MasukSuara Tora terdengar buru-buru. “Kak Yandi, pihak hotel yang melakukan pembongkaran datang lagi. Mereka bahkan datang dengan alat berat, katanya mereka ingin menghancurkan rumah kami! Apa yang terjadi? Bukannya sudah sepakat untuk tidak membongkar rumah kami? Kami belum tanda tangan surat perjanjian dan juga tidak setuju dengan apa pun, kenapa mereka tiba-tiba mau membongkar rumah kami?”Raut wajah Yandi menjadi dingin, begitu pula dengan tatapannya. “Aku akan segera ke sana. Kamu halangi orang-orang yang ingin melakukan pembongkaran dulu. Jaga dirimu dan juga anggota keluargamu!”“Oke!” balas Tora dengan panik, “Aku akan diskusikan dengan mereka lagi. Semoga saja aku bisa menghalangi mereka!”“Kamu mesti perhatikan keselamatan!”Setelah Yandi mengakhiri panggilan, Tasya baru bertanya dengan kaget, “Apa yang terjadi?”Yandi menceritakan kembali apa yang terjadi.Tasya juga merasa sangat aneh. “Bukannya semua sudah selesai semalam? Apa pihak lapangan belum menerima kabar?”Yandi mengend
Tasya melirik kemari. Dia menyadari pose tidur pria itu membuat hatinya bergetar, bahkan berdetak semakin kencang. Pria itu memang terlihat menawan di mata orang yang menyukainya!Tasya naik ke atas ranjang. Dia memejamkan matanya, kemudian melebarkan matanya lagi, lalu memalingkan kepalanya menatap orang yang dia sukai. “Bos Yandi, aku ingin dengar cerita!”Yandi mengangkat kelopak matanya, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap Tasya. “Dengar cerita 229 mantan kekasihku?”Tasya memelototinya. “Kalau kamu berani menceritakannya, aku juga berani untuk mendengarnya!”“Oke!” Yandi duduk bersandar di atas ranjang. Dia terlihat sedang mengenang kembali. “Wanita pertama, aku dan dia ….”Tasya langsung menyusup ke dalam selimutnya dan menutupi kepalanya.Yandi pun tersenyum ketika menatap sosok Tasya yang menyembunyikan kepalanya seperti burung unta. Dia mengangkat tangannya untuk mematikan lampu.Hari kedua, Yandi membawa Tasya untuk menikmati pemandangan di Kota Owara. Tasya pun bermain
Tasya menatap Yandi dengan mata berkilauan. Beberapa saat kemudian, dia jadi terlihat kesal. “Justru karena aku bodoh, nggak mengerti apa-apa, makanya aku ingin tinggal di sini untuk menambah wawasanku dan belajar lebih banyak. Aku jamin aku nggak akan sembarangan petik barang lagi, oke?”Yandi menatap sosok malang Tasya. Pada akhirnya, dia pun luluh. “Gimana dengan pekerjaanmu?”“Minta cuti saja. Kebetulan aku baru menyelesaikan sebuah proyek. Oscar memang pernah bilang mau liburkan aku selama beberapa hari,” kata Tasya, “Tenang saja. Aku bukan tipe orang nggak bertanggung jawab. Pekerjaanku nggak akan terbengkalai.”Yandi juga tidak tenang untuk membiarkan Tasya pulang sendiri. “Dua hari ini kamu ikut aku saja. Jangan sendirian.”Akhirnya Tasya tersenyum. “Tenang saja. Aku malah ingin sekali bersamamu selama 24 jam.”Yandi hanya bisa terdiam. Dia tiba-tiba merasa curiga. Jangan-jangan Tasya sengaja ingin menggodanya? Dia bisa menggombal dengan mudah sekali!Namun, ketika melihat tata
Yandi langsung tersenyum sinis. Dia tentu saja tidak percaya. Dia mengambil pakaian dari lemari, lalu berkata dengan datar, “Kamu keluar!”Tasya tidak bersedia untuk berdiri. Dia bergumam, “Aku juga nggak akan ngintip. Sejak kapan aku begitu nggak tahu batasan? Kalau aku mau lihat, aku juga akan lihat secara terang-terangan!”Tasya berbicara sembari membuka pintu, berjalan ke sisi halaman.Yandi melihat bayangan punggung Tasya dengan sedikit emosi. Dia mandi dengan sangat cepat, hanya dalam hitungan beberapa menit. Setelah keluar dari kamar mandi, dia melihat ke sisi halaman, tetapi dia tidak bisa menemukan sosok Tasya.Kening Yandi sedikit berkerut. Dia berjalan ke sisi halaman dan menjerit, “Tasya!”Di luar sana ada sebuah kolam renang besar. Di tepi kolam berjajar payung matahari dan kursi santai untuk beristirahat. Di sekelilingnya hanya ada beberapa pohon hias, tidak ada apa pun lagi selain itu. Sebuah pagar besi hitam memisahkan area tersebut dari halaman kamar tamu di seberangny
