LOGIN"Coba saja untuk lari. Kamu hanyalah anak yatim piatu yang kubantu agar hidup mewah." "Melangkah masuk ke kamarmu. Malam ini, tubuhmu akan menjadi milikku." Selena, gadis delapan belas tahun tanpa keluarga dan tanpa tujuan, menerima tawaran hidup mewah dari Malachi, pria yang mengaku sebagai kakak angkatnya. Namun tidak ada yang gratis di dunia Malachi, bayarannya adalah Selena sendiri, tubuh dan jiwa gadis itu.
View More"Selena! Selena! Kemari, Nak. Ada yang datang. Keluargamu! Keluargamu datang!"
Ucapan ibu panti membuat badanku kaku di tempat. Keluargaku datang? Siapa? Ibuku sudah meninggal sejak lama. Dan jika benar mereka keluargaku, kenapa baru datang sekarang? Padahal sejak umur lima tahun sampai delapan belas tahun, tidak ada satu pun orang yang mencariku. Kenapa baru sekarang? "Aduh, anak ini! Kenapa diam mematung?" Tangan besar ibu panti menyentuh pundakku. "Cepat berpakaian yang rapi. Setelah itu datang ke kantor kepala, mengerti, Nak?" "Iya. Aku siap-siap dulu," jawabku sembari tersenyum, padahal otakku masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Lima belas menit kemudian, aku berdiri mematung di depan pintu kantor kepala panti, jantungku berdebar kencang. Di balik pintu ini, aku akan bertemu dengan keluarga yang selama ini tidak pernah kumiliki. Bagaimana aku harus bereaksi? Apakah tidak apa-apa jika aku marah kepada mereka? "Tenangkan dirimu, Selena," bisikku menenangkan. "Pasti ada alasan kenapa mereka baru datang sekarang." Tanganku meraih gagang pintu yang dingin, menekannya ke bawah, lalu mendorongnya perlahan. "P-permisi," kataku dengan suara yang hampir hilang. "Selena. Kemari, Nak, duduk di samping kakakmu." Di balik meja, wajah ibu kepala panti yang biasanya keras, kini dihiasi senyuman dan sorot mata yang bercahaya. "Gadis muda ini adalah adikmu," kata ibu kepala sambil menganggukkan kepala ke arah pria yang duduk di hadapannya. "Adik?!" pekikku, kakiku serasa tidak sanggup melangkah lebih jauh. Di balik kursi kulit, seorang pria yang mengenakan mantel panjang berwarna putih berdiri membelakangi. Perlahan dia berbalik, menatapku dengan sorot mata hangat dan senyum lebar yang menciptakan lesung kecil di kedua pipinya. Kakinya melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan. "Salam kenal, Selena. Perkenalkan, saya Malachi, anak angkat ayahmu." Suaranya tenang, terdengar dewasa dan penuh kendali. Sikap penuh tata krama itu membuatku enggan bersikap dingin, aku tidak mau dinilai sebagai gadis yang tidak sopan dan tidak berpendidikan. "Salam kenal, Kak...?" "Panggil saja senyamanmu," jawabnya, senyum di wajahnya sama sekali tidak luntur. "Kurasa kalian berdua perlu waktu untuk berbicara. Saya tinggalkan dulu," ucap ibu kepala panti sambil beranjak dari kursinya. "Baik, terima kasih atas waktunya," sahut Malachi sopan, menundukkan kepala sedikit. Begitu ibu kepala keluar dari ruangan, suasana langsung terasa canggung. Aku tidak tahu harus menilai pembicaraan apa. "Bagaimana kalau kita duduk?" ajaknya, menunjuk sofa besar di tengah ruangan. "Iya. Silakan," jawabku kaku. Aku berjalan mendahului, dan dia mengikuti dari belakang. "Sebenarnya, tidak banyak yang bisa kuceritakan," mulai Malachi setelah kami duduk berhadapan. "Singkatnya, ayahmu, yang bernama Edgar, telah mengambil tanggung jawab sebagai ayahku setelah ayah kandungku meninggal. Ayahmu dan ayahku bersahabat sejak