Home / Rumah Tangga / Karma Suami Mendua / 22. Peringatan dari Silvi

Share

22. Peringatan dari Silvi

Author: Alya Feliz
last update publish date: 2026-04-09 21:40:11

"Kenapa? Udah bener kan, langkah yang aku ambil?" Kamila heran dengan reaksi Silvi yang menurutnya berlebihan. "Duitnya kan hakku dan Fiona. Dalam agama nggak boleh ya?"

"Bukan begitu." Silvi meraih es teh milik Kamila dan meminumnya cukup banyak. "Kamu nggak mikir akibatnya gimana?"

Akibatnya? Ya biar suaminya jera dan tidak lagi menafkahi pelakor itu. Kamila merasa keputusannya sudah benar.

"Mil, kamu sering-sering update berita deh. Jaman sekarang itu beda jauh dengan jaman dulu. Kalau kamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Karma Suami Mendua    24. Mengamankan Kamila dan Fiona

    "Apa nggak besok saja, Le? Sudah malam. Mungkin Kamila juga sudah tidur," saran Bu Aminah dengan wajah khawatir. "Nggak bisa, Bu. Saya takut Putra nekat. Tahu sendiri sifat anak itu gimana. Bisa saja dia pulang malam ini juga. Jarak Surabaya ke sini cuma 2 jam saja." Harsa mengenakan jaket sedikit tebal untuk menghalau dingin, karena angin begitu kencang di luar sana. "Minta diantar sama Ilham ya. Ibu ke rumahnya sekarang." Ilham adalah anak dari sepupu Bu Aminah yang menjadi tentara. Badannya tinggi besar dan sering menjadi garda terdepan jika terjadi masalah di lingkungan sekitar. "Tidak usah. Saya sudah menghubungi Anto, Bu. Ibu nggak apa-apa saya tinggal sebentar? Pintunya dikunci saja. Atau menginap di rumahnya Bulek Karti?" Harsa sebenarnya tidak tega meninggalkan ibunya sendirian. Beruntung tetangga sekitar banyak yang peduli. Apalagi rumah Bulek Karti, ibunya Ilham, hanya berjarak dua rumah saja dari rumah mereka. "Ibu di rumah saja. Nanti kalau ada apa-apa, ibu bisa min

  • Karma Suami Mendua    23. Dipecat

    Putra sudah panas dingin. Jika berhubungan dengan polisi, entah kenapa dia langsung merasa tidak nyaman. Dulu, dia pernah berurusan dengan dinginnya penjara gara-gara kenakalan masa remaja, dan berakhir dengan sabetan ikat pinggang milik ayahnya."Bertahun-tahun aku memasukkan kamu ke pondok pesantren, bukan untuk menjadi berandalan! Kalau tahu jadinya akan begini, seharusnya kamu tetap berada di pesantren sampai lulus SMA!"Ingin sekali Putra tertawa terbahak-bahak, karena pada kenyataannya, ayahnya yang sok agamis itu ternyata memelihara gundik yang usianya lebih tua setahun darinya selama belasan tahun. Dan ternyata, gundik itu adalah mantan kekasihnya sendiri, yang membuatnya terlibat tawuran dengan siswa dari SMA lain demi memperebutkan gadis itu.Putra baru tahu dengan fakta pahit itu setelah menikah dengan Kamila dan memiliki anak. Dia tidak sengaja memergoki ayahnya sedang bermesraan dengan mantan kekasihnya di sebuah restoran mewah, dan berakhir dengan check-in di hotel."Kam

  • Karma Suami Mendua    22. Peringatan dari Silvi

    "Kenapa? Udah bener kan, langkah yang aku ambil?" Kamila heran dengan reaksi Silvi yang menurutnya berlebihan. "Duitnya kan hakku dan Fiona. Dalam agama nggak boleh ya?""Bukan begitu." Silvi meraih es teh milik Kamila dan meminumnya cukup banyak. "Kamu nggak mikir akibatnya gimana?"Akibatnya? Ya biar suaminya jera dan tidak lagi menafkahi pelakor itu. Kamila merasa keputusannya sudah benar."Mil, kamu sering-sering update berita deh. Jaman sekarang itu beda jauh dengan jaman dulu. Kalau kamu pikir Putra akan diam dan mengalah karena semua uangnya kamu ambil, maka kamu salah besar."Sepertinya pembahasannya cukup serius. Kamila meletakkan siomay ayam yang hendak dia makan. "Terus?""Dulu, mungkin Putra nggak akan tega. Itu karena dia belum mengenal pelakor. Sekarang, bisa saja dia berbuat nekat. Apalagi kalau diprovokasi sama pelakornya karena duitnya habis. Ya bukannya mau suudzon, tapi Putra bisa nekat, Mil. Orang kalau udah dibutakan oleh nafsu duniawi, tidak masalah melakukan sat