Tasya menoleh untuk melirik Lecy dan Tora, kemudian dia bertanya dengan nada ringan, “Apa kamu capek? Turunkan aku saja!”“Dua jam juga bukan masalah!” ucap Yandi dengan nada datar.Tasya langsung tertawa. Dia bersandar di atas pundak Yandi, dan menyandarkan kepalanya di atas lengan kokoh Yandi. Dia jadi tidak ingin bangkit lagi.Gadis yang bersandar di punggung Yandi itu terasa sangat ringan. Karena sempat berkeringat tipis tadi, kulit halusnya terasa sedikit dingin, disertai aroma wangi tubuh sang gadis.Tasya memeluk pundak Yandi. Jarak mereka pun semakin dekat lagi. Bibirnya hampir saja menempel di atas leher si pria. Dia bertanya dengan nada rendah, “Yandi, apa kamu benar-benar nggak cinta sama aku?”Langkah kaki Yandi seketika berhenti. Suaranya terdengar agak serak dan tegas. “Tidak!"Sorot mata Tasya yang semula berbinar seketika meredup. Dia menghela napas dengan perlahan. Napasnya mengembus mengenai wajah samping si pria. Tasya berbisik, “Ya sudah kalau nggak cinta. Yang pent
“Nggak akan kelihatan karena ketutup lengan pakaianmu.” Tasya menarik tangan Yandi dan tidak bersedia untuk melepaskannya. Dia bersikeras ingin memakaikan gelang itu.Kening Yandi berkerut. Padahal dia sedang mengenakan kaus lengan pendek, bagaimana caranya bisa ketutup?Sepertinya Tasya sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah salah bicara. Dia masih memasangnya di pergelangan tangan Yandi. “Jangan bergerak!”Saat Yandi ingin mendorong Tasya, dia tiba-tiba terdengar suara Tora sedang menjeritnya di depan. Alhasil, Tasya pun sudah berhasil memasang gelang di pergelangan tangannya. Tasya bahkan berkata dengan sangat serius, “Jangan dilepas. Kalau nggak, aku akan beri tahu semua orang di dunia ini … masalah aku suka sama kamu!”Mereka berdiri di sebuah tempat lapang di pegunungan. Sinar matahari yang cerah menyinari mereka, jatuh ke sepasang mata gadis itu yang begitu hidup sekaligus penuh kasih.Nada bicara Tasya terdengar seperti sedang bercanda, tetapi tatapannya begitu serius.
“Kamu saja belum menikah. Kenapa kamu malah mengurusku?” Yandi melirik Morgan sekilas. “Kalau mau menikah, seharusnya kamu menikah duluan!”Terlihat rasa acuh tak acuh di atas wajah tampan Morgan. “Aku tidak pernah kepikiran soal menikah!”Yandi tersenyum lebar. “Aku sama sepertimu!”“Mengenai hal i
“Aku punya pemikiran seperti itu, tapi ucapanku pasti nggak sebagus kamu.” Senyuman Sonia sangat bersih dan lembut.Senyuman di wajah Reza semakin lebar lagi. Dia berdiri, lalu menarik Sonia ke dalam pelukannya, lalu memeluk Sonia dengan erat. “Kenapa kamu imut sekali?”Sonia memeluknya, lalu mengan
“Kamu jangan emosional!” ujar Yandi dengan datar, “Aku tidak menyalahkannya. Aku menyadari kalau dia bermurah hati terhadap Sonia! Aku juga punya kesalahan dan kekurangan dalam masalah waktu itu. Jadi, sudah seharusnya dia membenciku!”Tatapan Yandi berubah muram. Sebelum dia datang ke Hondura, dia
Pertempuran di luar sana berlangsung sengit, tetapi di bar lantai 22 masih dibaluti dengan kemewahan dan kesenangan. Orang-orang kelihatan tenggelam dalam kemabukan dan mimpi-mimpi indah.Kase sedang duduk di depan bar, mencoba menelepon Sonia sebanyak dua kali, tetapi panggilannya tidak tersambung.







