author-banner
Luna Maji
Luna Maji
Author

Novel-novel oleh Luna Maji

Kaisar, Jangan Meminta Lebih

Kaisar, Jangan Meminta Lebih

Dibuang oleh Ibu tirinya ke hutan, Cailin bertemu dengan pria yang terluka parah. Saat ia menolongnya, justru tubuhnya menyerap energi hingga nyaris merenggut jiwanya. Yang ia tidak tahu, pria itu adalah Kaisar Spiritual, Shangkara, yang kekuatannya termasyhur. Untuk menyelamatkannya, Shangkara melakukan hal terlarang dengan memberikannya darah-nya. Tindakan itu menyelamatkan nyawa Cailin, tetapi sekaligus mengikat mereka dalam ikatan jiwa-raga yang misterius. Kini, rasa sakit, kelemahan, dan bahkan perasaan mereka saling terpengaruh. Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah melalui Ritual Penyatuan Yin-Yang—sebuah ritual sakral yang tak pernah ada berani menggunakannya. “Ritual apa?” “Ritual Penyatuan. Tidurlah denganku. Sekali saja. Maka kau akan selamat… sekaligus menjadi milikku.”
Baca
Chapter: 254 - Angin
Beberapa tahun kemudian. Kota Angin selalu lebih sejuk daripada ibu kota Vermilion. Di sini, angin tidak membawa bau logam panas atau suara rapat dewan. Ia membawa aroma rumput liar, kayu basah, sup hangat dari dapur-dapur kecil, dan tawa anak-anak yang berlarian di antara rumah. Di lereng bukit yang menghadap lembah hijau, sebuah rumah kayu berdiri kokoh, jauh dari kemegahan emas istana. Ren berdiri di halaman luas, mengenakan pakaian linen sederhana yang memudahkan geraknya. Di depannya, sekelompok remaja lokal berusaha mengikuti gerakan pedang kayunya. Ren berteriak memberi instruksi, namun ada senyum yang sering menghiasi wajahnya—sesuatu yang dulu hampir mustahil terlihat. “Pegang pedangmu dengan keyakinan,” katanya, suaranya tegas tapi hangat. “Bukan dengan ketakutan. Pedang hanya sebatas alat. Yang menentukan baik atau jahat adalah hati yang menggerakkannya.” Seorang anak laki-laki bertanya, “Guru Ren, Guru Ren, benarkah dulu Guru adalah pengawal Kaisar?” Ren terta
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Chapter: 253 - Altar
Di altar utama, Guru Fen berdiri dengan jubah putih upacara. Api suci dinyalakan.Di depan Guru Fen, Shangkara dan Cailin berdiri berhadapan. Guru Fen mengangkat kedua tangannya. ”Dengan restu langit dan bumi, dengan izin para leluhur Vermilion, hari ini kita menyaksikan penyatuan dua jiwa.”Guru Fen membuka gulungan besar. Suaranya bergema di aula hening.“Shangkara dari Klan Vermilion, Kaisar Api Abadi, pewaris takhta yang sah—”Ia membaca panjang. Silsilah. Gelar. Janji-janji formal yang sudah ditulis ratusan tahun lalu.“Apakah kau bersedia menerima Cailin dari Klan Bulan sebagai permaisurimu, mendampingimu dalam suka dan duka, dalam perang dan damai, hingga ajal memisahkan?”Shangkara menatap Cailin.“Aku tidak butuh sumpah panjang.”Guru Fen tertegun. Para bangsawan mulai berbisik.Shangkara melanjutkan, suaranya rendah tapi jelas di seluruh aula. “Aku sudah memilihmu. Sebelum perang. Saat perang. Setelah perang. Itu sumpahku.”Cailin tersenyum.Guru Fen juga tersenyum, kemudi
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Chapter: 252 - Mahkota
