LOGINArumi Atmodjo seorang wanita muda yang sedang menghitung hari Pernikahannya dan merasa mimpi hidupnya akan segera tercapai, Namun, langit runtuh dalam semalam ketika ayahnya, Pak Broto, terjerat skandal korupsi besar yang membuat seluruh aset keluarga terancam disita. Dlm keputusasaan untuk menyelamatkan harta dan menghindari kemiskinan mendadak, Pak Broto melakukan langkah gila yang tidak masuk akal bagi Arumi: ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Pak Darman, seorang pria tua miskin yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai tukang kebun di rumah mereka. Pernikahan ini semata-mata sebagai tameng hukum agar aset-aset berharga bisa dialihkan atas nama Pak Darman seseorang yang dianggap bersih dan tidak dicurigai oleh pihak berwenang.
View MoreWajah yang biasanya merah segar dan penuh percaya diri itu kini pucat pasi. Dasinya sudah longgar, dan langkahnya tampak goyah.
"Papa? Papa tidak apa-apa?" tanya Arumi, meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang agak keras. Pak Broto tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk di kursi rotan di depan Arumi, menatap kosong ke arah taman. "Arumi... Kevin sudah pulang?" suaranya parau, jauh dari nada berwibawa yang tadi siang ia pamerkan. "Sudah sejam yang lalu, Pa. Ada apa? Wajah Papa menakutkan sekali," Arumi mulai merasa tidak nyaman. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Belum sempat Pak Broto menjawab, asisten pribadi sang ayah, seorang pria kaku bernama Pak Hendra, datang dengan langkah terburu-buru. Ia memegang tablet yang menampilkan grafik saham dan beberapa portal berita yang baru saja meledakkan kabar buruk. "Tuan... mereka sudah bergerak. Rekening perusahaan di Singapura sudah dibekukan oleh otoritas. Dan... surat panggilan dari Kejaksaan Agung sudah sampai di gerbang depan," lapor Pak Hendra dengan suara rendah namun tajam. Arumi mengerutkan kening. "Panggilan? Kejaksaan? Maksudnya apa, Pa? Ini pasti salah paham, kan? Perusahaan kita tidak pernah ada masalah." Pak Broto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Ini bukan salah paham, Arumi. Rival bisnis Papa... mereka menjebak Papa dalam kasus aliran dana proyek pemerintah yang tahun lalu. Dan yang paling buruk, mereka mengincar aset rumah ini dan seluruh harta atas nama Papa." Dunia Arumi seolah berputar. "Harta? Tapi... pernikahanku dengan Kevin? Kita sudah bayar semua vendor, Pa! Gaun pengantin, gedung, semuanya!" "Arumi, dengar!" Pak Broto memegang bahu anaknya dengan gemetar. "Jika ini terus berlanjut, besok pagi rumah ini akan dipasangi garis polisi. Semua aset Papa akan disita negara. Kamu dan Papa akan tidur di jalanan. Kevin... keluarganya sangat menjaga reputasi. Kalau mereka tahu kita sedang dalam penyelidikan korupsi, mereka akan membatalkan pernikahan itu dalam sekejap!" "Tidak mungkin! Kevin mencintaiku!" Arumi berdiri, suaranya melengking karena panik. "Kita harus cari pengacara, Pa! Gunakan uang kita!" "Uang yang mana, Arumi? Semuanya sedang dipantau!" potong Pak Broto putus asa. Di tengah kebingungan dan teriakan tertahan di teras itu, Pak Darman lewat sambil membawa selang air untuk menyiram tanaman sore. Ia melihat pemandangan itu dari kejauhan. Wajah majikannya yang hancur dan Arumi yang tampak seperti burung merak yang kehilangan bulunya. Pak Hendra, sang asisten, tiba-tiba menatap Pak Darman, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Pak Broto. "Tuan, hanya ada satu cara hukum untuk mengamankan aset utama dan mengalihkan perhatian penyidik. Kita butuh seseorang yang benar-benar bersih, orang luar yang tidak punya catatan keuangan sama sekali, untuk 'menampung' status