Mag-log inFrida sedang mengandung. Alhasil, dia menjadi kesayangan semua orang. Justru karena kabar gembira ini, suasana di dalam ruangan menjadi semakin meriah.Setelah Frida, Sonia, Kelly, dan yang lain sedang berbicara, Johan pun kemari untuk mengobrol dengan Jason.Jason bertanya, “Apa kalian berdua masih tinggal di luar? Apa ada yang menjaga Frida?”Johan berkata, “Ibuku tahu Frida lagi hamil, jadi ingin kami kembali tinggal di rumah. Tapi, Frida masih ada kompetisi pada akhir bulan ini. Kami baru akan pulang setelah Frida selesai kompetisi. Selama beberapa saat ini, aku akan menjaganya.”Jason mengerutkan keningnya. “Kenapa masih ikut kompetisi?”“Aku memang berharap dia tidak ikut tanding, tapi aku juga tidak berani bikin dia merasa tidak senang.” Johan melihat ke sisi Frida yang sedang mengobrol di area istirahat dengan sakit hati. Dia pun berkata dengan suara berat, “Jangan lihat dia baik-baik saja sekarang, tapi ketika melihat dia muntah setiap pagi, hatiku benar-benar terasa penat. Bi
“Tidak usah!” tolak Yandi dengan segera, “Aku tidak suka kucing!”Hidup matinya seekor kucing juga tidak ada hubungannya dengan dia!Rasa antusias Tasya seketika dipadamkan oleh Yandi, sementara itu dia berkata dengan yakin, “Kamu pasti akan menyukainya!”“Aku tidak akan suka!”“Pasti akan suka!”Yandi tidak berdebat hal tidak penting dengan Tasya. Dia pun langsung bungkam dan tidak berbicara lagi.Tasya malah merasa dirinya telah menang. Dia langsung tersenyum dengan gembira.Setibanya di Kasen, mereka berdua masuk ke dalam. Semua orang sedang bersorak ingin Morgan dan Theresia saling bersulang dengan menyilangkan tangan. Mereka berdua juga tidak bertele-tele, langsung meneguknya. Johan mengambil sebuah ceri, ingin mereka berdua menggigit secara bersamaan. Suasana terasa sangat ricuh.Yandi berjalan ke dalam. Johan segera menjerit, “Bos Yandi, kamu datang ambil benang!”Mereka berdua memang pernah bertengkar sebelumnya. Namun setelah itu, hubungan mereka malah lebih akrab daripada sia
Tasya berkata, “Seberang perusahaan kami ada sebuah klinik hewan. Nanti kamu bawa kucing kecil ini untuk berobat. Aku ke atas untuk cari data. Setelah aku menemukannya, aku baru akan pergi mencarimu!”Yandi melirik sekilas kardus di dalam pelukan Tasya, lalu berkata dengan nada berat, “Apa kamu mau memelihara kucing ini?”Tasya mengangguk. “Nggak mungkin aku buang juga!”Yandi tidak berbicara lagi. “Oke!”Ketika melihat Yandi menyetujuinya secara langsung, Tasya baru benar-benar merasa gembira.Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan gedung perusahaan tempat Tasya bekerja. Dia menyerahkan kotak kardus kepada Yandi, lalu menunjuk klinik hewan di seberang. “Apa kamu sudah lihat? Di sana. Biasanya tempat itu juga jadi tempat penitipan hewan ketika pemiliknya lagi bekerja. Kamu pergi dulu, aku akan cari kamu setelah mengirim data.”Yandi bertanya, “Hari ini akhir pekan. Apa ada orang di perusahaan?”Tasya tertegun sejenak. Reaksinya sangatlah cepat. Matanya tampak berkilauan. “Kenap
Perempuan yang mengenakan terusan biru kelihatan sangat muda. Dia menoleh dan menjelaskan, “Aku juga ditipu sama orang lain. Tadinya aku menghabiskan banyak uang untuk membelinya. Alhasil, mereka malah jual kucing sakit-sakitan kepadaku!”Tasya berkata dengan kesal, “Jadi, kamu mau buang kucing itu begitu saja?”Perempuan dengan terusan biru kelihatan bersalah. Dia yang malu itu langsung menjadi gusar. “Terserah aku. Itu kan hewan peliharaan yang aku beli. Kalau aku nggak mau, ya nggak mau. Apa hubungannya sama kamu? Kalau kamu berbaik hati, kamu bawa dia pulang untuk dipelihara saja. Kalau nggak mau pelihara, kamu juga nggak usah ikut campur!”Selesai berbicara, perempuan itu langsung berlari pergi.Tasya merasa kesal ingin mengejar ke sana. Dia pun ditangkap oleh Yandi. “Ada apa?” Tasya menunjuk ke sisi kotak kardus. “Dia nggak mau rawat lagi, kemudian dibuang begitu saja. Gimanapun kucing juga punya nyawa. Orang yang sok punya kasih sayang itu memang munafik!”Yandi melihat ke sisi
