Chapter: 133 - TertangkapBlackthorne tidak langsung menyerang. Ia mengamati Kenneth dan Elia, matanya berpindah dari wajah Kenneth ke wajah Elia, dan senyumnya tetap di sana, tipis dan dingin.“Kau menempuh perjalanan jauh,” katanya tenang, “hanya untuk merusak pernikahan yang dilangsungkan besok pagi.”Kenneth tidak menjawab.“Apa kau sadar akibatnya?” Blackthorne melangkah setengah langkah ke samping, sepatunya berderit di atas batu. “Seorang Earl menerobos rumah orang, menyerang penjaga, mencoba membawa pergi calon istri seorang Viscount. Aku bisa menyeretmu ke pengadilan, Ashwick. Kau tahu itu.”Kenneth mengeratkan genggamannya pada tangan Elia. “Minggir.”Blackthorne tidak bergerak. Ia
Last Updated: 2026-10-29
Chapter: 132 - Melewatiku DuluKenneth masih berdiri ketika suara dari bawah terdengar lagi, teriakan, bunyi kayu beradu, langkah kaki yang berlari di lorong.“Bisa berjalan?”Elia mengangguk, meski lututnya terasa kaku dan kepalanya belum sepenuhnya percaya pada apa yang dilihatnya. Kenneth meraih tangannya. Genggaman itu erat, hangat, dan nyata. Ia menarik Elia ke pintu.Berta berdiri di lorong, dan ia tidak ikut melangkah.“Aku tidak ikut,” katanya, cepat dan pelan. “Kalau aku hilang, mereka akan curiga.” Ia menunjuk ke kiri. “Tangga belakang di ujung lorong. Turun satu lantai, lalu belok kanan. Ada pintu kayu kecil ke halaman belakang. Jangan lewat tangga depan.”Kenneth mengangguk sekali. “Terima k
Last Updated: 2026-10-28
Chapter: 131 - MenjemputmuFinneas berhenti di depan gerobak dan mengangkat dagu sedikit.“Pengiriman teh dari Mistvale,” katanya, menyebut nama itu dengan penekanan yang tidak perlu. “Sehari sebelum pernikahan. Menarik sekali.”Thomas menjawab pelan. “Kami hanya diperintahkan mengantar, Tuan.”“Tentu.” Finneas berjalan ke sisi gerobak. Sepatunya berderit di atas batu, dan bau cologne manis menyusul di belakangnya. Ia meletakkan tangan di tepi terpal, merasakan kain tebal itu di bawah jarinya. “Aku harap ini bukan rencana majikan kalian untuk membawa lari pengantin. Akan sangat merepotkan kalau calon istri Viscount Blackthorne menghilang sebelum upacara.”Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Matanya bergerak dari Thomas k
Last Updated: 2026-10-28
Chapter: 130 - Jonas“Nama?”Kenneth menahan napas sesaat sebelum menjawab. Ia sudah memperkirakan pertanyaan itu akan datang, dan tetap saja lidahnya terasa kering.“Jonas.”“Jonas siapa?”“Jonas saja, Tuan. Anak penjaga gudang di Mistvale.”“Jonas.” Penjaga itu mengulang nama itu pelan, seolah menimbang apakah jawaban itu layak dipercaya. Tatapannya tidak beranjak dari wajah Kenneth.Kenneth mempertahankan ekspresi datar, kedua tangannya menggantung di sisi tubuh. Sarung tangan kasar itu longgar di ujung jari, dan ia harus mengingatkan dirinya berkali-kali agar tidak menariknya.Di belakangnya,
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: 129 - PengirimanGerobak itu sudah ditutup terpal ketika Kenneth keluar dari gudang.Enam pekerja berdiri di sekitarnya, mantel tebal dikancingkan sampai dagu, napas mereka mengepul putih di udara dingin. Thomas berjalan dari satu orang ke orang lain, menarik tali, mengetuk peti, memastikan setiap ikatan kuat. Kenneth menghampiri mereka dengan pakaian kerja sederhana, kemeja gelap tanpa kancing berlapis, mantel wol usang yang ujung lengannya sudah berbulu. Tidak ada yang menunjukkan bahwa ia seorang Earl. Telapak tangannya terasa asing di balik sarung tangan kasar, dan ia sudah melepas cincin signet-nya tadi malam, menyimpannya di laci.Thomas menoleh. “Kita siap, Tuan.”“Jangan panggil aku Tuan di jalan.” Kenneth naik ke gerobak, duduk di samping peti yang paling dekat dengan terpal. “Aku salah satu pe
