LOGINNares Maheswari, cucu tunggal keluarga konglomerat Mahesa. Saat remaja dia membawa pulang gadis kecil bernama Anya Pricilla. Anya sendiri sebelumnya hidup dengan penuh derita, dihina, direndahkan, dirundung bahkan sengaja disakiti hanya karena dia miskin. Hidup dan tumbuh bersama, Nares sangat menyayangi Anya. Hingga suatu kejadian mengerikan menimpa adik angkatnya itu. Anya dilecehkan oleh dua belas orang geng motor, hingga ia hampir gila. Nares dewasa yang terkenal dengan julukan si Raja Neraka yang kejam, kehilangan kendalinya. Dia membalaskan dendam Anya dengan kekuasaan yang dia miliki. Setelah Anya sembuh, ia menjadi gadis pendendam dingin dan tak punya belas kasihan. Perlahan perasaan yang lebih dalam tumbuh dihati Anya pada Nares yang sebenarnya sudah lebih dulu memiliki perasaan itu. Mereka berdua terlibat dalam cinta terlarang. Hingga fakta terkuak bahwa Anya ternyata adik kandung dari pria yang membuatnya dilecehkan. Akankah Anya kembali ke keluarga kandungnya? atau lebih memilih cinta terlarangnya bersama Nares?
View MoreJangan! Jangan!”
"Kalian gak bisa nyakitin aku.” Suara gadis itu pecah di tengah bangunan terbengkalai. Nafasnya memburu. Tubuhnya gemetar saat dua belas pria mengurungnya rapat. Wajah-wajah bengis itu tersenyum tanpa empati, menyeramkan. Salah satu dari mereka menirukan dengan suara cempreng. “Jangan! Jangan! Kalian gak bisa nyakitin aku.” Tawa meledak. Menggema di dinding beton. Menakutkan dan menjijikkan. “Kenapa gak bisa?” sahut yang lain. “Hah?” Gadis itu menelan ludah. Matanya liar mencari jalan keluar, tapi tak ada. “Kakakku…” suaranya bergetar. “Kakakku bakal bunuh kalian kalau berani sentuh aku.” Tawa mereka makin keras. “Kakakmu malaikat maut?” ejek seorang pria bertato di leher. “Atau cuma omong kosong?” “Udah,” potong yang paling tua. “Kebanyakan bacot bikin kuping panas. Siapa duluan?” “Gue.” Seorang pria melangkah maju. Tatapannya menjijikkan. Bibirnya basah saat dijilat perlahan. Gadis itu mundur sampai punggungnya menyentuh dinding dingin,rasa takut dan jijik membuatnya refleks meludahi pria itu saat mencoba menyentuhnya. CUIH Ludah itu mendarat tepat diwajahnya. "Jangan sentuh aku. Brengsek!" Detik berikutnya tamparan keras menghantam pipinya. Tubuhnya terhuyung. Dunia berputar. “Kurang ajar lo,” desis pria itu. Tangan-tangan mulai bergerak. Suara langkah, tawa rendah, bisikan kotor yang tak ingin ia dengar. Gadis itu menjerit, tapi suara itu tenggelam oleh kegaduhan. "Jangan!" Gadis itu melirik sudut ruangan, seorang pria tergeletak di lantai berdebu. Tubuhnya babak belur. Darah mengering di pelipis. Tangannya terikat, napasnya berat. Matanya terbuka menyaksikan semuanya. "Aldo...tolong aku" mohon gadis itu. Pria itu memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Wajahnya dingin, kosong, seolah tak ada apa pun yang menyentuh hatinya. Semua ini karena kamu berani bersaing dengan Rania. Suara itu bergema di kepala Revaldo. Wanita yang aku perjuangkan kebahagiaannya. Ia membuka mata lagi. Tatapannya kosong, tapi jari-jarinya bergetar. Tawa di ruangan itu kembali pecah. Sementara gadis itu hanya bisa merintih saat satu persatu pria itu bergiliran menyetubuhinya. Tangis tanpa suara menandakan betapa menderitanya ia malam itu. Air mata terus mengalir tanpa henti, sementara mulut sudah tak lagi mampu mengeluarkan suara. ** Seorang pria bertubuh tinggi dengan mata setajam elang melangkah keluar dari bandara. Rahangnya tegas, ekspresinya datar, tapi auranya menekan. Di belakangnya, seorang pria berjas rapi menyeret dua koper besar. Pria itu menghentikan langkahnya. Tangannya terangkat, ponsel sudah berada di telinga. Ia menekan nomor yang sama untuk ketiga kalinya. