Share

Bab 4 : Kesaksian Pak Jumali

“Aku yakin ini akan menjadi kasus pembunuhan. Dan kalau memang betul, aku yakin pelaku sesungguhnya akan segera ketahuan."

"Kenapa kau yakin sekali?"

"Menurut pengalamanku, aku belum pernah menjumpai pelaku pembunuhan yang benar-benar pintar, meskipun dia seorang pembunuh berantai. Selalu ada cela, keamatiran, dan kecerobohan. Dan itu berlaku di kota maupun perkampungan kecil.”

Omongan Ilbi yang terkesan meremehkan penjahat lokal tidak digubris Malik. Ia hanya mengedikkan bahu.

“Ngomong- ngomong kapan mayat kedua korban dimakamkan?”

"Sehari setelah kematian. Keluarga kedua belah pihak menolak adanya autopsi. Tapi harusnya itu bukan masalah. Keduanya sudah jelas keracunan dan jenis racunnya juga umum dipakai para peternak atau petani untuk membasmi hama.”

Malik kemudian melirik Ilbi yang menyeka sisa srikaya di sudut mulutnya dengan tisu. “Aku penasaran, apa kau benar-benar tidak pernah membela pelaku kejahatan?”

“Nyaris tidak pernah,” ujar Ilbi lalu sejenak menyesap kopinya. Ucapan Ilbi membuat Malik tertarik.

“Nyaris? Berarti pernah?”

“Lembaga kami lebih memilih membela saksi atau tertuduh yang berada di posisi kurang menguntungkan atau sulit membela diri.

"Jika kemudian yang kami dampingi adalah pelaku kejahatan maka kami akan mundur. Itu lebih seperti melanggar perjanjian dan tujuan lembaga independen terbentuk. Memang ada pengecualian, dan kami pernah mengalaminya satu atau dua kali.

"Biasanya pelaku kriminal yang kami dampingi merupakan kambing hitam atau istilahnya dijadikan umpan peluru.

"Pelurunya mengakibatkan peristiwa yang tak diinginkan, namun si pengokang senjata tak terjerat hukum. Model begitulah yang akan kami dampingi, agar pelaku kriminal utamanya juga tertangkap.

"Aku pribadi tidak beranggapan negatif jika suatu hari kami membela pelaku kriminal. Hukum tidak harus selalu ditegakkan dengan menolak pembelaan terhadap yang bersalah,” ujarnya panjang dengan gaya seolah berdiplomasi.

“Ya. Malah mungkin bisa membantu mengungkap yang sebenarnya seperti yang kau katakan,” balas Malik.

Dalam sekejap roti srikaya berpindah seluruhnya ke lambung Ilbi.

“Kau sempat melihat Sasmita kan?”

“Ya. Cukup mengesankan. Dia terlihat tidak terlalu menderita untuk orang yang baru kehilangan suami dan ayah dari anak semata wayangnya, tapi tentu saja hati orang siapa yang tahu,” jawab Ilbi.

“Bagaimana sebenarnya hubungan dua pasangan tersebut? Mereka berempat tetap bertetangga setelah konflik lima tahun yang lalu. Apakah cukup wajar bagi Sasmita untuk memilih tinggal berseberangan dengan mantan suaminya seperti itu?"

"Yah, harusnya keadaan mereka akan canggung."

"Namun kenyataannya mereka berempat bersama-sama di posko, jadi hubungan mereka sudah mencair?” Ketimbang bertanya Malik lebih terdengar berkata untuk dirinya sendiri.

“Menurut pendapat pribadiku, Saba itu tidak punya apa-apa. Aku tak bermaksud menjelek-jelekkan orang yang sudah tiada, mungkin ini pendapat yang kasar dan prematur, lelaki itu lebih mencari tumpangan hidup dengan menikahi Sasmita."

"Istilahnya mokondo begitu?" Malik berkata sambil menyengir.

"Begitulah. Pilihan untuk tidak pindah atau menjual aset yang mereka dapat dari Adil itu masuk akal. Karena usaha jual beli pupuk mereka punya banyak pelanggan. Bisa saja mereka melupakan permasalahan yang telah terjadi dan duduk bersama di posko sambil berbagi bandrek."