lama." "Lalu, di mana ayah sekarang?" tanyaku, mencoba menahan gemetar di suaraku sendiri. "Seperti yang kukatakan, aku juga tidak menghabiskan banyak waktu dengannya. Kami hidup sebagai ayah dan anak hanya selama empat tahun. Setelah itu, beliau..." Malachi terdiam, kepalanya menunduk. Sorot matanya meredup, dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Beliau meninggal karena stroke." "Oh, seperti itu. Jujur saja, aku tahu ini mungkin terdengar tidak sopan," kataku hati-hati, "tapi aku sama sekali tidak merasa sedih. Keluarga yang kutahu hanya Ibu. Dan beliau juga akhirnya meninggalkanku." "Aku mengerti perasaanmu," jawab Malachi lembut. "Jadi, maksud kedatanganku ke sini, aku ingin mengajakmu tinggal bersamaku. Aku ingin membalas budi sikap baik ayahmu." "Kurasa itu tidak perlu. Terima kasih atas tawarannya." Aku hendak bangkit berdiri, tapi gagal karena tangannya tiba-tiba menggenggam tanganku erat. "Tunggu dulu. Bukankah seminggu lagi umurmu genap delapan belas tahun? Begitu kamu dewasa, kamu harus keluar dari tempat ini." "Aku tahu," jawabku dingin, menarik tangan dari genggamannya. "Tapi aku bisa bertahan hidup sendiri dengan baik." "Kamu tidak mau kuliah? Aku bisa jadi kakak yang bertanggung jawab untukmu." Tawaran itu menggiurkan, aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi ada gengsi yang menahanku untuk langsung menerima. Lagipula, mana mungkin aku tiba-tiba percaya begitu saja pada pria yang mengaku sebagai anak angkat ayah yang bahkan tidak pernah kutemui seumur hidupku. "Ayahku meninggal waktu kamu umur berapa?" tanyaku tiba-tiba. "Beliau meninggal saat umurku enam belas tahun." Jawaban itu membuat kecurigaanku muncul. Aku bangkit berdiri, menatapnya dengan suara penuh selidik. "Aku tidak tahu berapa umurmu sekarang, tapi kamu terlihat jauh lebih dewasa dari itu." "Ada apa, Selena?" tanyanya, wajahnya masih mempertahankan ekspresi polos. "Jawab pertanyaanku. Bagaimana kamu bisa tahu keberadaanku, padahal ayahku pergi sejak aku masih dalam kandungan? Kamu bahkan tahu umur dan tanggal ulang tahunku. Dan yang lebih aneh, kamu tahu persis aku ada di panti asuhan ini." Suaraku menggema di ruangan persegi ini. "Apa kamu tidak sadar betapa mencurigakan dirimu sekarang, di mataku?" Pria itu tiba-tiba berdiri dari duduknya. Aku menciut seketika, baru sadar tinggiku hanya sebatas dadanya. Senyum di wajahnya menghilang begitu saja, digantikan keheningan yang terasa menakutkan. Beberapa detik berlalu tanpa ekspresi apa pun dari wajahnya. Lalu, matanya menyipit, satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tidak bisa kubaca artinya. "Kamu tidak perlu takut padaku, Selena." Dia bahkan terang-terangan menolak menjawab pertanyaanku. Bagaimana mungkin aku mau ikut dengan pria seperti ini?Malachi POV"Anda terlihat marah, Tuan Malachi. Tadi adik Anda, ya?"Suara Rosa yang dibuat seksi menarik perhatianku begitu aku baru melangkah masuk ke ruangan."Benar," jawabku singkat, menutup pintu di belakangku."Anda tidak mengunci pintunya kembali? Bagaimana kalau adik Anda datang lagi?" komentar Rosa, seolah dia berhak ikut campur dalam urusanku."Tutup mulutmu," balasku kesal. "Karena aku menjawab satu pertanyaanmu, kau kira sudah cukup dekat denganku?"Wanita itu otomatis menundukkan kepala. Tubuhku lelah, dan aku hanya ingin sedikit bersenang-senang. Tapi kenapa selalu begini, setiap wanita yang kubayar mahal justru bersikap tidak tahu aturan, dan senang ikut campur melebihi batas."Maafkan saya, Tuan. Silakan duduk, biar saya yang melayani Anda dengan baik."Rosa melangkah mendekat, jari-jari jari lentiknya menempel di dadaku, bergerak turun perlahan seakan ingin meredakan ketegangan di tubuhku."Sekarang aku mengerti kenapa kamu jadi pelacur kelas atas di tempatmu bekerja
