เข้าสู่ระบบ"Coba saja untuk lari. Kamu hanyalah anak yatim piatu yang kubantu agar hidup mewah." "Melangkah masuk ke kamarmu. Malam ini, tubuhmu akan menjadi milikku." Selena, gadis delapan belas tahun tanpa keluarga dan tanpa tujuan, menerima tawaran hidup mewah dari Malachi, pria yang mengaku sebagai kakak angkatnya. Namun tidak ada yang gratis di dunia Malachi, bayarannya adalah Selena sendiri, tubuh dan jiwa gadis itu.
ดูเพิ่มเติมAku pernah terluka waktu kecil di panti asuhan, saat membantu mengiris sayur di dapur. Ibu panti saat itu menghentikan lukaku dengan menghisap darah dari jariku, tapi darah itu langsung dia buang ke wastafel, bukan ditelan seperti yang baru saja Malachi lakukan."Menjijikan! Kenapa menelan darah kotor, sih! Apa yang kamu pikirkan?!" Tanganku menepis tangannya yang masih menyentuh lututku.Aku merasa janggal, bahkan takut padanya. Dengan susah payah, tanganku berpegang pada sandaran tangga, mencoba menstabilkan diri. Malachi memegangi lenganku, kupikir dia akan membantuku berdiri. Tapi aku tidak menyangka, dia justru mengangkat tubuhku begitu saja ke dalam gendongannya.Dengan entengnya dia menaruh badanku di bahunya, seolah aku hanyalah sebuah barang."K-Kak! Apa-apaan ini?! Turunin! Aku bisa jalan sendiri!" protesku keras, sambil memukul-mukul punggungnya.Malachi sama sekali tidak terganggu oleh teriakanku, atau pukulan yang kulayangkan. Langkahnya tetap mantap sampai kami tiba di k
"Pulang. Aku mau kamu pulang."Aku tidak menyangka dia akan mengalah secepat ini. Tapi karena sikapnya sudah melunak, tidak ada gunanya memperpanjang pertengkaran."Baiklah. Ayo pulang. Maaf sudah main kabur begitu saja," ucapku sambil menatap wajahnya, meski dalam hati, aku sebenarnya tidak sepenuhnya menyesal.Malachi masih belum tersenyum, tapi rahangnya yang tadi mengeras kini sedikit melunak. Tangannya meraih pergelangan tanganku, mencium punggungnya lalu menarikku masuk ke dalam mobil. "Cepat masuk," katanya singkat.Selama perjalanan, suasana hening. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, tapi juga tidak suka kalau kami harus terus perang dingin seperti ini."Kak, nanti malam mau pesan pizza, nggak?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.Dia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. "Boleh."Aku menghela napas, menyerah untuk basa-basi lebih jauh. Saat mobil melewati deretan ruko yang menandakan kami hampir sampai rumah, mataku menangkap sebuah bimbel yang sebulan
Waktu menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Lilia berjanji akan menjemputku di rumah sekitar pukul sebelas, jadi aku harus cepat-cepat menunggu di depan gerbang."Mau pergi, Nona?" sapa salah satu pelayan yang baru pulang berbelanja kebutuhan dapur."Iya. Aku ada janji sama teman," jawabku sambil memilih sepatu.Belum sempat aku memakai sepatu, pesan baru masuk dari Lilia, memberitahu kalau dia sudah menunggu di depan rumah. Aku buru-buru memakai sepatu kets biru, lalu berlari keluar, melewati halaman luas yang selalu membuat kakiku pegal setiap kali harus berjalan sampai ke gerbang.Di sana, Lilia sudah berdiri bersama dua pria yang masing-masing duduk di atas motor mereka sendiri."Hai, Selena! Gila, bajumu cantik banget!""Hehe, makasih. Aku suka warna rambut barumu, ungu kebiruan gitu," jawabku sambil melirik ke dua pria di belakangnya."Oh, mereka. Kamu udah tahu, kan, kalau ini Nathan, pacar baruku?" Lilia merangkul lengan pacarnya, tersenyum bangga."Kalau yang satunya,
Pagi hari yang mendung, angin berhembus melalui ventilasi kamar, membuatku bergidik karena udara dingin menerpa kulit."Ehm... ngantuk banget..."Rasanya ingin tidur kembali hingga siang. Tapi aku punya janji dengan teman-teman untuk sarapan bersama di kafe yang sedang viral di kota ini."Ah, sial! Aku juga masih bertengkar sama Malachi. Males banget keluar rumah harus izin sama dia," gerutuku sambil menarik selimut menutupi wajah.Setelah lima menit berbaring, alarm ponsel berbunyi. Bodohnya, aku menaruh ponsel di meja rias, jadi mau tidak mau aku harus bangun untuk mematikannya."Tsk! Ide bodoh, menaruh ponsel di sana cuma karena takut kena radiasi."Aku melihat pantulan wajahku sendiri di cermin. Kacau. Rambut panjangku mengembang tidak karuan seperti surai singa."Sudahlah, cuci muka sama sisir rambut aja cukup," gumamku sambil meraih sisir di meja rias.Toh, porsi makanan di kafe itu biasanya kecil, dan rasanya juga tidak selalu seenak yang dibicarakan orang-orang di media sosial






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.