"Bagaimanapun masalah bermula dari Adil. Dia menikahi mantan kekasih Saba dan Saba mengawini mantan istrinya. Ya, ampun benar-benar cerita ala sinetron! Harusnya sebentar lagi kasus ini akan jadi topik hangat di pemberitaan nasional,” ujar Malik semangat.

Ilbi tersenyum getir lalu menandaskan kopinya. Malik melanjutkan kalimatnya,

“Aku juga yakin ini kasus pembunuhan. Memasukkan racun potas ke minuman bandrek. Orang yang meminumnya mungkin tidak sadar ada yang salah karena bahan rempah yang kuat."

"Lalu lokasi kejadian yang dikelilingi banjir dengan cukup banyak saksi. Jadi dalam keadaan gawat para korban susah untuk mendapat pertolongan medis karena medan yang sulit. Pelaku ini cukup pintar melihat situasi, licik, dan pemberani. " Malik berwajah lebih tegang sekaligus terlihat antusias.

“Yah, akan sangat mengagetkan kalau sampai kasus ini diumumkan menjadi kasus bunuh diri ganda.” Lanjut Ilbi sambil melirik jam tangannya. Hampir sejam sejak mereka duduk di kedai.

Ia masih berpikiran bahwa meski tragedi di posko terbilang sensasional, hanya masalah waktu saja sampai pihak berwenang akan menemukan dalang pembunuhan ganda ini.

Meski begitu, Ilbi tetap bisa merasakan semangat Malik yang duduk di depannya. Ia sekarang punya partner yang antusias meski dengan bayaran pengalaman saja.

“Ayo balik lagi. Siapa tahu kita mendapat sesuatu atau saksi lain dari kasus ini yang bersedia diajak bicara,” kata Ilbi.

Setelah membayar bon pada pelayan mereka kembali ke kantor polisi. Sesampai mereka di sana sudah ada beberapa wartawan yang berdiri dengan hati-hati di pinggir jalan.

Keduanya menyempatkan diri menyimak satu wartawan TV media lokal yang sedang mewawancarai satu laki-laki paruh baya.

Wajah yang sempat mereka lihat juga di ruang tunggu. Mungkin karena gilirannya lama atau telah selesai memberi keterangan, ia akhirnya keluar dan malah dicegat reporter.

“Boleh diperkenalkan dengan bapak siapa dan usia berapa?” tanya wartawan berhijab tersebut.

“Dengan bapak Jumali usia 52 tahun.”

“Baik, Bapak Jumali adalah saksi yang telah dimintai kesaksiannya atas kasus bandrek beracun yang menewaskan Adil Pras,43 tahun dan Ahmad Saba, 29 tahun. Bapak sendiri domisilinya sama di kampung Rampai seperti dua korban?”

“Iya betul Bu.”

“Baik, berapa lama Bapak dimintai keterangan tadi oleh petugas?”

“Tidak lama, kira-kira kurang dari setengah jam. Karena saya sebelumnya juga sudah diminta kesaksian. Kali ini hanya mencocokkan saja,” ujar si Bapak masih dengan gaya ramahnya.

“Bisa dijelaskan posisi Bapak pada saat kejadian?”

"Saat itu air banjir lagi naik, jalan kampung sudah tergenang air semata kaki. Tapi sebenarnya beberapa rumah penduduk sudah banyak yang terendam banjir karena tanah penduduk yang lebih rendah dari jalan kampung. Kami bangun tenda posko di jalan tanjakan yang tinggi untuk warga yang ingin mengungsi.”

“Bagaimana keadaan cuaca saat pemasangan tenda posko, apakah air terlihat makin naik ataukah hujan pada saat kejadian?”

“Benar. Hujan lebat sepanjang sore dan mulai agak tidak terlalu deras menjelang malam. Sisi kanan kampung kami yang ditahan oleh jalan tinggi tempat kami mendirikan tenda merupakan anak sungai mati.

"Sementara di malam itu jarak permukaan air dari anak sungai mati yang meluap dengan permukaan tanah di posko hanya dua jengkal.” Pak Jumali mengangkat telapak tangan untuk menunjukkan jengkal tangannya ke arah kamera.

“Baik Bapak. Bisa di jelaskan kronologi kejadian yang menimpa kedua korban?”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status