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Ia menurunkan ponselnya perlahan. Alisnya mengerut. “Ke mana dia?” gumamnya pelan. Sejak turun dari pesawat, ia melihat belasan panggilan tak terjawab dari Anya Pricilla,gadis yang paling ia sayangi. Panggilan yang datang bertubi-tubi, seolah gadis itu panik. Tapi sekarang… nomor itu justru mati. “Tuan.” Seorang sopir membukakan pintu mobil hitam berlapis kaca gelap. Pria itu masuk tanpa sepatah kata. Begitu pintu tertutup, hawa di dalam mobil seolah berubah. Mobil mulai melaju pelan. Pria itu bukan orang biasa. Dia, Nares Maheswari. Cucu pertama keluarga Mahesa. Nama yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Muda Mahesa, si Raja Neraka. Julukan itu lahir dari reputasi Nares yang tak pernah memberi ampun pada musuh. Sekali berani menyentuh wilayahnya, tak ada kata maaf. Tak ada kesempatan kedua. Tak ada pengampunan. Langkahnya cepat, tepat dan kejam terhadap musuh-musuhnya. Di kursi depan, Jhonatan asisten pribadinya menoleh sedikit melalui spion. “Tuan, kita langsung ke mansion atau...” “Gedung pentas,” potong Nares dingin. Jhon terdiam sepersekian detik. “Baik, Tuan.” Mobil berbelok tajam. Nares melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul sembilan malam. “Seharusnya belum selesai,” ucapnya lirih, lebih pada dirinya sendiri. Ia baru pulang dari New York. Kepulangan yang sengaja ia rahasiakan. Tidak satu pun pesan. Tidak satu pun panggilan. Ia ingin membuat kejutan untuk adik angkatnya, gadis yang begitu ia lindungi. Malam ini Anya tampil. Perlombaan balet yang sudah ia persiapkan berbulan-bulan. Sejak kecil, Anya hidup di dunia itu. Gerakan kaki, putaran tubuh, latihan tanpa lelah. Balet adalah dunianya. Sudut bibir Nares terangkat tipis. “Wajah kagetnya pasti lucu,” gumamnya. Jhon kembali melirik lewat spion. Ia menarik napas pelan, lalu menggeleng hampir tak terlihat. Ia tahu. Lebih dari siapa pun. Rasa sayang Tuan muda Mahesa pada Anya bukan sekadar kasih seorang kakak. Itu terlalu dalam. Terlalu protektif. Terlalu ketara meski disangkal. Nares mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari saku jasnya. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terbaring sebuah kalung berlian dengan liontin ruby merah darah. Terlihat sederhana, elegan. Tidak mencolok. Tapi jelas mahal. Kalung itu ia dapatkan dari lelang elit, dengan harga yang hanya orang-orang tertentu sanggup membeli. “Anya pasti cantik pakai ini, merah warna kesukaannya.” gumam Nares pelan. Dalam benaknya, Anya tersenyum lebar. Mata gadis itu berbinar, lalu berjinjit mencium pipinya. Makasih, Kak Ares. Anya sayang kakak. Nares terkekeh kecil, dengan khayalan yang ia karang sendiri. Tiba-tiba... BRAK! Mobil berhenti mendadak. Tubuh Nares terdorong ke depan. Kotak beludru terlepas dari tangannya dan jatuh ke bawah kursi. “Shit!” umpatan Jhon terdengar keras. Rahang Nares langsung mengeras. Ia membungkuk, mengambil kembali kotak itu, memastikan kalung di dalamnya aman. Setelah itu ia mengangkat wajahnya, tatapannya tajam. “Kenapa?,” tanyanya singkat. Jhon menelan ludah. “Tuan… ada seorang gadis. Dia menabrakkan dirinya ke mobil kita.” Nares berdecak. “Cih. Trik murahan.” Ia sudah hafal modus murahan itu. Pura-pura tertabrak, lalu minta ganti rugi. Atau lebih buruk, jebakan. “Abaikan,” perintahnya dingin. “Tapi, Tuan…” suara Jhon ragu. “Dia tergeletak tepat di depan mobil.” “Tabrak saja,” jawab Nares tanpa perubahan nada. Keputusan itu keluar begitu saja. Kejam. Seperti biasanya. Namun entah kenapa, dadanya berdetak lebih cepat. Ada rasa tak nyaman yang muncul tiba-tiba. Tidak jelas. Tidak masuk akal. Jhon menyalakan mesin kembali. “Tunggu.” Satu kata itu membuat Jhon langsung menginjak rem. Nares membuka pintu mobil. Ia turun dengan langkah santai, seolah yang ada di depannya bukan apa-apa. Sepatu kulitnya menginjak aspal basah. Jalanan gelap. Sepi. Lampu mobil menjadi satu-satunya cahaya. Ia mendekat. Lampu depan menyorot tubuh gadis itu tepat diwajahnya. Detik berikutnya, wajah Nares menegang. Langkahnya terhenti. Tubuhnya kaku, seolah seluruh tulangnya lenyap begitu saja. Napasnya tertahan. Darahnya seperti surut dalam satu waktu. ***Di depan kelas, suasana mendadak hening. Alex berdiri di depan papan