Share

Bab 2

Author: Anonima
Ibu melaju kencang sepanjang jalan menuju rumah sakit dan membawa Arsana ke ruang gawat darurat. Setelah dokter memberi tahu bahwa Arsana hanya mengalami keseleo pergelangan tangan dan tidak ada masalah serius, Ibu akhirnya menghela napas lega.

Ayah juga tiba tak lama kemudian dengan napas terengah-engah dan wajahnya penuh kecemasan. "Bagaimana keadaan Arsana? Pergelangan tangannya nggak apa-apa? Nggak sampai melukai tulang, 'kan?"

Ibu berkata dengan wajah penuh rasa syukur, "Dokter bilang cuma keseleo, untung nggak sampai melukai tulang. Semua ini gara-gara Nayaka. Suruh dia melindungi adiknya saja nggak becus. Benar-benar sia-sia membesarkannya."

Saat menyebut namaku, nada bicara Ibu dipenuhi kebencian, seolah ingin mencabik-cabikku hidup-hidup. Kalimat itu sudah tak terhitung berapa kali kudengar sejak kecil. Aku harus melindungi adik.

Padahal aku hanya lebih tua satu tahun darinya, aku juga masih seorang anak kecil. Lagi pula, Arsana selalu mengandalkan kasih sayang berlebihan dari ayah dan ibu untuk menindasku. Kapan dia pernah butuh aku melindunginya?

Ayah mengerutkan kening dan memaki dengan marah, "Anak sialan ini benar-benar nggak berguna. Pelihara anjing saja masih tahu melindungi tuannya. Kita kasih dia makan dan pakaian, tapi dia melindungi Arsana saja nggak bisa!"

Hatiku terasa sangat perih. Aku memang sudah tahu, begitu Ayah melihat Arsana terluka, aku pasti akan dimarahi. Namun aku tidak menyangka, di hatinya, aku bahkan tidak sebanding dengan seekor anjing.

Arsana menatap orang tuaku, lalu berpura-pura bijaksana sambil berkata, "Ayah, Ibu, jangan salahkan Kakak. Kakak masih berada di bawah jurang. Ayo kita jemput dia pulang."

Ibu memeluk Arsana dengan wajah penuh rasa terharu. "Arsana, kamu ini terlalu lembut. Kali ini kita harus benar-benar membuat kakakmu menyadari kesalahannya."

Ayah pun menimpali, "Betul. Harus diberi pelajaran yang setimpal sama sampah itu!"

Arsana tampak ragu-ragu, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak berani. Ayah dan ibu paling tidak tahan melihatnya seperti itu dan segera mendesaknya, "Sayang, ada yang ingin kamu sampaikan sama Ayah dan Ibu? Jangan takut, katakan saja."

"Apa pun itu, Ayah dan Ibu pasti berada di pihakmu!"

Saat itu mata Arsana memerah, menampilkan ekspresi seolah telah diperlakukan dengan sangat kejam.

"Ibu, kenapa Kakak sebenci itu sama aku? Kalau saja aku nggak sempat menghindar, sekarang yang terbaring di bawah jurang itu pasti aku."

Begitu mendengar ucapannya, ayah dan ibu langsung murka. Mata ibu seakan menyemburkan api. "Nayaka berengsek! Masih berani minta aku selamatkan dia? Lebih baik dia mati saja di sana!"

Ayah sampai meremas gelas di tangannya hingga berubah bentuk. "Dia itu sudah seperti pembunuh! Aku akan melaporkannya. Orang seperti dia pantasnya hanya dipenjara!"

Sejak kecil, Arsana memang suka menimpakan kesalahan kepadaku dan orang tuaku selalu membelanya tanpa peduli benar atau salah. Meski aku sudah sering kali menangis dan menjelaskan bahwa aku tidak melakukannya, aku tetap dipukuli sampai tubuhku penuh luka. Bahkan dalam urusan uang menyangkut nyawa seperti hari ini, mereka sama sekali tidak ragu memercayai kata-kata Arsana.

Apakah Ibu lupa? Orang yang terbaring di bawah jurang itu adalah aku. Kalau aku benar-benar ingin mencelakai Arsana, mana mungkin aku ikut mempertaruhkan nyawaku sendiri.

Ayah bahkan berharap aku masuk penjara, seolah aku adalah noda dalam hidupnya. Apakah di hati mereka aku memang sebegitu tidak berharga?