Istana Vermilion tidak pernah sesibuk ini.Aroma dupa pembersih ruangan bercampur dengan harum bunga-bunga pegunungan yang didatangkan khusus dari berbagai wilayah di Vermilion.Para pelayan bergerak cepat di sepanjang koridor, membawa gulungan sutra merah setinggi dada mereka. Di sudut lain, para pelayan sibuk memoles pilar-pilar aula utama hingga permukaannya bisa memantulkan cahaya spiritual seperti cermin.Di tengah hiruk-pikuk itu, Cailin berdiri mematung di dalam kamarnya.Enam pelayan senior mengelilinginya, memasangkan lapis demi lapis sutra merah berat yang disulam benang emas murni. Berat mahkota perak di kepalanya mulai terasa menekan pangkal lehernya.“Punggung harus tetap tegak, Calon Permaisuri,” bisik salah satu pelayan dengan suara tanpa ekspresi. “Dagu tidak boleh terlalu rendah, mata tidak boleh terlalu liar. Anda adalah wajah Vermilion sekarang.”Cailin menarik napas panjang, namun kain korset yang ketat membuatnya merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis. Ia men
Terakhir Diperbarui: 2026-02-26
Chapter: 251 - Pilihan
Halaman Istana Timur yang belakangan selalu sunyi, kini riuh oleh suara roda kereta yang beradu dengan batu jalanan. Puluhan kereta dengan lambang keluarga bangsawan berjajar di luar gerbang. Para gadis bangsawan berdiri dalam barisan rapi, masing-masing mengenakan jubah keluarga mereka.Dekret itu telah dibacakan pagi tadi. Istana Timur dibubarkan.Semua calon selir dipulangkan dengan kehormatan. Tidak akan ada selir di bawah pemerintahan Kaisar Vermilion yang baru.Beberapa keluarga menerima dengan wajah tegang. Beberapa terlihat lega. Beberapa tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.Lian tidak ikut dalam rombongan yang berangkat hari itu.Ia berdiri di tangga batu, memandang halaman yang perlahan kosong. Tidak ada kereta yang menjemputnya.Langkah lembut mendekat. Cailin berhenti di sisinya.“Kau tidak pulang hari ini?” tanyanya.Lian menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan menunggu kabar berikutnya sebelum berangkat. Atau mungkin aku akan pulang sendiri.”Nada suaranya tenang. Ini bukan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Chapter: 250 - Titah
Aula utama Istana Vermilion telah disiapkan.Meja panjang dari kayu hitam membentuk setengah lingkaran menghadap singgasana. Para tetua duduk dengan jubah kebesaran mereka, cincin keluarga berkilau di jari-jari yang keriput namun masih berkuasa.Di tengah meja besar, gulungan-gulungan silsilah keluarga terhampar.Tetua Hong memimpin sidang.“Kerajaan tidak boleh kosong terlalu lama,” ucapnya tenang. “Perang di barat telah usai. Justru saat seperti inilah fondasi harus diperkuat.”Ia membuka gulungan pertama. “Keluarga Wei menawarkan putri sulung mereka. Bakat elemen apinya murni, sangat cocok untuk menjaga garis keturunan kekaisaran.”Beberapa tetua mengangguk pelan. Bisik-bisik setuju mulai terdengar.Seorang tetua lain mengangguk. “Aliansi keluarga Lin akan membuka jalur tambang utara. Putri mereka sudah ada di Istana Timur sejak lama. Garis darahnya murni.”“Dan keluarga Zhen menjanjikan tiga ribu pasukan tambahan untuk pertahanan perbatasan,” timpal yang lain.Nama-nama disebut.