kepemilikan melalui ikatan yang sah secara hukum." Pak Broto menoleh ke arah Pak Darman. Matanya yang tadinya penuh keputusasaan kini berkilat dengan ide yang mengerikan. "Maksud Papa apa?" tanya Arumi, nafasnya memburu. "Siapa orang luar itu?" Pak Broto menunjuk perlahan ke arah Pak Darman yang sedang menunduk menyiram mawar. "Dia. Pak Darman." Arumi tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya dan jijik. "Pak Darman? Tukang kebun itu? Apa hubungannya dengan masalah kita, Pa? Kenapa Papa menunjuk dia?" "Kamu harus menikah dengannya, Arumi. Secara rahasia. Sekarang juga," ucap Pak Broto dengan nada mati. "MENIKAH?!" Arumi berteriak, air mata mulai menggenang. "Papa sudah gila! Aku akan menikah dengan Kevin! Aku tidak mau menikah dengan kakek-kakek kumal itu! Dia itu... dia itu cuma pembantu kita, Pa!" Di kejauhan, Pak Darman yang mendengar namanya disebut, mematikan kran air. Ia mendekat dengan bingung, wajah tuanya tampak polos dan penuh tanda tanya. "Ada apa, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" Pak Broto tidak menjawab Arumi. Ia menatap Pak Darman dengan tatapan memohon sekaligus menuntut. "Darman... aku butuh bantuanmu. Bukan untuk menyiram bunga, tapi untuk menyelamatkan nyawa anakku." Pak Darman tampak bingung, ia memandang Arumi yang menatapnya dengan kemarahan luar biasa, lalu memandang Pak Broto. "Saya tidak mengerti, Tuan. Saya cuma orang kecil..." Suasana sore itu berubah menjadi mencekam. Tidak ada solusi, hanya ada Arumi yang mulai terisak karena kehinaan yang membayanginya, Pak Broto yang terpojok oleh hukum, dan Pak Darman yang terjebak dalam masalah yang bahkan tidak ia pahami. Kevin, sang kekasih, tidak ada di sana untuk menolong, dan telepon genggam Arumi terus bergetar—mungkin dari vendor pernikahan yang meminta pelunasan, atau mungkin dari Kevin yang belum tahu bahwa dunianya dan Arumi baru saja runtuh. Suasana di teras belakang kini terasa sangat menyesakkan. Suara kicau burung sore hari yang biasanya terdengar merdu, kini justru terdengar seperti ejekan bagi Arumi. Ia mondar-mandir di atas lantai pualam dengan tangan gemetar, sementara ayahnya duduk merosot di kursi, terlihat seperti pria yang kehilangan jiwanya. "Pa, pikirkan lagi! Ini tidak masuk akal!" Arumi membuka pembicaraan dengan suara tinggi. "Kenapa harus Pak Darman? Kenapa bukan pengacara kita? Atau kenapa kita tidak minta tolong keluarga Kevin saja? Mereka punya banyak koneksi, Pa!" Pak Broto menggelengkan kepala dengan lemah. "Arumi, kamu tidak mengerti dunia bisnis dan hukum yang kotor. Keluarga Kevin itu sangat menjaga nama baik. Begitu mereka tahu rekening Papa dibekukan karena kasus korupsi, mereka akan langsung memutuskan pertunangan kalian. Papa kenal ayahnya Kevin, dia tidak akan mau berbesan dengan narapidana." "Tapi kita bisa pinjam uang mereka untuk bayar pengacara terbaik!" seru Arumi lagi. "Bukan soal uangnya, Arumi!" Pak Hendra, sang asisten, menyela dengan tenang namun tegas. "Masalahnya adalah aset. Rumah ini, vila di Bali, semua saham atas nama Tuan Broto akan disita dalam waktu hitungan jam. Jika kita mengalihkannya ke keluarga Kevin, itu akan terlihat jelas sebagai pencucian uang. Penyidik akan langsung mengendus itu."Setiap kali rasa rindu itu memuncak, Arumi harus menahannya sekuat tenaga. Ia ingin sekali menyuruh orang mencari keberadaan Pak Darman, ingin tahu apakah pria tua itu makan dengan teratur atau apakah ia merasa kesepian di masa tuanya. Namun, Arumi segera menepis keinginan itu."Tidak, Arumi. Jangan," ia mengingatkan dirinya sendiri. "Mencari Bapak hanya akan membawanya kembali ke dalam pusaran bahaya. Papa dan Kevin tidak akan tinggal diam