author-banner
Luna Maji
Luna Maji
Author

روايات بقلم Luna Maji

Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!

Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!

Masuk ke akademi pria demi menggantikan saudaranya yang sakit ternyata adalah mimpi buruk bagi Rosemary. Ia tidak hanya harus menyembunyikan identitasnya sebagai wanita, tapi juga bertahan di antara dua pria paling berbahaya di akademi. Di satu sisi, teman sekamarnya, Lord Harrington, terlalu jeli dan selalu berada terlalu dekat. Di sisi lain, Pangeran Henry yang tersenyum penuh arti karena perlahan mulai menyadari rahasia terbesar Rosemary. Suara yang terlalu lembut. Tatapan yang terlalu gugup. Dan rahasia di balik kemeja yang tidak pernah dilepas. “Jauhi dia,” kata Benedict dingin. Henry hanya tersenyum. “Kenapa? Karena dia berbahaya… atau karena kau mulai menginginkannya?”
قراءة
Chapter: 89 - Belas Kasihan
Pertandingan sebelumnya sudah selesai.Pemberton menang dengan skor tipis mengalahkan lawannya setelah pertarungan yang melelahkan. Vane menang lebih cepat, dengan serangan yang membuat lawannya tidak bisa berkutik. Sekarang, pertandingan ketiga. Yang paling dinanti sejak papan tanding pertama kali ditempel.Arena anggar Kingsley lebih ramai dari biasanya. Bangku penonton penuh dengan mahasiswa, profesor, bahkan beberapa bangsawan dari luar akademi yang datang khusus untuk menonton babak delapan besar. Di antara kerumunan, Oliver duduk dengan punggung tegak dan tangan yang saling menggenggam di pangkuan. Kacamatanya sudah ia dorong tiga kali dalam lima menit terakhir.“Kau tenang saja,” kata Alice di sampingnya. “Mereka akan baik-baik saja.”&ldqu
آخر تحديث: 2026-06-12
Chapter: 88 - Arena Latihan
Malam sebelum pertandingan.Rosemary tidak bisa tidur. Ia sudah mencoba segalanya. Berbaring. Membaca. Menatap langit-langit. Tidak ada yang berhasil. Pikirannya terlalu penuh—tentang turnamen, tentang papan tanding, tentang dua nama yang tercetak di baris yang sama. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat arena, pedang dan Benedict di seberangnya.Akhirnya ia menyerah. Ia bangkit, mengambil pedang kayunya, dan berjalan ke arena latihan. Mungkin dengan berlatih, ia bisa membuat tubuhnya cukup lelah untuk memaksa pikirannya berhenti.Arena latihan malam itu gelap dan kosong. Hanya beberapa lilin di dinding yang masih menyala, memberikan cahaya redup yang nyaris tidak cukup untuk melihat. Rosemary menyalakan beberapa lilin lagi, lalu mengambil posisi di tengah aula.
