Share

Part 3

Usai makan perempuan hamil itu langsung masuk ke kamar. Hingga malam Ressa tidak mendapati sang suami menyusul ke kamar. Bahkan ia sempat ketiduran. Dengan langkah malas kakinya beranjak ke ruang tengah. Tidak ada Tian disana, di kamar sampingnya pun juga tidak ada.

Kemana perginya sang suami. Biasanya Tian akan selalu merayu saat dia marah. Ressa memeriksa garasi, kosong. Mobil Tian tidak ada. Hatinya mencelos, kemana Tian pergi tanpa berpamitan padanya. Apakah menemui Aru?

Paginya Ressa hanya sarapan roti, tidak memasak karena perutnya sedang tidak bersahabat. Lagian suaminya juga tidak ada di rumah. Makan malam kemarin masih utuh dan berakhir di tempat sampah.

Telinganya mendengar suara derit langkah kaki, Tian sudah kembali. Ia harus tetap berakting biasa saja, tidak boleh terlihat kecewa. Biar dia yang menanggung semua luka ini sendirian tanpa perlu orang lain tahu.

"Aku gak masak, mau sarapan roti?" Tawar Ressa basa-basi, mulutnya sudah gatal ingin marah-marah tapi ditahannya.

"Enggak, sudah sarapan?" Tanya Tian sambil tersenyum manis, seolah tidak masalah baru pulang pagi.

"Iya, ya sudah aku bereskan kalau kamu gak mau sarapan." Ucap Ressa tenang, meskipun dalam hatinya ingin sekali marah melihat suaminya yang tidak merasa berdosa meninggalkannya tidur sendirian.

"Aku mau mandi dulu ya?"

Ressa hanya menjawab dengan anggukan kepala. Pikirannya sudah melayang kemana-mana memikirkan Tian.

Apa Tian menginap di tempat Aru? Batinnya bertanya-tanya, bagaimana nanti nasib anak dalam kandungannya kalau Tian memutuskan menikahi kakaknya. Memikirkannya saja membuat hati Ressa tidak karuan.

***

"Sa, aku berangkat ke kantor dulu ya. Mungkin pulangnya agak malam karena lagi ada proyek baru." Tian menyempatkan mengecup kening Ressa yang sedang menyapu di teras. Istrinya ini tidak mau mempekerjakan asisten rumah tangga, padahal sudah ditawarinya berkali-kali.

"Iya, hati-hati, jangan lupa makan." Ucap Ressa lembut seraya melambaikan tangan seolah tidak ada apa-apa yang terjadi dengan hatinya.

Sampai jam sepuluh malam Ressa menunggu Tian pulang, tapi suaminya itu tidak ada tanda-tanda pulang ke rumah.

"Kamu tidur dimana lagi, apa benar di tempat Aru." Gumamnya pada diri sendiri, lagi-lagi ia tidur sendirian, suaminya itu baru menampakkan batang hidung di pagi hari.

"Dari mana?" tanyanya dingin. "Perempuan mana lagi yang kamu temui Tian," cetusnya dengan wajah tak ramah. Ternyata kesabarannya hanyalah setipis tisu yang terbagi-bagi. Ia tidak bisa bersikap tidak peduli dan membiarkan Tian memperlakukannya sesuka hati.

"Aku tidak menemui perempuan manapun, Honey," jawab Tian. Ia hanya menenangkan pikiran, melihat Ressa membuat hatinya terlampau sakit. Tapi dia tidak bisa berterus terang pada perempuannya ini. 

"Lalu kemana Tian, kamu biarkan aku tidur sendirian di rumah dan pergi tanpa berpamitan. Kamu pikir sebagai istrimu aku bisa tenang dengan semua rekam jejakmu itu." Cetus Ressa, berusaha menahan air matanya agar tidak berjatuhan saat ini juga.

"Maaf Honey," Tian mendekat dan merengkuh tubuh istrinya, "maaf sudah membuatmu tidur sendirian. Sumpah, aku tidak bertemu perempuan manapun, aku tidur di apartemen."