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: 128 - Malam TerakhirHughes mengantar Hazel masuk ke ruang duduk, dan William berdiri begitu melihat perempuan itu.Hazel masih memakai mantel perjalanan, rambutnya berantakan tertiup angin. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan mencengkeram tali tasnya, buku-buku jarinya pucat. Matanya bergerak dari Kenneth ke William, lalu ke meja yang penuh kertas.“William,” katanya, suaranya lebih tenang dari wajahnya.“Hazel.”Kenneth melangkah dari meja. “Terima kasih sudah datang. Aku hanya minta kau membawa apa yang kau ingat.”Hazel menunduk sopan. “Saya tidak tahu apakah yang saya ingat berguna, Tuan. Dan...” Ia menelan ludah. “Saya baru tahu kalau Nona Camelia disekap.”Kenneth mengangguk, menunjuk kursi di seberang meja. “Duduklah.”Hazel duduk. William kembali ke kursinya di dekat jendela, tapi kali ini ia condong ke depan, tangan di lutut. Hughes keluar dan menutup pintu, dan bunyi kayu yang beradu terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba sunyi.Kenneth duduk dan meletakkan pena. “Kau bekerja di kediama
Last Updated: 2026-10-25
Kaisar, Jangan Meminta Lebih
Dibuang oleh Ibu tirinya ke hutan, Cailin bertemu dengan pria yang terluka parah. Saat ia menolongnya, justru tubuhnya menyerap energi hingga nyaris merenggut jiwanya. Yang ia tidak tahu, pria itu adalah Kaisar Spiritual, Shangkara, yang kekuatannya termasyhur.
Untuk menyelamatkannya, Shangkara melakukan hal terlarang dengan memberikannya darah-nya. Tindakan itu menyelamatkan nyawa Cailin, tetapi sekaligus mengikat mereka dalam ikatan jiwa-raga yang misterius. Kini, rasa sakit, kelemahan, dan bahkan perasaan mereka saling terpengaruh. Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah melalui Ritual Penyatuan Yin-Yang—sebuah ritual sakral yang tak pernah ada berani menggunakannya.
“Ritual apa?”
“Ritual Penyatuan. Tidurlah denganku. Sekali saja. Maka kau akan selamat… sekaligus menjadi milikku.”
Read
Chapter: 254 - AnginBeberapa tahun kemudian. Kota Angin selalu lebih sejuk daripada ibu kota Vermilion. Di sini, angin tidak membawa bau logam panas atau suara rapat dewan. Ia membawa aroma rumput liar, kayu basah, sup hangat dari dapur-dapur kecil, dan tawa anak-anak yang berlarian di antara rumah. Di lereng bukit yang menghadap lembah hijau, sebuah rumah kayu berdiri kokoh, jauh dari kemegahan emas istana. Ren berdiri di halaman luas, mengenakan pakaian linen sederhana yang memudahkan geraknya. Di depannya, sekelompok remaja lokal berusaha mengikuti gerakan pedang kayunya. Ren berteriak memberi instruksi, namun ada senyum yang sering menghiasi wajahnya—sesuatu yang dulu hampir mustahil terlihat. “Pegang pedangmu dengan keyakinan,” katanya, suaranya tegas tapi hangat. “Bukan dengan ketakutan. Pedang hanya sebatas alat. Yang menentukan baik atau jahat adalah hati yang menggerakkannya.” Seorang anak laki-laki bertanya, “Guru Ren, Guru Ren, benarkah dulu Guru adalah pengawal Kaisar?” Ren terta
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: 253 - AltarDi altar utama, Guru Fen berdiri dengan jubah putih upacara. Api suci dinyalakan.Di depan Guru Fen, Shangkara dan Cailin berdiri berhadapan. Guru Fen mengangkat kedua tangannya. ”Dengan restu langit dan bumi, dengan izin para leluhur Vermilion, hari ini kita menyaksikan penyatuan dua jiwa.”Guru Fen membuka gulungan besar. Suaranya bergema di aula hening.“Shangkara dari Klan Vermilion, Kaisar Api Abadi, pewaris takhta yang sah—”Ia membaca panjang. Silsilah. Gelar. Janji-janji formal yang sudah ditulis ratusan tahun lalu.“Apakah kau bersedia menerima Cailin dari Klan Bulan sebagai permaisurimu, mendampingimu dalam suka dan duka, dalam perang dan damai, hingga ajal memisahkan?”Shangkara menatap Cailin.“Aku tidak butuh sumpah panjang.”Guru Fen tertegun. Para bangsawan mulai berbisik.Shangkara melanjutkan, suaranya rendah tapi jelas di seluruh aula. “Aku sudah memilihmu. Sebelum perang. Saat perang. Setelah perang. Itu sumpahku.”Cailin tersenyum.Guru Fen juga tersenyum, kemudi