Arsana menundukkan kepala, suaranya terdengar muram. "Ayah, Ibu, aku nggak menyalahkan Kakak. Dia hanya ingin mendapatkan kasih sayang kalian saja."

Ekspresi itu terlalu familier bagiku. Sejak kecil, Arsana berulang kali memakai cara yang sama untuk menguji posisinya di hati Ayah dan Ibu. Sesuai dugaan, setiap kali dia selalu menang.

Yang kudapatkan hanyalah hinaan, seakan aku hanyalah parasit di rumah ini yang ingin mereka singkirkan secepat mungkin. Ibu mencibir dengan wajah penuh jijik. "Memangya dia pantas? Sejak kecil sudah buat rumah ini kacau. Kita besarin dia saja sudah seharusnya dia bersyukur!"

Ayah mengusap kepala Arsana dengan lembut. "Arsana, cuma kamu anak baik di hati Ayah dan Ibu. Cuma kamu yang pantas mendapatkan cinta kami. Semua yang kami miliki nanti akan menjadi milikmu."

Arsana akhirnya tersenyum tulus, memeluk Ayah dan Ibu dengan erat sambil berkata manis, "Ayah, Ibu, aku paling mencintai kalian."

Meski kata-kata seperti ini sudah kudengar ribuan kali, hatiku tetap terasa perih. Aku menatap mereka bertiga yang saling berpelukan tanpa celah sedikit pun. Seperti rumah ini yang tidak pernah ada tempat untukku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 8

    Ibu gemetaran, lalu berjongkok untuk memunguti foto-foto itu satu per satu. Di setiap foto, proses Arsana mendorongku terekam dengan jelas. Tangan yang belum sempat dia tarik kembali terlihat begitu mencolok.Ternyata, sejak awal Paman Sandi tidak percaya aku adalah orang seperti yang dikatakan Arsana. Dia mendatangi warga sekitar untuk mencari saksi. Barulah diketahui bahwa pada hari kejadian, ada sebuah tim geologi yang menempatkan alat pendeteksi di bawah sebuah pohon besar di tepi jurang itu. Alat tersebut merekam dengan jelas seluruh proses kejahatan Arsana.Aku menatap Paman Sandi yang kini ditumbuhi banyak janggut halus di wajahnya, perasaan berterima kasih muncul dari lubuk hatiku. Demi kebenaran kematianku, dia berlari ke sana kemari tanpa kenal lelah. Jika ada kehidupan berikutnya, aku pasti akan membalas kebaikannya.Ibu berbalik dan menampar Arsana dengan keras dan suaranya bergetar, "Kenapa? Dia kakak kandungmu. Kenapa kamu tega melakukannya?"Kepala Arsana terlempar ke sa

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 7

    Gluduk ....Di luar, kilat menyambar terang dan menerangi wajah Arsana. Wajah yang dulu selalu tampak patuh dan menggemaskan itu, kini seolah berubah menjadi wajah iblis di mata ibu.Ibu tertegun, suaranya gemetar saat membuka mulut. "Tapi, kakakmu dulu ...."Belum sempat Ibu menyelesaikan kalimatnya, Arsana sudah menyela dengan kesal, "Dulu dia memang kasih tahu kamu. Lalu apa akhirnya? Bukankah kalian berdua tetap memperlakukannya seperti transparan?"Seolah menyadari nada bicaranya terlalu keras, Arsana segera meredam ekspresinya dan kembali memasang wajah lembut seperti biasanya. "Ibu, selama Ayah nggak menceraikanmu, kamu akan jadi istrinya selamanya. Perempuan di luar sana nggak akan pernah bisa mengancam posisimu."Arsana mengusap air mata di wajah Ibu dengan lembut. "Ibu, pikirkan baik-baik. Aku yakin kamu pasti akan memaafkan Ayah."Setelah itu, dia kembali mengenakan headset dan menutup pintu kamar tidurnya.Ibu tetap terdiam, pikirannya kosong. Sampai tanpa sengaja dia mendo