tulis dengan kepala tertunduk. Tangannya saling meremas, jelas tidak nyaman. Guru kelas berdiri di sampingnya. “Alex ingin menyampaikan sesuatu,” ujar sang guru. Alex menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kiara. “Aku… aku minta maaf, Kiara,” katanya pelan. “Aku salah. Aku gak boleh ngomong jahat. Aku janji gak akan ngulangin lagi.” Kiara berdiri dari bangkunya. Wajahnya masih polos, matanya jernih. “Kiara maafin,” ucapnya lirih tapi tulus. “Asal kamu gak jahat lagi.” Alex mengangguk cepat. Namun sebelum suasana benar-benar reda, sebuah kursi bergeser kasar. Kyan berdiri. Matanya menatap Alex tajam. “Jadi kamu?” suaranya bergetar menahan marah. “Kamu yang bikin adikku sedih?” Alex menelan ludah. Kyan melangkah satu langkah ke depan. Tubuhnya kecil, tapi sorot matanya jauh dari kekanak-kanakan. “Kalau sekarang aku masih dianggap anak kecil, gak apa-apa,” katanya dingin. “Tapi kamu tunggu
Leon tidak langsung pergi setelah memastikan Kyan dan Kiara masuk kelas. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Ia berbelok menuju gedung administrasi dan berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Tok tok tok. Tanpa menunggu jawaban, Leon masuk. Kepala sekolah yang tengah merapikan berkas mendongak. “Ah, selamat pagi, Pak…?” Leon langsung meletakkan ponselnya di atas meja, menyalakan layar. “Saya mau bicara soal ini.” Video CCTV diputar. Adegan Kiara dihadang, diejek, ditertawakan. Kata anak haram terdengar jelas. Wajah kepala sekolah berubah. Ia berdehem, berusaha tenang. “Anak-anak, Pak. Biasalah… bercanda.” Leon mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya dingin. “Bercanda yang membuat anak perempuan lima tahun menangis dan trauma?” Kepala sekolah tersenyum kaku. “Kita bisa selesaikan secara kekeluargaan. Lagipula… anak-anak itu kan hanya anak dari bu Anya. Tidak perlu dibesar-besarkan.” Leon terkekeh pelan. Bukan karena lucu melainkan marah. “Dan menu
Malam itu, lampu kamar Kiara masih menyala. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi anak kecil itu belum juga terlelap. Leon berdiri di ambang pintu sebentar, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Kiara memeluk bantal kecilnya, matanya terbuka, menatap langit-langit. “Kenapa Kiara belum tidur?” tanya Leon pelan. Kiara menoleh. Suaranya kecil, hampir bergetar. “Ayah Leon… anak haram itu apa?” Leon mengernyit. Jantungnya berdetak lebih keras. “Kenapa Kiara nanya begitu?” Ia mencoba tetap tenang. Leon mengusap rambut Kiara. “Nggak ada yang namanya anak haram, Kiara.” Kiara menelan ludah. “Bukannya aku sama Kyan itu anak haram ya?” Tubuh Leon menegang seketika. Dadanya seperti diremas. “Siapa yang bilang begitu?” suaranya menurun, tertahan marah. “Kamu anak Mama. Kamu anak Ayah.” Kiara memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca. “Katanya… aku sama Kyan anak yang nggak diinginkan. Terus itu namanya anak haram.” Leon langsung memeluk Kiara erat. Ia menahan nap
Pagi itu Anya berjongkok di depan dua anak kembarnya. Kyan dan Kiara berdiri rapi dengan seragam sekolah, tas kecil menggantung di punggung mereka. Anya mengelus pipi keduanya bergantian, menahan rasa berat di dadanya. “Mama pergi beberapa hari ya,” ucapnya lembut. “Temani tante Delia,” tambahnya, mencoba tersenyum. Kiara langsung memeluk leher Anya. “Jangan lama-lama, Ma.” Kyan ikut merapat, memegang tangan ibunya erat. “Mama hati-hati.” Anya mencium kening mereka satu per satu. “Mama pasti cepat pulang.” Tiga tahun terakhir, Anya bekerja di perusahaan properti. Ia adalah sekretaris pribadi Delia, CEO tempat ia bekerja perempuan tegas yang mempercayainya sepenuh hati. Hari ini ia harus keluar kota, dan sebelumnya ia sudah menitipkan Kyan dan Kiara pada Juan dan Leon. Tak lama, Leon datang. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada menghangat. “Kamu berangkat sekarang?” tanya Leon. “Iya,” jawab Anya. “Nitip anak-anak ya.” Leon mengangguk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.