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: 252 - MahkotaIstana Vermilion tidak pernah sesibuk ini.Aroma dupa pembersih ruangan bercampur dengan harum bunga-bunga pegunungan yang didatangkan khusus dari berbagai wilayah di Vermilion.Para pelayan bergerak cepat di sepanjang koridor, membawa gulungan sutra merah setinggi dada mereka. Di sudut lain, para pelayan sibuk memoles pilar-pilar aula utama hingga permukaannya bisa memantulkan cahaya spiritual seperti cermin.Di tengah hiruk-pikuk itu, Cailin berdiri mematung di dalam kamarnya.Enam pelayan senior mengelilinginya, memasangkan lapis demi lapis sutra merah berat yang disulam benang emas murni. Berat mahkota perak di kepalanya mulai terasa menekan pangkal lehernya.“Punggung harus tetap tegak, Calon Permaisuri,” bisik salah satu pelayan dengan suara tanpa ekspresi. “Dagu tidak boleh terlalu rendah, mata tidak boleh terlalu liar. Anda adalah wajah Vermilion sekarang.”Cailin menarik napas panjang, namun kain korset yang ketat membuatnya merasa seolah oksigen di ruangan itu menipis. Ia men
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: 251 - PilihanHalaman Istana Timur yang belakangan selalu sunyi, kini riuh oleh suara roda kereta yang beradu dengan batu jalanan. Puluhan kereta dengan lambang keluarga bangsawan berjajar di luar gerbang. Para gadis bangsawan berdiri dalam barisan rapi, masing-masing mengenakan jubah keluarga mereka.Dekret itu telah dibacakan pagi tadi. Istana Timur dibubarkan.Semua calon selir dipulangkan dengan kehormatan. Tidak akan ada selir di bawah pemerintahan Kaisar Vermilion yang baru.Beberapa keluarga menerima dengan wajah tegang. Beberapa terlihat lega. Beberapa tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.Lian tidak ikut dalam rombongan yang berangkat hari itu.Ia berdiri di tangga batu, memandang halaman yang perlahan kosong. Tidak ada kereta yang menjemputnya.Langkah lembut mendekat. Cailin berhenti di sisinya.“Kau tidak pulang hari ini?” tanyanya.Lian menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan menunggu kabar berikutnya sebelum berangkat. Atau mungkin aku akan pulang sendiri.”Nada suaranya tenang. Ini bukan
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: 250 - TitahAula utama Istana Vermilion telah disiapkan.Meja panjang dari kayu hitam membentuk setengah lingkaran menghadap singgasana. Para tetua duduk dengan jubah kebesaran mereka, cincin keluarga berkilau di jari-jari yang keriput namun masih berkuasa.Di tengah meja besar, gulungan-gulungan silsilah keluarga terhampar.Tetua Hong memimpin sidang.“Kerajaan tidak boleh kosong terlalu lama,” ucapnya tenang. “Perang di barat telah usai. Justru saat seperti inilah fondasi harus diperkuat.”Ia membuka gulungan pertama. “Keluarga Wei menawarkan putri sulung mereka. Bakat elemen apinya murni, sangat cocok untuk menjaga garis keturunan kekaisaran.”Beberapa tetua mengangguk pelan. Bisik-bisik setuju mulai terdengar.Seorang tetua lain mengangguk. “Aliansi keluarga Lin akan membuka jalur tambang utara. Putri mereka sudah ada di Istana Timur sejak lama. Garis darahnya murni.”“Dan keluarga Zhen menjanjikan tiga ribu pasukan tambahan untuk pertahanan perbatasan,” timpal yang lain.Nama-nama disebut.
