Share

A105. keputusan Alex

Penulis: Cheezyweeze
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 19:30:14

Sehari setelahnya.

Alex berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyesapnya. Pikirannya terlalu bising—lebih bising dari dentuman senjata atau teriakan perintah di medan tempur.

Kembali ke pasukan elite.

Kalimat itu terus berputar, menabrak dinding kepalanya. Sebagian dirinya yang terlatih, disiplin, dan tahu arti komando ingin mengangguk dan berkata ya.

Namun bagian lain, yang lebih sunyi dan lelah, mengingatkan satu hal yang tidak pernah tercatat di laporan misi—harga dari sebuah keputusan.

Ia menoleh ke ruang tamu. Zea tertidur di sofa, memeluk bantal, cat kuku warna-warni masih menempel di jemarinya—jejak kecil dari permainan yang tidak berbahaya. Pemandangan itu menahan Alex di tempatnya. Jika ia kembali, dunia yang ia tinggalkan tidak akan menunggunya tetap utuh.

Teleponnya bergetar. Pesan dari Jo
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A110. Menculik Peter

    Satu tamparan didapat lagi dari Peter. Pria itu mulai kalap dan gelap mata. Ia berusaha menggali Informasi dengan kasar."Katakan di mana kau simpan kamera itu!"Teriakan menggema di ruangan tengah bahkan Zea anak kecil tidak seharusnya mendengarkan makian kasar yang di ucapan oleh kedua orang dewasa itu.Yura sempat melirik dan melihat Zea yang berdiri di depan. "Peter, pelankan suaramu. Zea mendengarkan kita," bisik Yura."Persetan dengan semuanya. Aku tidak butuh suara pelan atau halus, karena yang kubutuhkan hanyalah benda itu. Cepat katakan di mana benda tersebut!"Tertampar dengan kalimat Peter. Yura justru membalas dengan kasar. "Benda itu ku simpan di tempat yang aman, bahkan kau sendiri tidak akan menemukannya. Cih!" Sambil meludah."Wanita j*l*ng!" teriak Peter menarik rambut Yura dan menampar. Adegan tersebut bahkan tergambar jelas di depan mata Zea. Gadis itu hanya diam tidak bereaksi. Ia pun tidak bisa berb

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A109. Berubah Menjadi Musuh

    Peter berdiri di ambang pintu kamar, menatap Yura dengan mata yang tidak lagi mengenalnya. Wanita itu duduk di tepi ranjang, bahunya turun-naik terlalu cepat, tatapannya kosong namun gelisah-seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak terlihat."Berapa kali?" tanya Peter pelan, suaranya dingin.Yura tidak menjawab. Jemarinya meremas kain sprei, kukunya memutih. Bau samar yang Peter kenali-yang ia benci-masih menggantung di udara. Bau yang sama dari malam-malam kacau, dari keputusan-keputusan buruk yang selalu berakhir dengan janji kosong."Aku tanya," ulang Peter, melangkah masuk. "Berapa kali kau bohong?"Yura mengangkat wajahnya. Matanya merah, bibirnya bergetar. "Aku cuma ... capek."Peter tertawa pendek. Bukan tawa lega-tawa yang retak. "Capek bukan alasan."Ia berjalan mondar-mandir, mencoba menahan sesuatu yang mendidih di dadanya. Selama ini, ia menutup mata. Mengabaikan tanda-tanda. Membenarkan kebohongan ke

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A108. Menjadi Pion Penyerang

