LOGINSalma kenyang dihina tetangga dan dipaksa mertua agar mau dimadu karena belum punya anak. Di tengah tekanan itu, cinta Ferdi sang suami tak goyah akan apapun. Ferdi akan menunggu sampai waktu nya tiba. Jika tidak, biar lah mereka hidup berdua sampai akhir.
View MoreMentari pagi belum sepenuhnya muncul di Perumahan Griya Indah, namun panas nya sudah menjalar ke seluruh tubuh Salma. Pakaian basah di tangan pun terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena air yang masih ada di pakaian basah, melainkan karena ia tahu, melangkah ke luar rumah sama saja ia bersiap menghadapi sidang terbuka di pagi hari.
Helaan nafas terdengar berat saat Salma mulai membuka pintu pagar. Ia mencoba melangkah dengan wajah sedatar mungkin. Satu per satu celana dan kemeja ia sampirkan. Namun baru saja ia menyampirkan rok, suara yang tak asing terdengar memecah keheningan. “ Aduh…rajin sekali pagi-pagi sudah ngejemurpp Jeng “ Suara itu terdengar dari rumah sebelah Bu Lastri, dengan daster merah muda berdiri di dekat tiang menatap Salma dengan senyuman yang sulit diartikan. Salma menoleh dan tersenyum tipis “ Iya Bu… mumpung cuacanya lagi bagus, kan dari kemarin kalau enggak hujan ya mendung “ “ Iya bener… ngomong ngomong soal cuaca bagus. Hati Pak RT juga lagi bagus loh Jeng ” Salma mengernyit, bingung “ Bagus kenapa Bu ? “ “ Kemarin saya liat si Hana menantu nya Pak RT, sudah lahiran Bu. Anak kedua, Loh! Padahal pernikahan nya baru genap tiga tahun. Luar biasa ya, rahimnya subur sekali “ Ucap Bu Lastri tanpa jeda Deg Salma tertegun sejenak. Jantungnya berdenyut lebih kencang dan dada nya bergemuruh. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. “ Alhamdulillah kalau begitu Bu. Ikut senang mendengarnya” “Saya malah ke inget Jeng Salma. Bukan nya Jeng Salma dan anaknya Pak RT itu nikahnya lebih dulu Jeng Salma ya ? Tapi kok—” Bu Lastri melangkah mendekat ke arah pagar pembatas, suaranya mengecil dan berbisik. “ Lebih cepet Jeng Hana ya. Apa belum ada tanda-tanda juga sampe sekarang? Nyoba di urut lah Jeng, biar cepet punya momongan. Enggak usah cape-cape ke dokter terus, toh sampe sekarang belum berhasil juga. Ini sudah tahun ke tujuh kan ?” Perih Itu yang Salma rasakan. Kalimat-kalimat seperti itu selalu saja bisa membuatnya kelu. Entah kenapa pagi ini sakitnya lebih terasa. “ Kami sudah berusaha semaksimal mungkin Bu. Do’akan saja yang terbaik” “ Alah berusaha jangan satu jalan saja Jeng. Di coba urut ke Mak Yati yang di Desa itu. Siapa tahu rahim ‘kering’ Jeng Salma bisa subur. Enggak kasian apa sama Mas Ferdi. Pulang kerja rumah selalu sepi macam kuburan . Jangan sampai dia ngelirik ke yang lain. Laki-laki kalau sudah cape bisa saja pakai logika nya. Pasti banyak sekali perempuan diluaran sana yang subur dan mau sama Mas Ferdi “ Cerocos Bu Lastri panjang kali lebar Omongan tanpa jeda itu berhasil membuat Salma terdiam. Ia berusaha menahan gemuruh di dada dengan meremas ujung daster nya, tak dapat dipungkiri perkataan itu berhasil menusuk tepat ke pusat ketakutan nya sebagai istri. Tanpa kata, Salma mempercepat gerakan menjemurnya. Dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Salma menutup pintu dengan rapat, menyandarkan punggungnya, air mata yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya jatuh satu per satu tanpa jeda. Ia menatap ruang tamu yang luas dan bersih. Benar kata Bu Lastri rumah ini