author-banner
Luna Maji
Luna Maji
Author

Novels by Luna Maji

Kaisar, Jangan Meminta Lebih

Kaisar, Jangan Meminta Lebih

Dibuang oleh Ibu tirinya ke hutan, Cailin bertemu dengan pria yang terluka parah. Saat ia menolongnya, justru tubuhnya menyerap energi hingga nyaris merenggut jiwanya. Yang ia tidak tahu, pria itu adalah Kaisar Spiritual, Shangkara, yang kekuatannya termasyhur. Untuk menyelamatkannya, Shangkara melakukan hal terlarang dengan memberikannya darah-nya. Tindakan itu menyelamatkan nyawa Cailin, tetapi sekaligus mengikat mereka dalam ikatan jiwa-raga yang misterius. Kini, rasa sakit, kelemahan, dan bahkan perasaan mereka saling terpengaruh. Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah melalui Ritual Penyatuan Yin-Yang—sebuah ritual sakral yang tak pernah ada berani menggunakannya. “Ritual apa?” “Ritual Penyatuan. Tidurlah denganku. Sekali saja. Maka kau akan selamat… sekaligus menjadi milikku.”
Read
Chapter: 216 - Rencana
Unit Hantu menyelinap masuk ke sebuah rumah kayu terdekat. Mereka membuka pintu perlahan. Gerakan mereka nyaris tanpa suara.Di dalam, seorang wanita tua kurus dengan punggung membungkuk tersentak kaget. Ia mundur ketakutan.“Jangan bunuh aku … aku tidak punya apa-apa lagi …” cicitnya.Ren mengangkat tangan, memberi isyarat agar timnya tidak agresif. Guan melangkah maju perlahan, menurunkan tudung kepalanya.Begitu Guan melangkah, wanita itu tersentak. Tubuhnya membeku.Ia menatap Guan.Bukan wajahnya.Auranya.“Kau …” suara wanita itu bergetar.
Last Updated: 2026-01-27
Chapter: 215 - Unit Hantu
Udara di ruang takhta Istana Kesultanan Saharath itu terasa panas dan kering, seperti hati penguasanya.Sultan Saharath duduk di takhtanya, membaca gulungan surat dari Vermilion. Wajahnya mengerut saat matanya menyusuri baris demi baris tuntutan Shangkara.“Herbal tanpa pajak? Menolak putriku?” Sultan mendesis, suaranya bergetar menahan murka. “Bocah ingusan itu menganggapku pedagang pasar yang bisa ditawar?!”Ia melempar gulungan itu ke lantai.“Dia pikir karena pernikahan gagal, dia memegang kendali? Naif.”Penasihat Agung yang berdiri di sampingnya membungkuk dalam. “Apa perintah Anda, Sultan? Apakah kita kirim armada perang?”
Last Updated: 2026-01-26
Chapter: 214 - Investasi
Suasana di aula besar itu hening, hanya diisi oleh suara Cailin yang tenang namun tegas. Di hadapan para tetua yang duduk melingkar, Cailin berdiri di samping papan diagram besar. Beberapa sampel herbal kering dan botol obat tertata rapi di meja.“Program ini bukan sekadar penyaluran penawar,” kata Cailin tenang. Suaranya tidak keras, tapi jelas. “Ini adalah Program Pemurnian Nasional.”Ia menunjuk diagram pertama.“Obat didistribusikan ke pusat kesehatan desa yang akan dibentuk ulang dan diawasi langsung oleh tabib terlatih.”Diagram kedua dibuka.“Kedua, kita akan menghentikan siklus ketergantungan. Rakyat harus tahu apa yang mereka konsumsi. Bahaya opium. Cara kerja ketergantungan.
Last Updated: 2026-01-25
Chapter: 213 - Membangun Kembali
Di hutan terlarang di belakang Istana Vermilion, tempat dahulu Cailin dan Shangkara latihan secara sembunyi-sembunyi. Kini tempat itu digunakan Ren dan Lian untuk latihan.Ren berdiri di tengah lapangan kecil dekat danau, memegang sebilah pedang kayu latihan. Napasnya teratur, matanya terpejam.Di belakangnya, duduk di atas batu besar, Lian mengamatinya dengan tatapan polos namun penuh perhatian.“Siap?” tanya Ren tanpa menoleh.“Siap,” jawab Lian.Gadis itu bangkit, berjalan mendekat, lalu meletakkan satu jari telunjuknya di punggung Ren, tepat di antara tulang belikat.Seketika, mata Ren terbuka.Ia merasakann
Last Updated: 2026-01-24
Chapter: 212 - Janji
Istana Vermilion kembali sunyi.Aula Utama telah dibersihkan. Pecahan kaca disapu. Kain ritual upacara pernikahan sudah diturunkan. Para tamu diantar pulang dengan pengawalan, masing-masing membawa kisah berbeda tentang apa yang mereka saksikan.Di ruang rapat kecil yang terhubung langsung dengan kamar Kaisar, Shangkara duduk bersama Cailin, Ren, Yun dan Lian. Di sudut ruangan, tumpukan peti kayu berlambang Kesultanan Saharath sudah terbuka.“Laporan situasi,” perintah Shangkara, suaranya serak namun tenang.Yun berdiri. “Laporan akhir, Yang Mulia. Tidak ada korban jiwa. Beberapa tetua dan bangsawan luka ringan akibat kepanikan. Aula aman. Utusan Saharath masih berada di paviliun tamu, di bawah pengawasan ketat, menunggu izin resmi untuk kembali.”
Last Updated: 2026-01-23
Chapter: 211 - Mahkota Miring
“Dasar Putri Bodoh!”Teriakan Rashid memecah keterkejutan di aula. Sosok yang menyamar sebagai pelayan itu melompat dengan kecepatan mengerikan, belati di tangannya berkilat mengincar leher Ravia.Ravia, yang masih di bawah pengaruh ramuan, hanya berkedip bingung melihat Rashid yang menerjang ke arahnya.Sebelum siapa pun sempat bereaksi, seorang Pasukan Bayangan yang menyamar menjadi pelayan dan berdiri paling dekat dengan Rashid sudah melompat maju. Hendak menjegal Rashid.Rashid mendesis marah.Ia melempar segenggam bubuk ke lantai.Asap kehijauan meledak rendah. Membuat mata perih dan napas sesak. Beberapa tamu berteriak panik. Rashid memanfaatkan kekacauan itu, menyelinap di antara tubuh-tubuh yang mundur.Kekaucauan pecah. Para tetua dan bangsawan menjerit dan berlarian menabrak meja. Utusan saharath mengeluarkan senjatanya tapi tidak tahu pihak mana yang harus dilawan.“Jangan biarkan dia lolos!” teriak seorang Bayangan.Rashid menebas liar, melukai bahu satu Pasukan Bayangan,
Last Updated: 2026-01-22
Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk

Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk

Adrian Montclair, miliarder terkutuk, punya waktu hingga ulang tahunnya yang ke-30 sebelum maut menjemput. Satu-satunya cara untuk mengalahkan kutukan adalah menikahi seorang penyihir. Marigold Vale setuju, tapi hanya dengan klausul tambahan yang melarang sentuhan, cinta, dan delusi romantis. Tapi yang lebih berbahaya bukan kutukan, melainkan perasaan yang tumbuh diam-diam.
Read
Chapter: Bab 120
Lampu sorot berderet di depan podium. Deretan kamera dan kilatan flash memenuhi ruangan ballroom hotel yang disulap jadi ruangan konferensi pers. Suara riuh wartawan terdengar, semua berebut tempat untuk dapat angle terbaik.Pintu samping terbuka. Adrian Montclair melangkah masuk dengan setelan hitam yang rapi, dasi warna biru gelap, wajahnya dingin tapi mantap. Di sampingnya, Meri berjalan anggun, sederhana tapi elegan, langkahnya selaras dengan Adrian. Begitu mereka muncul, riuh suara ruangan langsung mereda—seolah semua orang menahan napas.Adrian berdiri di podium, menatap barisan kamera dengan tatapan yang tajam. Ia tidak langsung bicara. Hening beberapa detik, cukup lama untuk menegaskan bahwa dialah yang mengendalikan panggung.“Keluarga Montclair telah melalui badai,” suaranya dalam, menggema di ruangan. “Tapi malam ini, saya berdiri di sini untuk mengatakan satu hal sederhana: badai itu telah berakhir.”Flash kamera kembali menyala. Wartawan mulai berbisik.Adrian mengangkat
Last Updated: 2025-09-16
Chapter: Bab 119 Rapat Luar Biasa
Adrian berdiri di ujung meja. “Aku tahu siapa saja yang menjual Montclair pada Julian. Hari ini, aku bersihkan meja ini.” Lucien membuka map, menaruh di tengah. Bukti terpampang jelas. Salah satu eksekutif tergagap. “Tuan Montclair… saya—” Adrian memotong dingin. “Diam. Kau duduk di sini karena aku masih izinkan. Satu langkah salah, pintu keluar ada di belakangmu.” Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Montclair bukan milik pengkhianat. Siapa yang mau bertahan, buktikan dengan kerja. Siapa yang ragu… jangan buang waktuku.” Seorang eksekutif lain memberanikan diri. “Dan kalau kami memilih keluar?” Adrian mencondongkan badan, tatapannya menusuk. “Maka kalian akan keluar dengan tangan kosong—dan nama kalian hancur di luar sana.” Keheningan. Tak ada yang berani bergerak. Adrian menutup map dengan satu hentakan. “Mulai hari ini, aku pimpin dengan caraku. Julian sudah jatuh. Sekarang giliran siapa pun yang masih coba bermain dua sisi.” Adrian berdiri, kursinya bergeser pelan
Last Updated: 2025-09-15
Chapter: Bab 118 Pengungkapan
Penthouse itu sunyi. Hanya jam dinding di ruang tamu yang berdetak pelan, mengisi kekosongan malam. Meri duduk di sofa, kedua tangannya menggenggam erat mug teh yang sudah lama dingin. Ia menatap pintu lift pribadi, menunggu tanpa berkedip, seperti kalau ia mengalihkan pandangan sebentar saja, Adrian mungkin tidak akan benar-benar kembali.Ting!Denting lift terdengar. Jantung Meri berdegup kencang. Pintu terbuka, dan Adrian muncul—jasnya kusut, dasi longgar, wajahnya lelah tapi matanya tetap sama.“Adrian…” suara Meri hampir bergetar.Ia melangkah masuk, menutup pintu lift dengan satu dorongan. Pandangannya langsung jatuh pada Meri. Ada jeda singkat sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Semua selesai.”Meri bangkit, menghampirinya dengan langkah cepat. “Kau… baik-baik saja?”Adrian mengangguk kecil, lalu meraih tangan Meri, seakan hanya itu yang menahannya tetap berdiri. “Julian sudah ditangkap. Tapi, Meri…” ia menarik napas panjang, “…ada hal lain yang harus kau tahu.”“Duduklah. Aku