Terakhir Diperbarui: 2026-02-24
Chapter: 249 - Keputusan
Shangkara tidak menghadiri jamuan kemenangan.Saat rakyat Saharath mulai merayakan fajar baru mereka, ia sudah berjalan kembali menuju bunker bawah tanah.Bunker itu masih menyisakan aroma tajam obat-obatan dan sisa hawa dingin dari es Cailin saat Shangkara melangkah masuk. Langkahnya mantap, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari duel.Di dalam ruangan itu, Cailin duduk bersama Guan di samping ranjang sederhana tempat Yun terbaring.Es telah lama mencair. Hanya kain tipis yang menutup dada Yun, tempat bekas luka kecil menghitam namun bersih dari pasir.Yun membuka mata perlahan ketika pintu batu bergeser.Pandangan kaburnya menemukan siluet yang berdiri di ambang pintu.“Yang … Mulia …?”Suaranya nyaris tak terdengar.Shangkara melangkah mendekat.Ia hanya mengangguk.Yun mengembuskan napas tipis, seolah jawaban itu sudah cukup untuknya. Matanya kembali terpejam.Shangkara menoleh pada Guan.“Jaga dia.”Guan membungkuk. “Dengan nyawa saya, Yang Mulia.”Cailin bangkit perlahan. “
Terakhir Diperbarui: 2026-02-24
Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk

Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk

Adrian Montclair, miliarder terkutuk, punya waktu hingga ulang tahunnya yang ke-30 sebelum maut menjemput. Satu-satunya cara untuk mengalahkan kutukan adalah menikahi seorang penyihir. Marigold Vale setuju, tapi hanya dengan klausul tambahan yang melarang sentuhan, cinta, dan delusi romantis. Tapi yang lebih berbahaya bukan kutukan, melainkan perasaan yang tumbuh diam-diam.
Baca
Chapter: Bab 120
Lampu sorot berderet di depan podium. Deretan kamera dan kilatan flash memenuhi ruangan ballroom hotel yang disulap jadi ruangan konferensi pers. Suara riuh wartawan terdengar, semua berebut tempat untuk dapat angle terbaik.Pintu samping terbuka. Adrian Montclair melangkah masuk dengan setelan hitam yang rapi, dasi warna biru gelap, wajahnya dingin tapi mantap. Di sampingnya, Meri berjalan anggun, sederhana tapi elegan, langkahnya selaras dengan Adrian. Begitu mereka muncul, riuh suara ruangan langsung mereda—seolah semua orang menahan napas.Adrian berdiri di podium, menatap barisan kamera dengan tatapan yang tajam. Ia tidak langsung bicara. Hening beberapa detik, cukup lama untuk menegaskan bahwa dialah yang mengendalikan panggung.“Keluarga Montclair telah melalui badai,” suaranya dalam, menggema di ruangan. “Tapi malam ini, saya berdiri di sini untuk mengatakan satu hal sederhana: badai itu telah berakhir.”Flash kamera kembali menyala. Wartawan mulai berbisik.Adrian mengangkat
Terakhir Diperbarui: 2025-09-16
Chapter: Bab 119 Rapat Luar Biasa
Adrian berdiri di ujung meja. “Aku tahu siapa saja yang menjual Montclair pada Julian. Hari ini, aku bersihkan meja ini.” Lucien membuka map, menaruh di tengah. Bukti terpampang jelas. Salah satu eksekutif tergagap. “Tuan Montclair… saya—” Adrian memotong dingin. “Diam. Kau duduk di sini karena aku masih izinkan. Satu langkah salah, pintu keluar ada di belakangmu.” Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Montclair bukan milik pengkhianat. Siapa yang mau bertahan, buktikan dengan kerja. Siapa yang ragu… jangan buang waktuku.” Seorang eksekutif lain memberanikan diri. “Dan kalau kami memilih keluar?” Adrian mencondongkan badan, tatapannya menusuk. “Maka kalian akan keluar dengan tangan kosong—dan nama kalian hancur di luar sana.” Keheningan. Tak ada yang berani bergerak. Adrian menutup map dengan satu hentakan. “Mulai hari ini, aku pimpin dengan caraku. Julian sudah jatuh. Sekarang giliran siapa pun yang masih coba bermain dua sisi.” Adrian berdiri, kursinya bergeser pelan
