แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Anonima
Gluduk ....

Di luar, kilat menyambar terang dan menerangi wajah Arsana. Wajah yang dulu selalu tampak patuh dan menggemaskan itu, kini seolah berubah menjadi wajah iblis di mata ibu.

Ibu tertegun, suaranya gemetar saat membuka mulut. "Tapi, kakakmu dulu ...."

Belum sempat Ibu menyelesaikan kalimatnya, Arsana sudah menyela dengan kesal, "Dulu dia memang kasih tahu kamu. Lalu apa akhirnya? Bukankah kalian berdua tetap memperlakukannya seperti transparan?"

Seolah menyadari nada bicaranya terlalu ke
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 8

    Ibu gemetaran, lalu berjongkok untuk memunguti foto-foto itu satu per satu. Di setiap foto, proses Arsana mendorongku terekam dengan jelas. Tangan yang belum sempat dia tarik kembali terlihat begitu mencolok.Ternyata, sejak awal Paman Sandi tidak percaya aku adalah orang seperti yang dikatakan Arsana. Dia mendatangi warga sekitar untuk mencari saksi. Barulah diketahui bahwa pada hari kejadian, ada sebuah tim geologi yang menempatkan alat pendeteksi di bawah sebuah pohon besar di tepi jurang itu. Alat tersebut merekam dengan jelas seluruh proses kejahatan Arsana.Aku menatap Paman Sandi yang kini ditumbuhi banyak janggut halus di wajahnya, perasaan berterima kasih muncul dari lubuk hatiku. Demi kebenaran kematianku, dia berlari ke sana kemari tanpa kenal lelah. Jika ada kehidupan berikutnya, aku pasti akan membalas kebaikannya.Ibu berbalik dan menampar Arsana dengan keras dan suaranya bergetar, "Kenapa? Dia kakak kandungmu. Kenapa kamu tega melakukannya?"Kepala Arsana terlempar ke sa

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 7

    Gluduk ....Di luar, kilat menyambar terang dan menerangi wajah Arsana. Wajah yang dulu selalu tampak patuh dan menggemaskan itu, kini seolah berubah menjadi wajah iblis di mata ibu.Ibu tertegun, suaranya gemetar saat membuka mulut. "Tapi, kakakmu dulu ...."Belum sempat Ibu menyelesaikan kalimatnya, Arsana sudah menyela dengan kesal, "Dulu dia memang kasih tahu kamu. Lalu apa akhirnya? Bukankah kalian berdua tetap memperlakukannya seperti transparan?"Seolah menyadari nada bicaranya terlalu keras, Arsana segera meredam ekspresinya dan kembali memasang wajah lembut seperti biasanya. "Ibu, selama Ayah nggak menceraikanmu, kamu akan jadi istrinya selamanya. Perempuan di luar sana nggak akan pernah bisa mengancam posisimu."Arsana mengusap air mata di wajah Ibu dengan lembut. "Ibu, pikirkan baik-baik. Aku yakin kamu pasti akan memaafkan Ayah."Setelah itu, dia kembali mengenakan headset dan menutup pintu kamar tidurnya.Ibu tetap terdiam, pikirannya kosong. Sampai tanpa sengaja dia mendo

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 6

    Di mata Arsana melintas secercah rasa kesal, tetapi di wajahnya tetap terpasang ekspresi penuh kepiluan. "Ibu, aku juga nggak tahu. Aku cuma bilang Kakak berkata nggak mau tinggal di rumah yang ada aku di dalamnya. Aku nggak pernah bilang dia kabur dari rumah. Mungkin setelah mendorongku, dia memang berniat pergi dari rumah, tapi nggak nyangka akhirnya malah mencelakakan dirinya sendiri."Amarah membuncah di dalam dadaku. Aku sudah mati, tetapi Arsana masih saja menjelek-jelekkanku.Selesai berkata demikian, Arsana tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di lantai dengan suara keras. Air matanya mengalir deras. "Kakak, aku minta maaf. Kalau waktu itu aku nggak menghindar, seharusnya yang jatuh ke bawah jurang adalah aku. Kalau begitu, kamu nggak akan mati."Setiap kalimat Arsana seolah menyiratkan bahwa orang yang seharusnya mati adalah dirinya. Orang tua yang begitu memanjakannya mana mungkin sanggup melihatnya seperti itu. Ibu tersentak seolah baru sadar, dia menghapus air matanya lalu m

