MasukDi dalam kamar, Shen Liu Zi masih duduk di tepi ranjang.Punggungnya tegak, tapi tidak lagi santai seperti tadi. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jari-jarinya bergerak pelan, tanpa sadar, seperti menahan sesuatu di dalam hati.Lampu minyak di meja kecil masih menyala.Cahayanya hangat, tetapi wajah Shen Liu Zi tidak lagi berseri.Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu. Masih juga tertutup, masih juga sunyi.Semakin lama, alisnya semakin berkerut tipis.Dia menunduk, tanpa sadar kembali menyentuh perutnya.“Akan terjadi perang besar,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata Yu Li.Napasnya tertahan sebentar.Bayangan buruk melintas dalam benaknya begitu saja.Beberapa detik berlalu, guntur menggelegar diikuti kilatan petir. Suara hujan jatuh pun menyusul setelahnya.Shen Liu Zi mengangkat kepala. Sorot matanya bergerak ke arah jendela.Hujan turun mendadak, deras, seperti langit pecah tanpa peringatan.Dia menarik napas panjang. Harapan yang tadi masih tersisa di wajahny
Malam itu, gerbang utama kota Kekaisaran terbuka lebar. Obor-obor dinyalakan di sepanjang jalan utama, cahayanya berderet seperti garis api yang memanjang. Udara malam di musim dingin kian menggigit, tetapi suasana kota tidak sunyi, tidak ada yang tidur. Suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Pelan lalu semakin jelas, semakin berat, semakin banyak. Dari ujung jalan, seratus pasukan Gagak Hitam muncul satu per satu. Mereka semua menunggang kuda perang. Zirah hitam menutup dada dan bahu, jubah gelap berkibar pelan tertiup angin malam. Di punggung mereka tergantung busur, di pinggang pedang, di pelana terikat tombak pendek. Wajah-wajah itu tidak muda lagi. Banyak di antara mereka memiliki bekas luka di pipi, di leher, di tangan. Menandakan pasukan ini bukan pasukan baru. Di barisan paling depan, komandan Miao Feng memimpin. Tubuhnya tegap di atas kuda hitam besar. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tenang, tapi sorot matanya keras seperti batu. Begitu pasukan memasuki pusat
Di atas ranjang, Shen Liu Zi terbaring dengan tubuh lemas, tangannya terkulai di samping seperti tidak bertulang. Wajahnya pucat, napasnya pelan, alisnya sedikit berkerut seolah masih menahan rasa pusing yang belum hilang.Tabib keluarga Shang duduk di kursi kecil di sisi ranjang. Dua jarinya menekan pelan di pergelangan tangan Shen Liu Zi, matanya terpejam, wajahnya serius mendengarkan denyut nadi.Di belakangnya, kepala Xun dan Yu Li berdiri hampir berdampingan. Keduanya sama-sama menahan napas, wajah mereka tegang, tidak berani bersuara.Beberapa saat berlalu, tabib membuka mata. Anehnya, dia malah mengerutkan alis. Dia lantas menunduk lagi, memegang pergelangan tangan Shen Liu Zi lebih lama dari sebelumnya.Hening.Kepala Xun dan Yu Li secara naluriah saling melihat sepersekian detik. Lalu, tiba-tiba saja mata tabib itu melebar! Tangannya berhenti sejenak di udara, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan.Dia sampai kembali menempelkan jarinya ke pergelangan
Gerbang selatan kota Kekaisaran terbuka perlahan. Kayu tebal setinggi dua manusia itu bergerak berat, menimbulkan suara panjang yang menggema di sepanjang tembok kota. Drap! Drap! Nyaris bersamaan dengan itu, kereta kuda milik jenderal Shang memasuki kota, diikuti satu gerobak barang besar di belakangnya. Karung beras, keranjang buah, sayur kering, dan berbagai hadiah dari penduduk Baishan bergoyang pelan setiap roda melewati batu jalan. Orang-orang di gerbang langsung menepi. Beberapa penjaga memberi hormat tanpa diminta. Di dalam kereta, jenderal Shang menutup bukunya. Tatapannya keluar sebentar, lalu dia berkata pendek, “Putar ke arah barak.” Kusir langsung menarik tali kekang. “Hya!” Kereta berbelok ke arah barat, menuju barak pasukan Kekaisaran. Tak lama kemudian, suara latihan mulai terdengar dari kejauhan. “Hah!”
Pagi hari berikutnya. Alun-alun kota Baishan sudah penuh sesak bahkan sebelum matahari naik tinggi. Kabut tipis pagi masih menggantung di udara, tetapi keramaian manusia membuat suasana terasa panas dan gaduh. Pedagang, warga, pengemis, sampai penjaga kota semua berkumpul di satu tempat, berdesakan, saling dorong, saling bertanya. Di tengah alun-alun berdiri tiang kayu tinggi yang biasanya dipakai untuk menggantung pengumuman resmi. Namun hari ini, yang tergantung di sana bukan papan pengumuman. Melainkan tubuh gempal bupati Da Tong! Tubuhnya diikat menggunakan rantai besi di kedua tangan, kepalanya terkulai ke samping, ditambah bertelanjang dada. Perutnya robek panjang dari bawah dada sampai pusar, luka itu sudah mengering tetapi masih terlihat jelas, membuat isi perut yang pernah terburai meninggalkan bekas gelap mengerikan. Beberapa wanita langsung menutup mulut. Seorang anak kecil menangis ketakutan. Beberapa pria mundur dua langkah dengan wajah pucat. Bisikan mulai terde
Di paviliun kota Baishan. Lampu minyak di kamar inap jenderal Shang masih menyala redup. Kelambunya setengah terbuka, kain tipisnya bergoyang pelan setiap kali ada pergerakan di ranjang. Di atas ranjang besar itu sendiri, jenderal Shang berbaring telentang dengan santai. Kedua tangannya dilipat di bawah kepala, dijadikan bantal sendiri, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa membuatnya gelisah. Di atas tubuhnya, Shen Liu Zi tengkurap. Tubuhnya yang langsing menempel di perut jenderal, kedua tangannya bersedekap di atas dada pria itu seperti sedang memeluk bantal hangat. Dengan suara manja seperti anak kecil yang sedang merajuk, dia berkata pelan, “Sebelum kembali ke rumah, aku ingin beli manisan.” Jenderal Shang berkedip sekali. Tanpa berpikir, jawabannya keluar datar. “Aku belikan.” Shen Liu Zi langsung melanjutkan, sambil terus menatap jenderal. “Aku juga mau daging semur Bos Changyi.” “Aku belikan.” “Mau tiga tang hu lu.” “Aku belikan.” “Pangsit Paman Guo.