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: 249 - KeputusanShangkara tidak menghadiri jamuan kemenangan.Saat rakyat Saharath mulai merayakan fajar baru mereka, ia sudah berjalan kembali menuju bunker bawah tanah.Bunker itu masih menyisakan aroma tajam obat-obatan dan sisa hawa dingin dari es Cailin saat Shangkara melangkah masuk. Langkahnya mantap, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari duel.Di dalam ruangan itu, Cailin duduk bersama Guan di samping ranjang sederhana tempat Yun terbaring.Es telah lama mencair. Hanya kain tipis yang menutup dada Yun, tempat bekas luka kecil menghitam namun bersih dari pasir.Yun membuka mata perlahan ketika pintu batu bergeser.Pandangan kaburnya menemukan siluet yang berdiri di ambang pintu.“Yang … Mulia …?”Suaranya nyaris tak terdengar.Shangkara melangkah mendekat.Ia hanya mengangguk.Yun mengembuskan napas tipis, seolah jawaban itu sudah cukup untuknya. Matanya kembali terpejam.Shangkara menoleh pada Guan.“Jaga dia.”Guan membungkuk. “Dengan nyawa saya, Yang Mulia.”Cailin bangkit perlahan. “
Last Updated: 2026-02-24
Chapter: 250 - Tahun Ajaran BaruHalaman Kingsley kembali dipenuhi kereta sejak pagi.Suara roda berhenti bergantian di depan gerbang. Para pelayan sibuk menurunkan koper, sementara mahasiswa lama berjalan melewati halaman dengan langkah yang jauh lebih santai daripada mahasiswa baru yang terus melihat ke segala arah.Tahun akademik baru telah dimulai.Untuk pertama kalinya, mahasiswa perempuan berdiri di halaman Kingsley dengan pakaian resmi akademi. Rok panjang berwarna gelap, blus berkerah rapi, dan jubah tipis yang sama dengan mahasiswa laki-laki. Rosemary berdiri di dekat tangga gedung utama, memperhatikan semuanya. Ia masih ingat bagaimana dulu ia datang ke tempat ini sebagai Edmund. Kaku, waspada, dan selalu memastikan suaranya cukup dalam dan caranya berdiri cukup meyakinkan. Sekarang ia berdiri di sini sebagai senior tingkat dua, dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan pakaian perempuan.“Senior, boleh tanya sesuatu?”Rosemary menoleh. Seorang mahasiswi baru berdiri di hadapannya, menenteng koper di tangan
Last Updated: 2026-09-05
Chapter: 249 - KembaliRosemary kembali ke Kingsley saat sore mulai turun.Setelah berpisah dari Edmund di Sterling Manor, ia menghabiskan perjalanan dengan menatap jalan yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi yang ia tunggu di balik tikungan. Tidak ada yang harus ia sembunyikan dari pandangan siapa pun.Halaman Kingsley terlihat ramai, tapi tidak mencekam. Beberapa mahasiswa lalu-lalang membawa buku. Yang lain duduk di bangku kayu dekat jalan setapak. Rosemary turun dari kereta, menyesuaikan tas di bahunya, lalu berjalan melewati gerbang.Ia berhenti sebentar di tengah halaman.Pertama kali ia berdiri di titik yang sama, ia baru saja tiba sebagai Edmund Sterling dan sedang menghitung berapa banyak orang yang harus ia waspadai. Sekarang udara sore yang hangat menyen
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: 248 - PulangPerjalanan pulang terasa lebih singkat daripada yang Rosemary ingat. Jalan yang sama membentang di depan kereta, melewati ladang-ladang yang mulai menguning dan deretan pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Edmund duduk di seberangnya. Sejak meninggalkan Kingsley, ia beberapa kali membuka buku yang dibawanya, tetapi tidak pernah benar-benar membacanya. Akhirnya buku itu diletakkan begitu saja di sampingnya. Rosemary memperhatikan hal itu sambil tersenyum kecil. “Capek?” Edmund menggeleng. “Tidak.” “Bohong.” Edmund menatapnya. “Kau juga tidak membaca apapun sejak tadi.” Rosemary melihat buku yang sejak satu jam lalu masih terbuka pada halaman yang sama. “Aku sedang menikmati pemandangan.” “Oya?” Rosemary menutup bukunya. “Baiklah. Mungkin kita memang capek.” Edmund tersenyum kecil dan kembali memandang keluar jendela. Tidak banyak yang mereka bicarakan setelah itu. Sterling Manor akhirnya terlihat dari ujung jalan ketika matahari mulai turun. Bangunan batu yang selam
