LOGINHubungan Syifa dengan Aryo berjalan baik. Tidak berbeda jauh dengan pasangan kekasih lainnya, mereka harmonis dan saling mengasihi. Kisah mereka awalnya terjalin tidak sengaja. Aryo yang mendekati Syifa adalah anak rumahan yang tidak mempunyai gambaran tentang dunia luar secara luas terlebih dulu. Latar keluarga Syifa yang terpandang dan mapan awalnya menjadi alasan Aryo mendekat. Berpikir Kekayaan keluarga Syifa bisa mengubah hidupnya. Syifa bukan perempuan yang sulit didekati, polos dan pemalu, memuluskan jalan Aryo. Saat semua rahasia Aryo terungkap, akankah Syifa tetap memilihnya? Sanggupkah Aryo berubah demi nama cinta?
View More"Gimana penampilanku?"
"Baik, mau kemana? Ada cowok yang kamu suka?" Syifa tersenyum malu kearah sahabatnya, Maya. "Aku lagi suka sama cowok yang di tempat kursus. Papa lagi suruh aku pelajari tentang saham, padahal aku sama sekali nggak ada minat kearah sana." "Bagus ada yang kamu pelajari bukan hanya psikologi aja, kamu nggak cocok jadi psikolog." Syifa mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat Maya berulang kali "Udah, aku berangkat." "Cowoknya cakep nggak?" tanya Maya dengan nada menggoda. "Biasa, kamu tahu kalau aku nggak pernah lihat wajah. Buat aku terpenting hatinya bukan lainnya." "Duit juga kali, Syif." Maya menggelengkan kepalanya "Udah sana...aku juga mau siap-siap ke tempat kerja." Lahir dari keluarga pebisnis, papanya adalah perintis di dunia kontraktor dan perusahaannya sekarang sudah terkenal di kalangan kontraktor sendiri dan masuk dalam pemerintahan. Tidak ada yang mempunyai jiwa kearah sana diantara saudaranya, termasuk dirinya sendiri. Setidaknya papanya memiliki karyawan kepercayaan, karyawan yang bisa diandalkan dan menjadi kaki tangannya. Menghela napas panjang saat mobil sudah berada di tempat parkir salah satu bank, dimana didalamnya ada tempat mempelajari saham. Syifa tidak tahu alasan dibalik papanya meminta belajar tentang saham, walaupun tahu jika papanya sudah memasukkan beberapa nominal uang untuk bermain saham. Jiwa bisnisnya akan selalu datang setiap melihat peluang sekecil apapun, walaupun Syifa sendiri tidak terlalu paham. "Kosong?" Syifa bertanya sopan pada salah satu gadis yang duduk sendiri. "Kosong, silakan. Rania." "Syifa." Syifa membalas uluran tangan Rania dengan senyum lebarnya "Baru?" Rania menganggukkan kepalanya "Kayaknya nggak banyak yang ikut." "Kayaknya gitu." Mereka memilih diam karena tidak tahu harus berbicara apa, beberapa orang masuk dan kelas dimulai. Syifa mencatat apa yang diajarkan dan mungkin hanya sebagai catatan tidak lebih, dimana tidak akan membuka catatan itu sampai kapanpun. Tepukan di bahu membuat Syifa menatap ke belakang, tampak cowok yang ingin berbicara dengannya. "Kamu sudah dapat kelompok?" Syifa mengerutkan keningnya "Kita berempat jadi satu kelompok, gimana? Aryo. Dia Ranu." Syifa menatap cowok satunya yang mengulurkan tangan. "Syifa dan Rania." Syifa menerima uluran tangan mereka dan memperkenalkan Rania yang disampingnya "Kita satu kelompok?" Aryo menganggukkan kepalanya "Ran, gimana?" "Terserah, aku ngikut." Berempat mulai membahas tentang tugas yang diberikan, mereka diminta membuat akun untuk bisa masuk dalam program belajar saham. Kelompok dibuat agar mereka bisa diskusi tentang keadaan ekonomi secara global dan dalam negeri, selanjutnya mereka memutuskan untuk membeli saham dari perusahaan apa beserta alasannya. Syifa sedikit malas jika harus membaca tentang berita global dan dalam negeri, dimana artinya harus sering berbicara dengan papanya tentang hal ini. Syifa bukan tidak suka atau tidak pernah berbicara dengan papanya, hanya saja topik ini adalah hal yang sangat dibenci dan alasan dirinya mengambil psikologi agar pembahasan dengan papanya bisa beraneka bahan. "Sebenarnya bagus kamu ambil ini, hubungannya dengan psikologi ada." Aryo