"Anda kenapa diam saja, Tuan? Bukankah Anda yang tiba-tiba meminta saya datang? Untung saja saya tidak punya pelanggan hari ini." Wanita itu turun dari meja, lalu duduk manja di pangkuan Malachi. Jemarinya menangkup pipi Malachi, membuat wajahnya menoleh menatap sang wanita. "Anda tidak mau langsung memakan saya, Tuan?" godanya, suaranya dibuat semanja mungkin . "Dasar jalang murahan," makiku pelan, tidak sadar kalimat itu lolos dari mulutku sendiri. Aku masih diam di tempat, mataku terpaku pada celah pintu yang sempit ini. Rasanya aku ingin lari sejauh mungkin, tapi ada bagian diriku yang menolak pergi begitu saja, tidak rela membiarkan mereka bersenang-senang tanpa gangguan. Jadi aku bertahan, menunggu momen yang tepat untuk menerobos masuk. Biar saja Malachi memarahiku habis-habisan nanti. Toh dia sendiri yang memulai semua ini. Setelah mencuri ciuman pertamaku beberapa waktu lalu,, sekarang dia justru asyik bersama seorang pelacur? "Rosa, aku tidak suka kamu memakai
"Selamat datang kembali, sayang..." ucap Malachi saat mobil berhenti di garasi, suaranya lembut, tapi seringai tipis di sudut bibirnya menandakan dia sedang menikmati situasi ini sepenuhnya."Iya. Rumah yang sekarang menjadi penjaraku," jawabku dengan nada sinis, menolak menatap wajahnya."Ah, benar juga! Penjara mana yang menyediakan makanan mewah dan baju mahal? Bahkan membayar pendidikan tawanannya sampai lulus kuliah." Dia terkekeh pelan, matanya menyipit jenaka, terlihat jelas sedang bermain-main denganku. "Kuharap kamu selalu berterima kasih padaku."Aku memilih diam, terlalu lelah untuk membalas sindirannya. Begitu mobil benar-benar berhenti, dan mesin sudah mati, aku langsung turun lebih dulu, berjalan cepat masuk ke dalam rumah menuju dapur. Perutku sudah berbunyi sejak tadi, rasa lapar mengalahkan rasa kesalku untuk sesaat."Ah, Nona? Selamat datang. Makan malam sudah siap," sapa salah satu pelayan begitu melihatku masuk."Wah, ada pisang goreng!" seruku girang, langsung men
"Hati-hati!" teriakku saat Malachi menahan tangan pria yang maju untuk menusukku. Satu tangannya masih melingkar di pinggangku, memberikan beberapa tepukan di perut, seakan ingin aku tetap tenang."Hah. Keparat bodoh. Kau bahkan tidak tahu postur menusuk dengan benar," komentarnya dengan nada santai."Arghh!! Brengsek kau!!"Malachi memutar pergelangan tangan pria bersenjata itu ke belakang, sampai pisaunya terlepas dan jatuh berdenting ke aspal. Satu gerakan cepat, tangannya sudah mencengkeram leher pria itu, membantingnya keras ke dinding gang.Aku bisa mendengar suara benturan kepala membentur beton, disusul erangan kesakitan.Malachi membungkuk, mengambil pisau yang tadi jatuh, lalu menghunjamkannya tepat ke dada kanan pria itu."Malachi, hentikan!!!" jeritku panik, mataku membelalak ngeri. "Tidak!! Jangan bunuh dia!"Sial. Aku tidak ingin dirinya berakhir menjadi pelaku pembunuhan. Walau di sisi lain, aku sangat ingin keparat seperti mereka mati. Malachi tidak menoleh, tangannya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.