sepi diselimuti sunyi yang mencekik. Tidak ada mainan yang berserakan di lantai, coretan krayon di dinding dan tidak ada suara tangisan maupun rengekan yang terdengar memecah sunyi. Salma terduduk lesu. Ingatan nya melayang pada malam-malam panjang yang selalu ia habiskan di atas sajadah. Dalam tangisnya ia selalu memohon agar diberikan amanah itu. Berbagai usaha ia lakukan bersama sang suami, mulai dari vitamin, minuman herbal sampai prosedur medis yang menguras tabungan dan fisiknya. Namun hasil tetap sama—garis satu. Ditengah lamunannya, terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Ferdi, suami Salma sudah rapi dengan kemeja biru dan tas ransel nya. Langkah Ferdi terhenti ketika melihat wajah sembab Salma. “ Kamu kenapa sayang ? “ Ferdi meletakkan tas nya dan memegang bahu Salma Salma mencoba tersenyum dan buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Enggak papa mas. Tadi kelilipan pas jemur pakaian di depan” Ferdi tidak langsung mempercayai omongan Salma. Ia mencoba menelisik, menatap kearah jendela luar. “ Apa karena Bu Lastri ? Dia ngomong apa lagi sama kamu ?” “Enggak kok Mas. Aku cuma kelilipan tadi” Ferdi menghela nafas. Menarik Salma ke dalam pelukannya. Perasaan hangat serasa menelisik hati Salma yang sedang perih. “ Sayang. Dengerin Mas baik-baik. Jangan pernah dengarkan omongan buruk orang lain tentang kita. Mas menikahimu karena Mas benar-benar mencintai kamu Sayang, bukan semata-mata menjadikan kamu mesin pencetak anak. Kalau ada omongan macam-macam lagi, jangan dengarkan ! Anggap saja angin lalu, mereka tidak tahu apa yang sedang kita usahakan selama ini.” “ Tapi Mas,ibu…. Semalam ibu menanyakan hal yang sama. Ibu juga menanyakan kapan kita mau periksa ke dokter yang lain. “ Bisik Salma dalam dekapan Ferdi Ferdi terdiam sejenak. Tekanan dari ibunya memang jauh lebih berat dari sekedar omongan tetangga. “Soal Ibu biar Mas yang urus.” kata Ferdi tegas. “ Jangan sampai kamu stress karena tuntutan orang lain. Sekarang ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin” Malam harinya, apa yang dikhawatirkan Salma terjadi, Ibu mertua nya–Mayang menelpon. Mereka harus menghadiri acara makan malam rutin keluarga. Suasana meja makan terasa kaku. Selain Ferdi dan Salma, ada Rani Kakak Ferdi beserta suami dan kedua anaknya yang masih kecil. Terlihat mereka berdua berlarian dan tertawa kecil diruang tengah, dengan setumpuk mainan yang sengaja disiapkan Bu Mayang saat mereka berkunjung. “Aduh, anak-anak ini enggak bisa diem ya” Ucap Rani sambil melirik anak bungsu nya. “ Disuruh makan malah main, jadi berisik kan. Ma'af ya Bu” Bu Mayang yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan sendok nya dengan suara denting yang cukup keras. Namun sorot matanya tertuju pada Salma dan Ferdi. “ Enggak papa. Kalau ada anak-anak rumah jadi ramai. Rumah sepi itu enggak enak, pasti bosan banget. Makanya Ibu selalu bilang sama Ferdi. Jangan cuma pasrah. Usaha itu harus maksimal. Masa adik mu yang nikah belakangan sudah punya anak, kamu belum ?” Ferdi menatap Salma sebentar. “ Sabar Bu. Kami juga sedang berusaha. Mungkin belum waktunya saja.” Jawab Ferdi mencoba tetap tenang. “Sabar ? Sampai kapan Ibu harus sabar nunggu? Sampai Salma masuk masa menopause? “ Suara Bu Mayang meninggi sedikit. “Ferdi, kamu itu anak laki-laki tertua di keluarga ini, Ibu ingin garis keturunan kita berlanjut. Ibu bukannya jahat sama kalian, tapi ibu juga realistis. Di keluarga kita, cucu adalah segalanya bagi kehormatan keluarga. Kalau memang ada masalah di Salma. Kalian harus mempertimbangkan cara lain.” Salma menunduk dalam. Makanan yang ada didepannya tiba-tiba hambar, seolah berubah menjadi tumpukan pasir yang sulit ditelan. Ia seperti terdakwa di tengah keluarga Ferdi. “ Cara lain apa maksud Ibu ?