Orang lain yang berada di dalam lift juga merasa syok. Mereka tidak ingin membuat masalah, segera melangkah mundur. Ada dua orang datang bersama pria yang dipukul. Ketika melihat temannya sendiri dipukul tanpa membedakan benar dan salah, mereka yang berada di bawah pengaruh alkohol langsung menerjang ke sisi Yandi.“Berdiri di belakangku dan jangan bergerak!” ucap Yandi dengan suara rendah. Dia menarik Tasya ke belakang, lalu menggunakan belakang punggungnya untuk mengadang Tasya. Setelah itu, dia pun ditendang keluar.Tasya tertutup rapat di balik punggung lebar Morgan hingga nyaris tidak bisa melihat apa pun. Mendengar seruan kaget dan jeritan kesakitan dari depan, dia beberapa kali tidak tahan ingin menjulurkan kepala untuk melihat keributan itu, tetapi segera ditekan kembali oleh Morgan.Tasya berpikir, pria itu mungkin tidak ingin dirinya ketakutan, mungkin juga tidak ingin Tasya melihat sisinya yang galak dan kejam.…Lift berhenti di lantai satu. Orang-orang yang menunggu lift d
Tasya terbengong sejenak. Tatapannya tertuju pada diri pria itu. Jantungnya juga berdetak tidak karuan.Sonia juga sudah melihat Yandi. Dia memalingkan kepalanya melirik Tasya yang terbengong sejenak. Dia spontan ingin tersenyum.Yandi datang terlambat. Dia sudah menyapa Morgan, Reza, dan yang lain, kemudian duduk di antara mereka.Akhirnya Tasya merasa tenang.Ranty memberi isyarat mata kepada Theresia. “Kak Theresia sudah bisa menunjukkan kegunaannya!”Tasya segera berkata, “Lebih baik jangan. Aku sangat memahami pemikiran Bos Yandi. Lebih baik aku pelan-pelan saja!”Theresia mengangguk. “Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa segera cari aku.”Tasya berkata dengan lantang, “Tenang saja. Kita sudah sekeluarga. Aku pasti nggak akan bersikap sungkan sama kamu.”Setelah main sejenak, ponsel Tasya berdering. Dia pergi mengangkat telepon. Saat kembali, dia mencari tasnya. “Sonia, rekan kerjaku lagi dinas. Sekarang dia butuh data penting. Data itu ada di komputer. Aku mesti kembali ke perusah
Juno menyipitkan sedikit matanya. Nada bicaranya terdengar dingin. “Benar apa katanya. Persyaratan untuk bergabung ke studio cukup tinggi. Kamu juga bukan profesional. Dia tidak bisa mengajarimu!”Wajah Hallie langsung memerah. Dia pun segera menjelaskan, “Aku tahu aku bukan profesional. Aku sudah b
Mata Rose berkilat dan dia melangkah maju sambil berkata, "Aku sudah ingat. Aku tahu di mana kalungmu berada."Jedar memanfaatkan situasinya dan bertanya dengan nada serius, "Di mana? Rose, kenapa kamu tidak ngomong dari awal? Lihat, kesalahpahaman ini jadi begitu besar!"Rose menatapnya dengan ding
Rose kelihatan blak-blakan. Dia bertanya lagi, “Kamu bilang sendiri, ada hubungan atau nggak?”Devin menggigit bibir tipisnya dengan kuat, lalu berkata dengan suara serak, “Tidak ada hubungannya!”“Aku menunggu jawabanmu ini!” Rose menoleh untuk menatap Ester. “Sudah dengar belum? Kalau kamu berani
“Emm?”Rose menggigit bibirnya sembari menurunkan kelopak matanya. Dia pun berkata dengan nada rendah, “Tadi aku ketemu Matthew!”“Siapa Matthew?” tanya Juno.“Teman sekolah Devin.”Nada bicara Juno menjadi datar. “Emm, apa katanya?”“Sepertinya aku sudah salah paham sama Devin.”“Salah paham apa?”