آخر تحديث: 2026-06-12
Chapter: 87 - Jarak
Setelah semalam itu, Benedict mulai menghindarinya.Rosemary mengerti itu—atau mencoba mengerti. Terlalu dekat itu menakutkan, dan orang yang sudah terlalu dekat sering mundur lebih jauh dari sebelumnya bukan karena benci tapi karena tidak tahu cara berada di jarak yang baru tanpa mengakui bahwa jarak lama sudah tidak ada lagi. Ia mengerti itu. Tentang Benedict. Tentang dirinya sendiri.Tapi mengerti sesuatu tidak selalu berarti tidak merasakannya.Dan sekarang, Rosemary sendiri di arena latihan.Tidak ada Henry—ia masih di istana, mengurus urusan yang disebutkannya kemarin. Tidak ada Benedict. Hanya Rosemary, pedang kayunya, dan suara napasnya sendiri yang menggema di aula kosong.Turnamen delapan besar beberapa
آخر تحديث: 2026-06-12
Chapter: 86 - Makan Sup
Cahaya pagi sudah terang ketika Rosemary membuka matanya.Kepalanya sudah lebih ringan, dan tubuhnya sudah tidak lagi menggigil. Ia menoleh. Benedict masih di kursi—sudah tidak tidur. Matanya terbuka, menatap ke arah jendela dengan cara seseorang yang sudah ada di sana cukup lama untuk tidak lagi benar-benar melihat apa yang dilihatnya. Entah sejak kapan ia bangun. Rosemary tidak tahu.Mereka saling menatap. "Demammu sudah turun," kata Benedict.Rosemary hanya menatapnya.Benedict berdiri. Ia berjalan ke meja, mengambil mangkuk sup yang masih ada sedikit uap tipis mengepul dari permukaannya. “Finch datang,” katanya, membawa mangkuk itu ke ranjang. “Sup. Katanya untukmu.”“Aku tidak lapar.”“Kau demam semalaman. Kau butuh makan.”“Taruh saja di meja. Nanti kumakan.”Benedict tidak menaruhnya di meja. Ia duduk di tepi ranjang—bukan di kursi, tapi di ranjang itu sendiri, cukup dekat un
آخر تحديث: 2026-06-11
Chapter: 85 - Cantik
Rosemary masih menatap Benedict.Tapi pikirannya melayang ke beberapa hari ke depan. Turnamen anggar. Babak delapan besar. Papan tanding di Ruang Santai yang masih tercetak jelas di matanya sampai sekarang.Benedict Harrington.Edmund Sterling.Mereka akan bertanding. Saling berhadapan—pedang di tangan, topeng di wajah, semua yang sudah terjadi antara mereka diletakkan di suatu tempat dan berpura-pura tidak ada untuk durasi pertandingan itu. Dan salah satu harus kalah.Bagaimana aku bisa melakukannya?Tidak ada jawaban yang datang. Hanya pertanyaan yang terus berputar, semakin berat, sampai matanya semakin berat bersamanya. Tubuhnya masih butuh istirahat. Dan sebelum pertany
آخر تحديث: 2026-06-11
Chapter: 84 - Sepanjang Malam
Tubuh Rosemary ambruk, dan Benedict menangkapnya sebelum lututnya menyentuh lantai.“Sterling.”Tidak ada jawaban. Kepala Rosemary terkulai di lengannya, napasnya pendek dan panas. Kulitnya pucat, tapi pipinya merah—demam yang tidak wajar. Rambutnya yang masih sedikit lembap menempel di dahi.Benedict tidak berpikir. Ia bertindak.Satu tangan melingkar di bawah lutut Rosemary, tangan lainnya menopang punggungnya. Tubuh itu terlalu ringan—terlalu ringan untuk ukuran seorang pria, terlalu ringan untuk seseorang yang berlatih anggar setiap hari. Tapi Benedict tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang. Ia mendorong pintu kamar 504 dengan bahunya dan masuk.Benedict membaringkan Rosemary di ranjang—ranjang dekat jendela, ranjang yang dulu ditempatinya sendiri. Kepalanya ia letakkan di bantal dengan hati-hati. Jemarinya menyentuh dahi Rosemary. Panas.Ia berdiri, menyalakan lilin di meja, menyalakan perapian lalu berjalan ke sudu
آخر تحديث: 2026-06-10
Kaisar, Jangan Meminta Lebih

Kaisar, Jangan Meminta Lebih

Dibuang oleh Ibu tirinya ke hutan, Cailin bertemu dengan pria yang terluka parah. Saat ia menolongnya, justru tubuhnya menyerap energi hingga nyaris merenggut jiwanya. Yang ia tidak tahu, pria itu adalah Kaisar Spiritual, Shangkara, yang kekuatannya termasyhur. Untuk menyelamatkannya, Shangkara melakukan hal terlarang dengan memberikannya darah-nya. Tindakan itu menyelamatkan nyawa Cailin, tetapi sekaligus mengikat mereka dalam ikatan jiwa-raga yang misterius. Kini, rasa sakit, kelemahan, dan bahkan perasaan mereka saling terpengaruh. Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah melalui Ritual Penyatuan Yin-Yang—sebuah ritual sakral yang tak pernah ada berani menggunakannya. “Ritual apa?” “Ritual Penyatuan. Tidurlah denganku. Sekali saja. Maka kau akan selamat… sekaligus menjadi milikku.”
