LOGINBintang menghampiri meja Freya dengan wajah prihatin. Freya sedang membenamkan wajahnya di antara tumpukan map dengan helaan napas yang terdengar berat, lebih mirip seperti kerupuk layu. Bintang menggeser kursi dan duduk di samping Freya, lalu menepuk-nepuk bahu Freya dengan pelan. "Fre... kamu masih hidup, Kan?" tanyanya setengah bercanda.Freya hanya menggumam tidak jelas tanpa mengangkat wajahnya dari meja. Tenaganya benar-benar terkuras habis hanya untuk mengejar deadline grafik yang diminta Arya tadi."Gila ya si Pak Arya itu," gerutu Bintang sambil menggelengkan kepala. "Hari pertama, Fre! Hari pertama! Dan dia langsung kasih kamu tumpukan laporan yang tebalnya sudah mengalahkan skripsi. Kenapa dia bisa sekejam itu sih?"Freya akhirnya mengangkat kepala, rambutnya sedikit berantakan dan matanya nampak kuyu. "Bukannya dia emang seperti itu dari dulu?"Bintang memutar kursinya, menghadap ke arah ruangan Arya yang tertutup rapat. "Tapi bukannya Pak Arya itu sedang amnesia? Ish, ap
Di hari pertama kerja, Arya sudah menunjukkan profesionalisme kerja yang luar biasa. Walaupun sesekali dia terlihat gugup saat menatap tumpukan berkas namun insting kepemimpinannya tetap tajam.Kabar mengenai amnesia yang menimpa Arya sudah tersebar di kalangan staf inti, sehingga semua orang bersikap sangat suportif.Namun yang paling tidak bisa dihindari adalah aura Arya. Dengan kemeja yang pas di tubuh atletisnya dan wajah yang terlihat lebih matang, Arya langsung menjadi pusat perhatian. Para staf wanita muda sering kali kedapatan sengaja melewati ruangannya hanya untuk mencuri pandang pada sang manajer baru yang dingin tapi mempesona itu.Sementara itu, Freya sedang merapikan meja kerjanya saat kedatangan seorang wanita dengan kacamata berbingkai kotak berjalan menghampirinya sambil membawa dua cup kopi."Wah, wah... sepertinya penglihatanku belum rusak. Ini benar-benar Freya, kan?"Freya mendongak dan matanya membelalak. "Bintang?"Siapa yang menyangka kalau Bintang yang dulu se
Pagi itu suasana di rumah Bambang Bintara terasa cukup sibuk. Di meja makan, Freya dengan telaten menemani Aksa yang sedang menikmati sereal favoritnya. Fokus Freya sepenuhnya tercurah pada sang buah hati, memastikan Aksa merasa nyaman dan bersemangat untuk memulai hari pertamanya menjalani home schooling.Keputusan home schooling ini diambil atas saran Bambang karena Aksa sempat mengalami trauma mendalam akibat perundungan di sekolah sebelumnya. Freya ingin memastikan bahwa kali ini, Aksa bisa menjalani homeschooling dengan nyaman nantinya.Namun, saking asyiknya mengobrol dan menyemangati Aksa, Freya tidak menyadari jarum jam terus berputar. Saat dia melirik jam dinding, matanya membelalak."Astaga, Aksa! Ibu udah hampir telat!" seru Freya panik. Dia mencium kening Aksa dengan terburu-buru, lalu menyambar tas kerja dan blazer-nya yang tersampir di kursi.Sebelum itu, ponsel Freya berdering panjang di dalam tasnya. Sembari berlari kecil, Freya menerima telepon yang ternyata merupakan
"Kamu yakin ingin beli di sini?" tanya Freya memastikan."Kenapa? Emang ada peraturan dimana aku gak boleh beli disini?" Arya mengangkat dagunya tinggi dan melipat kedua tangannya di depan dada."Kamu ingin beli kemeja lagi? Di sini kan hanya menyediakan pakaian khusus setelan kerja," balas Freya."Iya," jawab Arya singkat. "Aku akan mulai bekerja di kantor cabang besok lusa. Aku butuh pakaian baru."Freya menaikkan sebelah alisnya. "Kemeja baru? Di lemarimu ada seenggaknya tiga puluh kemeja kerja yang masih sangat bagus, bahkan beberapa masih ada label harganya. Kamu gak butuh yang baru, Mas.""Aku gak suka warna sama modelnya," debat Arya tak mau kalah. "Terlalu kaku dan kurang fashionable."Freya mengerutkan bibirnya. Sejak kapan Arya menjadi sangat memperhatikan warna dan model kemeja?Ah, Freya lupa. Arya di depannya ini kan sedang menjadi remaja labil yang mungkin sangat memperhatikan gaya dan penampilannya."Tapi itu namanya pemborosan, Mas."Arya mendecakkan lidahnya kesal. "K