“ tanya Ferdi dengan nada yang mulai tinggi. “ Kamu bisa menikah lagi, tanpa harus bercerai dengan Salma. Salma tetap jadi istri pertama mu. Tapi kamu juga bisa mendapatkan anak dari wanita lain yang lebih ‘subur’.” Ujar Bu Mayang tanpa beban Suhu di Ruang Makan tiba-tiba berubah. Maya hanya pura-pura sibuk dengan anaknya, sementara Salma merasa dunia di sekitar nya runtuh saat itu juga. Hal yang ia takut kan kini terjadi. Tak sesempurna itukah dirinya, sehingga harus ada wanita lain antara dirinya dan Ferdi? Salma menatap Ferdi, menanti jawaban sang suami dengan jantung yang berdebar. Apakah Ferdi akan goyah? Apakah cinta yang mereka bangun akan hancur karena keinginan sang Ibu ? Ferdi meletakkan sendok dan serbetnya di meja. Ia berdiri, lalu menggenggam tangan Salma yang dingin. “ Terimakasih banyak atas sarannya Bu, tapi Ferdi enggak akan melakukan apa yang Ibu katakan.” Suaranya terdengar rendah namun penuh penekanan. “ Salma akan menjadi satu-satunya istri Ferdi. Jika Tuhan menitipkan anak pada kami, kami akan menjaga nya. Tapi jika tidak, itu sudah menjadi takdir kami dan Ferdi akan tetap bersama Salma sampai kapanpun. Ferdi pulang dulu. Terimakasih untuk makan malam nya.” Ferdi dan Salma keluar tanpa menoleh lagi. Sementara tangan Bu Mayang mengepal dibawah meja. “Apa yang ingin kamu pertahankan dari wanita ‘mandul’ itu Ferdi” Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, Salma hanya menatap keluar kaca mobil. Ia menangis dalam diam. Hatinya hancur mendengar saran berbalut hinaan dari mertua nya. Namun di sisi lain, ia sangat bersyukur Ferdi tidak terpengaruh oleh keinginan ibunya, Salma merasa sangat dicintai oleh laki-laki di samping nya. Salma bertekad akan berusaha lebih keras lagi, bukan untuk membungkam mulut tetangga atau memuaskan mertuanya. Tapi untuk lelaki yang rela bertahan meski ia belum bisa memberikan gelar Ayah. Sesampainya di rumah, Salma melihat langit malam bertabur bintang. Dalam hati ia berdo’a : “Ya Tuhan, jika memang Engkau menghendaki, berikanlah kami Amanah itu satu saja, biarkan kami merawat dan menjaganya. Tapi jika Engkau tidak menghendaki, jaga hati suamiku agar tetap menjadi rumah bagiku” Mereka masuk dengan harapan-harapan kecil berbalut do’a. Berharap do’a yang dilangitkan sedang dirajut menjadi sebuah takdir indah.Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Salma menjalani hari-hari dengan penuh kehati-hatian. Selama masa kehamilan Salma selalu di dalam rumah. Ferdi sengaja memesan kebutuhan dapur via online. Ia tak ingin Salma kecapean, sekaligus menghindari Bu Lastri dan teman-temannya yang menjadi pusat gosip.Sore harinya, Salma menerima paket yang bukan miliknya. Saat membaca nama penerima yang tertera, ternyata paket itu milik Bu Lastri. Sayangnya, tak ada lagi sosok kurir di depan rumahnya. Tak ingin gegabah. Salma pun menunggu Ferdi pulang.“Lebih baik, paket ini diantar Mas Ferdi saja nanti.”Namun, belum sempat Salma melangkah ke dalam rumah. Terdengar suara Bu Lastri di depan pagar.“Seperti nya paket saya terkirim ke sini ya, Jeng?” ucap Bu Lastri dengan sedikit berteriak.“Iya Bu. Ini paketnya.” Salma menyodorkan paket itu. Berusaha biasa saja. Namun, ada kegelisahan dalam dirinya. Takut, Bu Lastri menyadari sesuatu dari perutnya.Dengan sigap, Bu Lastri meraih paket itu dari tangan S