قراءة
Chapter: 254 - Angin
Beberapa tahun kemudian. Kota Angin selalu lebih sejuk daripada ibu kota Vermilion. Di sini, angin tidak membawa bau logam panas atau suara rapat dewan. Ia membawa aroma rumput liar, kayu basah, sup hangat dari dapur-dapur kecil, dan tawa anak-anak yang berlarian di antara rumah. Di lereng bukit yang menghadap lembah hijau, sebuah rumah kayu berdiri kokoh, jauh dari kemegahan emas istana. Ren berdiri di halaman luas, mengenakan pakaian linen sederhana yang memudahkan geraknya. Di depannya, sekelompok remaja lokal berusaha mengikuti gerakan pedang kayunya. Ren berteriak memberi instruksi, namun ada senyum yang sering menghiasi wajahnya—sesuatu yang dulu hampir mustahil terlihat. “Pegang pedangmu dengan keyakinan,” katanya, suaranya tegas tapi hangat. “Bukan dengan ketakutan. Pedang hanya sebatas alat. Yang menentukan baik atau jahat adalah hati yang menggerakkannya.” Seorang anak laki-laki bertanya, “Guru Ren, Guru Ren, benarkah dulu Guru adalah pengawal Kaisar?” Ren terta
آخر تحديث: 2026-02-26
Chapter: 253 - Altar
Di altar utama, Guru Fen berdiri dengan jubah putih upacara. Api suci dinyalakan.Di depan Guru Fen, Shangkara dan Cailin berdiri berhadapan. Guru Fen mengangkat kedua tangannya. ”Dengan restu langit dan bumi, dengan izin para leluhur Vermilion, hari ini kita menyaksikan penyatuan dua jiwa.”Guru Fen membuka gulungan besar. Suaranya bergema di aula hening.“Shangkara dari Klan Vermilion, Kaisar Api Abadi, pewaris takhta yang sah—”Ia membaca panjang. Silsilah. Gelar. Janji-janji formal yang sudah ditulis ratusan tahun lalu.“Apakah kau bersedia menerima Cailin dari Klan Bulan sebagai permaisurimu, mendampingimu dalam suka dan duka, dalam perang dan damai, hingga ajal memisahkan?”Shangkara menatap Cailin.“Aku tidak butuh sumpah panjang.”Guru Fen tertegun. Para bangsawan mulai berbisik.Shangkara melanjutkan, suaranya rendah tapi jelas di seluruh aula. “Aku sudah memilihmu. Sebelum perang. Saat perang. Setelah perang. Itu sumpahku.”Cailin tersenyum.Guru Fen juga tersenyum, kemudi
آخر تحديث: 2026-02-26
Chapter: 252 - Mahkota
Istana Vermilion tidak pernah sesibuk ini.Aroma dupa pembersih ruangan bercampur dengan harum bunga-bunga pegunungan yang didatangkan khusus dari berbagai wilayah di Vermilion.Para pelayan bergerak cepat di sepanjang koridor, membawa gulungan sutra merah setinggi dada mereka. Di sudut lain, para pelayan sibuk memoles pilar-pilar aula utama hingga permukaannya bisa memantulkan cahaya spiritual seperti cermin.Di tengah hiruk-pikuk itu, Cailin berdiri mematung di dalam kamarnya.Enam pelayan senior mengelilinginya, memasangkan lapis demi lapis sutra merah berat yang disulam benang emas murni. Berat mahkota perak di kepalanya mulai terasa menekan pangkal lehernya.“Punggung harus tetap tegak, Calon Permaisuri,” bisik salah satu pelayan dengan suara tanpa ekspresi. “Dagu tidak boleh terlalu rendah, mata tidak boleh terlalu liar. Anda adalah wajah Vermilion sekarang.”Cailin menarik napas panjang, namun kain korset yang ketat membuatnya merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis. Ia men
آخر تحديث: 2026-02-26
Chapter: 251 - Pilihan