"Apa gunanya aku di rumah ini kalau pada akhirnya kamu tetap tidur di apartemen, Tian. Lebih baik aku yang pergi dari rumah ini," ucap Ressa lalu masuk ke kamar dan memasukkan pakaian ke dalam koper.

"Jangan pergi, Sayang." Tian menghentikan istrinya yang sedang mengemasi pakaian.

"Aku ada disini juga nggak ada gunanya!" sarkas Ressa, berpikir ulang untuk mempertahankan rumah tangganya.

"Sayang, tolong dengarkan aku." Tian membawa istrinya untuk duduk disisi tempat tidur. Menenangkan perempuan hamilnya yang sedang emosi. "Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong jangan pergi, Sayang."

Ressa menahan napas, perasaannya tidak enak. Apa Tian sudah tahu kalau memiliki seorang putri.

"Aku menjauh darimu karena merasa bersalah setiap kali berada di dekatmu, Sayang. Aku terlalu takut kamu pergi meninggalkanku Sa, janji jangan pergi setelah aku jujur ya." Mohon Tian dengan mata berkaca-kaca, sangat takut kehilangan keluarga kecil yang baru saja dibangunnya.

Ressa tahu kemana arah pembicaraan ini, itu artinya Tian sudah tahu kalau memiliki seorang anak dari perempuan lain. Tapi belum tahu kalau dia dan Aruna bersaudara.

"Aku punya anak dari perempuan lain Sa, umurnya sekarang mungkin sudah dua belas tahun." Lirih Tian yang langsung merengkuh tubuh Ressa, takut sang istri langsung kabur darinya. 

Perempuan hamil itu mengatur napasnya susah payah. Ia masih belum siap mendengar langsung pengakuan dari suaminya. Meskipun sudah tahu, tetap saja rasanya sangat menyakitkan.

"Bisa kamu menceraikan aku Tian, dan jaga anakmu itu dengan baik. Biar aku yang menjaga anak kita ini, aku tidak akan melarangnya bertemu denganmu nanti. Aku juga tidak akan menggugurkannya seperti mantan-mantanmu dulu. Aku gak akan sanggup mendengar ada berapa perempuan lagi yang melahirkan anakmu." Lirih Ressa terisak sendu, rasanya sangat menyakitkan mengatakan itu. Namun kenyataannya, Tian tidak hanya menghamili dirinya.

Apa yang sedang menghantamnya sekarang. Pasti ini doa ibu yang sedang bekerja. Mungkin ini semua hukuman buatnya karena sudah menentang ibu. Ressa menyeka air matanya lalu berusaha tersenyum manis.

"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu, Ressa!" Tegas Tian, mengambil ponsel lalu menelpon Denis agar mengirimkan orang untuk berjaga di rumahnya. Ia tidak akan membiarkan Ressa pergi walau selangkah dari rumah.

"Kamu egois, Tian." Ressa memukuli dada suaminya. "Kamu jahat, kamu ingin membuatku seperti tawanan di rumah ini."

 

"Semua aku lakukan agar kamu tetap berada di sisiku, Ressa. Biar aku jadi egois, aku tidak ingin kehilangan kamu."

"Aku mau pergi dari sini Tian, lepasin aku." Ujar Ressa memberontak, "aku gak sanggup, aku gak sanggup," lirihnya pilu.

"Tidak akan, aku tidak akan melepaskanmu Ressa!" Bentak Tian terbawa emosi, mendengar Ressa ingin bercerai darinya membuatnya hilang kesabaran. "Diam atau aku ikat kamu."

Ressa berhenti memberontak, kalau Tian mengikatnya ia tidak akan bisa bergerak bebas, kasihan janinnya.

"Berani pergi dari rumah ini aku tidak akan memberikan ampun untukmu!" Ucap Tian dingin, melepaskan Ressa dari pelukannya lalu berbaring dengan mata terpejam sambil mengatur napas agar emosinya dapat terkendali.

Ressa diam mematung melihat kemarahan suaminya. Harusnya dia yang marah, tapi sekarang kenapa malah Tian yang marah.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status