jika mereka tahu hatiku masih tertinggal di sana."Ia sadar bahwa di usianya yang sudah senja, Pak Darman layak mendapatkan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan setelah pernikahan rahasaia demi menjaga martabat dan harta keluarga Atmodjo. Menghubunginya hanya akan menempatkan Pak Darman kembali di bawah pengawasan tajam mata-mata Kevin. Demi keselamatan pria yang ia cintai, Arumi memilih untuk menjadi orang asing yang paling setia menyimpan rahasia.Arumi mulai membangun benteng di sekelilingnya. Ia menjadi lebih waspada dan dingin. Jika dulu ia
Pagi itu, ruang kerja Pak Broto terasa lebih dingin dari biasanya. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari sebuah meja kayu jati panjang di mana dua map berwarna biru tua sudah terletak rapi. Pak Hendra berdiri di samping meja dengan pena emas di tangannya, wajahnya datar tanpa emosi, layaknya malaikat pencabut hubungan.Pintu terbuka. Arumi melangkah masuk dengan gaun hitam yang elegan namun tertutup. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sembab, meskipun ia telah menutupinya dengan riasan yang tebal. Di belakangnya, Pak Darman menyusul. Ia tidak lagi mengenakan baju tukang kebun, melainkan kemeja batik yang pernah dibelikan Arumi, batik yang sama yang ia kenakan saat mereka bangun bersama untuk pertama kalinya.Pak Broto duduk di kursinya, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kepuasan bisnis. "Kalian telah melakukan tugas yang luar biasa. Publik sudah tenang, Kevin sudah mulai melunak, dan nama baik Atmodjo pulih total. Sekarang, saatnya kita menyelesaikan admi
Di sudut gelap itu, mereka duduk bersandar pada dinding marmer yang dingin, namun hati mereka hangat. Arumi menyandarkan kepalanya di bahu Pak Darman. Ia mengeluarkan paket "pengaman" yang ia beli tadi sore dan menggenggamnya erat."Dia pikir dia sudah menang dengan memasang mata-mata," bisik Arumi lirih. "Tapi dia tidak tahu bahwa setiap jengkal rumah ini pun berada di bawah kendali Bapak."Pak Darman mencium pucuk kepala Arumi. "Biarkan dia melihat apa yang ingin dia lihat.Malam itu, ritual suami istri mereka tertunda demi keamanan, namun ikatan batin mereka justru semakin menguat. Di ruang monitor tersembunyi di kantornya, Kevin yang sedang mengamati layar komputernya mendengus kesal melihat Arumi yang tampak tidur membelakangi kamera dan Pak Darman yang meringkuk di sofa. Kevin tidak menyadari bahwa yang ia lihat hanyalah tumpukan bantal di balik selimut Arumi, sementara sang pemilik kamar sedang berada dalam dekapan pria yang paling ia benci.Mentari pagi di Jakarta kembali meny
Kevin tersenyum sinis, jarinya menyentuh permukaan sprei yang baru diganti Arumi pagi tadi. "Hanya memastikan tidak ada kuman atau... 'benda asing' yang tertinggal di sini, Arumi. Aku ingin saat aku menempati kamar ini bersamamu nanti, semuanya sudah suci."Arumi hanya terdiam, namun di dalam hatinya ia tertawa. Semua benda yang dicari Kevin tidak ada di sana. Paket itu kini aman di tangan Pak Darman, tersimpan di antara bau tanah yang dibenci Kevin.Setelah Kevin pergi dengan perasaan puas karena tidak menemukan apa pun, malam kembali menyelimuti rumah itu. Pak Darman masuk ke dalam kamar saat Arumi baru selesai mandi. Ia mengeluarkan paket kecil yang masih terbungkus rapi dari balik bajunya."Ini yang kamu cari, Arumi?" tanya Pak Darman lembut.Arumi menghela napas lega dan menerima paket itu. "Bapak menyelamatkan kita lagi. Kevin benar-benar sudah gila, dia mulai memeriksa setiap jengkal ruang pribadiku."Pak Darman duduk di sofa, menatap Arumi dengan pandangan protektif. "Dia mera












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.