membuka suara saat mereka hanya berdua. "Apa hubungannya?" Syifa mengerutkan keningnya. "Kondisi psikologis orang tersebut saat mengambil keputusan membeli saham perusahaan A, tapi setelah berapa lama ternyata perusahaan itu nggak mendapatkan untung malah rugi." Aryo mengatakan dengan nada serius. "Kamu kayak ahli banget tentang saham, kamu suka dengan dunia ini?" Aryo menganggukkan kepalanya "Aku pengen jadi broker kayak yang di WTC gitu, tahu kan filmnya?" Syifa menggelengkan kepalanya "Kamu tonton dulu aja baru kita bahas." Syifa akan menonton film tentang broker nanti, nanti yang tidak tahu kapan. Mereka memilih membahas hal lain sampai jam pulang dimana langit sudah berganti warna, melangkah berempat menuju tempat parkir. Langkah Syifa dan Aryo sedikit menjauh dari kedua temannya, pembicaraan mereka semakin menarik dan dalam. "Mau lanjut atau udahan?" tanya Aryo yang membuat Syifa menatap langit. "Lanjut? Nggak papa?" "Aku nggak masalah, kamu gimana? Siapa tahu dicari sama mama papa." "Ih...aku udah dewasa." Syifa mengerucutkan bibirnya. "Dewasa? Yakin? Lanjut dimana? Aku nggak bawa kendaraan, tadi diantar sama adik karena motor cuman satu." Syifa tahu harusnya tidak semudah itu percaya pada lelaki, tapi tidak tahu kenapa dirinya bisa dengan mudah langsung dekat dan nyaman dengan Aryo dan seketika mempercayainya. Mereka menggunakan mobil Syifa dengan dirinya yang menyetir, memilih cafe yang tidak terlalu jauh dari tempat kursus, selama perjalanan selalu saja ada hal yang mereka bahas. Aryo bisa membuat Syifa seketika tertarik dengan saham, padahal ketika berbicara dengan papanya sama sekali tidak ada ketertarikan sama sekali. Hal yang membuat Syifa tertarik adalah cara Aryo yang seakan memahami tentang saham adalah hal menyenangkan, terutama ketika mengetahui perkembangan dunia dimana bukan hanya ekonomi tapi keseluruhan. "Kamu ini anak teknik tapi paham banget, mulai selesai kursus terus perjalanan bahkan di cafe ini kamu mengemas cerita dengan sangat menarik." Syifa mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. "Memang anak teknik nggak boleh tahu tentang saham?" "Nggak juga, aneh aja. Memang yang buat kamu tertarik itu hanya ingin jadi broker? Pasti ada alasan lainnya." "Alasannya ya itu. Tante aku yang dukung keinginanku ini, dia yang biayain." "Kuliah kamu?" "Biaya kuliah nggak terlalu mahal, kuliah di negeri biayanya nggak sebesar swasta. Sekarang udah lulus secara otomatis harus mulai cari uang sendiri." Aryo menjelaskan keadaannya yang diangguki Syifa "Kamu enak semua sudah terpenuhi. Kamu harusnya bersyukur karena papa kamu masih biayain. Beda sama aku yang anak cowok, harus bisa cari uang sendiri setelah lulus ini." "Kamu tinggal dimana? Masih rumah orang tua, kan?" Aryo menganggukkan kepalanya "Ya, belum bisa kalau tinggal sendiri." Pembicaraan mereka terus berlanjut sampai melupakan waktu, bisa saja terus berlanjut jika ponsel Syifa tidak berbunyi dimana sang mama menanyakan keberadannya dan membuat mereka memutuskan mengakhiri pertemuan dan berjanji akan bertemu besok. Syifa seketika merasa nyaman berada dekat dengan Aryo, meskipun mereka baru bertemu beberapa jam. Syifa seakan mendapatkan teman diskusi yang bisa membuka pikiran dan pandangannya terhadap saham, mungkin kedepan akan ada topik pembahasan dengan papanya tentang saham. "Kita ketemu lusa," ucap Aryo yang diangguki Syifa "Hati-hati di jalan." Pertemuan pertama dengan pembicaraan serius, belum pernah Syifa alami selama ini. Pria-pria dari masa lalunya tidak pernah membahas hal yang terlalu serius, biasanya mereka akan membahas hal ringan, semua itu lebih karena Syifa yang malas. Aryo adalah pria pertama yang membuat Syifa tertarik membahas hal yang berhubungan dengan keuangan dan keadaan global, walaupun dirinya masih meraba dengan bekal mengingat apa yang dikatakan