Halaman Istana Timur yang belakangan selalu sunyi, kini riuh oleh suara roda kereta yang beradu dengan batu jalanan. Puluhan kereta dengan lambang keluarga bangsawan berjajar di luar gerbang. Para gadis bangsawan berdiri dalam barisan rapi, masing-masing mengenakan jubah keluarga mereka.Dekret itu telah dibacakan pagi tadi. Istana Timur dibubarkan.Semua calon selir dipulangkan dengan kehormatan. Tidak akan ada selir di bawah pemerintahan Kaisar Vermilion yang baru.Beberapa keluarga menerima dengan wajah tegang. Beberapa terlihat lega. Beberapa tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.Lian tidak ikut dalam rombongan yang berangkat hari itu.Ia berdiri di tangga batu, memandang halaman yang perlahan kosong. Tidak ada kereta yang menjemputnya.Langkah lembut mendekat. Cailin berhenti di sisinya.“Kau tidak pulang hari ini?” tanyanya.Lian menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan menunggu kabar berikutnya sebelum berangkat. Atau mungkin aku akan pulang sendiri.”Nada suaranya tenang. Ini bukan
آخر تحديث: 2026-02-25
Chapter: 250 - Titah
Aula utama Istana Vermilion telah disiapkan.Meja panjang dari kayu hitam membentuk setengah lingkaran menghadap singgasana. Para tetua duduk dengan jubah kebesaran mereka, cincin keluarga berkilau di jari-jari yang keriput namun masih berkuasa.Di tengah meja besar, gulungan-gulungan silsilah keluarga terhampar.Tetua Hong memimpin sidang.“Kerajaan tidak boleh kosong terlalu lama,” ucapnya tenang. “Perang di barat telah usai. Justru saat seperti inilah fondasi harus diperkuat.”Ia membuka gulungan pertama. “Keluarga Wei menawarkan putri sulung mereka. Bakat elemen apinya murni, sangat cocok untuk menjaga garis keturunan kekaisaran.”Beberapa tetua mengangguk pelan. Bisik-bisik setuju mulai terdengar.Seorang tetua lain mengangguk. “Aliansi keluarga Lin akan membuka jalur tambang utara. Putri mereka sudah ada di Istana Timur sejak lama. Garis darahnya murni.”“Dan keluarga Zhen menjanjikan tiga ribu pasukan tambahan untuk pertahanan perbatasan,” timpal yang lain.Nama-nama disebut.
آخر تحديث: 2026-02-24
Chapter: 249 - Keputusan
Shangkara tidak menghadiri jamuan kemenangan.Saat rakyat Saharath mulai merayakan fajar baru mereka, ia sudah berjalan kembali menuju bunker bawah tanah.Bunker itu masih menyisakan aroma tajam obat-obatan dan sisa hawa dingin dari es Cailin saat Shangkara melangkah masuk. Langkahnya mantap, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari duel.Di dalam ruangan itu, Cailin duduk bersama Guan di samping ranjang sederhana tempat Yun terbaring.Es telah lama mencair. Hanya kain tipis yang menutup dada Yun, tempat bekas luka kecil menghitam namun bersih dari pasir.Yun membuka mata perlahan ketika pintu batu bergeser.Pandangan kaburnya menemukan siluet yang berdiri di ambang pintu.“Yang … Mulia …?”Suaranya nyaris tak terdengar.Shangkara melangkah mendekat.Ia hanya mengangguk.Yun mengembuskan napas tipis, seolah jawaban itu sudah cukup untuknya. Matanya kembali terpejam.Shangkara menoleh pada Guan.“Jaga dia.”Guan membungkuk. “Dengan nyawa saya, Yang Mulia.”Cailin bangkit perlahan. “
آخر تحديث: 2026-02-24
Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk

Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk

Adrian Montclair, miliarder terkutuk, punya waktu hingga ulang tahunnya yang ke-30 sebelum maut menjemput. Satu-satunya cara untuk mengalahkan kutukan adalah menikahi seorang penyihir. Marigold Vale setuju, tapi hanya dengan klausul tambahan yang melarang sentuhan, cinta, dan delusi romantis. Tapi yang lebih berbahaya bukan kutukan, melainkan perasaan yang tumbuh diam-diam.