Melihat kakeknya yang masih keras kepala, Dikta melangkah mendekat. Dia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Bambang dan membisikkan sesuatu hingga Freya tidak bisa mendengarnya. "Kek, biarkan aku mengawasi Arya dari dekat. Kakek tahu sendiri kan gimana kerasnya Arya pada Freya sekarang? Kalau sampai itu terjadi, Arya hanya akan membuat Freya semakin menjauh dan bisa dipastikan ingatan Arya akan semakin lama memulih. Berbeda kalau aku ada di sana, aku bisa menahan temperamen Arya kalau dia mulai meledak." Bambang terdiam. Dia menatap Dikta dengan tatapan ragu, mengira-ngira barangkali ada motif lain di balik kata-kata cucunya itu. Ada keraguan besar yang terpancar, namun dia juga tahu bahwa Dikta adalah satu-satunya orang yang bisa mengimbangi keras kepalanya Arya untuk saat ini. Setelah keheningan yang cukup lama, Bambang menghela napas panjang. Dia menatap Freya, lalu kembali ke Dikta. "Baiklah," ucap Bambang akhirnya dengan suara berat. "Kamu boleh ikut ke kantor cabang.
"Lalu apa Mas Arya akan baik-baik saja?" Freya menatap Dokter dengan cemas."Tenang, Bu. Saya sudah memberikan suntikan untuk meredakan peradangan pada saraf kepalanya," balas Dokter, mencoba menenangkan. "Sekarang Pak Arya sedang tidur. Lebih baik, biarkan beliau untuk istirahat sejenak."Freya terdiam sembari menatap dokter yang berlalu pergi melewatinya."Ini semua salahku, Freya," ucap Bambang dengan suara serak.Freya menoleh ke arah Bambang dan menemukan kedua mata pria tua itu yang berkaca-kaca dan terlihat rapuh, sangat berbanding jauh dengan profil tegas dan penuh wibawa yang dimilikinya dulu."Aku minta maaf, Freya. Aku yang membuat hidup kalian menjadi serumit ini. Kalau saja aku lebih bijak dulu, mungkin saat ini kalian sedang merayakan ulang tahun pernikahan kalian dengan tawa.""Sudahlah, Kek," bisik Freya lembut, mencoba menenangkan pria tua itu. "Semua udah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan Mas Arya."Bambang mengusap sudut matanya dengan punggung tan
Setelah langkah kaki Arya menjauh dan pintu ruangannya tertutup dengan dentuman pelan, suasana di sekitar meja Freya mendadak terasa hampa. Pertahanan yang dia bangun seperti benteng kokoh, runtuh seketika dalam satu hembusan napas panjang.Freya terdiam, jemarinya yang tadi menari di atas ke
"Tenang aja, Bin. Aku gak ada masalah apa-apa sama dia," jawab Freya dengan santai. Tak mungkin baginya menceritakan yang sebenarnya pada Bintang."Ya terus ngapain dia nyamperin kamu? Mukanya galak banget lagi. Dia bahas soal Pak Arya? Atau dia ngancem kamu soal saham ayahnya?"Freya mer
"Jogja, Bu. Pak Baskoro punya banyak lahan dan proyek pariwisata berkelanjutan di sana. Beliau ingin aku memimpin tim di sana. Kita bisa pulang ke kota kelahiran Ayah. Kita bisa cari rumah yang tenang, dan yang pasti... jauh dari perusahaan Bintara."Mendengar kata "Jogja", air mata Dina perl
Pagi yang cerah kembali datang. Di ruang rapat, Pak Baskoro duduk di kursi utama dengan wajah yang selalu tenang namun penuh wibawa. Freya berdiri di depan, mengenakan kemeja formal yang kontras dengan wajahnya yang masih sedikit pucat. Di sampingnya, Bintang memberikan dukungan moral dengan anggu