Salma mengurai pelukan Ferdi. Ia mengusap tangisan di sudut matanya.“Mas…Kita harus ke dokter.” Ujar Salma lirih. “Iya Sayang. Sekarang juga, kita akan ke rumah sakit. Tapi, jangan bilang pada siapa pun akan hal ini. Untuk sementara, kita berdua saja yang tahu. Mas hanya ingin menjaga.” Salma mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Kehamilan awal yang masih rentan, akan sangat berbahaya jika tidak dijaga. Apalagi, tinggal di lingkungan yang dipenuhi penabur bisik-bisik, akan sangat mempengaruhi kehamilan nya.Selama perjalanan menuju rumah sakit, Ferdi mengemudi dengan sangat hati-hati, seolah setiap guncangan dapat membahayakan apa yang ada di rahim istrinya. Begitupun Salma, tangannya terus mengelus perutnya, seolah tak ingin beranjak sedikitpun.Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruang tunggu spesialis kandungan. Di sana, Salma menggenggam erat tangan Ferdi. Ada rasa senang berbalut takut yang ia rasakan. Senang, jika tes itu benar. Takut, jika hasil itu hanya ilusi se
Sore itu, Salma tidak menangis lagi. Sudah cukup, ia tak mau susah payah memikirkan apa yang Mbak Rani katakan. Ia bangkit, membersihkan rumah dengan teliti. Salma tak ingin membiarkan setitik debu pun menempel. Tak lupa, ia memasakkan makanan kesukaan Ferdi; tumis kangkung , tempe goreng dan ayam goreng. Entah kenapa ada semacam tekad yang lahir dari rasa sakitnya. Jika orang luar mencoba untuk menghancurkan, maka ia akan memperkuat apa yang ada di dalam.Ditengah kesibukan Salma menyiapkan makanan di meja, Ferdi pulang, wajahnya terlihat lelah, namun lelah itu seketika terganti dengan senyum hangat saat melihat istrinya. Tak ada mata sembab, maupun raut muka yang menampakkan kesedihan. Terlihat seperti biasa, tenang dan penuh kehangatan. Rasanya sudah lama sekali, ia tak melihat istrinya seperti itu.“Mbak Rani kesini?” tanya Ferdi setelah cuci tangan.Salma terkejut. “Mas tahu dari mana ?” “Siapa lagi kalau bukan Bu Lastri. Dia mengirimkan video Mbak Rani teriak-teriak di grup wh
Malam itu, Ferdi pulang dan mendapati keadaan rumah gelap gulita. Hanya ada cahaya kecil yang menyala di ruang tengah. Ia menemukan Salma disana, menatap layar laptop yang menampilkan nama-nama panti asuhan.Ferdi duduk disamping Salma dan meletakkan tasnya di meja. Ia mengamati wajah istrinya yang agak sembab. “Ibu datang lagi?”Salma hanya mengangguk pelan dengan pandangan yang tak beralih dari layar.“Ibu benar Mas. Aku tidak boleh egois. Mungkin dengan mengadopsi anak itu bisa menjadi jalan tengah, agar ibu berhenti menuntutmu untuk menikah lagi.”Ferdi mengambil laptop dari pangkuan Salma. Menutup halaman dan mematikan nya. Ia meraih kedua tangan Salma dan mencium nya lama.“Sayang, adopsi adalah perbuatan yang mulia, mungkin suatu saat nanti. Tapi tidak untuk sekarang. Itu bukan jalan yang terbaik untuk saat ini, bahkan jika ibu memaksa, Mas tidak akan melakukan nya.” Ujar Ferdi dengan tenang.“Jika kita mengadopsi anak karena ketakutanmu pada ibu, rasanya tidak adil untuk anak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.