قراءة
Chapter: Bab 120
Lampu sorot berderet di depan podium. Deretan kamera dan kilatan flash memenuhi ruangan ballroom hotel yang disulap jadi ruangan konferensi pers. Suara riuh wartawan terdengar, semua berebut tempat untuk dapat angle terbaik.Pintu samping terbuka. Adrian Montclair melangkah masuk dengan setelan hitam yang rapi, dasi warna biru gelap, wajahnya dingin tapi mantap. Di sampingnya, Meri berjalan anggun, sederhana tapi elegan, langkahnya selaras dengan Adrian. Begitu mereka muncul, riuh suara ruangan langsung mereda—seolah semua orang menahan napas.Adrian berdiri di podium, menatap barisan kamera dengan tatapan yang tajam. Ia tidak langsung bicara. Hening beberapa detik, cukup lama untuk menegaskan bahwa dialah yang mengendalikan panggung.“Keluarga Montclair telah melalui badai,” suaranya dalam, menggema di ruangan. “Tapi malam ini, saya berdiri di sini untuk mengatakan satu hal sederhana: badai itu telah berakhir.”Flash kamera kembali menyala. Wartawan mulai berbisik.Adrian mengangkat
آخر تحديث: 2025-09-16
Chapter: Bab 119 Rapat Luar Biasa
Adrian berdiri di ujung meja. “Aku tahu siapa saja yang menjual Montclair pada Julian. Hari ini, aku bersihkan meja ini.” Lucien membuka map, menaruh di tengah. Bukti terpampang jelas. Salah satu eksekutif tergagap. “Tuan Montclair… saya—” Adrian memotong dingin. “Diam. Kau duduk di sini karena aku masih izinkan. Satu langkah salah, pintu keluar ada di belakangmu.” Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Montclair bukan milik pengkhianat. Siapa yang mau bertahan, buktikan dengan kerja. Siapa yang ragu… jangan buang waktuku.” Seorang eksekutif lain memberanikan diri. “Dan kalau kami memilih keluar?” Adrian mencondongkan badan, tatapannya menusuk. “Maka kalian akan keluar dengan tangan kosong—dan nama kalian hancur di luar sana.” Keheningan. Tak ada yang berani bergerak. Adrian menutup map dengan satu hentakan. “Mulai hari ini, aku pimpin dengan caraku. Julian sudah jatuh. Sekarang giliran siapa pun yang masih coba bermain dua sisi.” Adrian berdiri, kursinya bergeser pelan
آخر تحديث: 2025-09-15
Chapter: Bab 118 Pengungkapan
Penthouse itu sunyi. Hanya jam dinding di ruang tamu yang berdetak pelan, mengisi kekosongan malam. Meri duduk di sofa, kedua tangannya menggenggam erat mug teh yang sudah lama dingin. Ia menatap pintu lift pribadi, menunggu tanpa berkedip, seperti kalau ia mengalihkan pandangan sebentar saja, Adrian mungkin tidak akan benar-benar kembali.Ting!Denting lift terdengar. Jantung Meri berdegup kencang. Pintu terbuka, dan Adrian muncul—jasnya kusut, dasi longgar, wajahnya lelah tapi matanya tetap sama.“Adrian…” suara Meri hampir bergetar.Ia melangkah masuk, menutup pintu lift dengan satu dorongan. Pandangannya langsung jatuh pada Meri. Ada jeda singkat sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Semua selesai.”Meri bangkit, menghampirinya dengan langkah cepat. “Kau… baik-baik saja?”Adrian mengangguk kecil, lalu meraih tangan Meri, seakan hanya itu yang menahannya tetap berdiri. “Julian sudah ditangkap. Tapi, Meri…” ia menarik napas panjang, “…ada hal lain yang harus kau tahu.”“Duduklah. Aku
آخر تحديث: 2025-09-14
Chapter: Bab 117 Jatuhnya Sang Pemburu
