Mag-log inPonsel bergetar di atas meja. Membuat seseorang terpaksa mengambil dan menjawabnya."Halo ....""Siapa ini?" Suara dari seberang sana."Aku hanyalah seorang penerjemah. Aku cuma minta makan.""Di mana Detektif Sam? Sambungkan dengan Detektif Sam!" bentak Danny."Tolong aku ...."***Ternyata dari hari diculiknya Zea dan Yura. Mereka berdua dipisahkan. Zea dibawa ke tempat penampungan anak-anak sebagai alat untuk mengedarkan narkoba dan sebagian ditaruh di sebuah gudang bawah tanah tempat pembuatan narkoba. Tempat itu ditangani lamgsung oleh Yoris.Selidik punya selidik, Benigno mempunyai bisnis baru penjualan organ tubuh."Kau ingin bertemu dengan ibumu?"Zea mengangguk dan mengikuti nenek itu ke sebuah bangunan tempat anak-anak disekap. Zea dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang isinya anak-anak seusianya."Naiklah.""Bagaimana dengan ibuku?" "Jika tidak naik, k
Seketika Alex lupa akan tugasnya saat menatap mayat tersebut. Bahkan Alex tidak menghiraukan kedatangan polisi yang berteriak sambil menodongkan pistol ke arahnya sampai Alex di suruh berlutut, fokus mata Alex tetap menatap ke mayat itu. Bahkan bukan hanya Alex yang terkejut, polisi pun terkejut saat melihat isi kap mobil itu. Danny dan Teo juga sampai bengong. Sosok mayat yang sudah tidak asing lagi bagi Alex. Antara terpukul dan kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menyelamatkan mereka berdua. Han Yura sudah tidak bernyawa lagi. Mayatnya berada di dalam kap belakang mobil yang dikendarai oleh Alex. Pun, Alex sendiri tidak tahu menahu soal mayat itu. Keadaan mayat Yura juga sangat mengenaskan. Kedua mata dicongkel dan isi organ dalam kemungkinan besar telah diambil karena ada bekas jahitan di dada sampai perut. Danny memprekdisi jika pelaku melakukannya pada Yura di saat Yura masih hidup. Tidak menggunakan bius.
"Daging ini enak dan empuk—dagingnya, boleh nambah lagi?" "Jangan mimpi kau!" sela Danny. Telepon masuk. "Ini Danny, Divisi Narkoba." Danny tidak jadi menelan makanannya yang baru beberapa kali kunyah saat mendapatkan sebuah laporan yang sangat mengejutkan. *** Alex telah sampai di tempat latihan golf. Sebelum turun, Alex menyimpan pisau lipat di tempat tertentu. Beberapa menit setelah itu ada tiga orang yang berjalan ke arah mobil Alex untuk menjemput Alex. Kebetulan hari itu hujan. Alex dibawa masuk untuk menemui Pak Richard. "Selamat datang. Silakan duduk," respons ramah dari Pak Richard yang didampingi seorang penerjemah. Pak Richard menyuruh Alex duduk dengan menggunakan aksen bahasa Inggris karena info yang didapat bahwa Alex berasal dari luar negeri. "Dia datang sendirian?" "Ya." "Orang ini cukup
Yoris memukul Nick yang tidak becus melaksanakan tugas sehingga menimbulkan sebuah kekacauan. Sampai ia pun menyebut kakaknya tidak pantai dalam merekrut orang kepercayaan. Nick yang di serang dengan tonjokan hanya bisa berkelit sedikit. "B*d*h! Kau tidak bisa mengatasi satu orang saja! Tinju atau Karate. Apa dia sehebat itu?" "Bos, coba kau tadi melihat sendiri bagaimana ia merobohkan Eduardo yang mempunyai badan sebesar gajah. Ia sangat cepat. Sepertinya ia agak ... ah, sudahlah." Nick pasrah dan berhenti bicara saat melihat wajah Yoris yang tidak percaya. "Baiklah. Bagus. Kita membutuhkannya—" "Dia tidak takut ..," potong Scott. "Apa?" tanya Yoris. "Dia tidak takut saat aku menembak mati Eduardo dengan senjata." "Lalu kenapa?" Yoris sangat marah dengan laporan yang diterima. Mobil melaju ke tujuan akhir di mana Zea dan Yura akan di tempatkan. Sedangkan Alex kemb
Alex memperhatikan gambar yang ada di tangannya. Sebuah gambar pendekar yang diberi oleh Zea. Alex memutuskan untuk kembali. Zea sempat marah pada Alex karena sang ibu. Bagaimana juga walaupun Yura pemakai, ia tetap adalah ibu kandung Zea. Alex membuntuti Zea sampai di gang. Ada drama sedikit pada saat itu. Baru kali itu juga Alex melihat air mata Zea. Zea begitu saja meninggalkannya. Namun, Alex membiarkan Zea sendiri. Mungkin ia rindu dengan ibunya. Zea melangkah pulang ke rumah. Saat sampai di rumah, Zea mendengar suara ibunya yang seperti ditahan. Saat ia membuka pintu, Zea langsung diberi tontonan yang tidak seharusnya ia lihat. Mulut ibunya dibekap, ditutup dengan kain agar ia tidak bisa teriak. Sedangkan wajah sang ibu penuh dengan luk dan darah. Di sampingnya ada seorang pria yang tersenyum smirk saat melihat Zea masuk. "Halo, anak manis" sapanya. "Emm ... emm ..." Begitulah suara Yura
Nada sambung telepon itu pendek. Terlalu pendek untuk sebuah keputusan yang bisa merusak hidup. "Aku dengar namamu mulai beredar lagi," suara TJ terdengar datar, tapi Alex tahu di balik nada itu ada peringatan. "Bukan di tempat yang bersih." Alex berdiri di atap, angin malam menampar wajahnya. "Seberapa jauh?" "Cukup jauh untuk membuat orang-orang salah tertarik," jawab TJ. "Dan cukup dekat untuk menyentuh hal yang kau lindungi." Alex tidak bertanya apa. Mereka berdua tahu jawabannya. "Pasukanku tidak bergerak," lanjut TJ. "Belum. Ada yang ingin kau kembali, ada yang berharap kau tetap hilang. Aku menahan mereka … untuk sekarang." Alex menutup mata. "Aku tidak minta diselamatkan." "Aku tahu," sahut TJ. "Itu sebabnya aku menelepon. Kau harus memilih—sendirian atau bersama kami." Panggilan terputus. Tidak ada janji. Tidak ada pelukan nostalgia. Hanya