Last Updated: 2025-09-14
Chapter: Bab 117 Jatuhnya Sang Pemburu
Asap hitam masih membubung dari reruntuhan gudang. Api yang belum padam memberikan cahaya merah di langit, seolah kota sendiri sedang terbakar oleh amarah yang tidak terlihat.Julian Vale berdiri di balkon gedung kosong, setinggi enam lantai, menatap kobaran api dengan senyum tipis di bibirnya. Rokok menyala di ujung jarinya, abu jatuh berhamburan ke bawah.“Lihat itu,” katanya pelan, suaranya bercampur dengan dengung sirene pemadam. “Adrian pikir dia bisa menjebakku. Sekarang pasukannya jadi arang.”Dua pengawal di belakangnya saling melirik, ikut menyeringai seakan kemenangan itu juga milik mereka.Julian mengembuskan asap rokok ke udara, lalu mendesis, “Kematian ayahku tidak akan sia-sia. Aku akan membuat Adrian berlutut. Satu per satu, semua yang dia cintai akan hancur.”Ia berbalik, menepuk bahu salah satu pengawal. “Siapkan kendaraan. Kita pindah malam ini. Jangan sampai jejak ini mengikat kita lebih lama dari yang perlu.”Pengawal itu mengangguk cepat. “Ya, Tuan.”Julian berjal
Last Updated: 2025-09-13
Chapter: Bab 116 Eksekusi
Pagi itu, kantor pusat Montclair Group tidak berbeda dari biasanya—ramai, sibuk, para eksekutif bergegas masuk ruang kerja. Tapi di ruang tertutup paling atas, suasananya justru hening mencekam.Adrian berdiri di depan jendela kaca besar, menatap kota yang masih diselimuti kabut tipis. Di tangannya, secangkir kopi yang nyaris tak tersentuh.“Semalam Anderson berhasil,” suara Lucien memecah diam, tablet di tangannya memuat rekaman transkrip percakapan yang sudah diteruskan tim mereka. “Julian percaya. Dia bahkan menyuruh orang-orangnya bergerak cepat.”Adrian menurunkan cangkirnya ke meja, lalu berbalik. Sorot matanya tajam, penuh konsentrasi. “Bagus. Itu berarti kita tidak perlu menunggu lebih lama. Hari ini kita mulai menggerakkan pion.”
Last Updated: 2025-09-12
Chapter: Bab 115 Kena
Ruang rapat eksekutif Montclair Group siang itu kosong kecuali tiga orang. Lampu putih menyorot meja panjang dari marmer hitam, menciptakan bayangan dingin di dinding kaca yang menghadap kota.Tuan Anderson duduk di ujung meja, jasnya sedikit kusut, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia jelas lebih gugup dari yang ingin ia tunjukkan.Di sisi lain, Adrian bersandar tenang pada kursinya. Lengannya terlipat di dada, matanya tajam seperti sedang menakar angka di neraca keuangan—hanya saja kali ini yang ia timbang adalah nasib seorang manusia. Lucien berdiri di dekat layar, laptopnya terbuka dengan deretan kode dan jaringan komunikasi yang sedang dipantau.“Kenapa kau terlihat seperti terdakwa di pengadilan, Anderson?” suara Adrian tenang tapi menekan. “Aku sudah bilang, aku tidak berniat menja
Last Updated: 2025-09-11
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status