Terakhir Diperbarui: 2025-09-15
Chapter: Bab 118 Pengungkapan
Penthouse itu sunyi. Hanya jam dinding di ruang tamu yang berdetak pelan, mengisi kekosongan malam. Meri duduk di sofa, kedua tangannya menggenggam erat mug teh yang sudah lama dingin. Ia menatap pintu lift pribadi, menunggu tanpa berkedip, seperti kalau ia mengalihkan pandangan sebentar saja, Adrian mungkin tidak akan benar-benar kembali.Ting!Denting lift terdengar. Jantung Meri berdegup kencang. Pintu terbuka, dan Adrian muncul—jasnya kusut, dasi longgar, wajahnya lelah tapi matanya tetap sama.“Adrian…” suara Meri hampir bergetar.Ia melangkah masuk, menutup pintu lift dengan satu dorongan. Pandangannya langsung jatuh pada Meri. Ada jeda singkat sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Semua selesai.”Meri bangkit, menghampirinya dengan langkah cepat. “Kau… baik-baik saja?”Adrian mengangguk kecil, lalu meraih tangan Meri, seakan hanya itu yang menahannya tetap berdiri. “Julian sudah ditangkap. Tapi, Meri…” ia menarik napas panjang, “…ada hal lain yang harus kau tahu.”“Duduklah. Aku
Terakhir Diperbarui: 2025-09-14
Chapter: Bab 117 Jatuhnya Sang Pemburu
Asap hitam masih membubung dari reruntuhan gudang. Api yang belum padam memberikan cahaya merah di langit, seolah kota sendiri sedang terbakar oleh amarah yang tidak terlihat.Julian Vale berdiri di balkon gedung kosong, setinggi enam lantai, menatap kobaran api dengan senyum tipis di bibirnya. Rokok menyala di ujung jarinya, abu jatuh berhamburan ke bawah.“Lihat itu,” katanya pelan, suaranya bercampur dengan dengung sirene pemadam. “Adrian pikir dia bisa menjebakku. Sekarang pasukannya jadi arang.”Dua pengawal di belakangnya saling melirik, ikut menyeringai seakan kemenangan itu juga milik mereka.Julian mengembuskan asap rokok ke udara, lalu mendesis, “Kematian ayahku tidak akan sia-sia. Aku akan membuat Adrian berlutut. Satu per satu, semua yang dia cintai akan hancur.”Ia berbalik, menepuk bahu salah satu pengawal. “Siapkan kendaraan. Kita pindah malam ini. Jangan sampai jejak ini mengikat kita lebih lama dari yang perlu.”Pengawal itu mengangguk cepat. “Ya, Tuan.”Julian berjal
Terakhir Diperbarui: 2025-09-13
Chapter: Bab 116 Eksekusi
Pagi itu, kantor pusat Montclair Group tidak berbeda dari biasanya—ramai, sibuk, para eksekutif bergegas masuk ruang kerja. Tapi di ruang tertutup paling atas, suasananya justru hening mencekam.Adrian berdiri di depan jendela kaca besar, menatap kota yang masih diselimuti kabut tipis. Di tangannya, secangkir kopi yang nyaris tak tersentuh.“Semalam Anderson berhasil,” suara Lucien memecah diam, tablet di tangannya memuat rekaman transkrip percakapan yang sudah diteruskan tim mereka. “Julian percaya. Dia bahkan menyuruh orang-orangnya bergerak cepat.”Adrian menurunkan cangkirnya ke meja, lalu berbalik. Sorot matanya tajam, penuh konsentrasi. “Bagus. Itu berarti kita tidak perlu menunggu lebih lama. Hari ini kita mulai menggerakkan pion.”