  • Karma Suami Mendua    21. Karma yang Cepat Datang

    Sudah jam 11 lebih, namun Fiona belum juga pulang. Dia sengaja menunggu di atas sepeda motor. Bukan karena enggan untuk bertemu dengan Arin dan Dewi, melainkan karena memikirkan perkataan ibu mertuanya.Baru kali ini dia mendengar seorang ibu yang justru ikhlas jika anaknya diceraikan. Biasanya, ibu mertua akan selalu membela apapun kesalahan anak laki-lakinya dan menjadikan menantunya sebagai kambing hitam.Ponselnya berbunyi ketika dia hendak turun dari motornya dan bergabung dengan walimurid lain di teras sekolah. Dia melihat siapa yang menghubungi. Nomor baru.Kamila paling malas jika dihubungi oleh nomor baru. Selain karena malas basa-basi, dia tidak mau jika itu Rebecca. Tapi, tetap saja dia penasaran."Halo? Siapa ya?"[Mil? Masih ingat aku, nggak?]Siapa? Dia berusaha untuk menerka suara di seberang telepon, tapi lupa."Maaf, aku lupa. Siapa?"[Evelyn. Teman kuliah kamu dulu sama Rendra.]Mata Kamila langsung melotot. "Evelyn! Ya Allah, lama banget lho kita nggak pernah komuni

  • Karma Suami Mendua    20. Cinta Dalam Diam

    "Le, mbok ya dibuat istirahat. Jangan main hp terus biar cepat sembuh." Bu Aminah membawa segelas teh panas dan meletakkannya di atas nakas.Harsa buru-buru mematikan layar ponsel dan meletakkannya di sebelah bantal. Dia bangkit dan menyesap sedikit teh itu, sebelum kembali berbaring.Bu Aminah menyentuh dahi putra sulungnya yang terasa panas. "Nggak ke dokter aja?""Cuma demam biasa, Bu. Nanti dibuat tidur juga sembuh," tolak Harsa.Wanita yang wajahnya dimakan usia itu menghela nafas panjang. Teringat bagaimana putranya rela menunggui sang keponakan setiap hari agar cepat sembuh dan tidak lagi stress."Le, bukan maksud ibu untuk ikut campur. Tapi... apakah penyebab kamu belum juga menikah itu...Kamila?"Harsa yang sebelumnya memejamkan mata, langsung melek. Dari reaksi pria itu yang tidak kunjung menjawab, Bu Aminah tahu jawabannya. Dia menghela nafas panjang."Banyak perempuan yang masih single dan bukan istri orang. Kenapa harus dia? Jangan sembrono. Mungkin itu cuma ulah jin Dasi

  • Karma Suami Mendua    19. Karma Dimulai

    Saat seseorang sudah berani melanggar larangan agama secara sadar, maka dia juga harus bersiap untuk menerima konsekuensinya. Entah itu karena Tuhan hendak membersihkan dosa-dosanya, ingin menegur perbuatannya, atau jawaban dari doa orang yang terzalimi.Pagi itu, Putra masuk ke kantor dengan semangat baru. Tangan kirinya menggenggam erat fotokopi buku tabungan yang baru dibuatnya kemarin. Menggunakan uang Rebecca tentu saja. Wanita itu terus mengeluh karena uangnya berkurang banyak untuk membayar kontrakan, servis mobil, dan biaya lain-lain yang biasanya ditanggung oleh Putra. Tapi Putra tidak peduli. Tidak ada yang gratis di dunia ini, bukan? Begitu juga dengan semua biaya yang sudah dikeluarkannya untuk memelihara Rebecca. Sudah saatnya dia meminta imbal balik."Dina, tolong ganti nomor rekening saya, ya. Punya saya keblokir." Putra menyerahkan buku tabungan yang berisi nomor rekening baru kepada staff HRD bagian payroll.Dina, karyawan yang baru bekerja selama dua tahun itu menat

  • Karma Suami Mendua    13. Mulai Takut

    Putra langsung merebut ponsel Evelyn untuk melihat-lihat foto dan video di akun Inchigram milik istrinya. Semuanya berisi tentang mereka bertiga. Komentar-komentar netizen membuat hati Putra panas.[Kak, suami baru kah? Lebih perhatian yang ini deh. Mana lebih ganteng juga.][Eh, bukannya suaminya

  • Karma Suami Mendua    12. Alasan Berselingkuh

    Selama pernikahannya dengan Kamila, Putra merasa bosan karena tidak ada tantangan. Kamila terlalu sempurna. Cantik, baik, penurut, tubuhnya bagus, pintar masak, pintar mengasuh anak, tidak pernah neko-neko, dan tidak pernah melawannya.Putra bahkan pernah iseng menyuruh Kamila untuk mewarnai rambut

  • Karma Suami Mendua    11. Mengambil Hak yang Direbut Pelakor

    "Kamu kehabisan uang tunai? Kenapa nggak bilang dari tadi? Pakai uangku aja." Harsa mengambil dompet dari saku celana dan menyerahkannya pada Kamila yang langsung melotot."Mas! Kamu bukan suamiku. Kamu nggak ada kewajiban untuk memberi aku uang," tolak Kamila sambil mendorong dompet yang terlihat

  • Karma Suami Mendua    10. Suami yang Berselingkuh

    "Enak?"Fiona mengangguk-angguk dengan wajah bahagia. Karena sudah terbiasa tidak merasakan kehadiran sang ayah, Fiona tidak pernah rewel meskipun hanya makan berdua dengan Kamila."Om Harsa nggak dibelikan, Ma? Nanti ngambek."Kamila tertawa. Membayangkan pria dewasa berbadan tinggi dan gagah sepe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status