papanya. "Gimana semalam? Suka kamu disana? Apa ada yang dipelajari?""Terima kasih bapak mau invest disini." "Saya percaya sama kamu, jangan buat saya rugi." Aryo menganggukkan kepala mendengar permintaan pemilik tempat gym "Yo, saya mau kamu jadi trainer khusus seseorang, dia bilang kenal kamu dengan baik." Aryo mengerutkan keningnya "Siapa, pak? Saya nggak tahu dan ingat, maaf yang saya latih bukan satu dua orang." Nanda menganggukkan kepala "Saya sempat cek data dia disini dan tidak pernah menjadi trainee disini, makanya saya tanya terlebih dahulu kamu gimana? Namanya...Neni."Aryo membelalakkan matanya, wanita itu tidak menyerah sama sekali "Apa bapak akan marah kalau saya menolak?" "Kenapa? Kasih saya alasan. Kamu kenal sama dia?" "Ya. Saya tidak mau berhubungan dengan dia lagi, saya tidak mau menyakiti orang terutama kekasih saya." Aryo mengatakan dengan nada tegasnya."Kamu benar menolak?" Nanda memastikan dengan menatap dalam Aryo."Ya.""Baiklah, saya akan
"Nikah? Aryo? Yakin?" "Kenapa gitu reaksinya, om? Om tahu kalau hubungan ini serius, terus kenapa kaget begitu?" Syifa langsung menuju ke rumah Teddy setelah mengantarkan Aryo ke tempat gym, gagal melakukan olahraga bersama tidak membuat mereka tidak bertemu. Syifa membutuhkan seseorang untuk diajak berbicara, Maya sudah bekerja yang tidak tahu dimana sekarang, sedangkan Indah jelas tidak bisa diajak bicara karena lambatnya dalam berpikir. Syifa jelas tahu apa yang dilakukan salah dimana Teddy bukan orang yang tepat dengan masa lalu mereka, padahal Aryo sendiri sudah tidak berhubungan dengan Neni."Kamu tahu kalau dia...""Aku tahu dan sangat ingat, lalu? Semua punya masa lalu om, aku terima dia artinya menerima semua. Om juga begitu sama tante, bukannya lebih baik om harus memutuskan masa depan pernikahan kalian, memang om nggak kasihan tante?" "Kamu tahu kalau aku bertahan agar dia nggak menggoda Aryo dan akhirnya kamu tersakiti."
"Aku nggak marah sama kamu, aku kesal sama cewek itu. Apaan sok-sokan kamu adalah calon kakak ipar yang diharapkan, padahal kakaknya punya cewek lain. Dia nggak menghargai kekasih kakaknya, kalau Aldi begitu sudah kupukul kepalanya.""Kamu bisa dapat omelan dari ibu," ucap Syifa menggoda Aryo yang menatap tajam."Sayang, aku serius ini. Kamu malah bercanda." Aryo memberikan tatapan kesalnya."Aku juga nggak ngomong sama dia.""Ada aku makanya kamu nggak ngomong sama dia, coba nggak ada pastinya kalian bakal ngobrol karena apa? Karena adiknya semangat buat dekatin kalian lagi!" "Penting yang dapat lampu hijau dari papa itu kamu bukan dia, sayang." Syifa menyandarkan kepala di bahu Aryo "Aku nggak mau kita tengkar masalah nggak penting, sekarang kita fokus sama acara pernikahan.""Kayaknya kamu harus pulang kalau nggak mau ikut aku." Aryo mengingatkan Syifa yang seketika cemberut "Gimana?""Aku malas ikut kamu."
"Kenapa cemberut? Jarang loh kita keluar dari pagi begini, sayang. Kamu mau kemana? Senam? Kita ke tempat gym aja gimana?" "Nggak mood. Kamu kemarin kenapa setuju ngajak orang tua kerumah? Memang kamu siap sama pernikahan?" "Aku lupa kasih tahu kamu kabar baik. Setelah kamu sampai rumah dan aku mau pesan kendaraan online calon nasabah atau orang yang aku temui bilang mau transfer, bukan hanya seratus tapi dua ratus. Aku langsung kerumahnya buat tanda tangan segala macam, untungnya aku selalu bawa berkas kerjasama.""Serius? Wah...selamat..." Syifa memeluk Aryo erat, tidak lupa mencium pipi berulang kali "Terus kenapa langsung setuju? Kita setidaknya bisa ngomong dulu, aku kan pengen dilamar romantis."Aryo tertawa mendengar kalimat Syifa, mencubit hidungnya gemas "Bilang kalau mau begitu, sayang. Aku nggak ahli buat begituan, jadi kapan kita mulai bahas masalah pernikahan? Kamu maunya gimana?""Bahas dimana? Tempat gym? Nggak mau aku."
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.