Terakhir Diperbarui: 2025-09-12
Chapter: Bab 115 Kena
Ruang rapat eksekutif Montclair Group siang itu kosong kecuali tiga orang. Lampu putih menyorot meja panjang dari marmer hitam, menciptakan bayangan dingin di dinding kaca yang menghadap kota.Tuan Anderson duduk di ujung meja, jasnya sedikit kusut, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia jelas lebih gugup dari yang ingin ia tunjukkan.Di sisi lain, Adrian bersandar tenang pada kursinya. Lengannya terlipat di dada, matanya tajam seperti sedang menakar angka di neraca keuangan—hanya saja kali ini yang ia timbang adalah nasib seorang manusia. Lucien berdiri di dekat layar, laptopnya terbuka dengan deretan kode dan jaringan komunikasi yang sedang dipantau.“Kenapa kau terlihat seperti terdakwa di pengadilan, Anderson?” suara Adrian tenang tapi menekan. “Aku sudah bilang, aku tidak berniat menja
Terakhir Diperbarui: 2025-09-11
Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi

Nona Hart, Tuan Earl Tak Mau Kau Pergi

Kabur dari pernikahan paksa beberapa hari sebelum upacara adalah keputusan paling nekat yang pernah Elia lakukan. Demi bersembunyi, ia melamar pekerjaan sebagai guru bagi Lady Violet, putri seorang Earl duda yang telah mengusir tujuh guru sebelumnya. Yang tidak pernah Elia duga, gadis kecil itu justru mulai membuka hati padanya. Dan sang Earl yang pendiam itu, tanpa ia sadari, mulai pulang lebih cepat dari biasanya. Namun ketika pria yang memaksanya menikah akhirnya menemukan tempat persembunyiannya, Elia harus memilih. Kabur sekali lagi. Atau mempertaruhkan hatinya. “Kalau ada yang ingin membawamu pergi …” Kenneth menatap pria di hadapannya tanpa berkedip. “... dia harus melewatiku dulu.”
Baca
Chapter: 75 - Langkah yang Dihafal 
Elia menegang. Dora. Tentu saja. Perempuan itu memang akan selalu punya alasan untuk berbicara dengan Nyonya Hughes.Sebelum Elia tiba di teras, Violet sudah lebih dulu berlari menyambutnya. “Guru Hart,” teriaknya sambil melambaikan tangan dan mendekat.Begitu sudah dekat, anak itu berhenti berlari dengan mata membulat. “Kenapa bajumu kotor?”Elia menunduk ke gaunnya. “Aku jatuh di kebun.”“Rambutmu juga berantakan!” Violet mengelilinginya, memeriksa dari segala sisi. “Kau jatuh lagi?” Mulutnya tiba-tiba terbuka lebar. “Apa kau dikejar anjing lagi?”“Tidak. Aku tidak dikejar anjing.”Violet menatap
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: 74 - Aku Jatuh
Matahari sudah bergeser dari posisi semula, tapi Elia masih tidak beranjak dari posisinya di bawah pohon itu. Punggungnya bersandar pada batang yang sama, tapi bayangan pohon sudah berpindah arah. Angin yang tadi menyapu dedaunan dengan lembut kini bertiup lebih kencang, membawa bau tanah dan daun teh yang dipetik. Dari kejauhan, suara para pekerja kebun mulai terdengar lagi. Mereka sudah kembali dari istirahat makan siang dengan keranjang di punggung masing-masing.Tangan Elia masih memeluk lututnya, kepalanya masih tertunduk. Air mata sudah berhenti mengalir, tapi jejaknya masih terasa di pipi, mengering dan meninggalkan rasa kaku. Sesekali ia mengusapnya dengan punggung tangan.Kenapa aku harus kabur dari Fernwood?Pertanyaan itu muncul lagi, tapi kali ini datang dengan lebih tenang. Dulu ia tahu jawabannya. Ia t
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: 73 - Melawan
Elia meronta, berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Dora. Punggungnya yang menempel di dahan pohon ia dorong sekuat tenaga. Namun, saat ia bertumpu, rasa nyeri seperti sengatan listrik mendadak menjalar dari pergelangan kakinya yang baru mulai pulih.Sial.Kakinya mendadak lemas dan berdenyut nyeri begitu tajam hingga jari-jari kakinya refleks menekuk. Napas Elia tersangkut di tenggorokan, dan untuk sesaat ia kehilangan tenaga pada kaki itu. Belum sempat ia berhasil meloloskan diri, Nelly sudah merangsek maju dan menghalangi seluruh ruang gerak tubuh Elia.Tubuh Nelly berdiri tepat di sebelah kirinya, sementara Dora masih mencengkeram lengannya dari samping. Tidak ada celah untuk melewati mereka.“Kau tidak bisa ke
