MasukMalam pekat menyelimuti kaki gunung Naga Hitam. Shangkara berdiri sendirian, matanya terpejam. Fokus mengumpulkan energi vermilionnya.
“Cailin … tunggu sebentar lagi. Bertahanlah,” gumannya.
Ia membuka mata. Matanya yang vermilion menyala terang. Sayap vermilion muncul dari punggungnya. Dalam sekejap ia melesat menuju markas klan naga hitam. “Mari kita bermain api.”
Kedua tangannya terangkat. Bola api vermilion raksasa terbentuk di atas tangannya, menerangi seluruh langit di atas markas.
“Biar mereka tahu,” suaranya dalam dan berat, “apa artinya menantang Kaisar Vermilion.”
Ia melempar bola api itu ke gerbang utama. Suara ledakannya memekakkan telinga. Namun, di bal
Yun berdiri kaku di ambang pintu, pedangnya terhunus. Di belakangnya, lima anggota Pasukan Bayangan menahan napas, siap menerkam.Tapi tidak siapapun untuk diterkam.Ruangan itu kosong melompong.Yun menyadarinya di detik pertama begitu kakinya menginjak lantai.Hanya ada sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Di atasnya, duduk sebuah boneka jerami kasar yang mengenakan selendang wanita. Dan tepat di pangkuan boneka itu, sebuah dupa kecil menyala, mengirimkan asap hijau tipis ke udara.“Berhenti!” desisnya.Hidung Yun menangkap bau manis yang menyengat. Instingnya berteriak sebelum otaknya memproses.“Tahan napas!&rdquo
Kawah Vermilion Tua terbentang di hadapan Ren.Tanah di sekelilingnya hitam, kering dan retak-retak. Tidak ada bara. Tidak ada asap. Tidak ada sisa api yang bisa dibanggakan. Hanya hamparan abu vulkanik kelabu yang membeku, dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam yang menjulang seperti tulang rusuk raksasa.Ren berdiri di bibir kawah. Napasnya terdengar kasar di tenggorokannya yang kering.Legenda mengatakan, di sinilah leluhur Vermilion pertama kali mengikat perjanjian dengan Burung Api Vermilion. Dulu, tempat ini adalah lautan api abadi.Sekarang, tempat ini sunyi. Dingin. Mati.Ren mengerti kenapa ia bisa sampai di sini.Ren menuruni lereng kawah, tergelincir di atas kerikil ab
Dingin.Itu adalah sensasi pertama yang dirasakan Ren. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menggigit hingga ke tulang.Selama hidupnya, tubuhnya dialiri Qi Vermilion yang bersifat Yang murni. Hujan salju, badai es, atau angin malam tidak pernah membuatnya menggigil. Tubuhnya adalah tungku abadi.Tapi sekarang, tungku itu padam.Ren merapatkan jubah abunya yang sudah robek terkena ranting berduri. Napasnya mengepul putih di udara malam yang membeku.Jalur Pedagang Hantu bukan sekadar nama. Jalan setapak ini membelah tebing curam yang tertutup lumut licin dan kabut abadi. Di sisi kirinya adalah dinding batu basah, di sisi kanannya adalah jurang gelap tanpa dasar.Kaki Ren gemetar.
Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m
Kabut pagi belum sepenuhnya lenyap ketika ruang strategi istana Vermilion mulai dipenuhi suara rendah yang tegang. Ruangan itu tanpa jendela, diterangi cahaya kristal putih yang memantulkan peta wilayah besar di dinding.Shangkara berdiri di depan peta, punggungnya tegang. Di sebelahnya, Guru Fen duduk di kursi kayu, tangannya menelusuri gulungan laporan medis dengan gerakan lambat. Jenderal Fan, pria berotot dengan wajah penuh luka lama, berdiri tegak di sisi lain meja. Ren tidak duduk. Dia bersandar di dinding dekat pintu, wajahnya masih kotor dari debu gang.Kepala Intelijen, pria yang selalu muncul dari bayangan, baru saja selesai melaporkan dua hal: kerusuhan di Distrik Timur yang mulai mereda setelah pasukan menduduki gudang, dan fakta bahwa tidak ada jejak Lian di seluruh kompleks istana.“Aku ber
Ren menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h







