LOGINArini kehilangan bayinya dalam sebuah kecelakaan, tepat saat suaminya, Adrian, lebih memilih menjaga wanita lain yang hanya sedang "flu". Luka itu kian menganga ketika Adrian dengan tega membawa selingkuhannya tinggal satu atap di rumah mereka. Mereka mengira Arini akan tetap diam dan penurut seperti biasanya. Mereka salah. Arini yang sabar sudah mati di aspal jalanan. Kini, bersama Alvaro, pengacara sekaligus pria dari masa lalunya, Arini siap menghancurkan dunia Adrian dan wanita itu sampai tak tersisa.
View MoreAlvaro, dengan ketelatenan yang luar biasa, membasuh sisa-sisa busa di bahu istrinya untuk terakhir kalinya. Gerakannya sangat lembut dan penuh perasaan. Ia tidak membiarkan Arini melakukan apa pun sendiri, ia benar-benar memanjakan wanita itu hingga ke titik di mana Arini merasa seluruh beban berat di pundaknya luruh bersama air.Alvaro bangkit berdiri perlahan, meraih handuk putih tebal yang sudah ia siapkan di atas rak pemanas. Dengan gerakan yang sangat protektif, ia membantu Arini berdiri dan melilitkan handuk itu ke tubuh mungil istrinya, membungkusnya dengan rapat seolah ingin melindungi Arini dari udara dingin yang mungkin menyerang.Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, namun tatapan mata Alvaro yang dalam sudah cukup mewakili ribuan kalimat cinta.Ia kembali mengangkat tubuh Arini dalam gendongannya dengan sangat sigap. Tubuh Arini terasa begitu ringan di tangannya, atau mungkin kekuatan Alvaro yang sedang berada di puncaknya karena dorongan keinginan untuk m
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Keheningan yang tercipta seolah menjadi ruang bagi Alvaro untuk meredam sisa-sisa amarahnya. Alvaro akhirnya menoleh pada Kael. Asisten setianya itu masih berdiri mematung setelah menyaksikan badai pertengkaran hebat antara majikannya dengan sang ayah.“Siapkan mobil, kita pulang ke apartemen sekarang,” perintah Alvaro. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di sana.Arini mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya. “Masih ada masalah yang harus aku selesaikan di sini, Kak. Kita nggak bisa pulang begitu saja,” protes Arini pelan. Pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas dan kekacauan di ruang rapat tadi.Namun, Alvaro hanya menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan. “Kita pulang. Kamu percayakan saja urusan perusahaan sama aku, hmm?”Alvaro mengusap puncak kepala Arini, mencoba menyalurkan keyakinan. Arini masih terlihat tidak rela, bibirnya terkatup
Kegembiraan yang baru saja membuncah di dada Arini seolah ditarik paksa oleh gravitasi, menyisakan rasa sesak yang mendinginkan ujung jemarinya. Di ruang rapat yang masih menyisakan aroma parfum para direksi yang baru saja terusir itu, Arini berdiri terpaku. Gema suara Kael tentang kondisi Darma dan ancaman kedatangan Rudi Wijaya berputar di kepalanya seperti badai.Alvaro yang sedetik lalu tersenyum bangga, kini menegang hebat. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas gurat kecemasan di wajah tampannya. Arini bisa merasakan aura pelindung itu berubah menjadi aura peperangan yang pekat dan menyesakkan."Kak ...," bisik Arini, suaranya bergetar. Ia melangkah mendekat, mencoba menggapai lengan Alvaro yang kini terasa kaku seperti beton.Alvaro menoleh, tatapannya yang tajam perlahan melunak saat bertemu dengan manik mata Arini. "Jangan takut, Rin. Aku nggak akan biarin siapa pun mengacaukan kemenangan kita hari ini. Bahkan ayahku sekalipun," ucapnya dengan nada prote
Keheningan yang dingin menyergap Arini saat langkah kakinya menggema di lorong menuju ruang rapat utama Mahardika Group. Di sampingnya, Alvaro berjalan dengan langkah yang tetap tenang meski wajahnya masih memancarkan kepucatan yang nyata. Penyangga bahu di balik jas hitamnya seolah menjadi pengingat bisu tentang pengorbanan yang baru saja terjadi di lobi.Kael berjalan di belakang mereka, membawa beberapa map hitam yang nampak seperti dokumen biasa, namun Arini tahu bahwa di dalam sana terdapat "bom" yang siap meratakan kesombongan orang-orang di dalam ruangan itu."Siap, Rin?" bisik Alvaro sesaat sebelum pintu kayu ek raksasa itu terbuka secara otomatis.Arini menarik napas panjang, memperbaiki posisi kerah blazer putihnya, dan menatap lurus ke depan dengan binar mata yang tajam. "Sangat siap, Kak. Mereka pikir aku mangsa empuk cuma karena aku perempuan, tapi mereka lupa kalau di pembuluh darahku mengalir darah seorang pendiri."Begitu pintu terbuka, aroma kopi pahit menyeruak kelua
Ada jeda sejenak. Arini menahan napas."Ganti nama sertifikat itu nggak gampang, Wi. Harus ada persetujuan Arini kalau ini dianggap harta bersama," jelas Adrian."Kan, kamu bisa bikin alasan lain, Mas. Bilang aja buat jaminan pinjaman bank buat bisnis kamu yang baru. Arini pasti nurut kalau kamu ya
Arini melangkah keluar dari gedung perkantoran mewah itu dengan kepala tegak, meski hatinya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menggenggam tas tangannya dengan sangat erat, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya tertumpu di sana.Di sampingnya, Maya berjalan dengan langkah cepat, mencoba men
Arini mematung menatap punggung Adrian yang sigap membimbing Dewi menaiki tangga. Suaminya itu tak menoleh lagi, apalagi peduli bagaimana istrinya bisa pulang sendiri setelah tiga hari menghilang.Sambil mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, Arini memantapkan tekad. Adrian baru
Pukul sembilan pagi. Arini berdiri di depan cermin besar di dalam kamarnya, mematut diri dengan saksama. Ia memilih setelan blazer berwarna biru dongker yang memberikan kesan tegas dan profesional.Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia memoles wajah pucatnya menggunakan riasan yang sedikit lebih


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.