Kalau dia berani menindas Jeje, aku bukan hanya akan buang muka saja, bisa jadi aku akan memarahinya!”Theresia segera berkata dengan tersenyum, “Kakek, Tuan Morgan nggak pernah menindasku!”Morgan meliriknya sekilas. Bola mata hitamnya kelihatan dalam. Bibir tipisnya sedikit terangkat.Aska menggenggam tangan Theresia. “Kenapa malah panggil Tuan Morgan? Kedengarannya seperti tidak akrab saja. Dia lebih besar daripada kamu, panggil Kak Morgan saja.”Theresia berpapasan dengan tatapan si pria. Cahaya lampu jatuh ke wajah samping menggoda Theresia. Bayangan samar berwarna merah muda seperti semburat kemerahan menyebar di ujung matanya. Bibir merahnya sedikit terbuka, tetapi bagaimanapun juga dia tetap tidak mampu mengucapkannya.Julia terse
Reza mengendarai mobil sembari berbicara dengan datar, “Pak Teddy ingin kamu jadi pemeran utama dalam sinetronnya? Aku sudah bantu kamu untuk menolak tawarannya.”Ujung mata Sonia sedikit berkedut. Dia spontan bertanya, “Gimana kamu bisa tahu?”Reza tersenyum tipis. “Sekarang aku adalah sponsor terbes
Sonia berjalan keluar restoran. Dia berjalan di trotoar dalam waktu lama dan baru menyadari dia lupa untuk mengambil mobilnya. Pada akhirnya, Sonia meninggalkan restoran begitu saja.Siang harinya, Sonia sangatlah sibuk. Dia hanya makan seadanya di siang hari. Sekarang perutnya pun terasa sakit.Sonia
Sewaktu perjalanan pulang, Sonia yang mengendarai mobil. Melvin sedang bermain bersama Yana di baris belakang.“Aku tampan tidak?”Yana melihat Melvin dengan terbengong, lalu mengangguk. “Tampan!”“Sonia cantik tidak?”Kedua mata Yana spontan berkilauan. “Cantik!”“Jadi, Yana lebih pilih aku atau Sonia?”
Setelah setengah jam kemudian, Stella dan Edward duduk di dalam ruangan VIP sebuah restoran barat mewah. Stella meletakkan buket bunga di samping, lalu berkata dengan tersenyum, “Sebenarnya aku ingin minta bantuan Tuan Edward.”Edward menuangkan segelas anggur merah kepada Stella. “Kenapa kamu berbic