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: 72 - Hari Ketiga
Elia terbangun dengan dada yang terasa berat. Ini hari ketiga tanpa Kenneth di rumah. Rumah masih berjalan seperti biasa, tetapi ada yang berubah. Pelayan-pelayan tidak lagi menahan diri seperti saat Tuan mereka masih ada. Mereka tertawa lebih keras di dapur, kecuali saat Nyonya Hughes sedang ada di sekitar. Salah satu dari mereka bahkan berani menatap Elia terlalu lama saat ia lewat di koridor, dengan sorot mata yang menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa berusaha menyembunyikannya.Ia masih menemani Violet sarapan, hanya karena tidak ada teman makan lain untuk Violet, dan mata bulat anak itu selalu berhasil meruntuhkan setiap alasan penolakan yang sudah Elia siapkan. Ia juga masih mengajar seperti biasa, tapi begitu pelajaran selesai, kali ini Elia selalu beralasan untuk segera menjauh dari Violet.Tugasku di sini hanya sebagai guru. Kalimat
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: 71 - Menggoda Pria Kaya
Molly muncul dari arah berlawanan setelah selesai menidurkan Violet.Dua pelayan itu masih berdiri di sana. Satu yang memegang kemoceng mencondongkan kepala ke arah pintu, dan satu lagi yang memegang keranjang di tangan berbisik pelan. Molly tidak mendengar apa yang mereka katakan, tapi ia bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan.“Apa yang kalian lihat?” tanya Molly setelah cukup dekat, ikut melongok ke dalam ruang belajar untuk memastikan apa yang ditatap kedua pelayan itu.Dua pelayan itu tersentak. Salah satunya hampir menjatuhkan keranjang yang dipegangnya.“Tidak ada apa-apa,” jawabnya cepat.Molly menatap mereka bergantian. “Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kalian berdiri di
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: 70 - Baru Satu Hari
Elia masih duduk di ruang belajar ketika Anthony meregangkan punggungnya dan menyandarkan diri lebih dalam ke kursi. Pelayan yang tadi mengintip sudah pergi, tapi Elia tidak menyadarinya sama sekali.Anthony memandang Elia, dan tersenyum kecil. “Kau tahu?” katanya memulai pembicaraan lagi. “Aku sudah mengenal Kenneth sejak kami kecil.”Elia menoleh, meletakkan buku yang sejak tadi dipegangnya di atas meja. “Sejak kecil?”“Kami sepupu. Tapi dulu kami lebih sering menghabiskan waktu bersama daripada dengan saudara sendiri.” Anthony tertawa pelan. “Kau bisa bayangkan bagaimana keras kepalanya dia waktu kecil.”Elia tersenyum. “Aku bisa membayangkannya.”
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!

Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!

Masuk ke akademi pria demi menggantikan saudaranya yang sakit ternyata adalah mimpi buruk bagi Rosemary. Ia tidak hanya harus menyembunyikan identitasnya sebagai wanita, tapi juga bertahan di antara dua pria paling berbahaya di akademi. Di satu sisi, teman sekamarnya, Lord Harrington, terlalu jeli dan selalu berada terlalu dekat. Di sisi lain, Pangeran Henry yang tersenyum penuh arti karena perlahan mulai menyadari rahasia terbesar Rosemary. Suara yang terlalu lembut. Tatapan yang terlalu gugup. Dan rahasia di balik kemeja yang tidak pernah dilepas. “Jauhi dia,” kata Benedict dingin. Henry hanya tersenyum. “Kenapa? Karena dia berbahaya… atau karena kau mulai menginginkannya?”
Baca
Chapter: 250 - Tahun Ajaran Baru
Halaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Chapter: 249 - Kembali
Rosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: 248 - Pulang
Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam
Terakhir Diperbarui: 2026-09-03
Chapter: 247 - Presentasi Langston
Beberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny
Terakhir Diperbarui: 2026-09-02
Chapter: 246 - Selesai
Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: 245 - Ashworth
Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status