Asap hitam masih membubung dari reruntuhan gudang. Api yang belum padam memberikan cahaya merah di langit, seolah kota sendiri sedang terbakar oleh amarah yang tidak terlihat.Julian Vale berdiri di balkon gedung kosong, setinggi enam lantai, menatap kobaran api dengan senyum tipis di bibirnya. Rokok menyala di ujung jarinya, abu jatuh berhamburan ke bawah.“Lihat itu,” katanya pelan, suaranya bercampur dengan dengung sirene pemadam. “Adrian pikir dia bisa menjebakku. Sekarang pasukannya jadi arang.”Dua pengawal di belakangnya saling melirik, ikut menyeringai seakan kemenangan itu juga milik mereka.Julian mengembuskan asap rokok ke udara, lalu mendesis, “Kematian ayahku tidak akan sia-sia. Aku akan membuat Adrian berlutut. Satu per satu, semua yang dia cintai akan hancur.”Ia berbalik, menepuk bahu salah satu pengawal. “Siapkan kendaraan. Kita pindah malam ini. Jangan sampai jejak ini mengikat kita lebih lama dari yang perlu.”Pengawal itu mengangguk cepat. “Ya, Tuan.”Julian berjal
آخر تحديث: 2025-09-13
Chapter: Bab 116 Eksekusi
Pagi itu, kantor pusat Montclair Group tidak berbeda dari biasanya—ramai, sibuk, para eksekutif bergegas masuk ruang kerja. Tapi di ruang tertutup paling atas, suasananya justru hening mencekam.Adrian berdiri di depan jendela kaca besar, menatap kota yang masih diselimuti kabut tipis. Di tangannya, secangkir kopi yang nyaris tak tersentuh.“Semalam Anderson berhasil,” suara Lucien memecah diam, tablet di tangannya memuat rekaman transkrip percakapan yang sudah diteruskan tim mereka. “Julian percaya. Dia bahkan menyuruh orang-orangnya bergerak cepat.”Adrian menurunkan cangkirnya ke meja, lalu berbalik. Sorot matanya tajam, penuh konsentrasi. “Bagus. Itu berarti kita tidak perlu menunggu lebih lama. Hari ini kita mulai menggerakkan pion.”
آخر تحديث: 2025-09-12
Chapter: Bab 115 Kena
Ruang rapat eksekutif Montclair Group siang itu kosong kecuali tiga orang. Lampu putih menyorot meja panjang dari marmer hitam, menciptakan bayangan dingin di dinding kaca yang menghadap kota.Tuan Anderson duduk di ujung meja, jasnya sedikit kusut, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia jelas lebih gugup dari yang ingin ia tunjukkan.Di sisi lain, Adrian bersandar tenang pada kursinya. Lengannya terlipat di dada, matanya tajam seperti sedang menakar angka di neraca keuangan—hanya saja kali ini yang ia timbang adalah nasib seorang manusia. Lucien berdiri di dekat layar, laptopnya terbuka dengan deretan kode dan jaringan komunikasi yang sedang dipantau.“Kenapa kau terlihat seperti terdakwa di pengadilan, Anderson?” suara Adrian tenang tapi menekan. “Aku sudah bilang, aku tidak berniat menja
آخر تحديث: 2025-09-11
قد تعجبك أيضًا
Aduh Jenderal Tak Tahan
Aduh Jenderal Tak Tahan
Zaman Kuno · Shana
4.7M وجهات النظر
Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran
Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran
Zaman Kuno · Lilia
957.6K وجهات النظر
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
Zaman Kuno · Raisaa
385.9K وجهات النظر
Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati
Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati
Zaman Kuno · Emilia Sebastian
255.2K وجهات النظر
Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan
Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan
Zaman Kuno · Citra Lestari
246.3K وجهات النظر
PUTRI YANG TERTUKAR
PUTRI YANG TERTUKAR
Zaman Kuno · Piemar
222.9K وجهات النظر
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status