Last Updated: 2026-09-03
Chapter: 247 - Presentasi LangstonBeberapa hari setelah keputusan Dewan, Kingsley mulai kembali terasa seperti akademi.Rosemary dan Benedict kembali mengikuti jadwal kuliah. Tidak ada lagi surat yang harus disembunyikan di saku jas. Tidak ada lagi arsip yang harus mereka periksa hingga larut malam. Yang mereka bawa sekarang hanya satu map tipis dengan hasil yang sah dan bisa ditunjukkan kepada siapapun yang bertanya.Profesor Langston meminta mereka maju untuk mempresentasikan tugas.Ruangan lebih penuh dari biasanya. Oliver duduk di baris tengah bersama Cedric. Beberapa mahasiswa yang dulu menatap Rosemary dengan curiga kini hanya diam menunggu. Tidak ada bisik-bisik. Semua mata tertuju ke depan.Rosemary membuka map itu.Benedict berdiri di sampingny
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: 246 - SelesaiLima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: 245 - AshworthSemua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Bab 120Lampu sorot berderet di depan podium. Deretan kamera dan kilatan flash memenuhi ruangan ballroom hotel yang disulap jadi ruangan konferensi pers. Suara riuh wartawan terdengar, semua berebut tempat untuk dapat angle terbaik.Pintu samping terbuka. Adrian Montclair melangkah masuk dengan setelan hitam yang rapi, dasi warna biru gelap, wajahnya dingin tapi mantap. Di sampingnya, Meri berjalan anggun, sederhana tapi elegan, langkahnya selaras dengan Adrian. Begitu mereka muncul, riuh suara ruangan langsung mereda—seolah semua orang menahan napas.Adrian berdiri di podium, menatap barisan kamera dengan tatapan yang tajam. Ia tidak langsung bicara. Hening beberapa detik, cukup lama untuk menegaskan bahwa dialah yang mengendalikan panggung.“Keluarga Montclair telah melalui badai,” suaranya dalam, menggema di ruangan. “Tapi malam ini, saya berdiri di sini untuk mengatakan satu hal sederhana: badai itu telah berakhir.”Flash kamera kembali menyala. Wartawan mulai berbisik.Adrian mengangkat
Last Updated: 2025-09-16
Chapter: Bab 119 Rapat Luar Biasa Adrian berdiri di ujung meja. “Aku tahu siapa saja yang menjual Montclair pada Julian. Hari ini, aku bersihkan meja ini.” Lucien membuka map, menaruh di tengah. Bukti terpampang jelas. Salah satu eksekutif tergagap. “Tuan Montclair… saya—” Adrian memotong dingin. “Diam. Kau duduk di sini karena aku masih izinkan. Satu langkah salah, pintu keluar ada di belakangmu.” Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Montclair bukan milik pengkhianat. Siapa yang mau bertahan, buktikan dengan kerja. Siapa yang ragu… jangan buang waktuku.” Seorang eksekutif lain memberanikan diri. “Dan kalau kami memilih keluar?” Adrian mencondongkan badan, tatapannya menusuk. “Maka kalian akan keluar dengan tangan kosong—dan nama kalian hancur di luar sana.” Keheningan. Tak ada yang berani bergerak. Adrian menutup map dengan satu hentakan. “Mulai hari ini, aku pimpin dengan caraku. Julian sudah jatuh. Sekarang giliran siapa pun yang masih coba bermain dua sisi.” Adrian berdiri, kursinya bergeser pelan
Last Updated: 2025-09-15