    Rolland menatap layar ponsel itu terlalu lama. Foto buram dengan sudut miring. Cahaya malam memantul di rahang tegas seorang pria yang berdiri sendirian di tepi jalan. "Foto ini ...." Rolland menatap dalam-dalam. Orang yang ada di dalam foto itu adalah orang yang paling sulit untuk diajak kerjasama.Bukan foto baru dan justru itu yang membuatnya berbahaya. Foto lama, arsip, atau hasil pengawasan jarak jauh yang disimpan rapi, dikeluarkan pada saat yang tepat. Konsorsium tidak butuh alamat. Mereka hanya perlu satu bukti.[Bagaimana kau bisa mengenalnya?][Kau tidak perlu tahu soal itu.]"Apa cara ini akan berhasil?" pikir Rolland.Rolland baru tahu jika julukan Alex adalah pembunuh brutal dan hantu Pegadaian. Ia juga paham jika Alex tidak mudah dirayu."Ini yang ku janjikan," kata suara di seberang sambungan, dingin dan tanpa aksen. "Kebenaran dan kemenangan itu bernilai mahal."Rolland mengusap wajahnya. "Aku t

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A107. Kekuatan Baru

    Rolland berdiri di depan cermin retak, membalut luka di bahunya dengan tangan gemetar. Bukan karena sakit ... bagi Rolland rasa sakit sudah lama menjadi teman. Melainkan karena kemarahan yang tidak menemukan jalan keluar. Setiap balutan adalah pengingat_ bahwa ia kalah lagi. Benigno. Nama itu seperti racun yang menempel di lidahnya. Di markas sementara. Sebuah gedung kosong yang disamarkan sebagai gudang logistik, anak buah Rolland bergerak dengan langkah ragu. Tidak ada teriakan dan tidak ada tawa. Mereka tahu ritmenya berubah. Mereka tahu keberanian tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri yang ditunda. "Laporan," kata Rolland dingin. Seorang pria maju, menunduk. "Upaya kedua kita gagal. Jalur distribusi yang kita sentuh sudah bersih dan mereka sedang menunggu." Rolland menahan napas. "Menunggu kita." "Ya." Ia mengingat malam itu, sergapan cepat, senyap, presisi.

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A106. Harga Sebuah Nama

    Alex tidak tidur malam itu. Ia duduk di ruang tamu dengan lampu mati, hanya cahaya kota yang menyelinap lewat celah tirai. Ponsel tergeletak di meja—layarnya gelap, tapi terasa seperti mata yang terus mengawasi. Pesan tanpa nama itu masih terbayang. -Jika kau kembali, akan ada yang jatuh.- Siapa? Pertanyaan itu berputar, menggigit pelan. Ia tahu jawaban paling jujur ad adalah siapa saja. Di pasukan elite, keseimbangan rapuh. Kembalinya satu nama besar bisa menggeser segalanya. Jabatan, kepercayaan, bahkan nyawa. Dari kamar, Zea terbatuk kecil. Alex bangkit refleks, memastikan anak itu tidur kembali. Ia berdiri di ambang pintu, menatap wajah Zea yang tenang. Dunia ini ... rumah kecil, napas anak yang teratur terasa nyata. Terlalu nyata untuk dipertaruhkan. Pagi datang dengan ketukan yang tidak ia harapkan.

  • Kembalinya Sang Mantan Pasukan Elite   A105. keputusan Alex

    Sehari setelahnya. Alex berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyesapnya. Pikirannya terlalu bising—lebih bising dari dentuman senjata atau teriakan perintah di medan tempur. Kembali ke pasukan elite. Kalimat itu terus berputar, menabrak dinding kepalanya. Sebagian dirinya yang terlatih, disiplin, dan tahu arti komando ingin mengangguk dan berkata ya. Namun bagian lain, yang lebih sunyi dan lelah, mengingatkan satu hal yang tidak pernah tercatat di laporan misi—harga dari sebuah keputusan. Ia menoleh ke ruang tamu. Zea tertidur di sofa, memeluk bantal, cat kuku warna-warni masih menempel di jemarinya—jejak kecil dari permainan yang tidak berbahaya. Pemandangan itu menahan Alex di tempatnya. Jika ia kembali, dunia yang ia tinggalkan tidak akan menunggunya tetap utuh. Teleponnya bergetar. Pesan dari Jo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status