Share

19 - Interogasi

Penulis: Luna Maji
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-30 17:59:33
Lorong panjang menuju ruang pribadi Selir Ibu terasa lebih dingin dari biasanya. Kristal di dinding hanya mengeluarkan cahaya samar. Langkah Cailin bergema, diapit dua pengawas istana.

Ketika pintu berat terbuka, aroma dupa pekat langsung menyambutnya. Ruangan itu remang-remang, dengan pilar-pilar tinggi dan tirai merah tua yang bergoyang pelan. Selir Ibu duduk di kursi utama, anggun dalam jubah hitam berbordir emas. Tiga tetua duduk di sisi kanan dan kiri, wajah mereka penuh wibawa namun tatapan mereka menusuk.

“Jadi ini gadis baru dari istana timur,” suara Selir Ibu terdengar lembut, tapi dingin. “Mendekat!”

Cailin menunduk, melangkah perlahan mendekat. Ia teringat pesan Guru Fen. “Katakan kau kerabat jauhku dari selatan. Jangan sebut apapun selain Vermilion.”

Selir ibu menatap Cailin dari kepala hingga kaki lalu kembali lagi ke kepala, tepat ke mata Cailin. Tatapannya penuh penilaian. “Sebutkan nama dan asalmu!”

Cailin berdiri dengan punggung tegak, tetapi tangan mengepal tersembuny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    201 - Tandu

    Lian masih memeluk Ren.Tubuh Ren terasa semakin berat di lengannya. Dadanya naik turun pelan, tidak teratur.“Ren… jangan…” bisik Lian tanpa sadar. Tangannya gemetar menekan kain yang sudah basah oleh darah. Darah itu tidak lagi menyembur, tapi terus merembes, hangat dan pekat.Langkah kaki bergema di balik asap yang mulai menipis.Yun muncul lebih dulu, wajahnya kelam. Di belakangnya, Pasukan Bayangan kembali satu per satu. Tidak ada Rashid.“Dia lolos,” kata salah satu bayangan dengan suara tertahan amarah. “Bom asapnya bukan biasa. Aura-nya terputus total.”Yun menggertakkan gigi, tapi matanya langsung tertuju pada Ren. Wajahny

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    200 - Air? 

    Waktu seolah membeku di kamar yang hancur itu. Yun berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun menahan amarah. Di belakangnya, Pasukan Bayangan siap menerjang, tapi langkah mereka terhenti . Di tengah ruangan, Rashid menyeringai gila. Tangan kirinya mengunci leher Ren, sementara tangan kanannya menempelkan bilah pedang lengkung tajam ke kulit leher Ren. Darah segar sudah menetes, mewarnai kerah baju Ren yang kotor. Lian berdiri di sudut, angin berputar liar di telapak tangannya, tapi matanya terpaku pada leher Ren. “Minggir,” desis Rashid. “Atau kepalanya menggelinding ke kaki kalian.” Yun menggertakkan gigi. Ia menatap mata Ren. Mata itu redup, lelah, tapi tidak takut. Perlahan, Yun menurunkan tangan. Apinya padam. “Mundur,” perintah Yun pada pasukannya. “Matikan api.” “Pilihan bijak,” ejek Rashid. “Lepaskan dia,” kata Yun, suaranya bergetar menahan emosi. “Kau bisa ambil aku sebagai gantinya. Aku Wakil Komandan. Nilai tawaranku lebih tinggi daripada prajurit cacat.” Rashid

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    199 - Leher

    “Kau pikir kau siapa?” desis Rashid, suaranya rendah dan menghina.Pasir halus mulai berputar di sekeliling tubuh Rashid. Itu bukan pasir biasa, melainkan Qi Pasir tajam dari botol kecil yang menggantung di pingganggnya.Ren tidak menjawab.Ia menerjang maju. Bukan lurus, tapi zigzag.Rashid menghentakkan tangannya. Cambuk pasir melesat. Whush!Ren menjatuhkan tubuhnya, membiarkan cambuk pasir itu menghantam lemari kayu di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.Ren menyambar kayu yang patah akibat hantaman tadi, lalu melempar

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    198 - Maju Sini

    Yun berdiri kaku di ambang pintu, pedangnya terhunus. Di belakangnya, lima anggota Pasukan Bayangan menahan napas, siap menerkam.Tapi tidak siapapun untuk diterkam.Ruangan itu kosong melompong.Yun menyadarinya di detik pertama begitu kakinya menginjak lantai.Hanya ada sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Di atasnya, duduk sebuah boneka jerami kasar yang mengenakan selendang wanita. Dan tepat di pangkuan boneka itu, sebuah dupa kecil menyala, mengirimkan asap hijau tipis ke udara.“Berhenti!” desisnya.Hidung Yun menangkap bau manis yang menyengat. Instingnya berteriak sebelum otaknya memproses.“Tahan napas!&rdquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    197 - Pintu

    Kawah Vermilion Tua terbentang di hadapan Ren.Tanah di sekelilingnya hitam, kering dan retak-retak. Tidak ada bara. Tidak ada asap. Tidak ada sisa api yang bisa dibanggakan. Hanya hamparan abu vulkanik kelabu yang membeku, dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam yang menjulang seperti tulang rusuk raksasa.Ren berdiri di bibir kawah. Napasnya terdengar kasar di tenggorokannya yang kering.Legenda mengatakan, di sinilah leluhur Vermilion pertama kali mengikat perjanjian dengan Burung Api Vermilion. Dulu, tempat ini adalah lautan api abadi.Sekarang, tempat ini sunyi. Dingin. Mati.Ren mengerti kenapa ia bisa sampai di sini.Ren menuruni lereng kawah, tergelincir di atas kerikil ab

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    196 - Jalur Hantu

    Dingin.Itu adalah sensasi pertama yang dirasakan Ren. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menggigit hingga ke tulang.Selama hidupnya, tubuhnya dialiri Qi Vermilion yang bersifat Yang murni. Hujan salju, badai es, atau angin malam tidak pernah membuatnya menggigil. Tubuhnya adalah tungku abadi.Tapi sekarang, tungku itu padam.Ren merapatkan jubah abunya yang sudah robek terkena ranting berduri. Napasnya mengepul putih di udara malam yang membeku.Jalur Pedagang Hantu bukan sekadar nama. Jalan setapak ini membelah tebing curam yang tertutup lumut licin dan kabut abadi. Di sisi kirinya adalah dinding batu basah, di sisi kanannya adalah jurang gelap tanpa dasar.Kaki Ren gemetar.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status