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 5

    Mata Ibu seketika membelalak. Dia meraih tangan perawat itu dan bertanya dengan panik. "Orang yang kucari itu namanya N-A-Y-A-K-A. Sus, kamu salah dengar nggak? Jangan-jangan cuma nama yang kebetulan sama?"Perawat itu menepis tangannya dengan tidak sabar. "Nggak salah. Namanya memang itu. Jasadnya ditemukan di bawah sebuah jurang, meninggal karena kehabisan darah."Ibu terhuyung mundur beberapa langkah, wajahnya seketika pucat pasi, seolah tidak berani memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Nggak mungkin. Aku nggak percaya. Dari ketinggian segitu, mana mungkin sampai mati?""Di punggung jenazah ada sebuah lubang. Kami menduga ada benda tajam yang menembus ke dalam tubuhnya. Kasihan sekali, sudah meninggal beberapa hari tapi nggak ada yang menemukan. Jenazahnya bahkan sudah mulai berbau."Kata-kata perawat itu menghancurkan sisa harapan terakhirnya. Dia berjalan sempoyongan menuju kamar jenazah. Saat sampai di depan pintu, tenaganya seakan lenyap. Dia berdiri lama di sana tanpa sa

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 4

    Senyum yang terangkat di wajah Ibu mendadak membeku. Dia kembali melirik layar ponselnya, memastikan peneleponnya memang Sandi, lalu berkata dengan nada tidak senang, "Sandi, apa Nayaka sialan itu lari ke tempatmu lalu menyuruhmu memakai kata-kata seperti ini untuk menipuku?""Katakan padanya, hari ini ulang tahun adiknya. Berani-beraninya dia pakai kata-kata sial seperti itu untuk menarik perhatian kami. Tunggu saja, setelah dia pulang nanti, akan kami beri pelajaran!"Sandi tidak menyangka Ibu akan sebegitu keras kepala. Suaranya langsung meninggi. "Mira! Kamu pikir aku akan memakai hal seperti ini untuk menipumu?""Nayaka juga anakmu. Mana ada ibu seperti kamu! Waktu itu aku bilang harus menyelamatkannya, kamu melarang. Sekarang dia sudah meninggal, kamu masih nggak percaya. Nayaka itu benar-benar anak kandungmu atau bukan?""Jenazah Nayaka sekarang ada di rumah sakit. Datanglah sendiri dan lihat!"Ibu tidak menanggapi sepatah kata pun. Dia langsung memutus sambungan telepon. Tadi s

  • Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah   Bab 3

    Dalam keadaan setengah sadar, aku teringat masa sebelum usiaku enam tahun. Saat itu, meski Ayah dan Ibu lebih menyayangi adik karena usianya masih kecil, mereka setidaknya masih cukup peduli padaku.Namun pada tahun itu, aku tidak sengaja melihat Ayah berpelukan dengan wanita lain di bawah apartemen. Aku yang masih terlalu kecil tidak mengerti apa yang sedang terjadi, lalu berlari memberi tahu Ibu. Ibu pun mencari Ayah dan bertengkar hebat dengannya.Aku berdiri terpaku di samping mereka, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya samar-samar merasakan bahwa Ayah telah melakukan sesuatu yang menyakiti Ibu. Jadi, aku memberanikan diri berdiri di depan Ibu dengan memasang wajah serius dan mengatakan pada Ayah agar tidak boleh menindas Ibu.Sementara itu, adik menangis dan berlari memeluk mereka berdua, berkata dia tidak ingin mereka berpisah.Mereka memeluk adik sambil menangis bersama, dan entah bagaimana, mereka berdamai begitu saja. Setelah itu, arah kemarahan mereka malah berb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status