Chapter: Bab 118 PengungkapanPenthouse itu sunyi. Hanya jam dinding di ruang tamu yang berdetak pelan, mengisi kekosongan malam. Meri duduk di sofa, kedua tangannya menggenggam erat mug teh yang sudah lama dingin. Ia menatap pintu lift pribadi, menunggu tanpa berkedip, seperti kalau ia mengalihkan pandangan sebentar saja, Adrian mungkin tidak akan benar-benar kembali.Ting!Denting lift terdengar. Jantung Meri berdegup kencang. Pintu terbuka, dan Adrian muncul—jasnya kusut, dasi longgar, wajahnya lelah tapi matanya tetap sama.“Adrian…” suara Meri hampir bergetar.Ia melangkah masuk, menutup pintu lift dengan satu dorongan. Pandangannya langsung jatuh pada Meri. Ada jeda singkat sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Semua selesai.”Meri bangkit, menghampirinya dengan langkah cepat. “Kau… baik-baik saja?”Adrian mengangguk kecil, lalu meraih tangan Meri, seakan hanya itu yang menahannya tetap berdiri. “Julian sudah ditangkap. Tapi, Meri…” ia menarik napas panjang, “…ada hal lain yang harus kau tahu.”“Duduklah. Aku
Last Updated: 2025-09-14
Chapter: Bab 117 Jatuhnya Sang PemburuAsap hitam masih membubung dari reruntuhan gudang. Api yang belum padam memberikan cahaya merah di langit, seolah kota sendiri sedang terbakar oleh amarah yang tidak terlihat.Julian Vale berdiri di balkon gedung kosong, setinggi enam lantai, menatap kobaran api dengan senyum tipis di bibirnya. Rokok menyala di ujung jarinya, abu jatuh berhamburan ke bawah.“Lihat itu,” katanya pelan, suaranya bercampur dengan dengung sirene pemadam. “Adrian pikir dia bisa menjebakku. Sekarang pasukannya jadi arang.”Dua pengawal di belakangnya saling melirik, ikut menyeringai seakan kemenangan itu juga milik mereka.Julian mengembuskan asap rokok ke udara, lalu mendesis, “Kematian ayahku tidak akan sia-sia. Aku akan membuat Adrian berlutut. Satu per satu, semua yang dia cintai akan hancur.”Ia berbalik, menepuk bahu salah satu pengawal. “Siapkan kendaraan. Kita pindah malam ini. Jangan sampai jejak ini mengikat kita lebih lama dari yang perlu.”Pengawal itu mengangguk cepat. “Ya, Tuan.”Julian berjal
Last Updated: 2025-09-13
Chapter: Bab 116 EksekusiPagi itu, kantor pusat Montclair Group tidak berbeda dari biasanya—ramai, sibuk, para eksekutif bergegas masuk ruang kerja. Tapi di ruang tertutup paling atas, suasananya justru hening mencekam.Adrian berdiri di depan jendela kaca besar, menatap kota yang masih diselimuti kabut tipis. Di tangannya, secangkir kopi yang nyaris tak tersentuh.“Semalam Anderson berhasil,” suara Lucien memecah diam, tablet di tangannya memuat rekaman transkrip percakapan yang sudah diteruskan tim mereka. “Julian percaya. Dia bahkan menyuruh orang-orangnya bergerak cepat.”Adrian menurunkan cangkirnya ke meja, lalu berbalik. Sorot matanya tajam, penuh konsentrasi. “Bagus. Itu berarti kita tidak perlu menunggu lebih lama. Hari ini kita mulai menggerakkan pion.”
Last Updated: 2025-09-12
Chapter: Bab 115 KenaRuang rapat eksekutif Montclair Group siang itu kosong kecuali tiga orang. Lampu putih menyorot meja panjang dari marmer hitam, menciptakan bayangan dingin di dinding kaca yang menghadap kota.Tuan Anderson duduk di ujung meja, jasnya sedikit kusut, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia jelas lebih gugup dari yang ingin ia tunjukkan.Di sisi lain, Adrian bersandar tenang pada kursinya. Lengannya terlipat di dada, matanya tajam seperti sedang menakar angka di neraca keuangan—hanya saja kali ini yang ia timbang adalah nasib seorang manusia. Lucien berdiri di dekat layar, laptopnya terbuka dengan deretan kode dan jaringan komunikasi yang sedang dipantau.“Kenapa kau terlihat seperti terdakwa di pengadilan, Anderson?” suara Adrian tenang tapi menekan. “Aku sudah bilang, aku tidak berniat menja
Last Updated: 2025-09-11