Balas Dendam Pernikahan

Balas Dendam Pernikahan

last updateLast Updated : 2026-05-20
By:  S. NovaletOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
52Chapters
439views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Arumi selamat dari kecelakaan maut yang merenggut seluruh memorinya. Hal pertama yang Ia ketahui tentang dirinya selain nama dan Ibunya, adalah fakta bahwa Ia sudah bertunangan dengan Nugie, Pria yang sama sekali tak dikenalnya. Pertemuan mereka mengungkap fakta tentang kehidupan Arumi sebelum kecelakaan itu terjadi dan rencana besar Nugie untuk membalas dendam pada orang-orang yang mengkhianatinya.

View More

Chapter 1

PROLOGUE

Nit! Nit! Nit!

Suara alat elektronik itu seolah menyadarkanku dari bayangan kematian yang selama ini menghantui. Entah sudah berapa lama aku berada di antara batas gelap dan terang; seolah seperti mati namun aku tak yakin apakah aku berada di surga atau neraka.

Aku terjebak di dalam ruang kosong tanpa siapapun, tanpa ada apapun yang menemuiku di sana. Apa hal ini dapat dikatakan bahwa sesungguhnya aku memang belum mati?

Aku melangkah, mencari-cari sumber suara tersebut di dalam ruang kosong tanpa batas itu. Suara itu terdengar semakin lama semakin jelas dan perlahan indera penciumanku bisa merasakan bau-bauan yang terasa familiar.

Rumah sakit? Ya. Ini aroma khas rumah sakit. Aku berlari kesana-kemari mencari pintu keluar seiring suara alat yang semakin intens terdengar serta bau antiseptik rumah sakit yang khas, yang menguar semakin kuat.

"Tidak banyak perubahan–"

"Huh??" Kali ini kudengar suara berat seorang pria. Ternyata aku tak sendiri.

"Bergerak..." Suara pria itu terdengar lagi. 

"Ya??"

"Jarinya bergerak–cepat panggil Dokter atau perawat sekarang!" seru pria itu. Tak lama setelahnya, kudengar suara derap kaki berbondong-bondong muncul dan keramaian terdengar di sekitarnya.

"Ack!" Aku merasakan nyeri di dadaku–seperti sengatan listrik yang diulang berkali-kali hingga penglihatanku mulai berkunang-kunang. Mulutku mengucap kata 'Tolong' tanpa suara dan aku yakin, mereka tak mendengarku sama sekali. Jika memang belum mati, tolong keluarkan aku dari ruang tanpa batas dan kepastian ini. Hanya itu satu permintaan ku pada Tuhan.

Kakiku mulai terasa lemas dan kunang-kunang di mataku semakin terlihat lebih terang dari sebelumnya. Suara alat kesehatan yang beradu dengan aroma antiseptik dan keramaian yang tiba-tiba itu, beradu menjadi satu hingga tak lagi bisa kukenali semuanya hingga semua berubah gelap total.

Mungkin kali ini, Aku benar-benar mati.

***

Januari, 2024

Nit! Nit!

Suara itu terdengar lagi. Kali ini aku membuka kedua mata dan mendapati diriku berada di dalam sebuah ruangan dengan dominasi warna putih dan aroma antiseptik khas rumah sakit seperti apa yang kualami sebelumnya. Namun kali ini, aku bisa merasakan angin sepoi khas pendingin ruangan.

Aku perlahan menoleh ke sisi kiri dan menghela nafas lega ketika kulihat sinar matahari yang terhalau gorden jendela. Kali ini, Aku tak lagi berada di ruangan tanpa batas. Rupanya aku berhasil keluar dari sana.

Aku memejamkan kedua mataku sejenak lalu menarik nafas dan menghela nafas panjang–sebuah selebrasi sederhana setelah berhasil berpisah dengan maut. Selang terpasang di hidung dan alat penyangga kehidupan terpasang di beberapa titik di tubuhku. Namun ini terasa jauh lebih baik dibandingkan terjebak dalam ruang tanpa batas itu.

Aku masih ingin hidup. Entah untuk apa. Namun sesuatu dalam diri ini mendorongku untuk tetap bertahan hidup meski tak tahu apa yang tengah kuperjuangkan.

"Arumi?"

Suara itu? Salah satu suara berat yang kukenali. Aku menggerakkan bola mataku ke sisi kanan dan kusadari jika kini aku tak sendiri di sana–seorang pria duduk di samping bangsal rawat dan menatapku lekat seraya mengharapkan respon dariku. Aku mengingatnya sebagai pria yang bersikeras memanggilkan tim medis ketika melihat tanda kehidupan pada diriku. Mungkin bisa kukatakan jika ternyata pria ini mendengar 'jeritan' permintaan tolong yang tak bisa kusampaikan. Aku berhutang nyawa padanya. Dengan sisa kekuatanku, Aku berusaha mengingat rupanya; Rambut hitam sekelam langit malam, kulit kuning langsat, namun yang menjadi ciri khas darinya adalah sepasang mata layaknya rubah yang terlindungi di balik kacamata minus berframe hitam.

Aku tak tahu bagaimana harus meresponnya karena pergerakanku yang terbatas. Tapi aku cukup mampu mengenali ekspresi lega di wajahnya ketika Ia berhasil mendeteksi pergerakan bola mataku sebagai respon atas suaranya.

"Kamu siuman," gumamnya tersenyum tipis.

Aku tak mengerti apa yang Ia ucapkan. Aku tak tahu dia siapa...Arumi itu namaku? Apa ini harga yang harus kubayar demi lolos dari kematian? Tuhan membiarkanku hidup namun mengambil semua memoriku.

Aku tak tahu siapa diriku.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - <a href="https://www.goodnovel.com/id/" >Goodnovel</a>. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, <a href="https://www.goodnovel.com/stories/Fantasi-novel" >novel fantasi</a>, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
52 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status