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 6

    Di mata Arsana melintas secercah rasa kesal, tetapi di wajahnya tetap terpasang ekspresi penuh kepiluan. "Ibu, aku juga nggak tahu. Aku cuma bilang Kakak berkata nggak mau tinggal di rumah yang ada aku di dalamnya. Aku nggak pernah bilang dia kabur dari rumah. Mungkin setelah mendorongku, dia memang berniat pergi dari rumah, tapi nggak nyangka akhirnya malah mencelakakan dirinya sendiri."Amarah membuncah di dalam dadaku. Aku sudah mati, tetapi Arsana masih saja menjelek-jelekkanku.Selesai berkata demikian, Arsana tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di lantai dengan suara keras. Air matanya mengalir deras. "Kakak, aku minta maaf. Kalau waktu itu aku nggak menghindar, seharusnya yang jatuh ke bawah jurang adalah aku. Kalau begitu, kamu nggak akan mati."Setiap kalimat Arsana seolah menyiratkan bahwa orang yang seharusnya mati adalah dirinya. Orang tua yang begitu memanjakannya mana mungkin sanggup melihatnya seperti itu. Ibu tersentak seolah baru sadar, dia menghapus air matanya lalu m

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 5

    Mata Ibu seketika membelalak. Dia meraih tangan perawat itu dan bertanya dengan panik. "Orang yang kucari itu namanya N-A-Y-A-K-A. Sus, kamu salah dengar nggak? Jangan-jangan cuma nama yang kebetulan sama?"Perawat itu menepis tangannya dengan tidak sabar. "Nggak salah. Namanya memang itu. Jasadnya ditemukan di bawah sebuah jurang, meninggal karena kehabisan darah."Ibu terhuyung mundur beberapa langkah, wajahnya seketika pucat pasi, seolah tidak berani memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Nggak mungkin. Aku nggak percaya. Dari ketinggian segitu, mana mungkin sampai mati?""Di punggung jenazah ada sebuah lubang. Kami menduga ada benda tajam yang menembus ke dalam tubuhnya. Kasihan sekali, sudah meninggal beberapa hari tapi nggak ada yang menemukan. Jenazahnya bahkan sudah mulai berbau."Kata-kata perawat itu menghancurkan sisa harapan terakhirnya. Dia berjalan sempoyongan menuju kamar jenazah. Saat sampai di depan pintu, tenaganya seakan lenyap. Dia berdiri lama di sana tanpa sa

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 4

    Senyum yang terangkat di wajah Ibu mendadak membeku. Dia kembali melirik layar ponselnya, memastikan peneleponnya memang Sandi, lalu berkata dengan nada tidak senang, "Sandi, apa Nayaka sialan itu lari ke tempatmu lalu menyuruhmu memakai kata-kata seperti ini untuk menipuku?""Katakan padanya, hari ini ulang tahun adiknya. Berani-beraninya dia pakai kata-kata sial seperti itu untuk menarik perhatian kami. Tunggu saja, setelah dia pulang nanti, akan kami beri pelajaran!"Sandi tidak menyangka Ibu akan sebegitu keras kepala. Suaranya langsung meninggi. "Mira! Kamu pikir aku akan memakai hal seperti ini untuk menipumu?""Nayaka juga anakmu. Mana ada ibu seperti kamu! Waktu itu aku bilang harus menyelamatkannya, kamu melarang. Sekarang dia sudah meninggal, kamu masih nggak percaya. Nayaka itu benar-benar anak kandungmu atau bukan?""Jenazah Nayaka sekarang ada di rumah sakit. Datanglah sendiri dan lihat!"Ibu tidak menanggapi sepatah kata pun. Dia langsung memutus sambungan telepon. Tadi s

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 3

    Dalam keadaan setengah sadar, aku teringat masa sebelum usiaku enam tahun. Saat itu, meski Ayah dan Ibu lebih menyayangi adik karena usianya masih kecil, mereka setidaknya masih cukup peduli padaku.Namun pada tahun itu, aku tidak sengaja melihat Ayah berpelukan dengan wanita lain di bawah apartemen. Aku yang masih terlalu kecil tidak mengerti apa yang sedang terjadi, lalu berlari memberi tahu Ibu. Ibu pun mencari Ayah dan bertengkar hebat dengannya.Aku berdiri terpaku di samping mereka, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya samar-samar merasakan bahwa Ayah telah melakukan sesuatu yang menyakiti Ibu. Jadi, aku memberanikan diri berdiri di depan Ibu dengan memasang wajah serius dan mengatakan pada Ayah agar tidak boleh menindas Ibu.Sementara itu, adik menangis dan berlari memeluk mereka berdua, berkata dia tidak ingin mereka berpisah.Mereka memeluk adik sambil menangis bersama, dan entah bagaimana, mereka berdamai begitu saja. Setelah itu, arah kemarahan mereka malah berb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status